Hari Pertama

1753 Kata
Intan masih berdiri mematung di depan meja Arga. Ia bingung harus berbuat apa di hari pertamanya magang. "Lho, kok masih berdiri? duduk aja." Arga datang membawa satu binder berkas tebal dan menaruhnya di meja. "Duduk lah." Arga mengkode agar Intan duduk. Tak mau berlama-lama menghirup aroma tubuh Arga, Intan terpaksa menuruti perintah polisi tampan di sampingnya. "Kamu nggak bawa laptop?" Intan menggeleng, tentu saja mahasiswi tak menyangka jika akan langsung diberi contoh kasus di hari pertama magang. Ia pikir hari pertama hanya acara perkenalan dan ramah tamah. "Ya udah pakai aja dulu laptop saya. Besok jangan lupa bawa laptop yah." Arga tersenyum dan menyodorkan map berkas warna hitam. "Ini saya ambilin kasus yang belum lama, kamu pasti udah pinter lah nganalisa. Udah sering baca komik Conan, kan?" Lagi-lagi Arga tersenyum, senyum yang melelehkan hati seorang Maura Intan Permata. "Eh, temen kamu apa kabar? Siapa namanya yang maunya dipanggil Sinichi Kudo?" Arga tampak berpikir. "Edo?" "Nah, iya, Edo! Kuliah dimana dia?" "Di UGM, ambil hukum juga," jawab Intan tanpa mendongak dan pura-pura sibuk membuka berkas. "Keren juga tuh anak," Arga manggut-manggut. "Kamu nggak usah kaget yah sama suasana di sini. Yah beginilah kita kalau di kantor, masih bisa becanda, seru-seruan. Tapi kalau udah di luar, apa lagi di TKP ya kita pasti serius lah.". Intan hanya menanggapi dengan senyuman, ia bingung akan menjawab apa. Baginya, pertemuannya kembali dengan polisi tampan yang sempat membuatnya nyaman dan aman itu berhasil mengacak-acak hatinya lagi yang sudah ia teguhkan untuk belajar melupakan. Hari ini Arga tak ada tugas keluar, ia disibukkan dengan laporan penutupan kasus JF. Karena laptopnya sedang dipakai Intan, maka Arga menggunakan laptop inventaris kantor untuk bekerja. Keduanya terlihat khusyuk di depan laptop dan duduk saling berhadapan. Intan sesekali mencuri pandang ke arah polisi berhidung mancung di depannya. Mahasiswi itu semakin kagum pada sosok Arga yang tidak hanya tampan, tapi juga serius dan fokus saat bekerja. 'Duh, fokus, Tan, fokus!' Intan memperingati dirinya sendiri. Perempuan berrambut panjang itu kemudian berusaha fokus membaca berkas di depannya. Saat mulai larut dalam cerita kasus yang ia baca, tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Arga yang juga diam-diam mencuri pandang pada gadis berponi di depannya menjadi heran. Kedua alisnya bertaut, ia kembali khawatir pada Intan. "Maura? Kamu kenapa?" Arga masih terbiasa memanggil Intan dengan nama Maura. "Eh, nggak apa-apa, maaf." Intan segera mengusap air matanya. Arga mengernyit lalu menarik berkas di hadapan Intan dan membacanya sekilas. Seketika polisi tampan itu teringat sesuatu. Arga baru ingat jika contoh kasus yang ia berikan kepada Intan, kisahnya hampir mirip dengan yang dialami gadis cantik di depannya. Kasus tentang seorang pemuda yang dipenjara karena menebas leher tetangga dengan kapak yang memperkosa ibunya. Pelaku terpaksa menjadi tersangka karena menghilangkan nyawa seseorang demi membela keluarganya. Hampir mirip dengan kasus Ayah Intan. "Saya ganti aja yah berkasnya." Arga menutup berkas dan akan berdiri. "Eh, nggak usah, Kak. Nggak apa-apa, berkas yang itu aja." "Kamu yakin?" tanya Arga dengan nada khawatir. Intan mengangguk dan tersenyum. Ragu, Arga kembali menyerahkan berkas di hadapan mahasiswi itu. Gadis berponi itu kemudian melanjutkan membaca berkas kasus di depan. Meski kini ia sudah tak bisa fokus lagi, karena ia merasa sepasang mata sedang memperhatikannya. Sedangkan mata Arga masih setia memandangi gadis berrambut panjang di hadapannya. Betapa ia terpesona dengan perubahan drastis yang ada pada gadis misterius itu. "Kerja, woy! Kerja! Malah lihatin anak gadis orang aja!" Tepukan Alfa di pundak Arga membuyarkan lamunan keduanya. Intan semakin menunduk. "Ck, resek lo, Al!" Arga kemudian kembali fokus pada laptopnya. "Alah ... udah lah nggak usah jadi sok sibuk gitu. Dipanggil Kapten, tuh!" Alfa tak bohong, ia baru keluar dari ruangan AKP Fendy dan laki-laki berrambut cepak itu diminta memanggil Arga ke ruangan Kasat Reskrim. "Serius?" "Iye, serius. Elah, nggak percaya amat lo ama gue. Tenang, Adek Intan gue jagain kok di sini nggak bakal ilang," ledek Alfa yang sedari tadi sudah memperhatikan interaksi keduanya. "Oke, Maura, Saya masuk dulu yah." Intan mengangguk, Arga tersenyum. "Ah, elah! Pake pamit segala kayak mau perang aja lo, Ga?" Arga hanya membalas Alfa dengan tatapan tajam. Sedangkan Intan kini merasa lega karena lepas dari tatapan lekat sang polisi tampan. "Kalian udah kenal ya sebelumnya?" tanya Alfa penasaran. "Iya, Kak." Alfa baru di mutasi ke polres tempat Arga bertugas enam bulan yang lalu, sehingga ia tak mengetahui kronologis kejadian kriminal yang melibatkan Intan sebagai korban penyanderaan dalam sebuah aksi perampokan bersenjata. "Kayaknya si Arga naksir kamu tuh, Dek." Celotehan Alfa sontak membuat Intan mendadak salah tingkah. "Ah, Kak Alfa bisa aja. Nggak mungkin lah, Kak." "Yee, nggak percaya nih anak. Selama Kakak di sini, baru kali ini Kakak lihat si Arga begitu," cerocos Alfa. "Begitu gimana, Kak?" Intan penasaran, meski mencoba menepis dugaan Alfa, tapi dalam hati ia pun berbunga. Sebut saja Intan sedang gede rasa alias GR. "Iya gitu tadi, lihatin kamu sampai nggak kedip. Emang kamu nggak ngerasa?" Intan menggeleng pura-pura bodoh, padahal sedari tadi ia pun sudah salah tingkah dihujani tatapan dari mata teduh Arga. "Yah, tahan-tahan aja deh nanti kalau kalian sampai jadian. Arga itu workaholic. Mantannya aja nggak kuat dicuekin Arga yang ngerjain kasus mulu." Alfa pernah diceritakan oleh Arga, jika dia sudah menjomlo selama dua tahun lamanya dan ingin lebih fokus pada karir setelah putus dari mantannya yang seorang selebgram. 'Nggak, nggak mungkin Kak Arga naksir aku.' Intan bermonolog dalam hati, mencoba menepis semua kemungkinan. Ia harus kembali fokus pada tujuan utama magang. Lagi pula Intan sadar akan kekurangan dirinya sebagai mantan ODGJ yang mental, mood, dan emosinya belum sepenuhnya stabil. Intan tak mau jika suatu saat menjalin hubungan asmara, justru ia yang menjadi toxic dan akan menyakiti kedua belah pihak. Maka Intan memilih untuk menutup diri dari lawan jenis. Meski saat memasuki bangku kuliah dan merubah penampilannya menjadi lebih feminim, tak sedikit teman kuliah bahkan kakak angkatan yang mendekatinya. Tapi semua Intan tolak dengan alasan ingin fokus belajar. ***** Sore menjelang malam, suasana kantor sudah mulai sepi. Intan sudah bersiap pulang. Sebagai anak magang, meski pekerjaannya sudah selesai sejak pukul tiga sore, tapi ia harus tetap menunggu jam pulang kantor para seniornya. Ia tak mau dicap sebagai anak magang yang seenaknya. "Udah siap? Yuk pulang," ajak Arga. "Eh?" Intan melongo, masih mencerna kalimat ajakan Arga. Polisi tampan itu malah tersenyum melihat ekspresi lucu dari perempuan muda di depannya. "Ayo pulang, kamu mau nginep di sini sama tahanan?" goda Arga. Intan menggeleng cepat. Lalu mengekor langkah tegap Arga menuju parkiran. "Huuw! Perasaan tadi pagi gue deh yang mau anterin Dek Intan. Ini udah langsung ditikung duluan! Berat lah saingan sama asisten Kapten mah, gue mundur aja," celetuk Alfa yang sudah siap melajukan motor matic-nya. Arga hanya tersenyum menyeringai. "Dek Intan, Kak Alfa pulang dulu yah. Hati-hati pulang sama Arga takut dibelokin ke semak-semak." Alfa tertawa puas, meninggalkan Arga yang mendengkus kesal, Intan hanya mengulum senyum. Keduanya lalu berjalan sedikit dan berhenti di depan motorsport warna biru. Arga lalu mengeluarkan helm cadangan kemudian memakaikannya pada Intan. 'Hah? Gimana? Gimana? Maksudnya aku dianter pulang naik motor begini? Dipakein helm pula?' Intan syok melihat penampakan motor khas laki-laki dengan boncengan yang lebih tinggi dari kursi pengemudi. Hingga ia pun hanya pasrah saat Arga memakaikan helm hitam di kepalanya. "Maaf ya, hari ini kita pulang pakai motor dulu ngga apa-apa, kan? Kebetulan saya lagi tukeran sama adik dulu, mobilnya dipinjem dia," terang Arga tanpa ditanya. Mobilnya memang sedang dipinjam oleh Mandala untuk bolak-balik ke lokasi penelitian skripsinya. Sehingga beberapa hari terakhir, Arga ke kantor menggunakan motorsport milik Mandala. "Oya, kamu kenal Mandala nggak? Dia adik saya, anak hukum UI juga. Tapi sekarang lagi skripsi sih dia. Jauh kali ya angkatannya jadi jarang lihat." Arga bercerita sendiri dengan tangan sibuk memakai helm. Sementara Intan masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Yuk, naik!" Suara starter motor yang menderu membuyarkan lamunan Intan. "Ayo naik!" suara Arga dari balik helm full face. Intan sedikit bingung cara menaiki motor tinggi di depannya. Arga tersenyum. "Kamu pegangan sini, terus kakinya injek itu." Intan mengikuti arah petunjuk Arga yang menunjuk bahunya kemudian pijakan kaki belakang. "Ayo, keburu malem loh nanti dicariin sama kakek, nenek." 'Duh, ini beneran aku pulang sama dia malam ini?' Rasanya Intan ingin kabur saja dan memesan ojek online yang memakai motor matic, bukan motor tinggi seperti ini. "Maura? Kok ngelamun, ayo pulang." "Oh, eh, i-iya." Perlahan Intan lalu mengikuti tutorial yang diberikan Arga untuk menaiki motorsport warna biru di depannya. "Pegangan yah." kedua tangan Intan ditarik ke depan agar melingkar di perut sixpack Arga. Seketika Intan menahan napas saat tubuhnya tak berjarak sama sekali dengan punggung bidang di depannya. Bisa Intan rasakan aroma maskulin dari laki-laki berjaket kulit warna hitam yang memboncengnya. Sepanjang perjalanan, Intan masih terdiam antara syok, tegang, takut, bahagia, malu, semua rasa bercampur jadi satu. Ini adalah kali pertamanya dibonceng oleh laki-laki, terkecuali dengan kakeknya dan juga driver ojek online tentunya. Itu pun posisi duduknya tak sedekat dan menempel seperti ini. Tangan Intan mulai terasa dingin, selain karena terpaan angin malam, juga karena merasa tegang. Berbeda dengan Arga yang menikmati perjalanan dengan tersenyum penuh makna. Hari ini mood-nya kembali bagus saat melihat keberadaan Intan di kantornya, padahal sebelumnya ia sudah tak b*******h untuk sekadar berangkat ke kantor karena kegagalan misinya. Namun kehadiran Intan benar-benar jadi mood booster untuknya. Kali ini Arga membenarkan kalimat Alfa yang mengatakan bahwa kedatangan Intan membuat hatinya jadi lebih adem. "Kita makan dulu yah, kamu mau makan apa?" tanya Arga sambil menoleh dan membuka kaca helm full face-nya. "Hah? Apa? Nggak denger, Kak." Intan tak bisa mendengar jelas ucapan Arga, selain karena tertutup helm, juga karena suara Arga terbang terbawa angin. Sehingga kalimat yang diucapkan tak terdengar utuh oleh Intan. Arga tersenyum saat merasakan tubuh Intan semakin maju dan mendekatkan wajahnya di telinga kirinya. Arga lalu memperlambat laju motornya, dan kembali berbicara lebih lantang agar terdengar. "Kita makan dulu yah, kamu mau makan apa?" Intan baru mendengar dengan jelas saat Arga berbicara perlahan dengan nada suara lebih tinggi. "Oh, terserah Kakak aja." Hanya itu yang bisa Intan jawab, karena posisi duduknya saat ini membuatnya serba salah. "Oke, pegangan yah." Arga mengeratkan kembali kedua tangan Intan di perutnya kemudian mempercepat laju motornya. Intan yang masih menegang akibat sentuhan Arga di tangannya hanya bisa mencengkram ujung jaket kulit Arga sebagai pegangan. Malam ini pasti tak akan pernah bisa dilupakan oleh keduanya. Meski bukan kali pertama membonceng perempuan, tapi bagi Arga sensasi malam ini berbeda. Pelukan Intan yang kaku terasa begitu hangat baginya. Ada rasa senang sekaligus bangga melihat penampilan Intan sekarang yang kecantikannya semakin terlihat sempurna. Arga pun kini mulai ingin bisa menjaga dan menemani Intan seterusnya. Termasuk menjad supir pribadi Intan yang mengantar kemana pun perempuan itu ingin pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN