Semakin Dekat

1972 Kata
"Kita makan ini yah, kamu doyan, kan?" Motor Arga berhenti di pelataran warung tenda seafood. "Iya, Kak." Intan menjawab sekilas, ia sedang berpikir bagaimana caranya turun dari motor. "Masih betah di motor?" goda Arga yang sudah mematikan mesin motor. "Eh, ng-nggak, ini turunnya gimana, Kak?" Seumur hidupnya ia belum pernah membonceng motorsport seperti ini apa lagi bersama laki-laki yang selalu membuatnya jantungan. Arga mengulum senyum setelah membuka kaca helm fullface. "Kamu pegangan lagi di sini, kayak tadi waktu naik aja, tapi dibalik urutannya." Arga lalu berinisiatif meletakkan kedua tangan Intan di pundaknya. Gadis itu hanya bisa menurut, ia merasa serba salah saat ini. "Sekarang turun, bisa, kan?" "Bisa, Kak." "Oke." Arga menunggu Intan turun, disusul dirinya. Lagi-lagi jantung Intan rasanya ingin melompat saat Arga melepaskan helm di kepalanya. Mata beningnya disuguhi pemandangan jakun Arga yang naik turun dan terlihat ... sexy. 'Astaga! Mikirin apa aku ini?' Intan menutup mata dan menggeleng cepat. "Kamu kenapa? Pusing?" tanya Arga. "Oh,eh, ng-nggak, Kak." Intan jadi salah tingkah dan menunduk. Belum juga degup jantungnya normal, kini hatinya kembali dibuat kebat-kebit saat Arga tiba-tiba menggenggam tangan kirinya dan menggandennya hingga ke tempat seafood lesehan. "Tangan kamu dingin banget." Arga sedikit khawatir saat merasakan tangan dingin Intan. 'Ini 'kan gara-gara kamu, Kak!' gerutu Intan dalam hati. "Nanti pas pulangnya, tangan kamu masukin aja ke jaket saya, biar nggak dingin begini." Arga masih tak mau melepas genggaman tangannya sampai mereka menemukan meja dan pramusaji memberikan menu. Intan menghembuskan napas, lega rasanya lepas dari kungkungan tangan kekar Arga. "Kamu mau makan apa?" "Samain aja, Kak." Arga lalu menyebutkan menu udang asam manis, cumi goreng tepung, kerang hijau saus Padang, nasi serta lalapan dan sambal. Tak lupa memesan es teh manis dan air mineral. "Kamu nggak alergi seafood, kan?" Intan hanya menggeleng. "Oya, Kakek sama Nenek kamu gimana kabarnya? Sehat?" Kali ini Intan hanya mengangguk. "Alhamdulillah kalau gitu. Emm ... Maura kamu kenapa tiba-tiba ganti nama panggilan jadi Intan? Hampir aja saya nggak kenalin kamu tadi pagi." Arga membuka obrolan, rasanya ia tak puas hanya dengan jawaban anggukan dan gelengan kepala. Maka perwira itu mencoba mencari pertanyaan essay yang jawabannya butuh penjelasan panjang. Rupanya usaha Arga berhasil, karena kini Intan tampak mulai berpikir. Polisi tampan itu pun tersenyum gemas melihat gadis cantik natural di depannya sedang menerawang melihat ke atas. "Intan itu gabungan nama Papa Mama saya. Indra dan Tantri." Arga mengangguk-angguk, merasa belum puas, ia lalu bertanya lagi. "Kenapa baru sekarang pakai nama Intan? Padahal Maura juga bagus kok, malah saya lebih suka manggil kamu Maura," cengir Arga. Intan terdiam sejenak, lalu menghela napas sebelum menjawab. "Karena kalau saya pakai nama Intan, saya ngerasa lagi deket Papa sama Mama saya." Arga menyimak cerita Intan. "Saya emang nggak mau pakai nama Maura lagi, karena nama itu penuh kenangan pahit buat saya. Dan saya pengin lupain itu semua." Intan terlihat murung dan menunduk, Arga jadi merasa bersalah. Polisi tampan itu tak menyangka jika pertanyaannya justru membuka luka lama Intan. "Hey, maaf ya saya nggak bermaksud buat bikin kamu sedih." Arga menarik tangan dingin Intan dan menggenggamnya erat seolah bisa membagikan kekuatan. Intan terkejut dengan usapan lembut di tangannya, perlahan ia mendongak. Mata berkacanya bertemu dengan mata teduh yang entah mengapa selalu berhasil membuatnya merasa aman, tenang dan nyaman. "Jangan sedih lagi, yah." Arga tersenyum, senyum yang membuat Intan kembali meleleh. Tak lama, pramusaji datang membawa pesanan. Keduanya lalu makan dalam diam, meski diam-diam Arga mencuri pandang dan memperhatikan cara Intan makan. Selesai makan, Arga melihat Intan mengeluarkan obat dari dalam tas dan meminumnya. "Itu obat apa?" Arga penasaran. "Oh, ini obat antipsikotik, Kak. Obat resep dari psikiater," jawab Intan dengan senyum. Intan memang tak pernah menutupi kekurangan dirinya pada orang lain. Ia lebih baik tampil apa adanya dirinya, dari pada harus menutupi penyakit mentalnya yang mungkin belum bisa diterima dengan mudah oleh lingkungan sekitar. Ini adalah salah satu trik Intan untuk menguji sekaligus mengusir para laki-laki yang coba mendekatinya. Terbukti, biasanya mereka langsung mundur teratur saat mengetahui jika Intan adalah mantan pasien rumah sakit jiwa. Sejauh ini hanya Edo yang masih bertahan berteman denganya bahkan selalu men-support Intan untuk terus mengejar mimpi-mimpinya. Salah satunya untuk melanjutkan kuliah jurusan Kriminologi saat ini. Meski sempat sedih karena mereka harus terpisah jarak Jakarta-Yogyakarta, tapi mereka masih sering berbagi kabar dan cerita di kala senggang. Kali ini, Intan ingin menguji Arga. Ia yakin setelah ini, polisi tampan di depannya juga pasti akan mundur teratur. Lagi pula Intan memang sudah menyiapkan hati dan sadar diri, jadi ia tak terlalu banyak berharap. "Kamu masih rutin ke psikiater?" "Masih Kak, rawat jalan aja. Tapi Alhamdulillah sekarang obatnya udah berkurang cuma satu. Biasanya dulu dikasih banyak," cengir Intan. "Bagus lah kalau gitu, biar cepet sembuh, yang penting kamu sabar dan telaten minum obatnya. Terus kapan jadwal kontrol lagi?" "Ngabisin obat ini, yah minggu depan mungkin," jawab Intan asal. "Nanti kabari aja kalau udah jadwalnya kontrol yah, siapa tahu saya lagi kosong biar saya bisa anterin kamu." Arga tersenyum, tidak dengan Intan yang heran dengan reaksi Arga. 'Alamak! Kenapa malah dia mau nganterin?' "Emang Kakak nggak malu nganterin saya ke psikiater?" Intan masih mengerutkan kening. "Kenapa mesti malu, justru saya salut sama kamu yang masih terus berjuang buat sembuh dan sehat," jawab Arga dengan senyum yang masih membuat Intan kalang kabut. "Next, kalau kamu lagi ada masalah jangan pendem sendiri yah. Saya siap kok dengerin cerita kamu, apapun itu. Oke?" Arga mengusap lembut tangan Intan yang mulai menghangat. Kini Intan merasa sedang tersengat listrik akibat belaian tangan laki-laki tampan di depannya. "Udah malem, yuk," ajak Arga sambil menarik tangan Intan agar bisa berdiri. Mahasiswi itu sudah tak bisa berpikir normal, ia semakin heran dengan perlakuan Arga yang selalu manis padanya. Intan merasa harus semakin menguatkan hatinya agar tak terlena. Arga mengulang adegan yang sama saat akan menaiki motor. Kali ini laki-laki tegap itu memasukkan tangan Intan ke dalam saku jaket kulitnya. "Biar kamu nggak dingin," ucap Arga dibalik helm fullface-nya. Intan hanya bisa pasrah dengan perlakuan manis Arga malam ini. Esok ia akan berusaha lebih keras lagi untuk menghindarinya. Sesampai di rumah kakek neneknya, Intan sudah ditunggu di kursi teras. Pak Syakir langsung berdiri saat melihat cucunya pulang dibonceng laki-laki. "Assalamualaikum, Pak, apa kabar?" Arga segera menyalami kakek Intan. "Loh, Nak Arga? Kok bisa bareng Intan?" "Iya, Pak. Kebetulan Maura, eh Intan, magang di kantor saya." jawab Arga setelah menyalami Nenek. "Oh gitu, Alhamdulillah kalau begitu jadi Intan ada temen yang dikenal. Nanti titip Intan ya, Nak Arga, tolong dibantu kalau di kantor," Arga kini semringah merasa menang satu poin. "Siap, Komandan!" jawab Arga sigap ala militer. Semuanya tertawa, tidak dengan Intan yang sedang memutar otak bagaimana besok ia bisa 'selamat' dari Arga. "Intan, besok saya jemput yah berangkatnya." "Eh, eh nggak usah, Kak. Biar naik ojek aja." "Ya udah, Tan, nggak apa-apa dijemput Nak Arga. Kakek sama Nenek justru tenang kalau kamu ada yang jagain, polisi lagi," ucap Nenek Maura dengan berbinar. Kali ini Arga ingin teriak 'Yes!' dalam hati. Usai terlibat obrolan hangat dengan kedua orang tua di depannya, Arga lalu pamit pulang. "Kek, Nek apa besok Intan nginep si rumah Om Hasan aja? Biar lebih deket ke kantor Polres? Jadi nggak usah ngerepotin Kak Arga lagi. Soalnya mungkin bakal sering pulang malem, Kek." Intan teringat pada pamannya yang dulu menyarankan Kakek dan Nenek untuk membawa Intan ke rumah sakit jiwa. Om Hasan pernah menawarkan Intan untuk tinggal di rumahnya. "Ya, boleh aja. Nanti Kakek telepon si Hasan." Intan lega, akhirnya menemukan alasan untuk menghindar dari Arga. Ia tak mau terlibat lebih jauh dan akhirnya berharap lebih dari sekadar teman dengan polisi tampan itu. Ia belum siap menjalin hubungan asmara dengan siapa pun saat ini. ***** Esok paginya saat sedang sarapan, Kakek, Nenek dan Intan dikagetkan dengan suara mobil yang mendekat. Tak lama suara salam seorang laki-laki terdengar. "Waalaikumsalam, eh Nak Arga udah dateng," Nenek menyambutnya di depan pintu. 'Duh! Pagi-pagi udah dateng aja!' keluh Intan. "Sini masuk, Intan masih sarapan. Nak Arga udah sarapan belum?" "Udah, Nek, di rumah." Selesai sarapan Intan lalu berpamitan pada Kakek Neneknya. Arga sempat heran melihat Intan yang membawa tas ransel cukup besar. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil, Intan sedikit lega karena tak lagi membonceng motor yang membuat posisinya serba salah. "Hari ini aku sengaja bawa mobil, biar kamu lebih nyaman dan nggak kedinginan kayak kemarin." Arga kembali mengacak rambut Intan yang duduk di sisi kiri kemudi. Lagi-lagi Intan hanya bisa menahan napas sambil berdoa agar Arga tak mendengar degup jantungnya. "Kamu mau kemana? Kok bawa tas begitu kayak mau camping," tanya Arga. "Oh, mau nginep di rumah Om. Kebetulan rumahnya lebih deket ke Polres dibanding dari rumah Kakek.". "Oya? Dimana?" "Eh, dimana yah? Saya nggak hafal nama perumahannya. Tapi lebih deket kok. Jadi Kakak nggak usah repot-repot anter jemput saya." akhirnya Intan bisa menolak Arga secara halus. Arga terdiam, kini justru polisi tampan itu yang sedang mencari cara agar bisa semakin dekat dengan perempuan muda yang jadi mood booster-nya. Sesampai di kantor, keduanya sudah disambut dengan ledekan teman-teman Arga. "Gercep amat lo, Ga. Baru juga kenalan kemaren masa udah jadian aja!" celetuk Deny. "Eh, siapa yang jadian?" Intan menjawab polos. "Tahu nih si Arga! Maenannya di tikungan mulu!" Alfa kesal. Arga hanya menggeleng menanggapi ocehan rekan kerjanya. Usai apel pagi, semua kembali ke meja kerja masing-masing. Hari ini Arga ada jadwal olah TKP kasus mutilasi di parkiran sebuah mall. Terpaksa Arga harus meninggalkan Intan di kantor. "Nggak apa-apa kan, saya tinggal?" "Eh, nggak apa-apa, Kak." Intan justru merasa lega. "Semoga nggak sampai malem yah, biar saya bisa anterin kamu pulang lagi." Intan hanya menanggapi dengan senyum, karena dalam hati ia justru berdoa agar Arga pulang ke kantor lebih malam. Jadi Intan bisa pulang sendiri ke rumah pamannya. "Dek Intan, Kakak Alfa berangkat dulu yah," kini giliran Alfa yang berpamitan dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Intan hanya nyengir dan melambaikan tangan melepas para laki-laki tegap yang akan bertugas di luar hari ini. Setelahnya Intan kembali fokus mengerjakan tugasnya menganalisa sebuah kasus dari kacamata seorang Kriminolog. Gadis cantik itu lega karena hari ini ia bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya tanpa gangguan dari tatapan Arga. Hingga tak terasa waktu sudah sore. Usai merapikan meja kerja Arga, Intan pun bersiap pulang. Tak sengaja ia melihat sebuah foto keluarga terpajang di sudut meja. Terlihat Arga berpose bersama dua laki-laki yang ia duga sebagai saudara Arga, bersama ayah ibunya berlatar Universal Studio Singapura. Intan tersenyum melihat foto tersebut, kadang ia merasa iri dengan keluarga yang utuh dan bahagia seperti itu. Gadis cantik itu menghela napas, mengingat keluarganya saat ini sudah tak utuh lagi. "Saya pulang dulu ya, Kak Franky, Kak Adi." Intan berpamitan pada petugas piket hari ini. Kemudian ia memesan ojek online yang akan mengantarnya pulang mengikuti arahan map dari pamannya. Saat tiba di sebuah rumah dua lantai dalam komplek perumahan, Intan disambut oleh sepupunya, Yudith. "Lho, Kak, kenapa nggak ngabarin 'kan bisa dijemput?" "Udah, nggak apa-apa, ternyata deket kok. Nggak sejauh dari rumah Kakek," cengir Intan. Saat akan memasuki rumah, Intan dibuat terkejut melihat sebuah motorsport biru mendekat dan dikendarai seorang laki-laki berhelm full face. Intan ingat betul motor itu yang semalam ia tumpangi. Helmnya pun sama persis dengan yang dipakai Arga. Motor itu kemudian berhenti di sebuah rumah persis di seberang rumah paman Intan. "Kenapa, Kak?" tanya Yudith heran melihat Intan yang begitu terkejut. "Oh, nggak apa-apa." Intan coba menepis dugaan dan menganggap semua hanya kebetulan mirip. Sampai akhirnya si pengendara motor turun dan membuka helmnya. Intan menyipitkan mata, merasa tak asing dengan wajah pemuda itu. 'Kayak pernah lihat tapi dimana yah?' batin Intan. "Baru balik, Man?" sapa Yudith pada tetangganya. "Yoi, Dith. Gue masuk duluan ya, Bro!" jawab si tetangga ramah. Yudith menanggapi dengan mengacungkan jempol. "Siapa dia, Dith?" Intan tak bisa membendung penasarannya. "Oh, itu Mandala, anak tetangga. Eh, abangnya Mandala juga kalau nggak salah polisi deh. Dinasnya di Polres tempat Kak Intan magang juga, namanya Mas Arga. Pernah lihat nggak?" Deg!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN