DI RUMAH TANPANYA

460 Kata
Hariku terasa sangat membosankan, padahal baru sehari jauh darinya, semua terasa sangat hampa. Ditambah dia belum memberiku kabar sampai saat ini. Apakah dia sudah sampai rumah atau terjadi sesuatu padanya? Oh tidak, dia pasti selamat sampai tujuan. “Ester sayang, tolong bantu Mama ya, Nak!” pekik mama, terdengar jauh dari kamarku. “Iya, Mah ....” Aku beranjak dari ranjangku, lalu berlari kecil menuju suara mama. “Tolong jaga kue kering mama ya, Nak. Mama mau pergi ke toko sebentar, takutnya kucing-kucing di sini memakan kue kering yang di atas loyang ini,” titah mama, lalu segera pergi dengan membawa tas belanjaan pasar. Aroma kue kering buatan mama selalu membuatku merasa ingin menghabiskan seluruh kuenya dalam waktu sekejap saja. Tetapi, aku harus menahannya sebentar, sampai mama kembali lagi, karena kue ini sudah di pesan tetangga sebelah, Bu Dewi namanya. “Mana mungkin mama tidak membuatkanku kue seperti ini juga, pasti ada di sekitar sini,” gumamku sembari mengelilingi dapur, mencari kue yang entah di mana mama menyimpannya. Pyang! Seloyang penuh kue itu jatuh ke lantai karena ulahku yang tak kusengaja. “Bagaimana ini? Pasti mama akan marah padaku.” Dengan segera kubereskan kue kering itu yang berserakan di lantai. Tanganku gemetar dan keringat dingin mulai membasahi keningku saat aku membereskan kue itu. Tiba-tiba muncul bayangan sepasang kaki yang berdiri di sampingku. “Maafkan Ester, Ma!” Terdengar suara tawa begitu nyaring di telingaku. Aku langsung mendongakkan kepalaku, lalu mataku melebar dengan sendirinya. “KAU!” pekikku sembari berdiri dari duduk jongkokku. “Ya! Awas mama marah, wlek ....” Dia menjulurkan lidahnya, lalu berlari, menjauhiku. “DASAR KUCING NAKAL!” teriakku memenuhi seluruh dapur. Kemudian aku kembali jongkok di bawah sambil membereskan kue kering yang berserakan dimana-mana, bahkan ada yang tak berbentuk. “Ester, apa yang terjadi?” tanya mama sambil berdiri diambang pintu saat kulirik. “A—anu, Ma ... Kuenya jatuh. Es—ter yang salah, Mah.” Dengan perlahan aku berdiri, menyatukan kedua tangan di atas perutku, dan tak berani menatap wajahnya. “APA!” Mama membentakku. Kedua matanya berkeliling di sekitar lantai, melihat kue yang sudah berserakan tak karuan. Tubuhku diam mematung dan mulutku diam membisu. Kedua kakiku gemetar tak karuan. Pasti akan ada perang dunia ketiga yang terjadi sebentar lagi. Suara telapak kaki mama yang bertabrakan dengan lantai, bergema di telingaku, hingga berhenti tepat di hadapanku. Lalu mataku sedikit melirik ke arah pergerakan tangan mama. Tangan kanannya mulai diangkat dengan cepat, lalu menampar pipi kiriku hingga wajahku terbanting ke samping kanan. “APA YANG BISA KAU LAKUKAN SELAIN MENGHANCURKAN SEMUA?” bentaknya. Kedua matanya mulai berubah warna menjadi merah. Alisnya mengerut, mengikuti gerakan dahinya. “CEPAT PERGI KE KAMARMU!” Aku langsung berlari menuju kamar. Tanpa sadar air mataku terjatuh di permukaan pipiku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN