Penasaran

1596 Kata
“Hai, berhenti. Stop! Jangan sakiti diri kamu!” Seorang laki-laki tampan menahan tangan Maura yang masih berusaha untuk menjambak rambut sendiri. Lengannya yang kekar dan kuat tentu memudahkannya untuk menahan tangan mungil Maura. "Udah ya, tenang. Jangan sakitin diri sendiri, oke?" Maura mengernyit melihat seorang laki-laki berhidung mancung dengan alis rapi dan tatapan meneduhkan di hadapannya. Ia memindai lelaki tegap yang memakai Polo shirt hitam bertuliskan TURN BACK CRIME di d**a kanannya. "Saya Arga, polisi yang tadi siang, ingat?" Sempat berpikir lama tapi akhirnya Maura mengangguk pelan. Kini Maura adalah saksi kunci kasus perampokan bersenjata di toko emas yang menghebohkan tadi siang. Maka selama masa perawatan, Maura dijaga ketat oleh petugas. Polisi ingin tahu keterangan langsung dari Maura tentang kronologis kejadian dan menanyakan ciri-ciri fisik pelaku yang sempat menyandera gadis 17 tahun itu. Malam ini adalah giliran Arga yang berjaga di kamar perawatan Maura. "Kamu pasti belum makan, mau disuapin?" Arga tersenyum melihat Maura yang mulai tenang. Maura menggeleng, ia masih terasa asing dengan laki-laki berpotongan rambut undercut yang kini duduk di sisi kiri brankar. "Jadi mau makan sendiri atau disuapin? Hmm?" "Sendiri," jawab Maura singkat. "Oke, ini makannya, ini jusnya dihabisin ya." Arga mendekatkan meja lipat kepada Maura. Gadis SMA itu pun mulai makan menu masakan rumah sakit. Tiba-tiba ia tersenyum saat mengunyah, Arga mengernyit melihat perubahan mood Maura yang drastis. Padahal tadi saat ia datang, Maura terlihat begitu terpuruk hingga menyakiti dirinya sendiri, tapi kini gadis itu justru tersenyum semringah sambil mengunyah. "Kenapa senyum?" tanya Arga. Maura menghentikan senyumnya lalu menggeleng dan melanjutkan makan dalam diam. Arga semakin dibuat penasaran. "Eh, Maura udah bangun?" Nenek masuk ke ruangan diikuti Kakek Maura. "Malam Pak, Bu, saya Arga yang akan berjaga malam ini menggantikan rekan saya." Arga memperkenalkan diri, kedua kakek dan nenek Maura menyambutnya ramah. "Nak Arga sudah makan? Ini ada martabak, silakan diicip." "Sudah, Pak. Terima kasih," Arga mengangguk sopan. "Kalau begitu saya berjaga di luar dulu ya, Pak, Bu. Permisi." Arga lalu pamit dan duduk di kursi panjang di depan ruangan. Sambil berjaga, ia mencoba kembali men-dial nomor yang tadi siang sudah meneleponnya hingga 10 kali, tapi tak terjawab olehnya. Lagi-lagi hanya suara operator yang meminta maaf tanpa bosan. Riwayat pesan permintaan maafnya pun masih centang satu, tanda pesan belum terkirim. Arga lalu menghela napas. Besok saat jam piketnya di rumah sakit selesai, ia akan mendatangi rumah Ghea, perempuan cantik yang sudah ia pacari hampir setahun lamanya. "Minum, Nak Arga." Arga sempat terlonjak saat tiba-tiba Pak Syakir, Kakek Maura, sudah berdiri di depannya membawa satu botol air mineral. "Oh, terima kasih, Pak," Arga menerima botol plastik bening itu dengan sopan. "Maura ini punya trauma soal perampokan dan senjata," terang Pak Syakir saat sudah duduk di samping Arga. "Maksudnya, Pak?" Arga membenarkan posisi duduknya dan menyerong ke kiri, ia penasaran dengan kisah hidup gadis kuat itu. "Mamanya Maura meninggal jadi korban perampok bersenjata waktu Maura masih kelas satu SMP. Dan Papanya sekarang mendekam di penjara seumur hidup." Arga syok mendengar cerita Pak Syakir. Ia tak menyangka gadis remaja yang terlihat tomboy itu punya masa lalu mengerikan dan tragis. "Kenapa Ayah Maura sampai dipenjara, Pak?" Sebagai aparat hukum, ia paham jika seseorang dikenai hukuman penjara seumur hidup artinya sudah melakukan tindak pidana yang berat. "Papanya Maura mencoba melindungi keluarganya, melakukan pembelaan diri. Tapi sayang, dia mungkin terlalu frustasi lihat istrinya ditembak perampok, makanya dia nusuk perut salah satu perampok pakai pisau dapur." Arga menganga mendengar kisah tragis keluarga Maura. "Terus perampoknya sudah ketangkep, Pak?" Pak Syakir menggeleng. "Perampok lain berhasil kabur bawa harta benda. Dan Maura jadi saksi hidup kebrutalan Papanya nusuk si perampok, sekaligus lihat Mamanya meregang nyawa." Pak Syakir dan Arga menghela napas secara bersamaan. Polisi berkulit putih itu tak menyangka Maura memiliki pengalaman peristiwa yang traumatis. "Maura sempat depresi dan trauma," lanjut Pak Syakir, Arga masih setia menyimak karena penasaran. "Sudah pernah kami coba bawa ke ustaz buat di ruqyah, tapi ternyata cara itu nggak berhasil. Maura masih suka tiba-tiba nangis sendiri, histeris sampai menyakiti tubuhnya sendiri." Arga mengangguk, kini ia mengerti mengapa Maura melakukan hal yang sama saat ia baru tiba di rumah sakit tadi. "Akhirnya, kami nurut saran salah satu Paman Maura dari pihak Papanya, buat dibawa ke rumah sakit jiwa. Maura sempat dirawat inap di sana selama tiga bulan, selanjutnya rawat jalan dan kontrol berkala." Pak Syakir terlihat menyeka air matanya dengan cepat, kakek beruban itu menangis mengingat peristiwa tragis yang harus dialami putri semata wayangnya dan juga keluarganya. "Makanya saya langsung khawatir tadi pas dapet kabar dari kantor polisi, kalau Maura kena tembak. Saya takut dia nyusul Mamanya." Kini tangis Pak Syakir kini tak bisa dibendung lagi. Arga berusaha menenangkan kakek berkacamata di sampingnya. "Sekarang Maura satu-satunya harta kami yang berharga. Kami akan jagain dia sampai ajal kami datang. Saya dan istri selalu berdoa dikasih umur panjang, biar bisa jagain Maura dan lihat dia nikah nanti." Arga menarik napas dalam, mencoba mengahalau kesedihan yang bisa ia rasakan di hati Pak Syakir. Perwira Polisi itu pun jadi ingin menghibur Maura dan berteman dengannya. ***** Keesokan harinya, Arga sudah pamit kepada Pak Syakir karena tugasnya akan digantikan oleh petugas lain. "Ra! Gila lo keren banget sih bisa ada di kejadian kayak gitu!" Edo, teman sebangku Maura datang menjenguk sepulang sekolah. Remaja laki-laki yang hobi membaca komik Detective Conan itu bukannya khawatir pada kondisi sahabatnya, ia justru berbinar dan penasaran ingin mendengar kronologis kejadian kriminal yang baru saja dialami Maura. "Keren dari mana sih, Edoooo?" Maura sudah lebih baik pagi ini, mood-nya kembali ceria, nafsu makannya sudah membaik, tinggal menunggu perkembangan bekas luka tembak yang ada di lengan kirinya. "Eits ... Sinichi Kudo, bukan Edo!" protes laki-laki kurus yang masih memakai seragam SMA. Maura hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya. Keduanya kemudian larut dalam cerita yang seru. Bahkan Edo berhasil membuat tawa Maura kembali terdengar. Pak Syakir dan istrinya tersenyum bahagia melihat cucunya yang kembali ceria. Kakek dan Nenek itu sempat terharu saat mendengar cerita bahwa tujuan Maura pergi ke toko emas saat itu adalah ingin membelikan kalung sebagai kado ulang tahun neneknya. Namun nahas, ia justru harus menjadi sandera bahkan korban penembakan perampok bersenjata. Sementara di sudut lain kota, seorang laki-laki atletis sudah bersiap mengenakan kaus polo warna navy dengan celana jeans warna biru laut, tak lupa ia membubuhkan pomade pada rambut potongan undercut-nya. Arga akan pergi menemui perempuan kesayangannya yang sedari kemarin tak bisa dihubungi. "Eh, mau kemana, Arga? Baru juga pulang tadi pagi." tanya seorang perempuan berkerudung yang sedang memasak. "Mau ke tempat Ghea, Bun," Arga menghampiri wanita yang telah melahirkannya dan memeluknya dari belakang. "Hh! Ghea lagi Ghea lagi, kirain udah putus," ucap perempuan yang biasa dipanggil Ibun oleh anak-anaknya. "Kok Ibun gitu sih bilangnya? Doain yang baik-baik dong buat anaknya yang ganteng ini," Arga mencomot gorengan dari piring. "Ya habisnya kamu, kayak nggak ada perempuan lain aja. Ibun 'kan udah bilang nggak sreg sama si Ghea itu, kamu ini nggak mau nurut sama Ibun." "Bun, Ghea itu baik kok, Ibun aja yang belum kenal deket sama dia. Nanti kalau dia udah nggak sibuk, aku ajak ke rumah yah. Biar nemenin Ibun masak." "Nggak mau!" Arga hanya bisa menghela napas dan menggeleng. Baginya percuma adu argumen dengan Ibun saat ini. Tapi ia bertekad akan membuat hati Ibun luluh dan merestui hubungannya dengan Ghea, mahasiswi semester akhir yang juga seorang selebgram. "Arga berngkat dulu ya, Bun. Assalamualaikum." Arga segera mencium punggung tangan Ibun dan mengecup keningnya sekilas sebelum berlalu dan mengabaikan suara Ibun. "Eh, eh! Mau kemana, Arga? Nggak makan dulu, Ibun lagi masak nih!" "Nggak, Bun. Mau makan sama Ghea!" Seru Arga dengan suara makin mengecil karena sudah berada di carport dan siap melajukan mobilnya. Ibun hanya menggeleng melihat kelakuan salah satu putranya. Ibu tiga putra itu lalu kembali memasak, sambil menunggu kepulangan si bungsu, Mandala, dari kampus. Arga sudah menyiapkan satu kotak cokelat sebagai permintaan maaf karena kemarin ia lupa janjinya untuk menjemput sang kekasih hati di bandara. Pacarnya itu baru saja pulang dari pulau Dewata bersama tim-nya setelah melakukan pemotretan dan syuting untuk kepentingan endorsment sebuah villa. Sesampai di depan indekos dua lantai, Arga memarkirkan kendaraannya. Segera ia naik ke lantai dua menuju kamar kekasihnya. Ketukan ketiga, pintu terbuka dan terlihat perempuan cantik rambut panjang bergelombang warna mauve. "Hai, Sayang," Arga memasang senyum terbaik dengan kotak cokelat di tangannya. "Masih inget sama aku?" jawab Ghea dengan nada ketus dan wajah jutek. "Kok gitu sih ngomongnya? Ya inget lah, Sayang, kamu 'kan pacar aku." "Oh, aku masih diakuin pacar?" Perempuan tinggi langsing itu melipat tangannya di d**a. "Sayang, udah dong ngambeknya. Aku minta maaf yah, kemaren aku lagi ada penyidikan kasus pe--" Arga belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Ghea. "Kasus lagi! Kasus lagi! Berapa kali kamu selalu alasan kasus dan kasus! Sebenarnya aku penting nggak sih di mata kamu, Ga? Lebih penting aku atau kasus kamu itu?!" Ghea meluapkan amarahnya, Arga hanya diam tak membantah. Karena ia akui telah salah, tak mengabari kekasihnya jika tak bisa menjemput. "Kamu tahu? Aku nungguin kamu sejam di bandara! Aku telepon kamu nggak diangkat, di chat nggak dibaca! Kamu pikir aku nggak capek nungguin kamu!" Ghea mengacak rambut warnanya, "Ga, kita ini satu kota loh, tapi aku ngerasa kita tuh kayak pasangan LDR, tahu nggak?!" "Aku capek, Ga! Kamu selalu aja sibuk dengan kasus-kasus kamu itu! Sementara aku ... Aku butuh kamu, Ga! Aku pacaran sama orang 'kan, bukan sama HP!" Arga masih diam, ia mengerti jika pacarnya pasti sedang dalam fase lelah sekaligus kesal. Maka perwira polisi itu masih setia dalam diamnya. Sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Keduanya menoleh ke sumber suara. Arga mengernyit dan penasaran, Ghea justru tersenyum manis pada seseorang yang datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN