Sayang, mau dijemput di mana?” tanya Yovi melalui panggilan suara di ponsel.
“Jemput di rumah sayang, sekalian pamit (izin) ke Mama sama Papa,” sahutku sambil sibuk berdandan.
“Oke, kirim alamatnya lewat w******p ya sayang … aku berangkat dulu!” serunya.
“Okee ….”
Tut …
Panggilan suara pun terputus.
Akhirnya setelah beberapa bulan enggak bertemu. Hari ini, Yovi memutuskan untuk pergi ke Surabaya, hanya ingin bertemu denganku.
…
“Ini tempat tinggalmu yang?” tanya Yovi sambil melihat seluruh ruangan tempat tinggalku. Tampak dengan jelas ekspresi wajahnya yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Iya, aku tinggal di rumah petak, nyewa pula,” sahutku tanpa ragu.
Sejujurnya aku malu jika seorang cowok tahu atau temanku tahu kalau aku tinggal di rumah petak ini, tapi kedua orang tuaku berusaha untuk menyadarkanku agar tidak gengsi lagi. Karena kata papa dan mamaku, mending tinggal di rumah petak dari pada tinggal di kolong jembatan yang dingin dan lembab dan kepanasan jika di waktu siang hari.
“Mana Mama sama Papamu yang? Aku mau izin bawa anaknya,” ucap Yovi sambil memonyongkan bibirnya, seperti orang ingin mencium sesuatu.
“Kerja yang. Hmm begini saja, kamu beli jajan buat adekku, biar adekku enggak sendirian di rumah, lalu kita keluar bareng.” Aku menyiapkan tempat duduk di luar, karena kalau di dalam tidak mungkin.
“Oh, iya sudah. Tunggu di sini ya sayang. Aku pasti kembali,” pamitnya sambil mengedipkan salah satu matanya.
Aku enggak nyangka sih, kalau masih ada orang yang mau denganku tanpa melihat kekayaanku. Semoga saja dia kembali lagi.
Beberapa menit kemudian, Yovi beneran datang dengan membawa banyak jajan untuk adikku.
“Yaudah yuk, kita jalan sekarang. Nanti kemalaman lagi,” ajaknya setelah memberikan bingkisan plastik yang berisi bermacam jajan untuk Adek.
“Bentar ya.” Aku menyuruhnya untuk duduk sebentar. “Dek, aku keluar dulu sama temen. Ini buat kamu! Bilangin ke mama sama papa nanti ya.”
“Oke siap!”
Aku keluar rumah. “Ayo!” seruku sambil memakai sepatu.
“Kakaknya tak bawa dulu ya, dek? Hati-hati di rumah,” pamit Yovi sebelum meninggalkan rumah petak yang disewa orang tuaku.
“Oke.”
Kemudian aku dan Yovi pergi meninggalkan adekku sendirian di rumah. Aku terus membuntutinya sampai dia berhenti di belakang mobil.
Yovi berbalik badan. “Aku bawa mobil yang, biar enak.” Sambil tersenyum.
“Yah … padahal lebih enak naik motor berdua yang,” rengekku.
“Ya lain kali naik motor deh, yaudah yuk jalan!” bujuk Yovi, lalu berjalan lebih dulu menuju pintu kanan kemudi.
“Silahkan masuk, Tuan Putri ….” Ternyata Yovi menyambutku dengan sangat baik, aku jadi terharu.
“Terima kasih sayang.” Aku mencuri pipinya dengan sigap dari pandangan orang lain. Kemudian aku masuk dengan hati-hati. Tak lupa Yovi menutup pintu rapat-rapat.
Lalu aku melihat Yovi jalan terburu-buru menuju pintu kemudi dan langsung masuk begitu saja setelah dibuka oleh tangannya sendiri.
Brak …
Pintunya pun tertutup. Yovi langsung menyalakan mesin mobil dan berusaha keras keluar dari gang sempit, karena rumah yang kusewa ini masuk dalam gang.
Saat dalam perjalanan, tak henti-hentinya tangan Yovi menggenggam erat tangan kananku, bahkan dia enggak mau kalau tanganku jauh darinya.
“Ih, Ayang … Tanganku jangan dihimpit oleh lengannya,” gerutuku sambil berusaha keras agar keluar dari ketiaknya saat Yovi sibuk memasukkan persneling mobil
“Ya kenapa Yang? Pokok aku enggak mau jauh dari kamu! Jangan ke mana-mana sayang …” Yovi semakin erat mengapit tanganku.
“Iya sayang iya. Mau ke mana hari ini?” tanyaku setelah pasrah dengan sikapnya.
“Ke mana saja, yang penting bareng kamu Yang. Apa kita renang saja ya Yang? Mumpung cuacanya mendukung.” Yovi tetap fokus dengan kemudinya dan juga tanganku.
“Tapi, sayang … Aku enggak bawa baju ganti,” sahutku sambil menatap wajahnya yang sedang fokus dengan jalan raya.
“Gampang sayang, nanti kita beli.”
“Bukannya aku mau nolak rezeki ya, tapi uangnya lebih baik ditabung. Lagian ongkos ke sininya juga mahal, belum lagi jajanin aku. Aku tahu kamu lagi ingin membahagiakan wanitamu, tapi berhematlah sedikit demi sedikit,” tegasku sambil mengelus lengan kirinya.
“Enggak apa-apa sayang. Toh ini cuman sekali-kali,” bujuk Yovi sambil menatap wajahku dibarengi dengan senyuman manisnya.
“Baiklah.”
Waktu terus berlalu, aku dan Yovi menghabiskan waktu bersama di kolam renang dan rumah makan sambil mengabadikan momen bersama di hotel, karena untuk ketemu pun sulit sekali, dan memang banyak kerjaan yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
…
Pemandangan sore hari di atas gedung tinggi terlihat sangat indah. Sang Pencipta sangat mahir tentang keindahan yang tiada taranya.
Disela menikmati keindahan alam, uluran tangan seseorang terasa hangat diperutku melalui belakang tubuhku.
“Sayang …,” bisikan manja Yovi membuatku semakin terbuai.
“Hmm …?” sahutku sambil menyandarkan kepalaku di dadanya.
“Ayo! Mumpung tidak ada orang.”
Seketika aku berbalik badan menghadap Yovi, lalu membulatkan kedua bola mataku.
“Jangan dulu sayang. Kita baru kenal, dan baru dua kali bertemu,” sahutku sambil sedikit menjauh dari tubuhnya.
“Tapi untuk apa kita check in hotel berdua sayang? Hanya untuk bertemu saja?” tanya Yovi sembari perlahan mendekatiku
Perlahan langkahku makin ke belakang hingga menyentuh pinggiran jendela, sedangkan Yovi semakin mendekatiku. Aku merasa semakin terpojok dan tak bisa melakukan apa-apa saat tangannya menyentuh jendela untuk menghalangiku.
“Ayo sayang …!”
“Jangan sekarang sayang, si merah lagi bertamu.” Untung saja ada alasan agar aku bisa menolak rayuannya.
“Yah … Bagaimana dong? Sayang enggak pernah bilang sih, kan kita enggak perlu check in di sini.” Wajahnya terlihat murung dan sedikit kecewa.
“Maafkan aku, sayang ….” Aku memeluk tubuhnya.
“Ya sudahlah Yang.” Yovi melepaskan pelukanku, lalu melangkah menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya begitu saja.
Cuman begini cara satu-satunya agar tidak melakukan hal yang aneh, apalagi belum menikah.
Kuhampiri dan berbaring di sampingnya, lalu memeluk tubuhnya. “Jangan marah! Ya sudah, ayo jajan!” bujukku sambil menyiapkan jajan.
“Enggak suka jajan, sayang. Ayo kita bermain!” sahut Yovi dengan manja, tanpa menoleh ke arahku.
“Masih ada tamu sayang. Lihat sini dulu, pasti kamu mau,” ucapku sambil membenahkan diri.
Kali ini Yovi menuruti perkataan ku dengan sedikit memanyunkan bibirnya dan mengerutkan dahinya. Kedua bola matanya membulat sempurna saat dihadapkan dengan sesuatu yang dia sukai.
“Kenapa enggak bilang dari tadi sayang? Aku mau kalau ini!” seru Yovi sambil mendekatiku, lalu melancarkan aksinya.
“Tadi sudah kubilang sayang. Ayo jajan, tapi malah cuek. Untung masih nurut ke aku.” Aku membiarkan Yovi menikmati dengan puas jajan yang kumiliki.
Seluruh ruangan mulai gelap, saking nikmatnya bermain berdua, hingga tak sadar dengan waktu yang sudah berlalu. Kini waktunya untukku pulang dan dikembalikan lagi ke orang tuaku. Berat rasanya harus menjalin hubungan beda jarak jauh dan beda agama, tapi bagaimana lagi, kita sudah saling mencintai. Mau tidak mau, kita harus berjuang.
Setibanya di rumah, kedua orang tuaku menyambut dengan baik. Yovi hanya mengantarkanku ke depan pintu dan langsung pamit ke orang tuaku, dengan mencium tangan kanan kedua orang tuaku. Lalu pergi dari hadapan keluargaku.
Saat kedua mataku tak melihatnya lagi, tapi aroma tubuhnya masih melekat jelas diingatanku dan juga disebagian tubuhku. Aku, merindukannya. Aku makin merindukan kehadirannya. Kenapa aku harus menjalin hubungan serumit ini? Kenapa harus aku?
Kemudian aku masuk ke kamarku, memutar semua kenangan yang kualami bersamanya tadi pagi sampai sore ini. Berulang kali aku melihat layar ponselku, berharap ada notifikasi pesan darinya, untuk sekedar mengabariku sudah sampai mana.
…
Sejujurnya aku tidak yakin dengan hubungan ini. Aku takut kegagalan yang pernah kualami dulu, terulang lagi dengan pria yang berbeda. Bukan masalah uang, jabatan, status, dan lainnya. Tapi ini menyangkut akhirat. Di mana setiap kepercayaan, masing-masing memiliki cara yang berbeda.
Aku takut merasakan kecewa yang kesekian kalinya. Kali ini akan kupastikan untuk tidak mencintai seseorang dengan sepenuh hati.