Consequence

2100 Kata
Jalanan saat ini sedang padat dan begitu terik. Leon sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya, mengendarai sepeda motor kesayangannya. Ia berhenti sejenak di sebuah persimpangan, tepat di dekat lampu lalu lintas. Sepanjang hari, pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan negatif yang akan terjadi di rumah nanti. Hatinya harap-harap cemas akan respon yang diberikan oleh papanya nanti. Ia memang tidak terbiasa membuat masalah, makanya dirinya terlalu takut untuk hal itu. Tiiinnnnnn!! Bunyi klakson mobil yang ada di belakangnya, menghentikan lamunan Leon. Ia pun segera melanjutkan perjalanannya. “Aku pulang, Ma” teriak Leon sesampainya di rumah. Tidak didapatinya sahutan dari sang mama. Sepertinya mama tidak mendengar suara dari Leon. Memasuki kamar yang selama ini jadi tempat favoritnya, Leon langsung membuka tas dan meletakkan di kursi meja belajarnya. Pikirannya masih dipenuhi oleh kemungkinan negatif sejak tadi. Untuk menghilangkan pikiran itu, Leon memilih untuk melakukan kegiatan lain. Leon mengambil buku-buku yang telah menemaninya belakangan ini. Dibukanya dan mulai dibaca satu persatu halaman yang selalu mengundang rasa penasarannya. Sepertinya Leon mendapat sebuah ide untuk melanjutkan novelnya yang sempat tertunda. Ia langsung mengambil buku yang telah Ia siapkan untuk menulis. Jarinya seakan menari di atas kertas itu. Tinta demi tinta dikeluarkan untuk menghiasi kertas putih bergaris tersebut. Leon begitu berapi-api menuliskan ide yang mengalir di pikirannya. “Kemudian, lehernya tertusuk... dan... masih...” Leon menggumamkan ide dari kepalanya untuk dituliskan. Ia kemudian mengibas-ibaskan tangannya ke udara. Sepertinya Leon merasa pegal karena menulis terlalu cepat. Tok.. tok... Suara ketukan di pintu kamar memaksa Leon untuk menghentikan aktifitasnya. “Ya, Ma?” Leon langsung menyembunyikan buku-buku yang dijadikan teman di kala sepi. “Nak, kamu gak turun? Gak makan malam?” “Hah? Ini kan baru jam-....” Leon melihat ke arah jam dinding. Ternyata tanpa sadar, waktu sudah memasuki pukul 19.50. Sudah seharusnya bagi keluarga Hutama untuk menyantap makan malam. “Apa? Turun, ya. Mama tunggu di bawah” Mama meminta Leon untuk turun ke bawah. Kamar Leon terletak di lantai dua, sehingga harus turun ke lantai satu untuk bergabung dengan mama dan papanya untuk makan malam. Leon langsung membereskan meja belajarnya, dan langsung bergegas ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya, karena tanpa sadar Ia menulis hingga waktu makan malam seperti ini. Dihidupkannya kran shower dan diposisikannya dirinya di bawah shower menghadap ke dinding. Air mengaliri seluruh tubuh Leon, dri pucuk kepala hingga ujung kuku kakinya. Ia merasakan segarnya air yang membasahi tubuh. Setelah sadar dari segarnya air kran, Ia langsung bergegas menyelesaikan mandinya. Ia tidak ingin mama dan papanya menunggu terlalu lama. “Kamu baru mandi jam segini?” Mama menyambut ketika Leon berjalan ke arah meja makan. Papa Leon terlebih dahulu menyantap makanannya, dan hanya menoleh sedikit ke arah Leon. Leon mengangguk menanggapi pertanyaan mama. Langsung diambilnya posisi duduk di seberang kursi makan mamanya. Sejujurnya, Leon pasti gugup jika harus duduk berseberangan dengan papanya. Kesalahan yang Ia lakukan, pasti sudah diketahui papanya. Sepertinya juga malam ini akan ada sidang yang membicarakan masala yang Ia ciptakan di sekolah. Keluarga Hutama makan dalam keadaan hening, tanpa suara. Hanya terdengar dentingan alat makan dan juga suara kursi yang bergeser dari tempatnya. Sesekali