Petunjuk

1155 Kata
Arga dan Intan sudah memasuki coffee shop, mereka sudah meminta waktu untuk bertemu manajer toko dan mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke sana. Saat sedang menunggu manajer toko datang, mata arga tak sengaja melihat seorang laki-laki berumur sedang menyeruput kopi di pojok ruangan. Arga menyipitkan mata dan memastikan indera penglihatannya tak salah lihat. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa sang manajer coffee shop. Arga terpaksa mengalihkan perhatian kepada laki-laki berdasi dengan papan nama di d**a kiri bertuliskan Dimas. "Siang, Pak ... Dimas. Saya Arga dari Polres Jakarta." Arga dan Dimas saling berjabat tangan, kemudian perwira polisi yang memakai baju casual itu kembali menjelaskan tujuannya. Dimas pun meminta izin sebentar untuk berkoordinasi dengan pimpinannya terlebih dahulu. Arga mengangguk dan kemudian dipersilakan duduk. "Kak? Mau kemana?" Intan heran karena Arga tidak duduk malah berjalan ke arah sudut ruangan. "Kamu duduk aja dulu, tunggu di sini. Saya ada perlu sebentar. Oke, Sayang?" Arga mengedipkan satu matanya, membuat Intan jadi tersipu malu. "Sendiri aja, Pak Hasan? Boleh saya gabung?" Laki-laki beruban yang bernama Hasan Satiri itu lalu mendongak dan memindai Arga. Setelah menghisap cerutunya, lelaki tua itu kemudian mempersilahkan Arga duduk. "Terima kasih," Arga duduk di sofa sebrang. "Apa kabar, anak muda?" Pak Hasan mengangsur kotak tembakau di meja ke arah Arga. "Alhamdulillah, baik, Pak." Arga kemudian menggeser lagi kotak kecil bergambar orang terkena kanker ke hadadapan laki-laki yang berprofesi sebagai anggota dewan sekaligus pengusaha tambang itu. "Gimana kabar Jefry, Pak? Sudah pulang ke rumah?" tanya Arga sambil menyilangkan salah satu kakinya. Pak Hasan menghentikan hisapan cerutunya, lalu mengepulkan sisa asap dari dalam mulut. "Walaupun kasus ini sudah ditutup, tapi suatu saat saya pasti akan bawa Jefry ke meja hijau," tegas Arga. Pak Hasan mematikan bara cerutunya di asbak lalu duduk menyandar. "Saran saya, nggak usah lah kamu repot-repot ngotorin tangan. Mending kamu enjoy aja menikmati hidup sama orang tersayang," Pak Hasan tersenyum menyeringai dengan mata fokus pada Intan yang sedang berjalan mendekat. "Permisi, maaf ganggu, Kak udah ditunggu Pak Dimas." Intan menghampiri Arga dan tersenyum sopan pada Pak Hasan. Perwira polisi itu lalu bangkit dari duduk dan mendekat pada Pak Hasan. "Silahkan Bapak ENJOY nikmati hidup bebas sebelum menikmati masa tua di penjara bersama putra kesayangan," bisik Arga tepat di telinga kiri Pak Hasan. Arga menepuk pundak Pak Hasan kemudian berlalu dan merangkul Intan. Meninggalkan Pak Hasan yang sedang bergemuruh dadanya. Selanjutnya anggota dewan itu mengambil gawai dan menelepon seseorang. "Ada pekerjaan baru buat kamu," ucap Pak Hasan kepada seseorang di ujung telepon. ***** Arga dan Intan sudah tiba di kantor membawa salinan rekaman cctv dari coffee shop. Semua tim juga sudah kembali dari tugasnya masing-masing dan berkumpul di ruang meeting. "Terima kasih atas kerja keras kalian," ucap AKP Fendy pada seluruh anggota timnya. "Saya tadi ketemu HS, Kapt," lapor Arga. "Oya? Dimana?" "Di coffee shop, dan saya rasa dia masih melindungi anaknya, JF. Kita masih bisa mengusut kasus ini, Kapt. Saya yakin tinggal sedikit bukti lagi kita bisa bawa ayah dan anak itu ke penjara." Arga sudah berapi-api, rekan yang lainnya hanya diam. Intan pun jadi penasaran kasus seperti apa yang sedang dibicarakan kekasihnya. Kasat Reskrim itu menghela napas sebelum bicara, "sudah lah, Ga. Lupakan kasus itu, case closed! Lebih baik kita fokus dengan kasus sianida ini." "Tapi, Kapt, HS nggak bis--" "Cukup, Arga! Gunakan waktumu sebaik mungkin menyelesaikan kasus yang ada. Fokus!" hardik AKP Fendy. Arga pun kemudian diam, ia tak bisa lagi melawan atasannya. Tapi dalam hati polisi tampan itu tetap akan mengungkap kasus JF dan HS meski tanpa seragam yang melekat pada dirinya. Hati nuraninya tergerak untuk menegakkan hukum sebenar-benarnya. Intan lalu mengelus lembut lengan Arga. Perwira polisi itu menoleh dan tersenyum pada kekasihnya. Lelaki tegap itu kemudian menarik tangan Intan ke dalam genggaman dan menaruhnya di atas paha. "Kak, malu, lepasin," bisik Intan sambil mencoba menarik tangannya dari kungkungan tangan Arga. Polisi tampan itu hanya menggeleng dan tersenyum, kemudian berpura-pura fokus menghadap ke depan menyimak Kasat Reskrim. "Ish!" Intan kesal dan menyesal telah mengelus lengan Arga. Padahal maksudnya adalah untuk menenangkan Arga, tapi kini justeru ia yang jadi tak tenang hatinya. Gadis berponi itu bisa melihat Alfa dan Deny sedang menahan tawa melihat kelakuan Arga yang mengunci tangan Intan. Usai meeting, tim pun dibubarkan. Arga dan Intan sudah bersiap pulang karena langit sudah gelap. "Bro!" Deny menepuk pundak Arga yang sedang membuka pintu mobil. "Ya, Den?" "Tadi lo bilang ketemu HS?" Arga menutup pintunya kembali dan berbalik menghadap ke arah Deny. "Iya, di coffee shop tadi." "Lo jadi mau ngusut kasus itu lagi?" Intan berjalan mendekati Arga dan Deny sambil menyimak. "Kayaknya jadi, gue masih penasaran, Den. Gue yakin banget mereka dalang di balik semua ini," Arga kembali menggebu. "Tapi kasusnya kan udah ditutup, kita nggak bisa nyidik lagi. Nggak ada surat tugas buat kita, Ga." Deny mengingatkan. "Gue nggak perlu surat tugas, Den. Gue akan usut sendiri dan seret mereka ke pengadilan." Mata Arga berkilat. Intan sedikit khawatir, tapi ia tak mau lagi melakukan hal yang sama seperti di ruang meeting tadi. "Gue ikut kalau gitu," ucap Deny mantap. "Serius lo, Den?" Arga berbinar. Deny mengangguk dan mengajak Arga bersalaman khas lelaki. Polisi tampan itu menyambutnya dengan antusias kemudian memeluk temannya, erat. Intan pun ikut tersenyum haru, meski belum tahu persis kasus apa yang sedang dibicarakan Arga dan Deny. Intan menduga ini sebuah kasus yang serius. Kedua perwira muda itu lalu berpamitan dan berpisah di pintu gerbang. "Emangnya HS itu siapa, Kak? Kasus apa?" Intan sudah tak bisa membendung lagi rasa penasarannya. Arga tersenyum melihat gadis berponi yang sudah duduk miring menghadap ke arahnya. "HS sama JF itu dua kasus yang beda tapi masih saling berhubungan. Kamu pernah baca berita tentang pemerkosaan dan pembunuhan mahasiswi di hotel?" Intan mencoba mengingat, rasanya ia pernah baca berita tersebut di portal berita online. "Pernah." "Pelakunya Jefry alias JF anak dari HS atau Hasan, anggota dewan sekaligus pengusaha tambang." Intan menggut-manggut. "Terus kalau HS kasus apa?" "Mafia kasus dan black market senjata api." Intan sempat takjub mendengarnya. Ia lalu tersenyum. "Kok kamu senyum?" Arga heran. "Oh nggak apa-apa, saya cuma lagi amazing aja. Biasanya kasus begini cuma saya baca di cerita aja, ternyata sekarang Kakak lagi ngalamin." "Yah namanya juga polisi, pasti banyak lah kasusnya yang dihadepin macem-macem. Dari yang gampang sampai yang rumit ngelibatin pejabat kayak HS." "Iya juga yah," Intan menerawang dan mulai menganggap Arga keren. "Tapi kamu siap 'kan kalau jadi istri polisi?" pancing Arga. "Hah? Maksudnya? Istri polisi siapa?" "Istri polisi Arga Sena Rahadian," ucap Arga sambil tersenyum dan mengusap kepala Intan. Gadis berponi itu mendadak bisu dan beku. Tak tahu harus menjawab apa. "Kok diem? Jawab dong! Oh ya, saya tahu, kamu mau pakai cara kayak tadi lagi buat jawabnya?" ledek Arga. "Kakaaak!" Intan menepuk lengan Arga. Mendadak ia jadi malu jika mengingat kejadian di TKP tadi siang. Arga terbahak puas melihat wajah Intan yang blushing dan malu-malu kucing. Tanpa mereka sadari seseorang memakai sepeda motor dengan helm full face sedang mengikuti mobil Arga sejak keluar dari kantor polres.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN