TENTANG HUJAN DAN KAMU

1009 Kata
Hari-hari kulalui begitu hebat. Rasanya hatiku kosong. Aku membutuhkan seseorang untuk mengisi kekosongan di hatiku. Bisa saja mentalku rapuh, lalu menjadi gila. Hmm ... Ya, aku sedang mengalami kegilaan cinta. Bayangkan saja. Wanita sepertiku yang sangat jarang menjadi b***k cinta, sekarang malah menjadi budaknya. Rasa gelisah ini selalu menghantuiku. Ke mana dia? Sedang apa? Dan sama siapa? Yang bisa kulakukan setelah beres-beres rumah, ya hanya menunggu kabar darinya. Jika memang sibuk, setidaknya beritahu aku melalui pesan singkat, tidak bertele-tele. Cukup katakan kalau dirimu lagi sibuk, jangan langsung menghilang. Aku juga punya perasaan, jadi jangan bersikap seenaknya. *** Hari ini hujannya awet sekali. Tidak deras dan juga tidak gerimis. Seluruh tanamanku di pinggiran teras rumah, jadi basah kuyup. Untung saja, aku sudah memasukkan jemuran baju ke dalam rumah tadi, sebelum hujan. Semua anggota keluargaku pasti sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Sedangkan aku, hanya bisa menatap langit mendung yang terlihat di jendelaku, dengan berbaring di atas kasurku, sambil sesekali mengecek layar kunci ponsel. Siapa tahu ada notifikasi pesan atau panggilan tak terjawab darinya. Tapi ternyata, harapanku yang terlalu tinggi, hingga membuatku kembali terperosok ke jurang. Apakah aku terlalu lebai? Atau terlalu alay? Atau hanya aku terlalu berlebihan? Menurutku sih tidak. Karena jika kalian diperlakukan yang sama denganku, pasti akan sepertiku. Tanpa hujan, petir, dan angin, tiba-tiba ponselku berbunyi, saat kulihat, ternyata ada panggilan masuk ke ponselku. Panggilan masuk itu darinya. Saking bahagianya, kedua tanganku sampai gemetar. Namun, tidak mengurungkan niatku untuk segera menerima panggilan telepon itu. [Halo!] Suaranya mulai masuk ke telingaku. Jantungku terus berdebar. Deg! Deg! Deg! Apakah aku kembali jatuh cinta? [Halo, Yang? Apakah ini kamu?] tanyanya dari seberang ponselku. “Ah, iyaa ... Ini aku. Ke mana saja?” sahutku sambil sedikit menyinggung tentang dirinya yang hilang. [Maaf ya, Sayang. Aku masih sangat sibuk, jadi belum sempat mengabarimu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu! Jaga diri baik-baik!] “Iya, kamu juga.” Tiba-tiba panggilan telepon itu terputus sepihak. Padahal aku ingin mengobrol dengannya lebih panjang lagi. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Meski begitu, aku masih sangat bahagia. Setidaknya dia masih berusaha mengabariku lewat telpon. Tapi, aku benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan di belakangku. “Mbak, main hujan-hujanan, yuk!” Wajahku langsung menoleh ke pintu. Seorang pria dengan tubuh gemuknya, sedang berdiri diambang pintu. Eits, jangan salah ... Wajahnya terlihat sangat manis. Siapa lagi kalau bukan adikku. “Enggak ah ... Adik sendiri dulu, ya, main hujan-hujanannya,” sahutku. Menolak secara halus. Kedua tanganku masih memegang ponsel. Untung usia adikku masih belasan, jadi tidak terlalu baperan kalau ditolak secara halus seperti aku menolak saat ini. “Okelah, Mbak. Aku pergi dulu.” Lalu dia berlari ke arah depan rumah. Aku kembali memainkan ponselku setelah adikku pergi dari depan pintu kamarku. Setelah kepergiannya, aku kembali merasakan rasa aneh ini. Bagaimana tidak disebut aneh, wong aku dibuat bingung sendiri oleh perasaanku. Sebentar-sebentar ada rasa bahagia, lalu berganti sedih, ganti lagi ke cemas, dan berganti terus sesuai suasana di hatiku. Padahal ini baru beberapa hari menjalani hubungan jarak jauh, tapi rasanya baru kemarin dia sangat romantis padaku. Apa ada yang salah denganku? Kenapa dia begitu cepat berubah? Apakah ada wanita lain? Rasanya, hubungan ini tidak pantas diteruskan lagi. Aku sudah membayangkan bagaimana nasibku ketika menikah dengannya. Dia akan terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Hingga melupakan aku dan anaknya. Lalu, ketika dia mulai bosan denganku, mungkin akan mencari wanita lain untuk penggantiku, dan aku akan dibuang ke tong sampah, layaknya sampah yang sudah membusuk dan harus segera dibuang. Bayangkan, betapa sedihnya hidupku seperti itu. Membayangkannya saja aku tidak sanggup, apalagi untuk menjalankan kehidupan seperti itu. Bisa-bisa jadi orang gila benaran aku ini. Hanya wanita istimewa saja yang bisa melakukan kehidupan seperti itu. Tiba-tiba perutku mulai keroncongan. Sepertinya aku belum makan dari pagi. Padahal di ponselku sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Lalu aku turun dari kasurku dan mulai berjalan menuju dapur. Saat melewati ruang tengah, rasanya rumah ini sangat sepi. Ke mana mereka semua? Tetapi aku terus melanjutkan langkahku, sampai berhenti di depan pintu kulkas yang sudah dibuka oleh tanganku. Bukannya mama tidak masak, tapi lagi pengin makan-makanan ringan saja, seperti roti gandum dengan diberian beberapa isi di atasnya, lalu ditutup dengan lembaran roti gandum yang kedua. Sepertinya sanga lezat membuat sandwich di saat hujan begini. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung mengeksekusi bahan-bahan yang ada dalam kulkas. Seperti, selada air, daging, bawang bombai, saus tomat, mayonaise, selembar keju, dan jangan lupa, harus ada telur ceploknya. Setelah semua bahan berada di atas meja masak, aku langsung meletakkan teflon di atas kompor. Pertama-tama aku mencuci sebagian bahan di atas wastafel cuci piring. Seperti daging, selada air, dan bawang bombai. Setelah dicuci bersihkan, aku langsung memotong-motong bawang bombainya dengan bentuk memanjang sedikit melengkung. Lalu kutumis sebentar dan kumasukkan daging sapi tipis yang dikhususkan untuk di grill. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, daging itu sudah matang. Kemudian aku mulai menggoreng telur dengan sebutan mata sapi. Setelah semua bahan beres, tinggal diletakkan saja sesuai selera. Jangan sampai melupakan saus tomat, karena semua akan terasa lebih nikmat jika ada dia. Kemudian aku membawa sandwich itu ke dalam kamarku. Ingin kusantap di dekat jendela sambil melihat air hujan yang terus-menerus membasahi tanah. Memberikan aroma khas di sana. Saat hujan begini, aku semakin mengingat tentang kenangan bersamanya. Ketika kita mengendarai motor berdua di bawah air hujan, hingga membuat pakaian kami setengah basah, termasuk juga sepatuku. Tapi, kenapa, semua yang indah selalu cepat berlalu. Kini tinggal yang pahit, di mana aku harus mengetahui sekaligus merasakan sifat aslinya dengan jarak jauh begini. Kalau dekat, sudah kucari alamat rumahnya dan menanyakan keberadaannya sebelum membuat keributan. ... Tanpa terasa air mataku menetes dengan potongan sandwich di dalam mulutku. Mau melanjutkan tangis, eh ... Malsh disuruh mengunyah dulu, karena pura-pura bahagia di depan keluarga dan sahabat itu juga butuh tenaga ya, jadi perut tidak boleh kosong meskipun lagi menangis.   Meskipun begitu, aku tetap menunggumu di sini. Menantikan kabar yang tak kunjung datang. Kamu harus ingat, jika hanya aku yang bisa memilikimu, tidak ada yang lain! Kamu harus tetap mencintai ku.  (Dari aku, yang selalu merindukanmu!) 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN