"Mereka ... Perampok itu!"
Intan masih ingat dengan perawakan laki-laki yang memakai masker sambil menjinjing senjata dan berjalan pincang. Cara laki-laki itu menodongkan senjata kepada sandera kembali membawa ingatannya ke peristiwa serupa beberapa tahun lalu.
Gadis berambut panjang itu mendadak merasa mengulang kembali kejadian yang hampir meledakkan kepalanya. Tangannya mulai dingin, tetesan keringat terasa membasahi punggung dan dahinya. Wajahnya mulai pucat pasi, jantungnya berpacu lebih cepat dibanding saat ia sedang jogging. Potongan adegan todongan senjata di kepala, suara letupan peluru, teriakan sandera, bentakan kata kasar kembali berputar di kepala.
Hingga mata Intan bisa melihat di rekaman cctv si perampok menembakkan senjata ke arah plafon toko. Seketika Intan berteriak histeris sambil menggeleng dan menutup kedua telinga karena merasa de javu.
"Intan!"
Arga begitu khawatir karena melihat Intan sudah berlari ke pojok ruangan dan duduk meringkuk ketakutan.
"Hei, Sayang."
Intan masih meronta dan berteriak saat Arga mencoba menenangkan.
"Intan, Sayang ... It's oke, ini saya, Arga. Kamu aman di sini."
Arga segera menarik Intan ke dalam pelukan dan mengusap lembut punggung kekasihnya yang masih bergetar karena menangis ketakutan.
"Ssh ... nggak usah takut. Ada saya di sini. Mereka udah pergi."
Setelah beberapa menit, tangis Intan mereda. Arga kemudian merenggangkan pelukan.
"Hei ... Nggak apa-apa, ada saya yang temenin kamu."
Arga mengusap air mata Intan sambil tersenyum. Gadis berponi itu terlihat seperti orang linglung yang baru sadar dari hipnotis.
"Kamu istirahat dulu yah, kamu pasti capek. Saya antar kamu pulang."
Polisi tampan itu tak tega melihat kekasihnya terlihat kacau dan trauma jika harus mengikutinya melakukan penyidikan kasus perampok bersenjata seperti yang pernah Intan alami.
Maka setelah meminta izin kepada AKP Fendy, Arga mengantar Intan pulang. Sepanjang perjalanan Intan berubah menjadi pendiam. Semua perkataan Arga tak ada tanggapan sama sekali. Pandangan mata gadis berambut panjang itu lurus ke depan dengan tatapan kosong, tanpa ekspresi.
"Sayang ... Are you oke?" Arga semakin khawatir.
Polisi tampan itu kemudian teringat sesuatu. Ia lalu menepikan mobilnya kemudian mencari sesuatu di tas Intan.
"Ck! Astaga!"
Arga menepuk jidatnya saat menyadari obat yang biasa Intan minum sudah habis, pot obat berwana bening itu sudah kosong. Perwira polisi itu kemudian membaca resep dan logo rumah sakit yang tertera di pot obat. Gegas Arga melajukan mobil ke alamat apotek rumah sakit.
"Sabar ya, Sayang."
Arga mengusap kepala Intan, ia berusaha konsentrasi penuh meski hati dan otaknya sedang dalam mode panik serta khawatir.
Sesampai di apotek rumah sakit, Arga harus sedikit kecewa karena apoteker tidak bisa memberikan obat tanpa resep dokter. Arga pun disarankan untuk konsultasi dulu kepada dokter spesialis kejiwaan.
Namun, lagi-lagi Arga harus kecewa dan kesal dalam waktu bersamaan karena dokter spesialis kejiwaan tidak buka praktek di hari minggu.
"Sayang ... Sabar yah, sebentar lagi kamu bisa minum obat biar lebih relax."
Arga mengusap kepala Intan. Gadis berambut panjang itu masih saja diam dengan tatapan kosong. Intan seolah sedang berada di dunia lain. Mereka masih duduk di ruang tunggu apotek. Arga kemudian memiliki ide gila.
Perwira polisi itu kembali menuju meja kasir dan menunjukkan identitasnya. Dengan sedikit ancaman dan intimidasi akhirnya Arga berhasil mendapatkan obat yang dibutuhkan meski hanya diberi tiga butir. Baginya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kekasihnya kembali sadar.
Dengan telaten Arga memberi minum obat dan minum untuk Intan. Usai meminum obat, terlihat Intan mulai mengantuk. Arga kemudian membopong Intan sampai ke dalam mobil.
Di sepanjang perjalanan pulang, Arga sedikit lega karena Intan sudah terlelap. Polisi tampan itu bersyukur bisa segera memberi obat kepada kekasihnya. Karena jika terlambat dikhawatirkan Intan akan masuk ke mode menyakiti diri sendiri.
Sesampai di rumah Om Hasan, Intan kembali dibopong oleh Arga menuju kamarnya. Meski awalnya terkejut, tapi Om Hasan dan Tante Fitri akhirnya mengerti setelah diceritakan kronologisnya oleh Arga.
"Kalau gitu, Arga pamit dulu ya, Om, Tante. Harus balik ke TKP soalnya."
"Iya, hati-hati, Ga. Makasih udah jagain dan anterin Intan pulang," ucap Tante Fitri.
"Sama-sama, Tante, Om. Arga pamit ya."
