Weekend

1227 Kata
Akhir pekan hari ini dengan cuaca cukup sejuk. Matahari sedikit bersembunyi di balik awan, sehingga warna yang tertangkap warna seperti biru. Mama Leon memiliki rencana untuk merapikan taman yang ada di depan rumahnya. Ia berniat untuk mengajak Leon turut serta, sepertinya Bryan juga akan ikut. Tadi malam, Leon memutuskan menginap di rumah keluarga Hutama. Katanya terlalu sepi di rumahnya, kakaknya sedang tidak berada di rumah, papanya juga, dan hanya mamanya seorang diri ditinggalkan Bryan di rumah. Jika diberi pilihan, mama atau Leon, sepertinya Bryan akan memilih Leon. “Nak, mau temani mama ke florist di simpang komplek itu?” Leon yang baru saja menghabiskan sarapannya, hanya bisa terdiam. Sejujurnya, dirinya cukup malas bergerak di hari ini. Bryan yang juga sedang menyantap sarapan di rumah keluarga Hutama turut menyahuti. “Aku mau... aku mau” Dengan segera, Bryan menghentikan aktifitas sarapannya di sebelah Leon. Melihat antusias Bryan, Leon semakin jengah saja. Leon berharap hari ini bisa bersantai tanpa memikirkan apapun. Namun, harapannya sirna tepat di pagi hari. Dua orang yang sedang antusias menikmati akhir pekan dengan cuaca sejuk ini, pasti memaksa Leon untuk bergabung. Untuk bangkit menyantap sarapan saja, Leon rasanya malas. Kalau bukan karena Bryan yang merengek untuk minta bangun dan ikut makan di meja makan, Leon pasti saat ini masih tertidur bergelung dengan selimutnya. “Bryan mau temani mama?” Bryan mengangguk, mulutnya masih dipenuhi dengan s**u. Keluarga Hutama dengan keluarga Bryan sudah seperti saudara kandung. Meskipun, mereka tidak memiliki ikatan darah. Kedekatan keduanya yang perlahan menciptakan sebuah ikatan yang begitu erat. Bryan langsung bangkit dan memeluk lengan mama Leon, mengajaknya untuk segera pergi ke florist. “Kamu belum mandi, belum sikat gigi ih jorok banget” Perlahan, mood Leon membaik melihat tingkah Bryan yang begitu antusias. Bryan merupakan tipikal anak yang tidka terlalu sering menunjukkan antusias dalam hal apapun. Dirinya hanya akan peduli pada satu hal, kemudian hanya akan antusias akan satu hal itu saja. Jika Bryan antusias saat ini, karena hal sederhana ini, maka itu berarti Bryan amat sangat menyukai hal tersebut. Bryan yang diberi ledekan karena belum mandi oleh Leon, menampilkan wajah cemberut dan kesal. Wajah itu yang selalu bisa mengundang senyum milik papa Leon. “Beres-beres dulu cepetan, biar ganteng” Leon memerintah. Tanpa menjawab, Bryan langsung lari kabur ke rumahnya. Sepertinya akan membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian yang keren agar Bryan tampak ganteng seperti yang Leon minta. “Kamu tuh bikin Bryan lari-lari masih pagi gini” “Biarin, Ma. Itung-itung olahraga” Leon langsung bergegas membantu mama membereskan meja makan dan piring bekas makan mereka. Berbeda dengan Bryan, yang sibuk ingin terlihat ganteng karena ledekan Leon, Leon malah tidak. Leon bahkan tidak mandi terlebih dahulu. Nanti juga kotor lagi setelah berkebun, pikirnya. Tiin! Tiin! Klakson mobil terdengar di depan rumah Bryan. Bryan pun segera berlari keluar rumah, dan sibuk memberi ucapan selamat tinggal pada sang mama. Padahal hanya akan pergi ke depan komplek saja, tapi seperti akan pergi jauh. “Let’s go!” teriak Bryan di mobil. Mereka pergi mengendarai mobil mama Leon, dengan Leon sebagai supir. “Hi, Mbak Flo” sapa Mama Leon dengan ramah. Mbak Flo adalah pemilik florist yang terletak di depan komplek perumahan keluarga Hutama. Florist yang dimilikinya begitu lengkap, menyajikan beragam tumbuhan. Mama Leon berniat untuk mencari bunga krisan, belum lama ini dirinya terobsesi akan keindahan bunga ini. Katanya, bunga ini memiliki filosofi indah menurut warna dan jenisnya. Mama Leon antusias karena hal itu. Dirinya ingin mengoleksi bunga krisan, baik dengan tangkai besar, tumbuhan yang ditanam langsung di tanah, maupun diletak di pot kecil sebagai hiasan. Bryan begitu kegirangan melihat banyak bunga yang ada di toko ini. Dirinya bahkan melompat-lompat dan menarik-narik lengan Leon. Mengajaknya untuk mencoba menghirup aroma bunga-bunga itu. Berkali-kali, Leon mengingatkan untuk tidak sembarangan dalam menghirup aroma bunga, dikhawatirkan akan menimbulkan alergi. “Leon, lihat” Bryan menggigit setangkai bunga. Leon terkejut keheranan melihat tingkah Bryan. Dari mana anak ini mendapat hal seperti itu. Leon mengambil bunga itu dan mengeluarkannya dari gigitan Bryan. “Dari mana kamu tau hal itu?” “Aku pernah lihat Kak Fe nonton film, trus ada gigit bunga begitu” katanya sambil memberikan senyuman lugu. “Bri, dengar aku. Kamu gak boleh sembarangan sentuh bunganya, oke?” “Kenapa?” Bryan memberi ekspresi cemberut karena dilarang melakukan hal yang disukainya. “Kamu tau gak, bunga itu ada durinya, kamu mau kalo durinya ngelukai jari kamu?” Bryan menggeleng dan langsung memegangi jarinya. “Kalo yang gak ada durinya? Boleh aku pegang?” “Nggak juga. Kalo mau pegang sesuatu, kamu minta izin dulu sama Mbak Flo” Bryan langsung lari meninggalkan Leon. Dirinya mencari keberadaan Mbak Flo, yang ternyata sedang berbincang dengan mama Leon. “Mbak Flo, aku mau pegang bunga itu boleh?” Mbak Flo keheranan melihat tingkah Bryan. Ia heran melihat Bryan yang tampak seusia Leon, tapi sepertinya lebih manja. “Boleh kok, tapi hati-hati ya” Bryan langsung berlari ke tempat bunga yang diinginkannya tadi. Diambilnya dengan sangat amat pelan. Leon yang melihatnya pun tidak sabar, ingin rasanya dirinya mengambilkan bunga itu dan memberikan langsung kepada Bryan. “Kata Mbak Flo harus hati-hati” Bryan berbicara di sela dirinya mengambil setangkai bunga krisan inodorum. Bunga yang memiliki kelopak mungil berwarna putih dan dengan corak kuning di tengahnya, menarik perhatian Bryan. Leon hanya terdiam di tempat duduk yang disediakan. Sesekali Ia memerhatikan jalanan yang cukup ramai di luar sana. Sesekali juga Ia memerhatikan mama dan sahabatnya memilih bunga-bunga. Dirinya tidak terlalu tertarik pada bunga-bunga itu. Jadi, Ia hanya bisa duduk diam memerhatikan dari kejauhan. Tiba-tiba, Leon beranjak dari duduk santainya, dan berlari menghampiri Bryan. “Bri! Ini bukan makanan” Ditariknya tangan Bryan yang hendak memasukkan setangkai bunga ke dalam mulutnya. Bryan terkejut dan hampir saja menangis. Matanya mengatakan bahwa dirinya benar-benar ingin menangis saat ini, karena terkejut. “Ini bukan makanan, oke? Letak lagi di tempatnya” Bryan masih dengan sabar menggenggam pergelangan tangan Bryan. Sejak tadi, Leon merasa terlalu damai disini, hingga akhirnya Bryan membuat kehebohan. “Anak ini beneran gak bisa ditinggal” gumam Leon sambil mengikuti Bryan berjalan ke arah dimana bunga itu diambilnya. Bryan hendak mengembalikan bunga tadi. “Bunganya kayak lolipop, Leon. Masa aku ga boleh makan itu” “Nggak” jawab Leon singkat. Bryan kemudian dibawa oleh Leon untuk duduk bersamanya menyaksikan jalanan. Sesekali Ia menggumamkan nomor-nomor plat kendaraan yang lewat. Bryan sepertinya mulai bosan menunggu mama Leon memilih bunga-bunga. Sesekali dirinya menguap dan menggoyang-goyangkan kaki di tempatnya duduk. Leon yang sadar melihat tingkah Bryan, langsung memberi kode kepada sang mama untuk segera menyelesaikan kegiatannya. Beginilah jika membawa anak kecil keluar rumah. Tidak bisa berlama-lama dan harus pandai-pandai memahami moodnya. Meskipun, Bryan bukan lagi anak kecil. “Makasih ya, sering-sering mampir kesini yaa” ucap Mbak Flo sambil melambaikan tangan kepada mereka. Bryan dengan antusias melambai-lambaikan tangannya menyahuti Mbak Flo. Hal ini berarti dirinya nyaman berada di sekitar Mbak Flo. “Bryan bantu mama lagi, ya?” Bryan mengangguk masih begitu antusias. Ia menyukai ragam warna, indah dilihat dan pasti ada saja yang akan dimasukkan ke mulut, saking gemasnya. Leon mulai mengeluarkan bunga-bunga yang dibeli tadi, dari bagasi mobil. Ternyata alasan menggunakan mobil hanya ke depan komplek, karena mama Leon ingin membeli banyak bunga, dan tentu membutuhkan mobil untuk membawanya. “Aku bantu sini... satu.. dua... satu dua” Bryan mencoba membantu Leon yang sedang mengangkat sebuah polybag berukuran besar yang di dalamnya ada bunga krisan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN