Arga memicingkan mata, melihat siapa yang datang.
'Radit?' batin Arga bertanya.
"Hai, Ga. Lagi libur?" sapa laki-laki yang sama tinggi dengan Arga, ramah.
"Iya." Arga menerima jabat tangan Radit dengan hati penuh tanya.
"Gimana, Ghe, udah siap?"
"Siap, dong. Bentar aku ambil tas dulu ya."
"Ghea!" Arga mencekal tangan kekasihnya sebelum masuk ke kamar.
"Kamu mau kemana?"
"Mau pergi sama Radit, ini apaan sih, Ga? Lepasin!" Ghea terlihat kurang nyaman dengan cengkraman Arga di lengannya.
"Kenapa harus pergi sama Radit, kan ada aku di sini?"
"Karena Radit selalu ada buat aku, nggak kayak kamu yang suka ngilang mendadak."
Sepasang kekasih itu terlihat adu tatap.
"Tapi 'kan aku begitu karena aku kerja, Sayang. Kamu 'kan tahu kerjaan aku kayak gimana, Ghe?"
Perempuan tinggi itu tersenyum sinis dan menggeleng.
"Udah lah, Ga, aku capek sama kamu. Aku mau putus, lebih baik kita berteman aja, oke?" ucap Ghea dengan nada lembut, tapi begitu menusuk hati Arga.
Ghea memanfaatkan keterkejutan Arga dengan melepaskan diri dari cekalan tangan kekar polisi tampan di depannya. Secepat kilat, perempuan berrambut warna mauve itu lalu mengambil tas kecil, kemudian menutup pintu dan menguncinya.
"Ghea, tunggu! Kita bisa bahas ini bareng-bareng tanpa harus putus, Ghe."
"Udah cukup, Ga. Kita udah selesai. Aku harap kamu ngerti. Yuk, Dit."
Ghea menarik tangan Radit dan meninggalkan Arga yang masih ternganga dengan tangan mengepal. Sekilas perwira polisi itu melihat senyum puas di wajah keduanya. Laki-laki bertubuh atletis itu patah hati sekaligus tak terima keputusan sepihak ini.
Apalagi laki-laki yang digandeng Ghea adalah Radit, tim fotografer yang selalu mengekori Ghea kemana pun pergi dan mengambil potret perempuan itu saat sedang melakukan endorse produk. Kini Arga curiga, mereka sudah saling dekat sebelum Ghea meminta putus sepihak.
Bagaimana pun Arga masih mencintai Ghea, bahkan sudah berniat akan menikahi gadis itu saat lulus kuliah sebentar lagi. Tapi kenyataannya, kini cintanya kandas sebelum sampai ke pelaminan.
Arga pulang dengan langkah gontai. Ia lelah hati, fisik sekaligus pikiran. Cokelat yang tadi dibawa ia berikan pada satpam yang berjaga di indekos Ghea.
Saat di perjalanan pulang dan berhenti di lampu merah, netra Arga tak sengaja menangkap pemandangan yang membuat hatinya semakin perih. Ia menoleh ke kiri dan mendapati mantan kekasihnya sedang bercengkrama penuh tawa dengan lelaki barunya. Keduanya sedang bersantap di restoran pizza dan duduk di dekat jendela tembus pandang. Perwira polisi itu bahkan bisa melihat Radit mengusap bibir Ghea.
Polisi tampan itu mencengkeram setir bundar dengan penuh tekanan. Arga merasa mereka telah menggunting dalam lipatan, padahal selama ini ia masih setia menjaga komitmen.
"Sial! Oke, Ghe, lihat aja suatu saat lo nyesel udah mutusin gue, terus minta balikan!"
Arga menyeringai lalu menginjak pedal gas saat lampu berubah warna hijau. Polisi tampan itu langsung melajukan mobilnya dengan tergesa tapi tetap menjaga jarak aman. Ia ingin segera tiba di rumah dan melampiaskan amarahnya.
Sesampai di rumah, Arga sudah disambut oleh Ibun dan adiknya, Mandala, yang sedang makan siang. Ibun mengernyit melihat anak keduanya terlihat murung.
"Loh kok udah pulang, Ga?" tanya Ibun.
"Iya, Bun," Arga salim pada ibunya, kemudian menyodorkan punggung tangannya pada Mandala.
"Nggak jadi makan sama Ghea?" Ibun mulai curiga, karena Arga sudah mengambil piring dan menyendok nasi.
"Nggak jadi, dia udah makan."
Ibun mengangguk-angguk, "bagus deh, jadi bisa makan bareng 'kan sama Ibun."
Ketiganya lalu santap siang ditemani cerita Ibun dan Mandala, Arga hanya diam tanpa menyimak. Hati dan pikirannya sedang tak berada di raganya saat ini.
*****
Malam pun tiba, Arga yang sedang lepas dinas tiba-tiba merasa hampa. Tak ada lagi seseorang yang bisa ia video call. Bahkan nomor Arga pun masih diblokir olih Ghea.
"Kenapa lo, Boy? Kusut amat!"
Semeru, Kakak Arga, tiba-tiba duduk di sisi Arga yang sedang melamun di balkon, tak lupa tangannya jahil menoyor kepala adiknya.
"Ck, paan sih, Bang!"
Arga mencoba membalas toyoran kakaknya, tapi Semeru sigap menghindar.
"Lagian muka lo kayak kanebo kering!"
Semeru kini mulai memetik gitar yang dibawanya.
"Gue diputusin sama Ghea," jawab Arga dengan nada lemas.
Bukannya simpati, Semeru justru terbahak dengan puas melihat adiknya patah hati.
"Sue lo, Bang! Bukannya ikut prihatin malah ngetawain!"
"Weh, apaan nih rame-rame nggak ngajak-ngajak, Bang, Kak?" Si bungsu Mandala ikut bergabung.
"Noh, si Arga lagi patah hati, baru diputusin sama Ghea, si artis jadi-jadian." Kini bukan hanya Semeru, Mandala pun ikut terbahak.
Keluarga Arga, terutama Ibun memang kurang berkenan dengan Ghea, mengingat gayanya yang terlampau modis dan terlihat hedon seperti seorang artis papan atas. Maka Semeru dan Mandala menjulukinya artis jadi-jadian. Lagi-lagi Arga hanya menjadi bahan tertawaan kedua saudaranya.
"Salah gue punya kakak sama adek kayak lo pada! Nggak guna!" umpat Arga kesal.
"Emang kenapa sih lo diputusin? Bukannya lo berdua sama-sama bucin?" tanya Semeru saat tawanya reda.
"Ghea bilang capek sama gue yang ngurusin kasus mulu. Dia ngerasa kayak lagi LDR-an sama gue. Padahal kita satu kota. Dan tadi, setelah mutusin gue dia langsung jalan sama Radit." Cerita Arga panjang lebar.
"Radit yang katanya fotografer itu?" Semeru memastikan. Ia pernah diajak Arga untuk menemani Ghea pemotretan dan sempat berkenalan dengan tim Ghea.
Arga mengangguk lemah dengan wajah menunduk. Baru kali ini ia merasa sakit hati dikhianati.
Mandala manggut-manggut, "emang sih Kak, gimana pun juga yang sibuk dan jauh akan kalah sama yang dekat dan selalu ada."
Kalimat si bungsu justru semakin menohok bagi Arga. Dan Semeru kembali tertawa diikuti Mandala.
"Vangke lo pada! Bukannya ngehibur malah nge-bully!"
Arga lalu bangkit dari duduknya dan mengangkat jari tengah pada kedua saudaranya yang masih terpingkal. Perwira polisi itu lalu meninggalkan kamar Semeru yang mempunyai balkon dan kembali ke kamarnya untuk tidur melepas lelah dan sakit hatinya.
Esok paginya saat sarapan bersama, Arga kembali jadi bahan bully para saudaranya.
"Bun, anak Ibun lagi patah hati tuh, baru diputusin sama si artis jadi-jadian," celetuk Semeru disela suapan nasi goreng buatan Ibun.
Tidak hanya Ibun, Ayah pun sempat terkejut mendengar anaknya baru saja putus dari sang kekasih. Berbeda dengan Ayah yang kembali cuek dan melanjutkan makan, Ibun justru mengucap syukur dengan lantang.
"Alhamdulillah, terima kasih Yaa Allah Engkau mendengar doa hamba."
"Alhamdulillah." Semeru dan Mandala pun kompak mengikuti Ibun.
Arga semakin cemberut, jika mereka bukan keluarganya sudah pasti Arga akan membalas perbuatan mereka. Tapi kali ini Arga harus pasrah jadi sumber kebahagiaan Ibun dan kedua saudaranya.
"Dari awal juga Ibun bilang apa? Kamu sih nggak mau nurut sama Ibun."
Ibun memulai kultumnya, Semeru dan Mandala terkikik menahan tawa karena puas melihat Arga menjadi bahan ceramah Ibun. Karena sudah pasti durasinya akan panjang dan lama, bahkan stripping setiap hari.
"Ibun tuh nggak yakin si Ghea itu bisa jadi Ibu Bhayangkari. Rambutnya aja warna warni gitu kayak gulali," Ibun melanjutkan ceramahnya.
"Cari calon istri itu mbok yang bener, Arga, Semeru, Mandala." Ibun mengabsen ketiga putranya.
Kini ketiga putra Ibun itu terdiam, mereka paham jika Ibun sudah mengabsen ketiga anaknya, maka isi wejangan yang akan keluar dari mulut beliau berlaku untuk ketiganya.
"Ibun nggak masalah nanti istri kalian mau kerja atau jadi ibu rumah tangga kayak Ibun, yang penting dia perempuan baik, sopan, soleha, bisa bawa dan jaga diri di mana pun dia berada. Cantik itu bonus, pinter masak itu hadiah, dari keluarga terpandang itu juga doorprise. Nomor satu itu agama sama akhlaknya. Karena dia nanti yang akan jadi madrasah pertama buat anak-anak kalian. Paham?"
"Paham, Bun," jawab ketiganya kompak seperti murid menjawab pertanyaan gurunya.
Arga pun menyimpan baik-baik petuah sang ibu sebagai bekal untuknya mencari calon istri kelak. Kali ini laki-laki bertubuh atletis itu akan memilih untuk lebih fokus pada karirnya terlebih dulu. Sambil terus berdoa agar dipertemukan dengan perempuan yang bisa mengerti akan profesinya sebagai abdi negara dan aparat kepolisian.