terdengar suara deheman dan suara air yang mengisi gelas masing-masing. Papa Leon diam dan sesekali menatap Leon lekat di matanya. Sedangkan mama Leon, hanya mampu berdoa menuntut keselamatan anaknya dari kemarahan suaminya. Kegiatan makan malam ini persis seperti makan malam kerajaan, yang begitu hening dan khidmat. Leon segera menyelesaikan makannya, karena sebelumnya Ia belum sempat menuangkan ide-idenya untuk dituliskan. Setelah ini, Ia akan melanjutkan menulis dengan segera. Kegiatan makan malam yang telah selesai, langsung dilanjutkan Leon untuk membereskan piring-piring kotornya.Ia bergegas untuk berdiri dan segera menuju wastafel untuk mencuci piring. “Leon!” Papa Leon menginterupsi kegiatan Leon. Nada suaranya rendah namun menuntut, seperti membentak namun tidak terlalu keras. Yang dipanggil pun berhenti, sambil memegang piring kotor di kedua tangannya. Leon menoleh ke arah dimana papanya duduk. “Ya... Pa?” Papanya mengisyaratkan kepada Leon untuk duduk kembali, dan meletakkan apapun yang sedang dipegangnya. “Apa yang kamu sembunyikan dari papa?” Mendengar pertanyaan papanya, Leon langsung menciut takut dan tertunduk. “Maaf, Pa” jawabnya singkat. “Saya bilang, apa yang kamu sembunyikan?” Papa Leon bekerja sehari-hari bertemu dengan orang-orang yang memiliki masalah. Karena hal itu, menginterogasi seseorang untuk menemukan solusi bagi suatu masalah adalah hal yang biasa Ia lakukan. Parahnya, kebiasaan yang dilakukan di dunia pekerjaan, terbawa hingga ke rumah. Dan, jika sudah menggunakan bahasa formal, maka kemarahan sudah di puncak kepala papanya. Leon masih menunduk. Tangan papanya menyentuh tegas dagu anaknya, meminta untuk mengangkat dagunya dan duduk menghadapinya dengan tegas. “Leon ... terlambat... masuk sekolah, Pa” Leon menjawab dengan suara cukup kecil, persis berbisik. Papanya masih menatap Leon. Memberinya kesempatan untuk menjelaskan lebih lengkap mengenai masalah yang dibuatnya. Mengerti akan air muka papanya yang menuntut kejelasan, Leon menjelaskan. “Beberapa hari ini, Leon... Ehem... Leon begadang, Pa” “Berapa hari?” Leon kembali menunduk. Memutus pandangan ke papanya yang sejak tadi memasang raut muka tegas. “Leon gak hitung, Pa...” jawabnya berbisik. Jika saja Ia tidak malu, pasti Ia akan menangis. Ditatap sebegitu tegas dan lekat oleh papanya, menjadikan nyali Leon menciut. “Kenapa kamu begadang?” Pertanyaan yang diberi papanya cukup singkat, namun Leon membutuhkan waktu untuk menjawab setiap pertanyaan. Setiap kata yang diutarakan Leon, Ia pertimbangkan dengan sangat hati-hati. Agar tidak memulai permasalahan baru, pikirnya. “Aku khawatir... karena sebentar lagi ujian” “Kurang enak apa kamu? Saya sudah fasilitasi sekolah kamu dengan motor, masih kurang? Belum cukup?” Leon langsung melihat ke arah papanya. Mengangkat wajahnya dengan cepat, karena rasa terkejut. Apa hubungannya terlambat ke sekolah dengan fasilitas, pikirnya. Wajah Leon keheranan, Ia sungguh bingung ditanya hal seperti itu. “Mau diletak dimana wajah saya? Punya anak yang seenaknya seperti ini?” Semakin mengetat saja saraf-saraf di wajah Leon. Ia marah. Kenapa malah memikirkan hal itu. Sebenarnya, papa Leon tidak salah jika dirinya merasa malu memiliki anak yang bermasalah di sekolah. Tapi, yang membuat Leon marah adalah, kenapa masalah seperti itu bahkan dinesar-besarkan? Seakan dirinya membunuh seseorang saja, batinnya. “Mulai besok, gak ada sepeda motor” Singkat, jelas, dan tega. Papa Leon memberi hukuman dengan menarik fasilitas yang Ia nikmati selama sekolah. Kali ini, Leon diberi kesempatan untuk merenungkan kesalahannya. Leon menunduk menanggapi hukuman yang diberi oleh papanya. Di lain sisi, mama Leon merasa lega. Lega karena papa Leon tidak marah yang hingga menyebabkan pertengkaran dengan anaknya. Saat interogasi berlangsung, mama Leon merasa cemas, jika saja papanya akan memarahi Leon begitu parah, bahkan hingga memukul Leon. Selama berumah tangga dengan papa Leon, biasanya jika Ia dalam keadaan marah yang benar-benar tidak terkontrol, Ia akan sanggup memukul. Ya, begitu toxicnya pernikahan mereka sebenarnya, namun rasa cinta mampu mengalahkan segalanya. Melihat situasi yang sudah sedikit mereda, mama Leon langsung meminta Leon untuk bangkit dan ikut membereskan meja makan. Dengan segera, Leon bergerak mengikuti mamanya. Ia berpikir, jika Ia segera menjauh dari papanya, agar tidak bertambah hukuman yang akan diberikan. “Besok naik ojek aja ya, Nak” Mama Leon mencoba menenangkan Leon, memberi solusi untuk melalui hukuman ini. Leon diam dan mengangguk sejenak. “Ntar, biar mama yang jemput kamu” “Gak usah, Ma. Leon naik ojek aja lagi” “Gak apa-apa, biar mama yang jemput kamu. Mama yang antar kamu ke sekolah juga, tapi besok naik ojek dulu yaa. Biar papa lupa sama hukuman kamu ini, biar dia gak makin marah” Leon mengangguk dan melanjutkan membereskan pekerjaannya. Krieett.. pintu kamar dibuka oleh Leon. Langsung Ia masuk dan menuju meja belajarnya. Semenit berlalu, Ia masih menatap dinding kosong di depan meja belajarnya. Ditatapnya sambil pikirannya memikirkan ide yang sempat tertunda untuk ditulisnya. Tangannya mengetuk meja dengan pelan namun tanpa henti. Berhenti dari kegiatan mengetuk meja, Leon memijat keningnya pelan. Cukup banyak yang dipikirkannya belakangan ini. Sebenarnya, dirinya sendiri lah yang menciptakan pikiran-pikiran tersebut. Namun dirinya juga yang merasa kewalahan. Ia telah memulai sesuatu yang tidak seharusnya dimulai dengan cara seperti ini. Leon sedang berada di fase penasaran dan ingin sesuatu yang ekstra. Di usianya ini, dirinya terlalu ingin untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Menuruti setiap keinginan hatinya, dan mengesampingkan apapun yang orang lain katakan. Masalah yang dihadapinya hari ini, belum memberikan rasa jera dan keinginan untuk berubah. Malam ini, Ia bahkan masih saja melakukan hal yang sama, yaitu begadang. Ia mulai menulis dan memutar otak untuk melanjutkan ide yang tersimpan di kepalanya. Sesekali digigitnya pena yang digunakannya untuk menulis. Kemudian, Ia menggumamkan apapun yang akan ditulisnya. Kertas-kertas yang ada di meja belajarnya, terisi oleh coretan-coretan yang dibuatnya sendiri kala menulis. Sesekali juga dirinya berdecih saat tidak tahu apa yang akan ditulisnya lagi, dan juga saat dirinya tidak menemukan ide untuk melanjutkan tulisannya. Diteguknya air mineral yang sedari tadi menemaninya menulis. Ia sengaja menyiapkan air mineral di sebuah botol minum berwarna biru tua, untuk menghindarinya dari dehidrasi. “Hufff” Leon meregangkan tubuhnya. Capek juga seharian duduk dan menuangkan ide-ide gila. Leon mengecek jam di dinding. Dilihatnya sambil menggosok matanya sendiri yang perlahan sudah merasakan lelah. Jam di dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ini sudah waktunya untuk tidur. Leon pun tidur dan tidak lupa membereskan buku-bukunya. Kriinnggg... Alarm begitu keras membangunkan Leon. Pagi ini, mama Leon membangunkan Leon lebih awal, takut anaknya akan terlambat lagi. Pukul 05.00 pagi, mama Leon sudah berada di depan pintu kamar Leon. Membangunkannya dengan sekuat tenaga, memanggilnya dari balik pintu. Sebenarnya, sudah biasa bagi mama Leon untuk bangun lebih awal. Namun, membangunkan Leon di waktu seperti itu bukan kebiasaan mamanya. Leon mau tidak mau harus bangkit dan mulai bersiap. Hari ini Ia akan berangkat sekolah naik ojek atau bus, entahlah, Ia belum memutuskan. “Nak... bangun!” Setelah beberapa kali dipanggil, Leon akhirnya membuka pintu. Memberi tanda bahwa dirinya telah bangun dan bergegas untuk mandi. “Mama bangunin lebih awal, biar kamu gak telat ke sekolah lagi” Leon menanggapi mamanya dengan mata setengah terbuka, dirinya belum sepenuhnya sadar. Hanya saja, suara mama Leon dan gedoran di pintu memaksanya untuk bangkit. Setidaknya hal itu dapat memberi kode kepada mamanya untuk diam. Leon mengangguk menanggapi mamanya. Kemudian berjalan masuk ke kamarnya kembali dan menutup pintu setelah mamanya beranjak. “Ya ampun... masih jam 5, Ma” ucapnya pelan dan mengusap wajahnya sendiri. Leon berjalan dengan perasaan cukup bahagia, menyapa setiap individu yang berselisih dengannya di koridor sekolah. Pagi ini, Leon berangkat ke sekolah menggunakan bus. Sebenarnya, Ia diberi pilihan untuk menaiki ojek, hanya saja karena uang sakunya juga dipotong oleh papanya, maka Ia lebih memilih untuk menggunakan bus yang dimana ongkosnya lebih sedikit. Leon bahkan tiba di kelas saat belum satu pun teman-temannya tiba di kelas. Ia segera duduk dengan santai dan kemudian diam di tempat memerhatikan pintu kelas yang terbuka lebar. Sisil datang dan langsung disapa oleh Leon. “Hi!” “H-hi...” Sisil memberikan tatapan sedikit kaget, melihat temannya saat ini datang lebih pagi dengan mood yang baik. “Kamu udah selesai tugas kimia?” “Hah? Ada?” Sisil keheranan. “Leon? Kamu beneran lupa atau pura-pura belum selesai?” “Hah? Pura-pura? Aku beneran gak tau kalo ada tugas” Sisil pun membuka tas nya dan mengeluarkan buku tugas. Menunjukkan pada Leon, mengenai tugas yang dimaksud. “Yang ini loh” katanya menunjukkan tugas yang dibicarakan. Leon memerhatikan buku tugas milik Sisil. “Boleh aku lihat ga?” Sisil tentu semakin keheranan. Tidak biasanya Leon bersikap seperti ini. Biasanya, Leon akan mengajak Sisil untuk berdiskusi. Tapi kali ini, Leon hanya meminta untuk melihat tugas yang telah Sisil kerjakan. “Leon? Kamu beneran?” Leon menoleh ke Sisil. “Apanya beneran?” Sisil memberi isyarat menunjuk ke arah buku tugasnya. Menandakan bahwa Sisil bertanya, benarkah dirinya meminta untuk melihat tugas Sisil karena dirinya belum mengerjakan. “Ya, benerlah. Boleh ya?” Sisil menggeleng. Ia tidak mengizinkan Leon untuk melihat tugasnya dan menyalinnya ke buku. Wajah Leon berubah total. Tadi, wajahnya ceria, sekarang wajahnya menjadi datar. “Loh, berdua aja nih” Sang ketua kelas menginterupsi tatap-tatapan antara sepasang teman dekat itu. Sisil bersemu merah di pipi, sedangkan Leon hanya menatap datar sang ketua kelas. Leon dihukum oleh guru kimia, karena dirinya belum menyelesaikan tugas. Hari ini, mata pelajaran yang pertama ialah mata pelajaran kimia. Padahal masih ada waktu untuk mengerjakan, walaupun tidak banyak. Tapi entah kenapa, Leon tidak mengerjakan tugas tersebut. Leon dihukum dan dikeluarkan dari kelasnya. Ia menunggu kelas selesai di dalam perpustakaan. Sebenarnya, dirinya ingin menunggu di kantin, tapi takut kalau guru bimbingan konseling melihatnya dan mengetahui hukumannya. Di perpustakaan, Ia menulis dan melanjutkan tulisan yang tadi malam menjadi alasan dirinya begadang. Ia memang tidak membawa buku simpanannya ke sekolah, takut akan disita oleh guru. Karena itu, Ia memutuskan untuk menulis di ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN