MENGHIBUR DIRI

1024 Kata
Menjalin hubungan tersulit itu, ketika kita sedang mencintai seseorang yang tidak mungkin menjadi milik kita. Bukan karena kita salah mencintai seseorang. Tetapi, karena dia milik Allah-nya, sedangkan aku tidak berhak untuk merebutnya dari Dia. Aku sering gagal dalam percintaan. Karena mayoritas di Indonesia adalah muslim, sedangkan aku termasuk dalam minoritas di Indonesia ini. Sangat sulit bagiku, untuk menemukan pasangan hidup yang seiman, karena tidak pernah aktif di gereja. Alhasil, aku sering mencintai seseorang dengan perbedaan agama. Itu sangat sulit, karena dua insang yang saling mencintai, tetapi sama-sama tidak ingin mengkhianati Tuhannya, hanya karena sebuah cinta. Dari situ, kisahku di mulai. ... Pertemuan singkat dengannya, membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, aku telah jatuh cinta, dengan pria tinggi yang bernama Yovi. Dia adalah seorang pria yang sangat cerewet ketika bertemu denganku, tetapi aku juga tidak tahu, apakah dia juga cerewet ketika bertemu dengan orang lain? Pertemuan pertama dan pertemuan kedua, mengajarkanku tentang pentingnya sebuah waktu bersama. Di mana jarak tempat tinggal kita begitu jauh, sehingga jarang sekali untuk bertemu, bahkan susah untuk mengadakan janji hanya karena waktuku dan waktunya yang sangat padat. Terkadang, aku juga merasa bosan, jika harus disuruh menunggu. Satu hal yang tidak kusukai dalam hidupku adalah menunggu. Aku harus menunggu hari, di mana kita akan bertemu, namun tidak tahu sampai kapan. Aku juga harus menunggu kabar darinya. Kadang sehari penuh, dia tidak mengabariku. Di saat itulah, rasa cemas mulai menyelimutiku. Entahlah, apa yang dia lakukan di sana. Katanya sih, dia sibuk bekerja, sampai lupa untuk mengabariku. Karena aku terlalu percaya, jadinya dia jarang mengabariku. ... “Hei ... Melamun terus ini,” ucap seseorang yang berhasil membubarkan lamunanku. Di hadapanku sudah ada seorang wanita sedang duduk, sambil menyeruput segelas minuman boba. “Dia sedang apa ya, Rin?” tanyaku dengan tatapan sayu. “Sudahlah! Lupakan dia! Dia sudah tidak peduli lagi padamu,” jawabnya setelah selesai meminum seteguk minuman boba. Aku memalingkan mukaku darinya. Melihat ke bagian dalam sebuah kafe yang kusinggahi bersama sahabat SMA-ku. Kami sengaja duduk di bagian teras kafe, yang hanya disediakan beberapa tempat duduk komplit dengan mejanya. Karena di dalam kafe, hampir delapan puluh persennya adalah sepasang kekasih, yang sedang menyalurkan rasa rindu. Makanya tempat ini sangat cocok untuk pemuda-pemudi yang bertemu dengan pacarnya. “Kalau kamu mau, ada temanku yang jomblo. Setidaknya untuk nge-date saja,” Karin menyarankan agar aku mendua. Aku langsung menatap tajam wajahnya. “Sebenarnya kamu ini sahabatku atau musuhku?” tanyaku ketus. Karin hanya tersenyum menyeringai, lalu kembali meneguk minuman bobanya. Untung saja, Karin mempunyai wajah yang menggemaskan, jadi emosiku bisa mereda dalam hitungan detik saja. Cuaca hari ini sangat cerah, aku dan Karin memutuskan untuk pergi ke wisata kolam renang. Hitung-hitung untuk melupakan sosoknya dalam hidupku, meskipun hanya sebentar saja. Kami mengendarai motor matic injeksi keluaran terbaru. Ayah yang membelikanku waktu itu. Jadi sangat berguna untukku. Untung saja, jalan raya tidak terlalu macet. Oh ya, aku lupa, kan orang-orang sudah pada sampai ke tempat kerjanya, paling yang macet itu ketika jam istirahat dan jam pulang kerja. Setibanya di tempat kolam renang, aku memakai baju renang yang sudah kubeli sejak masih SMA. Untungnya masih muat. Kebetulan, Karin juga memakai baju renang itu, karena dulu ketika kita masih SMA, sering beli pakaian yang sama termasuk baju renangnya. Wisata kolam renang ini sangat sepi, mungkin karena hari biasa, jadi semua pada sibuk sekolah dan sibuk kerja. Baru kali ini aku merasakan sebuah kolam renang yang sepi, seperti kolam renang milik ayahku, padahal ayahku tidak punya kolam renang. Ya, sudahlah! Nikmati saja, mumpung dapat yang sepi. Kapan lagi bisa berenang sepuasnya tanpa harus bertengkar dengan anak kecil, hanya karena rebutan untuk bersandar ke pinggiran kolam renang. “Rin, ayo kita coba perosotan itu! Sepertinya sangat seru!” ajakku ketika tubuhku sudah basah sepenuhnya. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Ayo! Siapa takut,” sahutnya dengan menantangku. Wah, aku ditantang oleh sahabatku sendiri. Aku dan Karin berlomba untuk sampai ke perosotan itu terlebih dahulu, dengan rute yang berbeda. Namun, siapa sangka, kedua kakiku lah yang tiba lebih dulu. Selang beberapa detik, Karin sudah tiba di belakangku. Kemudian, aku duduk paling depan, untuk memulai terlebih dahulu. Kudorong pantatku, lalu tubuhku mulai merosot, mengikuti bentuk dan panjang perosotan ini. “Aaaa ...,” teriakku memenuhi tempat perosotan itu. Cebyuurr! Seluruh tubuhku jatuh ke dalam kolam renang. Rasanya, seluruh hidungku dipenuhi dengan air. Rasanya sangat sakit, karena sebelumnya aku tidak mengatur napasku. Lalu aku mulai menjauh dari perosotan itu, karena takut bertabrakan dengan tubuh Karin yang sebentar lagi akan jatuh ke dalam kolam renang. Cebyuurr! Dan benar saja dugaanku. Seluruh tubuhnya masuk ke dalam air. Untung saja aku sudah menjauh dari tempat itu. Bentar, tapi kenapa kepalanya tidak kunjung muncul? Jangan bilang kalau Karin beneran tenggelam. Ke mana Karin? Aku mulai berenang, mendekati tempat di mana tubuhnya Karin terjatuh dari perosotan. Tiba-tiba, pandanganku gelap, seperti sedang ditutup dengan tangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Karin ulahnya, kan tempat kolam renang ini hanya ada aku dan dirinya, jadi mana mungkin ada orang lain yang berani menutup kedua mataku. “Karin ... Lepas! Aku tahu kalau kamu pelakunya,” kataku sambil berusaha melepaskan tangannya dari kedua mataku. Setelah terlepas, aku mulai mendengar suara tawa renyahnya. “Kena tipu!” ledeknya sambil menjulurkan lidahnya padaku, kemudian melanjutkan lagi untuk tertawa. Dengan kesal, aku langsung menyiram air pada wajahnya. Dia langsung batuhk di hadapanku, mungkin beberapa air kolam sudah masuk ke dalam tenggorokannya. Di saat itulah, ganti aku yang menertawakan dirinya. Lalu kami tertawa bersama, sambil berpelukan. “Tetap jadi sahabatku ya, Rin. Tetap jadi pendengar yang baik, ketika aku sedang mencurahkan isi hatiku,” ujarku setelah menghentikan tawaku. Sambil mengelus punggungnya. “Iya, Ter. Aku akan selalu menjadi sahabat sekaligus pendengar yang baik untukmu.” Dia mulai membalas pelukanku. Kami berdua, sama sedang menyandarkan kepala pada masing-masing bahu. Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya dan sebaliknya. Tanpa terasa, aku sudah berhasil melupakan semua tentang kekasihku.   Setelah puas bermain, aku dan Karin memutuskan untuk bermain di rumahku saja, karena aku ingin mengajaknya makan mie dalam jumlah yang banyak dan hanya dihabiskan berdua saja. Dalam perjalanan, sesekali aku mengecek ponselku. Tidak ada satu pun notifikasi pesan atau telepon darinya. Apakah se-tidak peduli itu?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN