“Leon...” Sisil mendekati Leon yang sedang duduk di bangku taman.
Leon yang sedang menulis, kemudian menoleh ke arah Sisil.
Sisil pun duduk dan memerhatikan apapun yang Leon sedang kerjakan.
Leon menutup bukunya. “Kenapa?”
Sisil menggeleng dan memberikan sebotol s**u rasa vanilla kesukaan Leon.
“Kamu tadi naik apa ke sekolah? Aku gak sengaja denger anak kelas bicarain kamu” Matanya menatap lekat wajah Leon, menuntut jawaban.
“Naik bus”
“Motor kamu mana?”
“Di rumah”
“Kenapa gak naik motor?”
Entah kenapa kali ini Leon bersikap cuek, seolah malas menanggapi Sisil.
Leon menggeleng, dan tetap menikmati s**u yang Sisil berikan tadi.
“Waktu kamu disuruh ke ruang bk... kamu, k-kenapa? Kalau gak mau kasih tau... g-gak apa-apa kok”
“Telat. Aku dihukum papa karena telat”
“Telat?”
Leon mengangguk. “Iya, bu guru minta orang tuaku datang ke sekolah, karena aku sering telat”
“Jadi... motormu ditarik gitu?”
Leon hanya mengangguk. Menjawab pertanyaan Sisil dengan anggukan tanpa kata.
Sebenarnya Leon sedikit merasa malu terhadap Sisil. Karena selama ini, Sisil tahu bahwa dirinya dan keluarganya adalah orang yang disiplin. Kesalahannya dan hukuman yang diterima ini, membuat Leon malu.
“Jadi, kamu berangkat dan pulang naik bus?”
Lagi, Leon hanya mengangguk.
“Nanti pulang bareng aku aja?”
Leon menoleh ke kiri, tempat dimana Sisil duduk.
“Iya, besok juga berangkat bareng aku aja? Ntar kita pergi sekolah dan pulang bareng-bareng? Biar kamu gak telat lagi”
Leon tersenyum. Dirinya senang diberi tawaran seperti itu, meskipun sedikit malu, namun Ia tetap menerimanya.
“Beneran?”
Sisil mengangguk penuh antusias. “Ya beneran lah, masa aku bohong sih”
“Oke deh. Makasih ya”
Sisil tersenyum. Seketika tangannya beralih untuk mencoba menggenggam tangan Leon. Dielusnya singkat, kemudian dirinya pergi meninggalkan Leon di taman.
“Ma...Aku pulang” teriak Leon begitu memasuki rumahnya.
Mama Leon yang sedang memasak di dapur, keheranan melihat anaknya yang tiba di rumah lebih dulu dari biasanya.
“Leon? Kok cepat pulangnya?”
Leon kini telah berada di kamarnya, sedang mengganti baju seragam sekolahnya.
“Iya, guru-guru mau rapat, jadi pulang cepet”
“Oh gitu. Sama siapa tadi pulangnya? Kok gak minta jemput mama?”
“Aku pulang bareng Sisil, Ma”
“Sisil?”
Leon mengangguk. “Iya. Sisil juga nawarin buat berangkat bareng, Ma”
“Bagus dong. Jadi gak ada alasan kamu buat telat lagi”
Sang mama keluar dari kamar Leon, dan melanjutkan untuk memasak santapan makan siang.
Leon yang sudah berganti pakaian, berniat untuk membantu mamanya memasak, tapi dirinya terlalu malas.
Dirinya memutuskan untuk berdiam diri di kamar. Membaca buku-buku itu lagi.
Sepertinya tidak akan menjadi masalah jika dirinya membaca buku bergenre thiller, namun dirinya hanya terlalu takut mengambil resiko jika saja orang tuanya tahu dan marah.
Maka dari itu, Leon memutuskan untuk menyembunyikan hobinya kali ini. Padahal, sejak kecil Ia memang terbiasa memberi tahu segalanya kepada orang tuanya, terkhusus mama.
Hari ini Leon memutuskan untuk libur menulis cerita-cerita haram bagi keluarganya. Jika kalian ingat, Leon sempat diberi peringatan oleh papanya untuk menjauhi tulisan-tulisan bertema kekerasan dan sadis.
Ting! Ponsel Leon berbunyi, tanda dirinya mendapat pesan.
“Leon? Lagi apa?”
Pesan itu dari Sisil. Ada apa Sisil mengiriminya pesan di siang hari seperti ini.
Leon membalas. “Mau makan siang”
Tanpa menunggu lama, Sisil membalas pesannya lagi.
“Baru makan? Kan pulangnya udah dari tadi”
“Ya” Leon membalas singkat kali ini.
Dirinya terlalu malas untuk menanggapi. Saat ini dirinya seperti tidak ingin diganggu.
Leon beranjak dari tempat tidurnya, hendak keluar kamar dan menonton televisi.
Ting!
“Ish! Apaan lagi sih” gumamnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di tempat tidur.
“Leon? Gimana tulisanmu? Ada improve? Bulan ini belum kirim apa-apa ke kakak”
Pesannya ternyata bukan dari Sisil, melainkan dari Ravi.
Leon semakin malas membalas, mengetahui pesan tersebut datang dari Ravi.
Ia ternyata masih menyimpan perasaan kesal terhadap Ravi, akibat dirinya tidak didukung oleh Ravi.
Leon meninggalkan ponselnya di atas tempat tidur dengan sprei bergambar abstrak dengan warna biru tua.
Dibiarkannya pesan dari Ravi tidak terbalas. Dirinya kemudian menuju dapur, untuk bergabung dengan mamanya.
“Eh, kaget mama loh. Kamu ish..” Sang mama terkejut kala Leon memeluk dirinya dari belakang.
Mama Leon sedang sibuk memasak. Sepertinya, selain memasak makanan untuk makan siang keluarga Hutama, mama juga memasak camilan untuk sore nanti.
Leon menyandar di punggung sang mama. Dipeluknya dan dihirupnya aroma tubuh sang mama. Ia bahkan menutup matanya, untuk merasakan hangatnya pelukan perempuan yang bagaikan bidadari di hidupnya.
“Udah lama kamu gak manja gini”
Leon tiba-tiba menggigit punggung sang mama. Untung saja gigitannya masih terhalang fabric, sehingga tidak terlalu terasa sakit dan bekasnya. Ada-ada saja.
Sang mama langsung memukul bahu anaknya yang dengan sengaja menggigit punggungnya. Leon hanya tertawa dan berusaha menghindari pukulan mamanya.
“Kamu tuh kebiasaan”
“Enak tau, Ma. Mama tuh empuk” ledeknya.
Leon terbiasa bermanja dengan mamanya. Karena dirinya jarang berada di luar rumah, jadi Leon hanya bermain bersama mamanya di rumah.
Kini keduanya sedang menyantap makan siang yang disajikan di meja makan. Mama Leon terlebih dahulu menyiapkan bekal makanan untuk dikirimkan ke kantor sang papa.
Keduanya makan dengan dihiasi canda dan curhatan. Mama dan anak itu sering kali menghabiskan waktu berdua, sehingga sering kali mereka membicarakan keluh kesah yang dilalui setiap hari.
“Kamu kok bisa ditawarin Sisil buat berangkat bareng?”
“Gak tau, Ma”
“Mama kayaknya belum pernah ketemu Sisil ya? Yang anak penyanyi itu bukan?”
Leon mengangguk. “Mulai besok mama pasti bosen ketemu Sisil mulu”
“Hahaha kenapa kamu ngomong gitu”
Leon juga ikut tertawa. “Becanda, Ma”
“Cantik?”
“Apanya yang cantik, Ma?”
“Sisilnya cantik apa engga?”
“Cantikan mama sih”
Sang mama tertawa diberi pujian oleh anaknya sendiri. Mama sebenarnya tahu bahwa Sisil pasti memiliki rasa suka terhadap Leon, namun karena mama tidak ingin anaknya berpacaran di usia sekarang, jadi Ia hanya bisa bercanda ringan dan tidak terlalu mengarah ke arah sana.
“Kapan-kapan kamu ajak Sisil makan siang di rumah, hitung-hitung rasa terima kasih kamu”
“Kan belum, Ma”
“Iya, maksud mama kan nanti setelah kamu pergi bareng Sisil”
Leon hanya mengangguk dan masih fokus dengan masakan sang mama.
“Ma, Bryan gak ada ke rumah?”
“Engga. Kenapa? Kalian berantem lagi?”
“Engga kok. Tumben aja tuh anak gak nyariin aku ngajak motoran”
“Kamu belum kasih tau Bryan? Kalau motor kamu ditarik papa?”
Leon menggeleng.
Bryan biasanya sangat senang mengajak Leon untuk jalan-jalan sekedar menghabiskan waktu sore. Biasanya mereka akan pergi ke sebuah taman yang tidak jauh dari rumah.
Di hari sekolah seperti ini,mereka akan bermain di taman atau berolahraga. Mencoba beragam cabang olahraga yang dapat Leon ajarkan kepada Bryan, atau permainan yang bisa diajarkan kepada Bryan.
Bryan biasanya sulit jika diajak untuk belajar. Tapi, kalau sama Leon, hampir tidak pernah Bryan menolak apapun, termasuk belajar sambil bermain.
Belakangan, Leon jarang bermain dengan Bryan. Sepulang dari kebun binatang, beberapa hari setelahnya, Bryan sakit demam.
Sudah beberapa hari ini juga mood Leon sedang tidak baik untuk bermain bersama Bryan. Jadi, keduanya jarang bersama akhir-akhir ini.
“Leonnn!” Suara Bryan menghiasi rungu Leon dan mamanya.
Baru saja dibicarakan, sudah muncul saja.
“Tuh kan, Ma. Anaknya dateng” ucap Leon.
Leon dan mama tadi sedang menonton televisi. Kegiatan makan siang mereka telah selesai, dan dilanjutkan dengan bersantai.
Segera Leon berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu agar Bryan dapat masuk ke rumah keluarga Hutama.
“Leon!” Setelah dibukakan pintu, Bryan masuk dan memeluk Leon.
Sepertinya anak itu merindukan sosok sahabatnya. Sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu.
“Hi, Bryan! Udah sembuh?” Mama menyapa Bryan.
“Sudah, Mama” katanya dengan senyum merekah.
“Mama udah sembuh?”
Mama tertawa mendengar pertanyaan Bryan. “Mama kan gak sakit. Kamu tu yang sakit kemarin, kan?”
Bryan mengangguk dan bersiap untuk menceritakan pengalaman sakitnya. Kini Bryan telah duduk di sofa bersama mama dan Leon yang duduk di belakang Bryan. Lebih tepatnya dibelakangi oleh Bryan.
“Aku kan sakit, Ma. Jadi aku ditusuk-tusuk ini tangan aku. Sakit banget kayak dipotong pakai pisau. Mama mau coba?”
Mama hanya tersenyum dan sesekali tertawa mendengarkan cerita Bryan.
“Kalau mama mau, nanti aku bilang ke mama Bryan ya. Nanti mama Bryan yang bawain itu tusukannya, nanti Bryan yang pegangi mama biar gak takut”
Leon memotong cerita Bryan. “Tusukan apa sih, Bri? Kamu sate ditusuk-tusuk gitu?”
Bryan tidak menanggapi dan hanya mencubit kecil punggung tangan Leon.
Seperti itulah Bryan jika sudah bercerita, dirinya tidak suka jika ada yang memotong ceritanya.
“Waktu Bryan ditusuk itu nanti ada panjang-panjang dimasukin ke sini” Bryan menunjuk punggung tangannya.
Yang dimaksud Bryan sedari tadi ialah infus. Ia bercerita jika dirinya diinfus karena sakit dan kekurangan cairan.
“Ini tangan Bri sakit banget, Ma. Tapi sekarang udah ngga sakit”
“Mana coba aku liat” Leon berusaha memotong cerita Bryan lagi.
Bryan menunjukkan tangannya kepada Leon. Kali ini dirinya tidak marah, karena antusias saat menunjukkan tangannya yang ditusuk.
“Leon mau juga?”
Leon menggeleng.
Kegiatan bercerita mengenai pengalaman sakit Bryan pun selesai. Sebenarnya tidak akan selesai, jika Leon tidak menyudahinya.
Leon mengatakan bahwa dirinya ingin tidur siang. Dirinya sudah terlalu sering begadang, dan sepertinya kurang tidur. Makanya, hari ini Ia ingin tidur siang.
Bryan yang baru saja berkunjung ke rumah keluarga Hutama, sebenarnya ingin mengajak Leon bermain, tapi karena Leon mengatakan ingin tidur siang, Bryan hanya menurut.
Mau tidak mau dirinya juga ikut tidur siang bersama Leon. Biasanya, Bryan susah sekali jika diajak untuk tidur siang. Tapi entah kenapa hari ini dirinya ikut saja saat Leon mengatakan ingin tidur siang.
Leon dan Bryan sudha berteman sejak lama. Melakukan apapun bersama-sama sejak kecil. Makanya, di kamar Leon a satu kasur tambahan yang biasa dibentangkan ketika Bryan menginap.
Biasanya Leon akan mengalah untuk tidur di kasur tambahan tersebut, dan membiarkan Bryan menguasai tempat tidurnya.
Bryan sudah seperti adik bagi Leon. Ia menjaga dan menuruti setiap permintaannya. Bahkan, Bryan lebih menurut kepada Leon dibanding mamanya sendiri.
Bryan merasa Leon lah satu-satunya teman yang dimilikinya. Leon lah pelindung dan seseorang yang selalu menyayanginya layaknya seorang sahabat dan kakak.
Meskipun Bryan memiliki seorang kakak, namun karena Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan Leon, maka mereka terlihat lebih kompak dibanding Bryan dengan kakak kandungnya sendiri.
“Kamu tidur ya, jangan ganggu aku. Aku ngantuk banget” Leon meminta kepada Bryan dengan lembut.
Leon paham, Bryan ini tipikal anak yang tidak bisa diperlakukan dengan keras. Makanya, di setiap tindakannya Ia selalu berusaha sabar memperlakukan Bryan dengan sangat lembut.
Bryan hanya mengangguk. Tadinya, Ia ingin protes kepada Leon yang memintanya tidak mengganggu tidur siangnya. Tapi, karena takut dan ingin bersikap nurut, Bryan hanya mengikuti keinginan Leon.
“Apaan, Bri? Tadi kan janji gak ganggu” Leon menoleh ke arah Bryan yang tidur di tempat tidurnya, sedangkan dirinya di bawah.
Bryan hanya memberikan senyuman. “Aku capek tidur terus”
“Yaudah kamu balik ke rumah sana, main sendiri”
Leon mulai jengah dengan tingkah Bryan. Wajar saja, dirinya kurang tidur, pasti emosinya gampang tersulut.
Bryan memasang wajah cemberut. “Iya, aku tidur”
Leon dan Bryan sering menginap di rumah satu sama lain. Biasanya, jika Leon menginap di rumah Bryan atau sebaliknya, Leon akan menunggu Bryan hingga tertidur, baru lah Leon bisa tertidur dengan nyenyak.
Jika tidak begitu, Bryan biasanya akan kabur dari kamar dan bermain sendiri, atau mengganggu tidur Leon.
Leon juga biasanya memberi elusan di rambut Bryan hingga tertidur. Begitulaj cara Leon untuk membuat Bryan tertidur dengan cepat.
Kali ini, tidak ada elusan di rambut Bryan. Sudah lama sepertinya Bryan tidak merasakan itu, makanya dirinya tidak ingin pulang ke rumah dan menunggu Leon untuk menemaninya hingga tertidur.
Leon sudah tertidur pulas. Mungkin sudah memasuki dunia mimpinya sendiri. Namun, Bryan masih terjaga.
Dirinya merasa bosan. Ia bangkit dan berjalan-jalan di kamar Leon.
Melihat-lihat seisi kamar Leon. Dibukanya lemari belajar Leon. Mulai membongkar satu persatu koleksi buku milik Leon.
Ia keheranan, kala melihat sebuah buku berukuran besar. Tidak biasanya Ia melihat buku sebesar itu.
Bahkan buku yang biasa Ia gunakan untuk menggambar pun tidak sebesar itu. Buku apa ini, pikirnya.
Dibukanya buku tersebut. Dibacanya perlahan. Namun Ia tidak paham apa maksud dari tulisannya.
Penuh coretan dan gambar-gambar aneh. Beberapa kata juga sangat asing bagi Bryan.
Diperhatikannya lagi sampul buku tersebut. Asing. Diperhatikannya kembali isi buku tersebut. Asing juga.
Semua terasa asing bagi Bryan. Dirinya berpikir padahal Ia hanya sakit beberapa hari, tapi Leon sudah membeli buku baru tanpa mengajak Bryan.
Ia harus memarahi Leon saat sudah bangun nanti.
Karena terlalu fokus memerhatikan tulisan yang penuh coretan dna berantakan tidak jelas, dirinya pun mengantuk.
Bryan kembali membaringkan tubuhnya di tempatnya semula. Dicobanya untum tertidur. Mulutnya sejak tadi telah menguap lebar, bahkan matanya telah berair karena terlalu banyak menguap.
Sudah sering tidur karena sakit, katanya. Tapi masih saja dirinya mengantuk di jam segini.