Mulai

1248 Kata
"Kamu langsung istirahat yah, pasti capek seharian jadi detektif," Arga mengusap kepala Intan. "Iya, Kakak juga yah." Arga mengangguk lalu tersenyum. Mereka baru saja tiba di depan rumah Tante Fitri dan masih berada dalam mobil. "Intan ...." Arga menggenggam tangan kekasihnya. "Mulai hari ini, kamu adalah calon masa depan saya. Dan saya janji akan terus jagain kamu, bahkan sampai saya mati sekali pun." Intan masih diam terpaku. Arga mulai menyibak rambut berponi di hadapannya. Perlahan polisi tampan itu memajukan wajahnya. Namun, dengan sigap Intan langsung menahan d**a bidang Arga. Ia belum siap mengulang adegan tadi siang di TKP. "Kak ...." "Iya, Sayang." "Kakak yakin nggak salah udah sayang sama saya?" Arga tersenyum, lalu ia mendekat dan mengecup kening Intan, lama. Lagi-lagi, Intan dibuat terpaku. "Intan, cinta nggak pernah salah alamat apalagi salah tempat. Dan saya yakin kamu adalah orang yang tepat." Arga mengecup lembut tangan Intan yang mulai dingin. "Kak, udah malem, saya masuk dulu yah." Intan menarik tangannya dan mencoba melarikan diri dari situasi canggung. Arga mengangguk mengerti, baginya cukup ciuman tadi siang membuatnya yakin bahwa Intan adalah pelabuhan terakhir bagi cintanya. Arga kemudian turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Intan. "Besok pagi kita jogging yuk!" ajak Arga saat mengantar Intan di depan pintu. "Eh, jogging? Lihat besok ya, Kak," cengir Intan. Jogging adalah olahraga yang membosankan bagi Intan, gadis berponi itu lebih suka berenang. 'Tapi kalau jogging bareng dia, masih bisa lah dibicarakan lebih lanjut,' gumam Intan dalam hati sambil mengulum senyum. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Arga curiga. Intan gelagapan,"nggak apa-apa, Kak." "Udah nggak sabar ya buat jogging besok sama cowok ganteng? Hmm?" Arga jemawa. "Dih! PD banget sih, jadi cowok!" Intan mencebik. Keduanya lalu tertawa. Mereka masih berada di teras rumah Tante Fitri. Tanpa mereka tahu, seseorang sedang mengawasi dari kejauhan di atas sepeda motor. ***** "Lapor, Bos! Rumah mereka bertetangga. Si perempuan masih mahasiswi dan tinggal sama pamannya. Sedangkan target anak kedua dari tiga bersaudara. Dia putra dari Setiono Rahadian." Hasan Satari menyimak laporan anak buahnya. "Setiono Rahadian? Jaksa tua itu!" Pejabat sekaligus pengusaha itu mencengkeram ujung sofa. Ia teringat dengan sepak terjang jaksa yang sudah mendekati usia pensiun itu begitu jujur, dan memiliki integritas tinggi sehingga sangat sulit untuk disuap. Kini ia semakin geram karena putra sang jaksa itu juga menabuh genderang perang. "Ayah dan anak sama saja rupanya. Lenyapkan salah satunya! Jangan sampai ada jejak! Paham?" titah Hasan. "Siap, Bos!" Panggilan telepon pun diakhiri. Pemilik usaha tambang di beberapa wilayah Indonesia itu tentu tak akan membiarkan seorang pun akan jadi penghalang baginya untuk terus hidup bebas menikmati kemewahan hasil dari berbagai proyek kotor yang ia jalani. "Lain kali jangan ceroboh! Gunakan akal sehatmu sebelum bertindak! Sekarang gara-gara kebodohamu, polisi muda itu mulai curiga." "Maafkan aku, Yah," Jefry hanya menunduk lesu di sofa. "Kalau begini saja kamu nggak becus, gimana kamu mau lanjutin bisnis Papa? Hah?!" Hasan menggebrak meja dan memarahi anaknya, Jefry, yang gegabah dalam bertindak sampai meninggalkan jejak yang bisa diendus aparat. Padahal selama ini ia sudah bermain rapi menyembunyikan semua barang bukti dan proyek ilegalnya. Semua berantakan saat putra semata wayangnya justru dengan bodohnya melakukan pemerkosaan dan pembunuhan di sebuah hotel. Tentu saja wajahnya terekam dengan jelas saat sedang check in di loby hotel. Namun, sebagai mafia tentu ia mudah saja membuat pihak kepolisian menghentikan penyidikan. Cukup dengan mengeluarkan sejumlah rupiah untuk oknum aparat yang haus akan harta benda, maka dengan mudah kasus putranya dinyatakan case closed. Karena pihak korban pun sudah diberikan kompensasi untuk menutup mulut mereka. ***** "Ayo, lari! Masa jalan, sih? Emang kita lagi ikut lomba gerak jalan tujuh belasan?" ejek Arga. Polisi tampan itu memperlambat larinya agar bisa menyamai langkah kecil kekasihnya yang sudah terlihat kelelahan. "Suruh siapa ngajaknya jogging!" gerutu Intan. "Ya udah sini saya gendong," tanpa permisi Arga sudah setengah berjongkok dan menarik Intan ke