PERTEMUAN PERTAMA KITA
Detak jantung yang tak menentu, membuat keringatku semakin keluar, seolah-olah ada kode dari sang jantung untuk tubuhku. Aku menanti seseorang untuk kukenalkan pada keluargaku, tapi jantung ini tak bisa dikontrol.
Dertt …
Sebuah pesan w******p masuk di ponselku. Ternyata Yovi, teman yang kukenal melalui media sosial f*******:, sudah sampai di dekat rumah dengan mengirimiku gambar jalan dan rumah tetangga nenekku. Lantas aku memberitahu rumah nenek yang diwariskan pada mamaku.
Keringat dingin mengucur deras di tubuhku bahkan detak jantungku semakin tak menentu. Pasalnya ini baru kali pertama aku mengajak teman cowok ke rumah.
“Assalamu’alaikum,” salam dari seorang pria setelah turun dari sepeda motornya.
Aku terus memperhatikan gerak-geriknya dari jendela.
“Wa'alaikusalam.” Kebetulan kakek duduk di kursi teras.
“Tahu rumahnya Esteh?” tanya pria itu yang pertama kali memberi salam, dengan berpakaian lengan panjang berwarna hijau.
Masak pria itu Yovi?
“Ester!” seru seorang pria yang sibuk meletakkan helm di motornya.
Bentar, pria itu siapa?
“Oh cucuku? Kenapa memangnya?” tanya kakek dengan sinis.
“Van, bener ini rumahnya.” Pria berbaju hijau ini langsung menoleh ke arah cowok berjaket jeans biru, bercelana hitam dan bersepatu biru.
“Ini Ivan sedang mencari rumah Ester.” Pria berbaju hijau itu duduk di kursi kayu yang berada di teras.
Lalu cowok tinggi datang menghampiri “Assalamu’alaikum,” kata cowok berjaket jeans setelah mengangguk, lalu mencium tangan kanan kakek.
“Ya Tuhan, tinggi banget … Bentar, kenapa Ivan? Bukannya Yovi? Ah dasar pikun! Yang kuingat hanya Yovika, nama lengkapnya enggak,” gumamku sambil mengintip dibalik pintu, lalu masuk lagi.
Aku kegirangan, karena baru kali ini ketemu sama cowok tinggi. Bukan pertama kali sih, mungkin banyak kali, namun ini baru kali pertama bawa cowok tinggi ke rumah.
Sebelumnya, aku pernah cerita ke mama kalau saat pulang ke rumah nenek, temanku bakalan datang, mau ngajak jalan.
“Masuk!” seruku dari pintu. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya masuk, karena kakek tidak menghiraukan temanku, malah mengobrol dengan pria berbaju hijau.
Ternyata Ivan adalah Yovi, dan Yovi adalah Ivan.
Akhirnya setelah beberapa menit, Yovi pun masuk dan duduk di pojok kursi tamu berwarna hijau usang, dekat dengan jendela samping rumah.
Kemudian nenek membuatkan kopi untuknya dan juga pria berbaju hijau yang sedang mengobrol dengan kakek, sedangkan mamaku sibuk mengintrogasi Yovi.
Aku hanya menatap malu dan tersenyum saat melihat wajahnya. Mata agak sipit, wajah berbentuk lonjong, rambut sedikit ikal, dengan bibir tipis yang menimbulkan rasa manis saat tersenyum. Membuatku tak percaya bahwa ini nyata.
Beberapa menit kemudian, dua gelas kopi panas sudah jadi. Pertama nenek memberikannya pada Yovi, lalu yang kedua pada cowok berbaju hijau.
Akhirnya mama selesai mengintrogasi, lalu menyusul nenek yang ada di teras.
Aku semakin salah tingkah dan tak berani menatap wajahnya lagi.
“Kapan ke Surabaya?” tanya Yovi disela kesibukanku menghitung keramik lantai rumah.
“Emm … besok,” sahutku tanpa melirik ke arahnya.
“Mau ke mana nanti?” tanyanya lagi.
“Emmm … ke mana ya? Terserah deh,” sahutku sambil memberanikan diri untuk menatapnya.
Saat kedua bola mata kami bertemu, kedua ujung bibir kami otomatis tertarik ke atas, dengan rona pipi memerah.
…
Setelah kejadian itu, suasana tiba-tiba terasa hening, hanya terdengar suara nenek, kakek, mama dan teman Yovi yang sedang mengobrol.
“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Yovi tiba-tiba, setelah beberapa menit hening.
“Sekeluarga,” sahutku sambil memberanikan diri untuk tersenyum.
“Mama, Papa, sama siapa lagi?” tanyanya lagi sambil menghitung jarinya sesuai jumlah yang disebutkan tadi.
“Mama, Papa, Adek sama Kakakku juga.” Kali ini aku hampir menghitung jari juga.
“Wah keluarga besar ya …? Enak, enggak sepi. Kalau dikeluargaku cuman ada aku, Mama dan Papa.” Oke, Yovi mulai memberitahu jumlah keluarganya.
Setelah obrolan panjang dengan disertai beberapa keheningan karena stok topik tiba-tiba menghilang, akhirnya aku memberanikan diri izin ke mamaku pergi jalan-jalan dengannya.
13:00 WIB
Aku masih keliling rumah hanya untuk berdandan, setelah dapat izin dari mama. Karena skincare-ku entah ke mana, ada yang di dalam mobil, ada juga yang di dalam tas. Biasalah, namanya juga pulang cuman dua hari jadi enggak sempat untuk menata skincare.
Waktu terus saja berjalan, tapi aku masih belum siap, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua. Saking sibuknya, sampai papaku bangun dari tidurnya. Alhasil aku harus menghentikan aktivitasku, karena takut dimarahi.
“Sana izin ke ayahmu dulu, kan enggak enak nanti kalau ayahmu bangun pas nyariin anak perempuannya.” Tiba-tiba mama menyuruhku datang ke papaku, padahal aku paling enggak berani minta izin beginian.
Namun mama sedikit pengertian. Mama langsung meminta ayah untuk menemui Yovi agar bisa mengobrol walaupun cuman sebentar.
Akhirnya setelah interogasi singkat, aku dan Yovi diizinkan jalan-jalan. “Ingat! Jangan pulang malam,” tutur mama disetiap langkahku menuju pintu keluar.
Di jalanan kota, awan mulai menangis dengan derasnya. Sialnya, Yovi hanya membawa satu mantel kelelawar. Tapi sebelum memakai mantel, ia sempat bertanya. “Mau berteduh atau pakai mantel? Kalau pakai mantel, cuman bawa satu.”
Aku sedikit melamun sambil membayangkan, kalau aku dan Yovi berteduh, yang ada bakalan pulang malam, sedangkan waktu yang dihabiskan diperjalanan kira-kira satu jam lebih. Akhirnya aku memutuskan untuk lanjut perjalanan dengan memakai mantel berdua.
Air hujan yang mengenai punggungku masih terasa dingin. Ingin kupeluk erat, tapi canggung dan takut dikira ada apa-apa, alhasil hanya mendekap diri sambil sedikit membungkukkan badan.
“Sepatuku mulai basah, boleh kuletakkan di depan?” tanyaku sambil melihat kondisi tempat tumpuan kakinya. Untung saja Yovi membawa motor matic, jadi bagian depan bisa buat berdua.
“Boleh dong, sini majuin kakinya biar enggak basah,” sahutnya sambil membenarkan mantelnya agar menutupi kedua kakiku.
Akhirnya aku berhasil menyelamatkan sepatuku, walaupun sudah basah, tapi Yovi tetap menjaga mantelnya agar menutupi kakiku dengan sempurna.
…
Sejujurnya, kami keluar tanpa tujuan, karena sama-sama bingung mau ke mana, tapi setelah lama diperjalanan dan mulai merasa lapar, akhirnya kami berhenti di tempat makan Mie Gacoan, yang terkenal enak dan murah.
Saat sudah masuk, Yovi sibuk memesan makanan dan minuman sedangkan aku memperhatikan sekitar dan juga mencari tempat duduk yang nyaman, tapi tampaknya sudah penuh.
“Ayo, duduk di mana?” tanya Yovi setelah selesai membayar makanannya.
“Sepertinya penuh semua, coba kita cari di belakang,” tawarku sambil berjalan lebih dulu.
Yovi nurut, dan terus mengikutiku.
“Tapi basah. Apa duduk di pojok sana?” Aku melihat tempat duduk kosong, namun ada di pojok sendiri, bagian belakang pula.
“Ayo!” Sepertinya Yovi sedang bersemangat.
Semua stok topik Yovi diobrolkan bersamaku sambil menunggu pesanan kami datang.
Mulai dari usaha bisnisnya yang dijalankan dari nol, sampai sukses. Bahas tentang hobinya, yaitu hias aquarium dan juga bermain bola voli. Banyak banget pengalamannya. Tapi memang dengan usia sangat jauh denganku, pasti banyak pengalaman cerita yang menarik.
Sedangkan aku hanya bisa mendengarkan dengan baik. Karena aku tidak punya stok untuk menceritakan pengalamanku.
Obrolan kami masih berlanjut meskipun makanan yang dipesan sudah datang.
…
“Yuk, buka sepatunya. Kakiku sudah enggak enak, dan sedikit lembek,” rengekku ditengah asiknya menyantap makanan
Aku tahu, permintaanku sangat gila, tapi aku mulai nyaman dengannya, makanya sifat anehku kumat.
“Nanti saja pas di jalan, ini masih banyak orang.” Aku sedikit kaget dengan jawabannya. Ya mau bagaimana lagi, aku enggak bisa memaksakan kehendaknya.
Akhirnya aku membuka sepatuku sendirian dengan sedikit kecewa yang berbalut senyuman.
Siapa sih yang bakalan melakukan hal aneh di depan umum? Ya cuman aku mungkin, tapi aku enggak bisa melakukan hal aneh pada orang yang tak bisa membuatku nyaman.
Sudah kuduga, banyak mata yang memandang ke arahku, mungkin karena tanpa alas kakiku ini.
Tiga puluh menit kemudian …
“Bagaimana, sudah kenyang? Atau mau nambah lagi?” tanyanya sambil menghabiskan detik-detik terakhir makanannya.
“Enggak, sudah kenyang!” seruku sambil memainkan ponsel.
Aku masih belum sadar. Tapi saat Yovi mengajakku pulang, ternyata dia juga membuka sepatunya tanpa sepengetahuanku.
“Sejak kapan dibuka?” tanyaku penasaran sambil melihat ke arah bawah meja.
“Tadi sih, setelah kamu buka sepatu,” sahutnya sambil memasang jaketnya terlebih dahulu.
Aku hanya tersenyum dan sedikit bangga, bukan tentang sepatu saja tetapi tadi aku melihat gerak-geriknya ketika ada cewek yang lebih cantik dengan style bagus.
Tapi kenyataannya, sedikit pun matanya tidak melirik ke arah cewek itu, malahan dia fokus menatapku. Ditambah dia mau mengikuti hal gilaku.
“Ya sudah, ayo kita pulang! Biar enggak kemalaman,” ucap Yovi.
Aku hanya mengangguk. Lalu mengikutinya, seperti anak ayam mengikuti induknya.