"Arga berangkat, Bun, Yah, Bang, Dek," polisi muda itu berpamitan pada seluruh keluarganya yang masih sarapan.
Hari ini, kembali ia mendapat giliran piket menjaga Maura di rumah sakit. Meski hatinya masih patah, tapi semangat bekerja perwira polisi itu tak pernah patah. Arga mulai menyadari akan satu hal saat teringat wejangan dari Ibun. Ia sadar bahwa mungkin benar Ghea bukan orang yang tepat untuk mendampinginya seumur hidup.
Mereka sudah tak satu rasa dan asa lagi. Mimpi mereka saling berseberangan. Arga pun mengerti, tak ada hak baginya untuk menahan Ghea mencari kebahagiaannya. Toh selama ini, ia akui waktu dan perhatiannya untuk sang kekasih memang kurang, karena tersita hampir selama 24 jam 7 hari untuk pekerjaan.
Perwira tampan itu pun siap menutup buku cerita cintanya bersama mahasiswi jurusan public relation itu, dan memilih untuk menutup hatinya sementara agar lebih fokus mengejar karirnya.
Setelah sekitar 15 menit perjalanan, Arga tiba di depan kamar perawatan 110.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab semua orang dari dalam ruangan.
Usai serah terima tugas dengan rekannya, Arga kemudian duduk di sofa.
"Sarapan, Nak Arga," Nenek Maura menawarkan bungkusan nasi.
"Sudah, Bu. Terima kasih."
Arga melihat Maura sedang asyik menggambar, remaja itu terlihat serius dan tak melihat keberadaan polisi bertubuh tegap.
"Nak Arga, boleh titip Maura sebentar. Saya mau nebus obat."
"Oh, boleh, Pak."
Kakek Maura lalu pamit keluar, sedangkan Neneknya ke kamar mandi. Arga kemudian menghampiri Maura yang asyik menggambar di meja lipat.
"Wow, gambarnya keren," ucap Arga takjub melihat hasil goresan tangan Maura yang menggambarkan susana kota bergedung tinggi.
Maura hanya mendongak sekilas lalu melanjutkan gambarnya. Lagi-lagi Arga dibuat penasaran oleh sosok Maura yang menurutnya misterius. Tak mau menginterupsi, polisi yang mengenakan polo shirt hitam itu lalu duduk kembali di sofa.
"Maura emang suka menggambar dari kecil. Dia bisa khusyuk banget kalau udah gambar kayak gitu, nggak peduli sama kanan kirinya," terang Nenek setelah keluar dari kamar mandi.
Nenek Maura menerangkan, ia tersenyum saat sebelumnya melihat Arga dicueki oleh cucunya. Polisi tampan itu hanya manggut-manggut. Tak lama terdengar suara salam dari balik pintu.
Setelah salam terjawab, muncul seorang laki-laki kurus berkacamata dengan senyum yang khas.
"Eh, Edo, silahkan masuk, Do."
Nenek Maura mempersilahkan sahabat cucunya untuk masuk. Lelaki yang jadi satu-satunya teman Maura di sekolah itu lalu memberi salam takzim pada Nenek dan Arga.
"Nih, Ra, gue bawain lagi komik Conan terbaru. Biar nggak bosen di sini."
Edo menghampiri brankar lalu mengeluarkan tumpukan komik dari tasnya. Maura tampak berbinar dan menghentikan aktifitas menggambarnya. Kini gadis remaja itu sangat antusias membuka satu komik dan mulai membacanya.
Lagi-lagi Arga dibuat penasaran oleh Maura yang terlihat kembali ceria saat membaca komik dan mendengarkan cerita Edo.
"Kakak polisi yah?" Kini Edo menghampiri Arga dan duduk di sampingnya.
"Iya," jawab Arga ramah.
"Wah, Kakak pasti keren, sering ketemu penjahat yah? Ceritain dong, Kak," kini anak SMA laki-laki itu yang berbinar.
"Ya gitu lah, Dek, udah makanan sehari-hari. Mau cerita apa?"
"Wow! Kereeen, pasti seru yah Kak, kerjanya. Mau cerita pembunuhan dong, Kak?"
Arga tersenyum melihat kegirangan pemuda tanggung di depannya. Edo tak tahu jika pekerjaan sebagai aparat penegak hukum memiliki resiko yang besar. Bukan hanya lelah secara fisik tapi juga psikis.
Belum lagi jika sedang menghadapi kasus berat yang menyita waktu bertahun-tahun dalam penyidikan, tak heran jika Arga kadang mengalami stress akibat jam kerja yang tak mengenal waktu, beban kerja dan keselamatan selama bertugas yang bertaruh nyawa, tekanan dari atasan, serta tuntutan dari keluarga korban maupun masyarakat yang menginginkan sebuah kasus segera terungkap. Tak heran jika Arga ditinggalkan sang kekasih karena sedikit waktu yang ia punya untuk orang-orang terkasih.
Arga lalu menceritakan salah satu kasus yang pernah ia ungkap bersama timnya.
"Kemaren pernah ada kasus pembunuhan anak oleh dukun gadungan."
"Pembunuhan anak? Wah menarik nih!" Edo semakin antusias, begitu juga dengan Maura.
Arga sempat melirik Maura yang langsung menghentikan aktifitas bacanya dan kini fokus menyimak ceritanya. Polisi tampan itu tersenyum lalu kembali melanjutkan bercerita.
"Jadi anak itu cewek usia sekitar yah ... 10 tahunan, dia ditemukan udah tewas di kamar orang tuanya setelah empat bulan."
"Innalilahi wainnailaihi rojiun," ucap Nenek Maura yang juga sedang menyimak.
"What? Kok bisa empat bulan baru ketahuan?" Edo semakin penasaran.
"Emang orang tuanya kemana?" Maura ikut bersuara.
Kini Arga tersenyum mendengar suara Maura. Ia kembali berkisah.
"Orang tuanya ada, dan mereka tahu kalau anaknya udah meninggal."
"Astaghfirullah," terdengar suara ketiganya kompak.
"Kok bisa begitu?" Kembali Maura penasaran.
"Jadi anak kecil ini emang terkenal nakal sehari-harinya. Terus sama orang tuanya dibawa ke dukun, katanya mau diobatin. Dukun bilang kalau anaknya kerasukan genderuwo makanya jadi anak nakal dan harus diobatin semacam ruqyah gitu. Sama si dukun, anak kecil itu ditenggelamkan di kolam sampai akhirnya meninggal."
"Innalilahi," lagi Nenek Maura syok mendengar cerita Arga.
"Dukun sinting!" Umpat Edo.
"Terus?" Maura makin penasaran.
"Terus dukun itu tanpa rasa bersalah nyuruh orang tuanya untuk menyimpan jenazah anak itu di kamar dan bilang kalau sewaktu-waktu anaknya akan hidup lagi."
"Dukun gendeng!" Edo masih belum puas mengumpat.
Nenek dan Maura hanya menggeleng.
"Terus ketahuannya gimana?"
Lagi, Arga tersenyum melihat Maura begitu antusias mendengar ceritanya.
"Ketahuannya pas momen lebaran, kakek sama paman bibinya heran karena nggak lihat anak itu ikut kumpul keluarga. Orang tuanya cuma bilang si anak lagi dalam masa perawatan jadi nggak bisa keluar jalan-jalan dulu."
"Terus mereka percaya gitu aja?" Maura mengernyit, Arga tersenyum lagi sambil menggeleng.
"Nggak, kakek dan keluarga besarnya dateng ke rumah orang tua si anak sekaligus mau jengukin. Tapi ternyata mereka harus terima kenyataan dan syok pas lihat anak itu udah jadi mayat."
"Astaghfirullah, kok ada sih orang tua yang masih percaya dukun begitu!" Edo berapi-api.
"Miris! Terus dukunnya udah ketangkep?" tanya Maura lagi.
"Udah, tapi itu juga dukunnya sempat kabur waktu keluarga besar korban lapor ke polisi."
"Terus ketangkep dimana?"
Arga senang melihat Maura yang begitu tertarik dengan ceritanya.
"Ketangkep di Sukabumi, asal daerah dukun abal-abal itu."
"Alhamdulillah kalau udah ketangkep," kini Nenek Maura ikut lega mendengar kisah anak yang malang.
"Bagus! Hukum mati aja itu dukun sableng! Nyawa dibayar nyawa!" Seru Edo.
"Udah, dihukum 15 tahun dia."
"Kenapa nggak dieksekusi aja, Kak?" Maura tak terima.
"Nggak segampang itu, Dek," jawab Arga lembut.
"Tapi 'kan dia udah ngilangin nyawa anak kecil. Kok nggak adil sih?"
Arga kembali tersenyum, saat akan menjawab pertanyaan Maura seorang perawat datang.
"Permisi, Maura kita cek dulu luka di lengan kamu yuk," sapa perawat yang datang, ramah.
"Eumm, sebentar, Sus."
Maura melirik pada Arga dan Edo. Gadis itu merasa risih jika ada lawan jenis yang melihat bagian tubuhnya. Terutama bagian yang biasa tertutup.
"Oh, oke," Arga mengerti dan menyikut lengan Edo agar ke luar ruangan.
*****
Hari mulai sore, Edo sudah pamit setelah puas bercerita dengan Arga tentang kasus-kasus yang pernah ditangani, termasuk bekas luka yang tercetak di beberapa tubuh polisi tampan itu.
Maura pun mulai mencair dan banyak bicara dengan Arga. Kakek dan Nenek ikut bahagia melihat perkembangan kesehatan cucunya yang siginifikan, baik secara fisik maupun psikis. Jika kondisi Maura sudah membaik, maka gadis itu akan mulai dimintai keterangan terkait kasus perempokan bersenjata di toko emas waktu itu.
Jam jaga Arga pun habis, penggantinya sudah datang. Laki-laki bertubuh atletis itu lalu berpamitan pada kakek dan nenek, tak lupa ia berpamitan dengan Maura.
"Kalau kamu tertarik sama dunia hukum, kamu bisa lanjutin kuliah jurusan ilmu hukum atau kriminologi nanti."
Arga tersenyum, Maura mengangguk.
"Saya pulang dulu yah, banyak-banyak istirahat biar cepet sembuh, Dek."
Arga mengacak rambut Maura, tanpa polisi tampan itu sadari, tidak hanya rambut Maura yang berantakan tapi hati gadis belia itu pun ikut acak-acakan karena debaran aneh yang mendadak ia rasakan.