atas punggung. "Eh, eh! Lepasin, Kak!" Intan berontak, ia tak mau jadi bahan tontonan orang yang sedang ber-jogging. Arga pun terpaksa melepaskan Intan karena gadis itu sudah menggigit lehernya begitu kuat. "Aw! Sakit-sakit! Oke-oke, saya turunin!" Arga merasakan perih di tengkuk lehernya. "Gilak! Ternyata kamu kayak vampir yah, sukanya gigit orang di leher." "Syukurin!" Intan menjulurkan lidah. "Awas, yah! Gantian nanti saya gigit kamu di leher, biar ketagihan!" goda Arga. "Ish! Kakaaaak!" teriak Intan sambil berlari, tak mau tertangkap oleh Arga yang mengejarnya. Sepasang mata masih saja mengawasi mereka dari kejauhan. Seseorang yang diutus oleh HS itu sedang mencari waktu yang tepat melancarkan aksinya agar tak meninggalkan jejak barang bukti. ***** Siang hari menjelang, matahari di hari Minggu begitu terik. Di sebuah bangunan sepi, empat orang laki-laki sedang menyiapkan diri dan juga senjata api. "Semuanya siap?" tanya seorang laki-laki bermasker hitam yang menutupi semua wajah kecuali matanya. "Siap, Bos!" jawab tiga orang yang sudah menjinjing senjata, kompak. "Oke, jalan!" titah laki-laki itu sambil berjalan pincang menuju mobil van hitam. Ketiga anak buahnya mengikuti, lalu mobil van hitam itu bertolak menuju titik target yang sudah ditentukan. "Ingat! Pastikan semua bergerak cepat! Jangan sampai keduluan aparat!" "Siap, Bos Alex!" Setelah menempuh perjalanan 20 menit, mobil hitam itu parkir di pelataran ruko. Dengan sigap keempatnya langsung masuk paksa ke dalam sebuah toko perhiasan. "Jangan bergerak! Serahkan HP kalian!" titah laki-laki bermasker yang selalu dipanggil bos. Ia belajar dari pengalaman sebelumnya, agar tak ada lagi sandera yang mencoba menelepon polisi. Satu tembakan peringatan dan teriakan histeris saling bersahutan. Satu perampok mengumpulkan ponsel seluruh sandera. Satu orang berjaga di pintu, selebihnya sibuk menggasak emas perhiasan dan uang tunai. "Jangan ada yang coba jadi pahlawan kesiangan! Atau nama kalian akan jadi tinggal kenangan!" Alex menodongkan senjata laras panjang ke kepala sandera yang mulai mencurigakan. Sampai akhirnya aksi perampokan mereka selesai dengan mulus. Rombongan laki-laki bermasker itu pun meninggalkan TKP dengan tergesa. Beruntung tak ada korban jiwa atau luka, karena para sandera yang menuruti semua perintah si perampok. Meski harus kehilangan aset usahanya, pemilik toko emas pun masih merasa bersyukur karena kepalanya tak meledak akibat tembakan api. Gegas ia menelepon kantor polisi dari telepon tokonya untuk melaporkan kejadian nahas yang baru saja menimpa dirinya. Sementara di sudut kota lain, sepasang kekasih sedang menikmati film layar lebar yang menayangkan adegan romantis. Arga menutup mata Intan dengan satu tangan saat terpampang di layar lebar sebuah adegan penyatuan bibir. "Kakak! Ish! Awas tangannya!" Intan berusaha membuka tangan Arga dari matanya. "Sshh ... Kamu nggak boleh lihat! Nanti kepengin lagi," Arga terkikik. "Apaan, sih, Kak!" Intan kesal. Saat dua sejoli itu sedang asyik bercanda, tiba-tiba telepon Arga berdering. Arga menghela napas menahan kesal mendengar nada dering khusus yang ia hapal pasti akan menyuruhnya merapat ke kantor. "Arga, segera merapat ke kantor! Ada laporan perampokan lagi!" titah AKP Fendy di ujung telepon. "Siap, Kapt!" "Hmm, ganggu orang pacaran aja!" gerutu Arga saat panggilan diakhiri. "Kenapa, Kak?" tanya Intan penasaran. Arga menghela napas sebelum menjawab, "maaf yah, keganggu lagi kencannya. Saya harus ke kantor, ada laporan perampokan." "Ya udah nggak apa-apa, nonton 'kan bisa kapan-kapan lagi, Kak." Intan coba menenangkan kekasihnya. "Kamu ikut lagi, yah, please... biar saya semangat, please..." pinta Arga dengan wajah memelas. Intan tersenyum geli lalu mengangguk. Arga langsung semringah dan bersemangat untuk memenuhi panggilan Kasat Reskrim. Sesampai di kantor dan berkoordinasi dengan semua tim, Arga CS lalu mendatangi toko emas. Karena menurut laporan korban, pelaku perampok sudah kabur, maka tim dibagi dua tim. Satu tim untuk olah TKP, tim yang lain memeriksa dari cctv lalu lintas. Saat Arga dan Intan tiba di toko emas, netra keduanya terbelalak melihat ulah si perampok yang menggasak semua perhiasan tanpa sisa. "Mereka ... perampok itu!" seru Intan saat melihat rekaman cctv toko.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN