Ingatan

1264 Kata
"Dek! Bangun, Dek! Sadar, Dek!" Arga segera menghubungi unit kerjanya untuk melapor sekaligus meminta ambulans. Tak sampai sepuluh menit, ambulans dan tim bantuan datang. Setelah memastikan gadis muda itu mendapat pertolongan pertama dan dibawa ambulans ke rumah sakit, kembali Arga dan anggota tim lain memasuki toko emas lalu membubarkan sandera. Selain itu, tim polisi juga meminta hasil rekaman cctv dan juga seorang saksi dari salah satu pegawai toko emas. Tim bantuan lainnya juga datang untuk membantu pengejaran perampok yang berhasil kabur. "Kejar terus! Pepet aja mobilnya!" perintah sang kapten, AKP Fendy Wijaya. "Siap, Kapt!" Kejar-kejaran pun tak terelakkan lagi. Mobil polisi mengejar dengan berkecepatan tinggi tapi tetap hati-hati. Tak lupa salah satu petugas memberi himbauan kepada pengguna jalan lain untuk menepi dan memberi ruang gerak untuk polisi mengejar mobil perampok. "Mobil polisinya sekarang dua, Bos Alex!" ujar satu perampok yang sibuk menyetir dan melirik spion. "Sialan! Jalan terus!" Ketua perampok yang bernama Alex itu mengumpat sembari meringis kesakitan karena timah panas yang menembus betisnya. Suara klakson saling bersahutan dengan sirine mobil polisi. Beberapa mobil warga sipil pun terpaksa menepi. Laju mobil perampok semakin terburu-buru dan beberapa kali menyenggol mobil warga yang belum sempat minggir. Tembakan peringatan kembali meletup ke udara, tapi tak sedikit pun menghentikan laju mobil van hitam yang menyetir ugal-ugalan. Hingga akhirnya mobil yang membawa hasil jarahan toko emas itu menabrak pembatas jalan kotak yang berwana oranye yang sengaja dipasang untuk memblokade jalan. Beberapa polisi sudah berjaga di balik blokade jalan. "Bos, banyak polisi, Bos!" "Hajar aja!" titah Alex pada anak buahnya. Mobil van hitam itu lalu menerobos barisan polisi. Tembakan polisi ke arah mobil pun tak menghentikan laju kendaraan roda empat yang sudah didesain anti peluru. “Target berhasil melawati blockade, Kapt!” Lapor seorang polisi melalui HT pada atasannya. “Tembak bannya!” titah AKP Fendy. Seorang polisi kemudian menembak salah satu ban mobil van berwarna serba hitam dan berhasil memperlambat laju kendaraan yang membawa perampok serta barang buktinya. Mobil van hitam itu sempat berputar-putar di jalan raya akibat pecah ban saat kecepatan tinggi. Hingga kendaraan hitam itu akhirnya menabrak tiang listrik. “Kepung mereka!” kembali Kasatreskrim memberi instruksi pada anak buahnya. Beberapa polisi, termasuk Arga yang sudah tiba di TKP segera mengepung mobil yang mengepulkan asap dari kap mobilnya. “ANGKAT TANGAN!” teriak salah satu petugas berpakaian lengkap dengan rompi anti peluru membuka paksa pintu mobil. “Sial! Target kabur, Kapt!” “Periksa mobilnya!” Beberapa polisi naik ke dalam mobil dan mulai menggeledah, tapi hasilnya nihil. Perampok berhasil kabur membawa serta tas berisi emas dan lainnya. Beberapa barang yang ditemukan polisi hanya tas berisi masker, sarung tangan dan beberapa kertas berisi foto-foto rumah, toko dan bank yang sepertinya akan menjadi target perampokan berikutnya. Di saat teman-temannya sibuk menyisir isi mobil van hitam, Arga justru tertarik dengan jejak bercak darah yang tercecer di jalan. Langkah kakinya kemudian menyusuri tetesan cairan merah yang masih terlihat segar. Dengan tetap waspada, Arga berjalan cepat mengikuti jejak bercak darah yang membawanya berbelok masuk ke sebuah pemukiman warga. Beberapa warga tampak ketakutan melihat Arga membawa senjata, sebagian warga lainnya sibuk mengabadikan momen langka aksi kejar-kejaran polisi dan penjahat kriminal. Langkah Arga terhenti di depan sebuah rumah di gang sempit yang padat penduduk. Perlahan kaki bersepatu boots hitam itu menapaki teras keramik warna putih. Netra Arga masih bisa melihat bercak darah yang masuk ke dalam rumah. Dalam hitungan ketiga Arga kemudian mendobrak pintu kayu warna putih. “JANGAN BERGERAK!” Acungan senjata Arga terpaksa diturunkan saat melihat seorang nenek yang diikat di kursi dengan mulut disumpal kain. Segera perwira polisi itu membuka ikatan kuat pada tangan dan kaki si nenek tua lalu membuang kain yang memenuhi mulut ompongnya. “Nenek nggak apa-apa?” Terlihat nenek tua itu begitu syok dan tak mampu berbicara. Arga segera ke dapur dan mengambilkan air minum untuk si nenek sambil matanya awas mengikuti jejak bercak darah yang mulai menghilang dari keramik putih. “Nek, Nenek tahu siapa orang yang iket Nenek?” Nenek tua itu hanya menggeleng. “Nenek tahu kemana dia sekarang?” Netra Arga kemudian mengikuti telunjuk nenek yang mengarah ke jendela belakang. Segera Arga berlari ke jendela yang ternyata sudah terbuka, satu-satunya jendela yang tanpa teralis besi di rumah ini. “Arrgh!” Arga tampak kesal dan meninju tembok karena tak berhasil menangkap perampok yang sudah lama menjadi target penyidikan timnya. “Arga! Dimana posisi?” terdengar suara memanggil dari Handy Talky. “Maaf. Kapt! Saya nggak berhasil menangkap mereka,” nada Arga begitu kecewa. “Ya sudah, misi hari ini kita sudahi dulu. Kita lanjutkan besok sambil memeriksa barang bukti dan saksi-saksi. Sekarang balik ke mobil. Kita kembali ke markas.” “Siap, Kapt!” Dengan terpaksa Arga harus menghentikan pengejaran perampok incarannya dan kembali ke kantor bersama teman-tamannya. Sesampai di kantor, Arga kemudian memeriksa gawainya yang sengaja ia tinggal di laci meja. Selama menjalankan misi, polisi berhidung mancung itu selalu meninggalkan gawainya karena ia tak mau diganggu selama bekerja. Saat memeriksa benda pipih ber-case warna hitam doff itu matanya terbelalak melihat riwayat 10 panggilan tak terjawab dan 25 pesan dari satu nama yang sama. Hingga Arga teringat sesuatu dan menepuk jidat. “Astaga! Lupa gue!” Arga mencoba menelepon balik tapi nihil, hanya suara operator yang meminta maaf berkali-kali. Saat sedang mengetik pesan permintaan maaf dan belum sempat terkirim, seseorang memanggilnya. “Arga, ke ruangan saya.” Arga yang sedang duduk menunduk segera berdiri dan meletakkan ponselnya di meja. “Siap, Kapt!” Perwira polisi itu pun segera menuruti perintah atasannya dan lupa akan pesannya yang belum sempat terkirim. **** Sementara di sebuah ruang perawatan rumah sakit, seorang remaja perempuan sedang menangis tergugu di brankar sampai seorang perawat datang menghampiri. “Halo, nama kamu siapa?” sapa perawat dengan ramah. Gadis muda itu menggeleng ingatannya kembali terganggu, “nggak tahu.” “Coba lihat gelang kamu,” perawat masih tersenyum dan menunjuk pergelangan tangan remaja berambut pendek. “Gelang?” “Iya, gelang.” Remaja putri itu lalu mengeja perlahan nama yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Maura … Intan … Pertama …” Perawat tersenyum dan mengusap kepala Maura yang kembali menangis. Ingatan gadis itu kembali membawanya pada ruangan serba putih yang dulu jadi saksi menyembuhkan diri dari penyakit mentalnya. “Syukurlah kamu udah sadar, ini makannya ya, Maura.” Perawat memasang meja lipat di kasur dan menaruh baki berisi makanan lengkap dengan jus dan pudding. “Kenapa aku di sini?” Perawat kembali tersenyum, “karena kamu anak hebat dan pemberani. Kamu kuat menahan timah panas yang bersarang di lengan kamu sampai tim dokter berhasil mengeluarkannya.” Maura menganga masih mencerna kalimat tenaga medis yang masih saja tersenyum ramah. Perlahan ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam sebelum ia harus berada di ruang perawatan rumah sakit. Suara letupan senjata, teriakan histeris dan bentakan kembali terngiang di otaknya. “Kakek sama Nenek kamu lagi salat dan cari makan. Nanti mereka balik kesini, Kakak tinggal dulu ya.” Perawat baik hati itu lalu pamit dan menghilang di balik pintu. Ingatannya kembali acak bagai potongan puzzle. Ruangan serba putih, gelang nama khas rumah sakit yang melingkar di pergelangan tangannya, selang infus yang menancap di tangan, ruangan yang sepi dan potongan kejadian mengerikan tadi siang dan saat dulu kembali membuat otaknya terganggu. Maura menjambak rambutnya kuat-kuat, menahan pening kepala yang tiba-tiba datang seiring dengan bayangan kejadian buruk yang berkelebat silih berganti. Anak tunggal yang sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya di masa remaja dengan cara mengerikan itu kembali menangis meraung dan berusaha melukai dirinya sendiri. Sampai seseorang datang di balik pintu dan menghentikan aksinya. “Hai, berhenti. Stop! Jangan sakiti diri kamu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN