Dua tahun berlalu, penyidikan kasus pemerkosaan disertai pembunuhan berencana yang dilakukan oleh JF terpaksa berhenti karena keluarga korban mencabut laporannya.
Tidak hanya Arga yang merasa aneh, seluruh tim dan Kasat Reskrim juga merasa ada kejanggalan. Padahal sejak awal laporan keluarga korban begitu menggebu-gebu ingin memenjarakan JF yang diduga sebagai pelaku pemerkosaan sekaligus pembunuhan berencana putri mereka yang masih duduk di bangku kuliah.
Namun, jika pihak pelapor mencabut laporan dan membatalkan gugatannya maka kasus pun harus ditutup. Ada rasa kecewa di hati Arga karena misinya gagal, ia merasa penguntitan dan pengumpulan bukti-bukti selama ini untuk mengusut kasus ini sia-sia.
Arga sudah tak heran jika menemukan kasus yang menyeret pejabat memang pasti perlu waktu lama untuk mengungkapnya, bisa tahunan. Karena pasti sang pejabat sudah menutupi boroknya dengan rapi, bahkan tak segan akan menyogok pihak-pihak yang bisa meloloskan dirinya dari jerat hukum. Termasuk menyogok oknum aparat hukum atau membungkam si pelapor dengan uang.
Pagi ini, Arga mendadak kurang bersemangat untuk masuk kerja. Entahlah polisi tampan itu merasa ada campur tangan uang di balik kasus yang sedang ia usut. Arga yakin, pelaku JF dan ayahnya pasti sudah membungkam keluarga korban agar menghentikan kasus ini ke meja hijau.
"Pagi, Ga. Lemes amat lo? tumben," sapa Deny, rekan satu timnya di Sat Reskrim.
"Iya nih, Bro. Gue masih kepikiran kasus JF. Gue yakin keluarga korban pasti dibungkam pakai duit."
Arga duduk di mejanya dan mulai membuka laptop, meja kerja yang tanpa sekat membuat mereka bisa leluasa bercengkrama satu sama lain.
"Hmm, mau gimana lagi, Ga? Kita hidup di negara yang masih menganut hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas," keluh Deny.
Arga mengiyakan dalam hati, sekian tahun bekerja sebagai penegak hukum tak jarang Arga menemui kasus yang tiba-tiba diberhentikan penyidikannya karena pihak pelapor mengaku sudah berdamai dengan pihak terlapor.
"Psst, Gaes! Udah tahu belum kalau ada yang seger-seger di kantor kita."
Alfa, salah satu rekan Arga keluar dari ruangan Kasat Reskrim dengan berbinar.
"Apaan? Ada es kuwut?" timpal Deny.
"Mata lo es kuwut! Ini lebih maknyes bikin adem timbang es kuwut, Men!" Alfa masih antusias.
Arga menaikkan satu alisnya dan menggeleng mendengar ocehan Alfa yang menurutnya tak jelas.
"Apaan sih, Al? Kalau ngomong tuh pake judul." Arga bicara dengan mata masih fokus ke laptop.
"Itu loh, kantor kita kedatangan mahasiswa magang. Dia cewek, cantik, lucu, pokoknya bakal bikin adem kantor kita deh. Eh, eh, tuh anaknya dateng." Alfa yang duduk di depan Arga langsung menyenggol lengan polisi tampan di depannya.
"Selamat pagi semua, kenalkan saya Intan, mahasiswa yang akan magang di sini."
Semua menyalami Intan dengan antusias dan tatapan memuja, seperti baru kali ini melihat perempuan cantik. Kini giliran Intan yang sudah berdiri di depan meja Arga.
"Psst, Ga! Itu si Intan ngajak salaman."
"Oh, eh ... Ar ... ga." Arga terkejut melihat seorang perempuan dengan rambut hitam panjang berponi yang menyambut jabat tangannya.
"Intan?" Kening Arga berkerut.
"Mohon bimbingan dan arahan Bapak-Bapak semua selama saya magang di sini." Intan menangkupkan kedua tangannya di d**a.
"Jangan panggil Bapak ngapa? kita belum setua itu loh. Panggil Kakak aja, nanti kita panggil kamu Adek Intan. Biar makin akrab gitu kayak kakak adek." Alfa menaikturunkan alisnya. Intan menunduk malu-malu.
Semua mencibir Alfa, kecuali Arga yang masih fokus menatap lekat perempuan yang semakin terlihat anggun dan dewasa dengan kemeja putih dan celana panjang hitam yang ia kenakan serta sepatu high heels 7 cm.
"Arga," panggil AKP Fendy saat keluar dari ruangannya.
"Siap, Kapt!" Arga segera berdiri tegap.
"Ini Intan, mahasiswi jurusan kriminologi dari UI yang lagi magang di sini selama tiga bulan. Tolong kamu dampingi dia selama magang, kasih dia contoh kasus untuk dianalisa," titah sang Kasat Reskrim.
"Siap, Kapt!" seru Arga.
"Yang lain juga tolong bantu Intan kalau ada kesulitan."
"Siap, Kapt!" jawab semua kompak.
AKP Fendy kemudian masuk kembali ke ruangannya. Semua lalu berkerumun di meja Arga dan menghampiri Intan. Arga hanya menggeleng melihat kelakuan rekan-rekannya yang seperti buaya kelaparan.
"Ini pada ngapain sih ngerubungin meja gue, bubar!" seru Arga.
"Ya elah, selow sih, Ga. Kita 'kan pengin ngobrol sama Dek Intan. Dek Intan tadi berangkat naik apa?" Alfa mulai melancarkan aksinya.
"Naik ojek online, Kak," jawab Intan ramah, ia merasa senang telah diterima baik di kantor polisi tempat ia magang.
"Wah, kalau gitu nanti sore, Kak Alfa anterin aja yah pulangnya. Pamali cewek pulang naik ojek sore-sore nanti diculik lagi."
Semua kompak meneriaki Alfa yang mulai modus. Arga hanya menggeleng.
"Udah bubar, bubar sana! Kerja, woy!" Arga mendorong Alfa agar menjauh dari mejanya. Begitu pula Deny, Rio dan rekan lainnya yang mulai membubarkan diri.
Kini menyisakan Intan dan Arga yang berdiri mematung. Arga masih sibuk dengan pikirannya, merasa tak asing dengan gadis berponi di depannya. Sedangkan Intan sedang berusaha meredam degum jantungnya yang kembali bertalu setelah sekian lama debaran itu meredup seiring menghilangnya sosok laki-laki tegap yang pernah mengusap kepalanya dua kali, dulu.
"Kayaknya saya pernah lihat kamu deh. Kamu ... Maura?" tebak Arga.
Kini giliran perempuan berrambut hitam itu yang terkejut sekaligus berbunga. Ia tak menyangka laki-laki pertama yang membuatnya merasakan debaran aneh masih mengingatnya dengan jelas setelah sekian tahun tak bertemu.
Mendadak lidah Intan kelu dan jadi salah tingkah. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk berteriak histeris saat kali pertama tadi pagi ia menginjakkan kantor polisi ini dan ditempatkan di bagian Satreskrim, serta melihat nama Arga Sena Rahadian di papan organisasi yang tertempel di dinding.
Mahasiswi itu juga sudah berusaha bersikap biasa saat berjalan mendekati meja seseorang yang mata teduhnya ia rindukan, sedang fokus menatap layar 14 inchi. Perempuan yang mengganti nama panggilannya menjadi Intan itu pun mencoba menahan gejolak di hatinya yang begitu gembira bisa kembali bertemu dengan laki-laki yang memotivasinya untuk menekuni bidang hukum dan mengambil jurusan kriminologi.
"Maura? Kamu Maura, kan?" Arga masih penasaran.
Intan lalu mengangguk sambil menunduk. Kini giliran Arga yang berbinar, ia tak menyangka gadis SMA yang dulu pernah ia jaga sudah berubah menjadi perempuan anggun dan cantik, meski tanpa polesan riasan yang berlebihan.
"Ya ampun Maura ... kamu udah gede sekarang!" Reflek Arga menggenggam kedua bahu Intan karena takjub akan perubahan penampilan gadis belia yang dulu terlihat misterius.
Lagi-lagi sentuhan Arga berhasil membuat Intan masuk ke mode beku, hampir saja jantungnya melompat keluar saat Arga kembali mengusap kepalanya. Rasanya Intan ingin pingsan.
'Yuk bisa yuk fokus magang, Intan. Cuma tiga bulan, nggak lama. Kuat, kuat, aku pasti kuat,' Intan bermonolog menguatkan hatinya yang mulai melemah mendapat perlakuan istimewa di hari pertamanya magang.
"Kamu beneran naik ojek?" pertanyaan Arga membuyarkan lamunan Intan.
"I-iya, Kak."
Intan masih setia menunduk, ia tak mau lagi terhipnotis tatapan teduh Arga yang menenangkan. Ia tak mau terlena dan abai akan tujuan utamanya berada di kantor polisi ini. Gadis tinggi itu sudah berjanji untuk tak mau terlibat dalam ikatan asmara yang menurutnya hanya akan merepotkan saja.
"Kalau gitu nanti sore saya anterin pulang yah, sekalian pengin ketemu sama Kakek, Nenek kamu. Kangen juga ngobrol sama Kakek kamu," kini Arga mengikuti jejak Alfa.
Intan masih diam tak berkutik.
"Sebentar saya ambilin berkas kasus dulu ya buat dianalisa. Sementara kamu duduk aja dulu di meja saya." Kembali Arga mengusap kepala Intan sebelum berlalu ke ruangan arsip dokumen.
Rasanya Intan ingin menjerit, melompat, salto dan melakukan apapun yang mampu membuat hati dan jantungnya bisa kembali normal seperti sedia kala.
'Duh, kalau tiga bulan diginiin terus gimana aku konsen magang?' gerutu Intan.