"Maura ...," ucap Arga lirih.
Polisi tampan itu benar-benar khawatir dengan kondisi Maura.
"Saudara Saksi? Apakah Saudara baik-baik saja?"
Semua mata di ruangan sidang kini tertuju pada Maura yang mulai terlihat ketakutan. Kedua tangannya sudah menutupi telinga, gadis belia itu mulai menangis.
"Saudara Saksi, apakah Anda sedang tidak sehat?" tanya majelis Hakim memastikan.
Arga pun sudah was-was, begitu pula Kakek dan Nenek Maura yang duduk di barisan pengunjung. Polisi tampan itu pun sempat memberi kode kepada ayahnya agar sidang ditunda dulu.
Setelah melihat kondisi Maura yang sudah tidak kondusif, Hakim akhirnya menunda sidang sampai ke pertemuan berikutnya dengan agenda keterangan saksi lainnya. Sidang pun dibubarkan.
"Maura, kamu kenapa? Hei?"
Arga sudah berlari ke tengah ruang sidang dan berada di depan Maura yang masih duduk di kursi panas.
Seperti dugaan Arga, Maura sudah siap menjambak rambutnya sendiri. Segera polisi tampan itu mencegahnya.
"Stop, Maura! kamu nggak boleh sakitin diri kamu sendiri."
Seketika gadis belia itu menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah depan. Arga tersenyum dengan mata teduh, senyum yang membawa ketenangan dan mampu menghipnotis Maura.
"Apa Maura sudah boleh dibawa pulang, Nak Arga?" tanya Pak Syakir.
"Oh, boleh, Pak. Sidang hari ini sudah selesai. Maura boleh pulang."
Nenek Maura lalu memeluk cucunya dan mengelus punggung Maura lembut.
"Arga," panggil Pak Setiono Rahadian yang datang menghampiri.
"Siap, Yah!"
"Keterangan saksi Maura sudah cukup. Next, nggak perlu hadir lagi di persidangan, mengingat kondisi Maura juga belum stabil."
"Siap!"
Pak Setiono mengangguk, kemudian Arga memperkenalkan ayahnya pada kakek dan nenek Maura. Keempatnya kemudian terlibat obrolan hangat.
"Baik kalau begitu saya pamit dulu, mau lanjut sidang di ruang sebelah. Mari, permisi."
Arga mencium punggung tangan ayahnya sebelum pria yang masih memakai baju toga itu keluar ruangan sidang.
Maura kemudian dituntun oleh neneknya berjalan perlahan menuju parkiran. Arga sudah berjalan di depan bersama Pak Syakir.
Sesampai di parkiran, Arga membukakan pintu untuk Maura dan Nenek. Laki-laki bertubuh kekar itu memang sengaja mengawal keluarga Maura sejak dari rumah hingga ke kantor pengadilan. Maka Arga kembali menyetir mobil Pak Syakir dan mengantar mereka pulang. Sedangkan motor dinas Arga dititipkan di rumah Pak Syakir.
Selama perjalanan Maura mencoba mencuri-curi pandang pada Arga dari spion depan. Sampai tak sengaja netra mereka bertemu karena Arga juga melakukan hal yang sama. Arga melempar senyum, tapi gadis belia itu justru menunduk malu dan jadi salah tingkah.
Setelah 15 menit perjalanan, mereka tiba di halaman rumah Pak Syakir. Arga langsung berpamitan untuk kembali ke kantor.
"Nggak mampir dulu, Nak Arga?" tanya Pak Syakir.
"Iya, makan dulu yuk di dalem," imbuh Ibu Syakir, nenek Maura.
"Nggak usah repot, Pak, Bu, terimakasih banyak. Saya lanjut ke kantor."
Pak Syakir dan istrinya mengangguk mengerti. Giliran Arga berpamitan pada Maura. Gadis berrambut pendek itu masih setia menunduk.
"Saya pulang dulu yah. Kamu hebat udah berani cerita yang sebenarnya di depan Hakim. Keterangan kamu sangat membantu pekerjaan kami. Lain kali jangan sakitin diri kamu sendiri lagi, oke?"
Lagi-lagi reflek tangan Arga mengusap kepala Maura, membuat gadis itu makin tak karuan. Ia sendiri tak tahu perasaan apa yang sedang dialami, karena tak pernah merasakannya sebelumnya. Bagi Maura, perhatian dan kepedulian Arga benar-benar menyentuh hatinya.
Meski Edo, sahabat lelakinya juga melakukan hal yang sama, tapi Maura tak merasakan sensasi membeku dan menegang saat berada di dekat Edo. Lain rasanya dengan saat ini, jarak Maura dan Arga hanya satu langkah, gadis muda itu tak berani mendongak untuk sekadar melihat senyum teduh yang selalu menenangkan dari polisi tampan yang sudah setia menjaganya beberapa hari terakhir.
Arga lalu kembali ke kantor. Setiba di mejanya, ia langsung masuk ke ruangan meeting yang sudah ramai oleh tim. Polisi tampan itu duduk di kursi yang kosong dan menyimak penjelasan Kasat Reskrim tentang kasus baru yang harus mereka ungkap.
"Target DPO ini bernama Jefri atau inisal JF, dia adalah anak seorang pejabat DPRD inisial HS. Dia sudah mangkir di panggilan pertama. Dan saat didatangi ke rumah orang tuanya, mereka mengaku JF ini sudah pindah dan tinggal bersama anak istrinya. Orang tuanya juga mengelak kalau anaknya adalah pelaku pemerkosaan dan pembunuhan berencana atas korban SY."
Arga memperhatikan bagan dan foto pelaku di papan belakang AKP Fendy. Hatinya geram mendengar kasus yang kembali menghilangkan nyawa manusia dengan mudahnya. Perwira itu miris dengan maraknya kasus kriminal akhir-akhir ini. Seolah para pelaku sudah tak takut pada Tuhan Yang Maha Melihat.
"Kita harus kumpulkan bukti dan saksi-saksi yang kuat untuk menyeret JF ke meja hijau. Arga!"
"Siap, Kapt!" Arga segera berdiri tegap.
"Kamu saya tunjuk sebagai ketua di misi ini. Silahkan bersama tim mulai lakukan pengintaian dan mencari bukti-bukti."
"Siap laksanakan, Kapt!"
Setelah selesai melakukan koordinasi bersama tim, meeting pun dibubarkan.
"Arga, bisa stay sebentar," AKP Fendy memanggil.
"Siap, Kapt!"
Arga lalu duduk di dekat atasannya.
"Saya percaya kamu bisa mengungkap kasus ini. Tapi pesan saya, kamu harus tetap hati-hati dan tenang, jangan gegabah. Karena yang kita hadapi adalah HS, bukan sembarang pejabat di kota ini."
"Baik, Kapt!"
"Selain dugaan pemerkosaan dan pembunuhan berencana, JF dan HS juga dicurigai sebagai dalang black market senjata api yang sekarang banyak dimiliki oleh para pelaku kriminal dengan mudah. Salah satunya perampok toko emas tempo lalu yang mengaku kalau beli senjata di black market."
Arga mengangguk mengerti, lawannya kali ini bukan main-main, melainkan seorang mafia yang berbalut jas wakil rakyat. Ia harus membuat strategi khusus agar keluarga mafia itu berhasil dibekuk dan duduk di kursi panas ruang sidang.
Sore menjelang malam, Arga pun pulang ke rumah. Hari ini terasa begitu melelahkan dan menguras otak dan energinya. Sesampai di rumah, Arga mengernyit karena terdengar suara riuh Ibun sedang bercengkrama dengan perempuan.
Setelah mengucap salam, Arga segera masuk dan mendapati ruang tengah begitu ramai.
"Eh, Arga udah pulang? Sini kenalin ini Rere, temennya Eru."
Ibun begitu antusias mengenalkan Rere. Arga pun menerima jabat tangan mungil milik perempuan imut yang duduk di samping Semeru. Setelah bersalaman dengan semua penghuni ruang tengah, polisi tampan itu pun pamit dan beranjak ke kamarnya di lantai dua untuk membersihkan diri dan makan malam.
Saat turun untuk makan malam, suasana sudah sepi. Arga pun tak melihat Semeru dan Rere.
"Bang Eru kemana, Bun?" tanya Arga pada Ibun yang sedang memasukkan cangkir bersih ke lemari gantung.
"Si Eru lagi nganter Rere pulang."
Arga ber-Oh ria lalu melanjutkan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk. Saat sedang khusyuk makan malam, kembali polisi tampan itu harus mendengar backsound ceramah Ibun yang tiba-tiba menggema.
"Arga, contoh itu Abang kamu, kalau cari cewek itu yang kayak model Rere. Ibun suka deh."
Ibun menyelipkan diri di antara meja dan kursi sambil mengupas jeruk. Arga mendadak menghentikan suapannya. Jika Ibu akan berceramah tema keutamaan salat, puasa dan sedekah pasti Arga akan menyimak dengan saksama. Tapi jika Ibun hanya akan membahas masalah calon menantu idamannya, Arga angkat tangan.
Perwira polisi itu sedang dalam mode malas membahas masalah perempuan. Setelah tadi sore ia melihat postingan terbaru Ghea sedang bergandengan bersama seorang lelaki tinggi dengan rambut gondrong sebahu.
Meski dalam keadaan siluet, tapi Arga yakin 100% siapa laki-laki yang menggandeng mantan pacarnya itu. Bahkan latar belakang pantai mereka adalah sunset di Bali. Arga semakin yakin jika mereka sebelumnya memiliki affair di belakangnya.
"Arga! Denger nggak sih, Ibun ngomong?"
Suara Ibun menarik angan Arga kembali ke meja makan.
"I-iya, denger Ibun cantik," Arga merangkul perempuan kesayangannya.
"Apa coba? Tadi Ibun ngomong apa?" Ibun mengetes Arga, karena ibu tiga putra itu tadi sempat melihat anak keduanya melamun.
"Iya, Ibun, kalau mau cari cewek itu kayak Rere, gebetannya Bang Eru."
Sebenarnya hanya kalimat pertama yang Arga dengar, selebihnya ia sudah tak menyimak lagi apa yang Ibun katakan. Baginya isi ceramah Ibun pasti akan sama saja dan berulang, hingga Ibun mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan Arga harus siapkan telinga dan jiwa yang tenang saat mendengarkan kultum Ibun yang akan berlangsung lama hingga durasi yang belum bisa ditentukan.