Setelah mengucap salam, Arga kemudian pamit untuk kembali ke TKP. Sepanjang perjalanan Arga mencoba tetap fokus, meski pikiran dan hatinya kembali terbagi. Maka untuk membantunya bisa lebih konsentrasi, Arga memilih mematikan ponselnya. Berharap pekerjaanya cepat selesai agar dia bisa pulang lebih awal dan menjenguk Intan.
Sesampai di TKP, Arga membantu rekan-rekannya mengumpulkan barang bukti perampokan bersenjata yang sudah berulang terjadi dengan pelaku yang sama.
Setelah mengantongi barang bukti, mereka kemudian kembali ke kantor untuk meeting membahas kasus terbaru.
"Mereka ngeledek kita ternyata!"
AKP Fendy menggebrak meja, Kasat Reskrim itu merasa tak terima. Wilayah binaannya masih saja terjadi perampokan bersenjata dengan pelaku yang sama.
"Kali ini kita harus berhasil nangkap mereka! Reputasi kita dipertanyakan kalau sampai mereka lolos."
"Mereka pelaku yang sama dengan waktu terjadi perampokan di toko emas Pulai Berlian waktu itu, Kapt," imbuh Arga.
AKP Fendy mulai berpikir dan menggambar bagan di papan. Bagaimana pun yang mereka hadapi adalah perampok profesional. Tim satuan reserse kriminal itu mulai berdiskusi mengenai rencana penangkapan, termasuk jebakan yang akan mereka buat.
"Mereka doyan banget sama emas dan uang. Selama ini dua barang itu yang jadi incaran mereka. Gimana kalau kita pancing juga pakai toko emas, setelah mereka tertarik untuk rampok toko itu, baru kita langsung tangkep di TKP, Kapt," Alfa menambahkan.
"Oke, ide bagus! Sekarang kita susun rencananya sampai mateng."
Kasat Reskrim itu manggut-manggut, kemudian meeting berlanjut hingga sore menjelang. Arga pun larut dalam diskusi sehingga ia lupa menyalakan kembali ponselnya.
Sementara di rumah Om Hasan, Intan mulai mengerjapkan matanya perlahan. Gadis berponi itu mulai terbangun setelah tertidur akibat pengaruh obat penenang.
"Eh, Intan udah bangun," Tante Fitri masuk kamar dengan semringah.
"Nih, tante bawain bubur kacang ijo masih anget. Yuk dimakan, Sayang."
Tante Fitri meletakkan mangkuk bubur kacang hijau di nakas, kemudian istri Om Hasan itu membantu Intan duduk bersandarkan kepala ranjang.
"Tante suapin yah," ucap Tante Fitri sambil mulai menyuapi Intan.
Gadis berponi itu hanya pasrah. Saat Intan sedang disuapi oleh tantenya, pintu kamar diketuk oleh seseorang.
"Kak Intan, ini ada paket buat Kakak," Yudith muncul dibalik pintu membawa kotak sedang berwarna hitam.
"Taruh aja dulu di meja, Dith," titah Tante Fitri.
Setelah menaruh kotak karton, Yudith pun kembali keluar kamar, diikuti Tante Fitri ynag sudah selesai menyuapi Intan.
Intan jadi penasaran isi kotak hitam tersebut. Ia lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju meja rias.
"Dear, Intan. Ada kejutan untukmu."
Gadis berponi itu tersenyum melihat notes di atas kotak yang tertulis rapi dengan ketikan.
"Ini pasti dari Kak Arga," cengir Intan.
Segera mahasiswi itu membuka kotak perlahan. Namun, saat kotak terbuka seketika senyumnya surut berganti rasa takut.
Dengan tangan gemetar, perlahan Intan mengambil foto-foto dari dalam kotak yang menampakkan gambar dirinya bersama Arga sejak semalam turun dari mobil, hingga terakhir tadi pagi saat mereka jogging.
Semua foto diambil secara candid, sang fotografer sepertinya sudah profesional dalam menguntit.
Jantung Intan kembali berpacu dengan cepat, wajahnya kembali pucat. Gadis berponi itu gegas menghubungi sang kekasih. Ia tak mau ketakutan sendiri.
Namun, berkali-kali ia men-dial nomor Arga, jawabannya selalu sama, hanya suara operator telepon meminta maaf.
"Ck, Kak, please nyalain dong teleponnya!" Intan mulai kesal sekaligus takut.
Saat sedang harap-harap cemas menanti telepon tersambung dengan Arga. Tiba-tiba teleponnya berdering dan terlihat nomor asing menelepon.
Ragu, Intan kemudian mengusap layar.
"Halo, Maura Intan Permata. Sudah terima paketnya, cantik?"
Intan terlonjak mendengar suara laki-laki asing menelepon.
"Nggak usah takut cantik, sekarang keluarlah ke balkon," terdengar suara orang asing itu tertawa.
"Ayo lah, keluar sebentar."
Intan kembali merasa de javu, ia teringat Arga pernah memintanya seperti ini.
"Kamu siapa?!" Intan beranikan diri bertanya.
"Ah, nggak penting siapa saya. Sekarang keluarlah agar kamu tahu siapa saya," kembali suara bas itu tertawa.
Perlahan Intan berjalan ke arah balkon dengan telepon masih tersambung. Saat di balkon ia pun memeriksa sekitar. Hingga netranya menangkap sosok laki-laki berpakaian serba hitam dengan masker menutup wajah sedang berdiri dibawah pohon rindang di samping rumah Arga.
"Hello, cantik!" goda si penelepon sambil melambaikan tangan ke arah Intan.
Seketika Intan berteriak histeris dan memanggil Om Hasan, Tante Fitri serta Yudith.