Lima hari setelah mendapat perawatan, Maura sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Gadis belia itu juga sudah bisa dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Bahkan Maura sudah memberikan hasil coretan tangannya menggambar sketsa wajah pelaku utama perampokan bersenjata.
Meski sebagian wajahnya tertutup masker, tapi Maura masih ingat bentuk mata dan alis pelaku yang sempat ia rekam dalam otak saat menjadi sandera dan berada di dekatnya.
Arga pun semakin kagum dengan bakat terpendam gadis kelas 3 SMA yang menurutnya misterius itu. Arga yakin, Maura bukan seperti remaja pada umumnya. Ia pun jadi teringat cerita Pak Syakir yang menceritakan jika Maura menghabiskan waktunya untuk belajar sebagai pelarian setelah mengalami peristiwa tragis yang menimpa keluarganya. Bahkan Maura tak memiliki teman sebaya, justru hanya bully yang harus dia dapatkan.
Padahal menurut Arga, Maura anak yang cantik, cerdas dan baik hati, meski memang agak menutup diri dari lingkungan. Hanya Edo yang bisa mencairkan suasana dan membuat gadis SMA itu tertawa. Tapi Arga bersyukur jika kini Maura sudah mulai berani dan percaya diri.
“Besok jadi sidangnya, Ga?” tanya Ayah disela makan malamnya.
“Jadi, Yah. Semua bukti dan saksi udah terkumpul. Kita gelar sidang pertama buat tiga pelaku yang udah ketangkep,” terang Arga.
Ayah yang juga seorang Jaksa mengangguk. Keluarga Arga sudah akrab dengan dunia hukum, sang Ayah bekerja sebagai Jaksa di Kantor Kejaksaan. Ibun meski sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga, sebelumnya pernah bekerja menjadi staff di kantor notaris.
Sedangkan Arga sudah memilih jalan hidupnya menjadi abdi negara penegak hukum mengikuti jejak ayahnya. Adik bungsunya, Mandala, juga tertarik pada dunia hukum dan kini sedang mengenyam pendidikan ilmu hukum. Hanya Semeru, kakak tertuanya yang memilih dunia marketing dan industri sebagai mata pencahariannya.
Usai makan malam, seperti biasa tiga bersaudara itu menghabiskan waktunya di balkon sambil bercengkrama atau bernyanyi bersama hingga waktu tidur tiba. Arga sedang memetik gitar sambil bernyanyi lagu patah hati.
“Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu.”
“Ya elah masih melow aja, Boy?” Semeru datang menghampiri membawa satu toples kacang, tak lupa tangannya selalu usil menoyor kepala adiknya.
“Tangan lo bisa diem nggak, Bang? Mulutnya aja gitu yang ngomong, tangannya nggak usah hiperaktif,” Arga tak terima.
Semeru malah terbahak, “Elah, sejak putus jadi sensian lo, Boy. Nggak asik!”
Arga menatap tajam Kakaknya, “Lo sih mana ngerti rasanya patah hati! Punya cewek aja belum! Makanya jadi cowok tuh nggak usah sok ganteng, sok jual mahal!”
Arga melampiaskan uneg-unegnya pada Semeru. Kini giliran Semeru yang tak terima dan melempar kulit kacang pada adiknya.
“Sembarangan! Eh gue ini high quality jomlo, bukan cowok gampangan! Lagian nih ya sekarang gue lagi deket sama cewek, lihat nih, menurut lo imut nggak doi kayak marmut?” Semeru mengeluarkan gawainya dan menunjukkan foto seorang perempuan berrambut panjang warna hitam.
Arga mengambil gawai Kakaknya lalu mulai men-scroll galeri dan melihat foto-foto Semeru bersama perempuan yang tingginya hanya sebatas d**a Kakaknya.
“Lagi lihat apaan sih? Bagi dong, Bang, Kak!”
Mandala datang membawa tiga botol kecil minuman soft drink warna pink.
“Hmmm … lucu juga, imut. Pertanyaan emang dia mau sama lo, Bang? lo 'kan sok cool kayak kulkas dua pintu! Kalian satu kantor?” tanya Arga penasaran dengan sosok perempuan mungil yang bisa dekat dengan Semeru. Karena biasanya Kakaknya akan bersikap dingin pada perempuan.
“Iya, dia HRD baru di kantor. Anaknya supel sih, ceria, lucu jadi rame aja gitu kalau lagi ngobrol sama dia.”
“Cie … si Abang lagi jatuh cinta nih? Coba lihat kek gimana ceweknya?”
Mandala mengambil paksa gawai Semeru dari Arga. “Imut juga, siapa namanya, Bang?”
“Rengganis, panggilannya Rere,” jawab Semeru dan tersenyum menerawang.
“Mumpung belum jadian, mending lo tanya dulu gih sama Ibun, sreg nggak sama Rere. Daripada tar kayak gue udah jalan lama, Ibun nggak suka sama Ghea malah doain yang nggak-nggak, jadi putus 'kan gue,” saran Arga dengan nada kesal mengingat nasib cintanya yang kandas.
“Bener tuh Bang, restu orang tua itu penting,” tambah Mandala.
Semeru tampak berpikir, “Oke deh, nanti gue tanya Ibun dulu. Tapi gue yakin sih Ibun bakal suka, soalnya Rere anaknya supel sama sopan juga. Pas lah sama kriteria menantu idaman Ibun. Nggak kayak Ghea si artis jadi-jadian itu.” Ucap Semeru dengan nada mengejek.
Kini ganti Arga yang melempar kulit kacang pada Semeru. Mandala malah tertawa melihat dua kakaknya perang kulit kacang.
“Lo nggak usah sedih mulu dong, Ga. Masa polisi patah hati ampe segitunya, move on lah,” pinta Semeru. Sebagai Kakak tertua ia tak tega melihat adiknya menjadi murung dan sering melamun setelah putus cinta.
“Hh … gue bukannya nggak mau move on, Bang. Gue cuma pengin istirahat dulu lah dari cinta-cintaan. Lagian gue udah males juga pacaran ujung-ujungnya putus. Buang waktu sama duit. Gue mau cari calon istri aja langsung, yang mau nerima gue sepaket sama kerjaan gue yang kayak Spiderman.”
“Spiderman?” Semeru dan Mandala kompak.
“Iya, Spiderman 'kan sama gantengnya ama gue. Terus kalau tiba-tiba ada kejahatan juga dia 'kan langsung pergi ke TKP, walaupun lagi jalan sama pacarnya. Semua dilakukan demi melawan kejahatan dan membela kebajikan, I’m a superhero, Man!”
Arga membanggakan diri, kedua saudaranya saling pandang dan mengendikkan bahu.
"Panji manusia millenium, lo?" celetuk Semeru, diikuti gelak tawa Mandala.
Ketiganya lalu kembali bercengkrama ditemani petikan gitar dan kacang kulit serta sebotol soft drink.
*****
Pagi pun menjelang, sidang perkara pidana perampokan bersenjata digelar di Pengadilan Negeri Jakarta. Arga sudah berada di kantor pengadilan sesuai tugasnya mengawal saksi selama persidangan.
“Kamu nggak usah takut, kamu ceritain aja semua yang kamu lihat, kamu dengar dan kamu rasain di depan Hakim,” Arga mencoba menenangkan Maura yang tampak tegang.
Gadis muda itu hanya menangguk tanpa berani menatap polisi tampan di sampingnya. Tangan Maura sudah berkeringat dan dingin, jantungnya sudah berdetak tak normal. Tidak hanya tegang karena akan menghadapi pengadilan, tapi juga karena posisi duduknya begitu menempel dengan Arga. Suasana kantor pengadilan begitu ramai, bahkan beberapa orang ada yang tak kebagian tempat duduk. Maka Maura hanya bisa pasrah sambil menikmati aroma maskulin yang menguar dari tubuh kekar di sampingnya.
“Saksi udah siap, Ga?” sosok laki-laki memakai baju toga berwarna hitam dengan simare merah dan bef putih serta peci hitam datang menghampiri Arga.
“Siap, Yah.” Arga berdiri tegap.
“Oke, bawa masuk saksinya,”titah Jaksa yang ternyata Ayah Arga.
“Siap!”
“Maura, ayo, sudah siap 'kan?” ajak Arga.
Maura lalu berdiri dengan gemetar, ini adalah kali pertama ia masuk ke ruang sidang dan duduk di kursi panas berhadapan dengan hakim.
“Inget, ceritain semua yang kamu tahu apa adanya, jangan ada yang tutupi, dikurangi atau ditambahi,” bisik Arga tepat di telinga kiri Maura, membuat aliran darahnya seolah berhenti mendadak.
“Saksi Maura Intan Permata sudah siap, majelis!” ujar Jaksa Setiono Rahadian.
Setelah diambil sumpah di bawah Al Quran, Maura kemudian dipersilahkan duduk. Hakim lalu memulai pertanyaannya.
“Saudara Saksi telah disumpah, maka saudara wajib memberikan keterangan yang sebenar-benarnya tentang apa yang saudara lihat, dengar atau alami sendiri dan jangan sekali-kali memberikan keterangan yang palsu karena saudara dapat diancam dengan sanksi pidana, Saudara mengerti?”
“S-saya mengerti, Pak.”
“Saudara saksi, apakah benar saudara berada di Toko Emas Pulau Berlian pada hari Minggu pukul 11.05?”
Maura sempat melirik ke arah Arga yang berdiri di dekat pintu samping ruangan, Arga mengangguk.
“B-benar, Pak Hakim.”
“Saudara Saksi, bisa diceritakan bagaimana kronologis kejadian dari awal Anda datang sampai terjadinya peristiwa perampokan?” lanjut Hakim.
Maura kembali melirik ke arah Arga, polisi tegap itu hanya mengangguk. Kemudian mata Maura beralih pada tiga orang memakai baju tahanan yang duduk di sisi kiri. Matanya memicing melihat penampakan wajah ketiga perampok itu.
“Saudara Saksi?” Hakim bertanya ulang.
“B-baik, Pak Hakim.” Maura kemudian memulai ceritanya dengan terbata. Semua menyimak dengan sabar. Hingga akhirnya tim Jaksa Penuntut Umum menunjukkan sepotong baju yang bersimbah darah yang sudah mengering dalam sebuah plastik bening.
“Saudara Saksi, apa benar itu adalah pakaian saudara saat kejadian?”
Kini Maura terlihat syok melihat penampakan baju yang terakhir ia pakai saat menjadi sandera. Ketika melihat bekas darah yang terpola di bajunya, kembali ingatannya membawa Maura pada kejadian mengerikan yang memecah belah keluarganya.
Bagaimana dulu timah panas menembus d**a sang Ibu hingga terjerembab di lantai bermandi darah. Ditambah dengan kebrutalan sang Ayah menusuk perut salah satu perampok dengan membabi buta hingga lantai rumahnya dibanjiri cairan merah pekat berbau anyir.
Jantung Maura mulai berpacu kian cepat, napasnya mendadak sesak, ia menggigit kukunya kuat-kuat. Wajah, tangan dan punggungnya sudah berkeringat, matanya mulai mulai basah dan berkilat, air mukanya sudah pucat.
“Maura ….” Arga menyadari ada perubahan pada gadis kelas 3 SMA itu.
Polisi tampan itu mulai khawatir pada gadis belia yang misterius dan membuatnya penasaran itu. Arga takut jika Muara akan menyakiti dirinya sendiri seperti yang dilakukan saat di rumah sakit.