Diana menjengit, tersentak dari tidurnya. Detak jantungnya menggila. Walau sebatas mimpi, teriakan Dimas yang menyerukan namanya masih berdengung sampai Diana sanggup mempertanyakan apakah itu mimpi atau bukan. “Bun? Bunda?” Wanita itu terduduk sehingga bisa melihat Disha yang sudah terbangun. Putrinya melirik Dimas yang tertidur dengan posisi duduk dan menumpukan kepalanya ke ranjang. “Om ini kok di sini, Bun?” tanya Disha kebingungan. Dia agak takut bundanya marah karena om itu—Dimas—adalah orang yang sering menjadi alasan Diana memarahinya setiap kali Disha berdekatan dengan Dimas. Orang yang katanya ayahnya. Diana meraba-raba nakas kecil rumah sakit, mencari ponselnya. Sudah jam 7. Dimas seriusan bermalam di sini dengan posisi seperti itu sepanjang malam? Pria itu memang cari susa

