Kehidupanku rasanya terlalu membosankan. Dari mulai membuka mata hingga menutup mata, semua terasa monoton. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mencari kesibukan yang pasti. Dengan melamar pekerjaan ke berbagai tempat, ketika ada lowongan pekerjaan. Setelah mengirimkan surat lamaran, aku menunggu kabar dari HRD kantor dan lebih sering mengecek email yang ada di ponselku, tapi nyatanya—ingatan tentangnya kembali muncul.
Jujur, aku tidak terlalu suka menunggu. Karena dibalik kata menunggu, ada seseorang yang merasakan khawatir, gelisah, capek, dan juga lapar, jantung juga rasanya mulai tidak tenang. Kalau menunggunya di rumah sepertiku ini, pasti tidak akan merasakan lapar. Karena mama selalu memperhatikanku—setiap jam selalu bertanya.
“Ester ...! Bagaimana? Apakah ada kabar?” tanya mama yang tiba-tiba muncul diambang pintu.
Aku menggeleng, sambil menjawab, “Belum ada, Ma.”
“Nih, aku bawa camilan. Siapa tahu kalau nanti ada kabar ketika suasana hatimu meningkat,” lanjut mama sambil berjalan mendekatiku.
Berarti tadi aku hanya fokus dengan ekspresi wajah mama, ketimbang apa yang dibawa oleh mama saat ini.
Setelah tiba di sampingku, ternyata mama membawakan kue kacang untukku—yang diletakkan di atas piring. Sepertinya, kue ini buatan mama sendiri. Soalnya kemarin aku melihat satu toples berisi penuh kue kacang di dalamnya. Sepertinya mama sengaja menyembunyikan kue kacang itu dari anggota keluarga lainnya.
“Beli ya, Ma?” tanyaku karena penasaran.
Mama langsung duduk menjuntai di depanku. “Enggak. Kemarin mama yang buat,” jawab mama sambil meletakkan sepiring kue kacang di depanku.
Aku hanya mengangguk. “Oh ya, Ma. Nanti sore, aku mau ke kantor dekat Plaza’s mal. Tadi aku mendapatkan informasi dari teman, siapa tahu diterima di sana,” imbuhku.
“Iya. Tapi sebelum itu, harus tetap berdoa, agar segera diterima ya, Nak,” sahut mama sambil menatapku.
“Ya sudah, Nak. Mama mau masak buat makan siang dan malamnya nanti. Semangat!” Mama langsung pergi.
Aku langsung menyiapkan berkas-berkas untuk dikirim ke tempat kerja lainnya. Melihat ponsel juga tidak ada notifikasi apa pun di sana, membuatku merasa kesal. Niatnya setelah makan siang, baru pergi ke Plaza’s mal. Tapi, karena teman obrol di aplikasi chat online mulai mendesakku untuk segera datang, akhirnya aku pergi tanpa makan siang.
“MAH, AKU BERANGKAT!” pamitku dengan berteriak, karena jarak yang cukup jauh—dari kamarku ke dapur.
“IYA, NAK. HATI-HATI!” teriak mama, namun suara yang sampai di telinga terdengar sangat kecil.
Lalu aku pergi dengan membawa Tote bag di salah satu bahu yang berisikan surat-surat penting lainnya.
Hari ini, aku sengaja memesan ojek online melalui ponselku, karena aku belum mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Ditambah, kendaraanku tidak memiliki surat-surat lengkap. (Kalau bisa, jangan ditiru ya!). Kali ini, aku mendapatkan sopir ojek yang sangat cerewet. Usianya tidak terlihat muda lagi, tapi masih mau bekerja di bawah teriknya matahari.
“Mbak, masih sekolah ya?” tanya sopir yang ads di depanku, untuk memulai kecerewetannya.
“Sudah lulus, Pak,” jawabku santai.
“Sudah bekerja?” tanyanya lagi.
Aku merasa bahwa ini masih wajar.
“Ini, masih ingin melamar pekerjaan, Pak,” jawabku sekali lagi.
Lalu sang sopir mulai terdiam. Kupikir sudah usai sampai di sini saja. Tapi ternyata, masih berlanjut setelah beberapa menit diam.
“Jomblo, ya?”
Bukan tidak ingin menjawab, tapi untuk apa bapak ini menanyakan seperti itu? Mau jomblo atau tidak, yang pasti itu bukan urusannya.
“Kok diam, Neng?”
Aku mulai menarik napas panjang lalu dihembuskan perlahan, agar rasa kesalku mereda. Kan tidak baik kalau aku sampai membentak orang yang sudah menua. Lagi pula, mungkin mereka sedang penasaran saja, atau mencari calon istri untuk cucu atau anaknya.
“Tidak apa-apa, Pak. Kan tidak harus dijawab,” sahutku setelah sekian lama terdiam.
“Oh ya, sudah, Neng. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mencari calon istri untuk saya sendiri.”
Aku langsung melotot ke spion motor, untungnya spion itu tidak memperlihatkan wajahnya, jadi sedari tadi bapaknya tidak sedang memperhatikanku. Tubuhku langsung merinding, bulu kudukku mulai banyak yang berdiri, setelah mendengar kata istri dari mulutnya yang tidak terlihat menarik. Lalu aku menggeser pantatku ke belakang, memberikan jarak antara aku dengan punggungnya.
Dari situ, aku mulai mengabaikan pertanyaannya, dan mulai menjawab ketika pertanyaannya itu benar-benar berkualitas.
Tanpa terasa, akhirnya motor yang kutumpangi saat ini berhenti di teras Plaza’s mal. Lalu, aku langsung turun dari atas motor, sambil berkata.
“Saya sudah bayar melalui aplikasi ya, Pak. Terima kasih.” Setelah itu, aku berlari masuk ke mal, untuk menemui teman yang baru kukenal dari ponsel, dengan tujuan yang sama, yaitu melamar pekerjaan.
Untung saja temanku menunggu di dalam. Kalau sampai di teras mal, bisa bahaya bagiku.
“Hai, Ra! Sudah menunggu lama, ya?” sapaku setelah melihatnya sedang duduk sambil mengunyah sesuatu, dengan wajah celingak-celinguk.
Wajah itu langsung lurus ke arahku, lalu mulai melengkungkan bibirnya ke atas. “Hai ... Enggak sih, aku juga baru datang soalnya,” sahutnya sambil membenarkan posisi duduknya.
Aku langsung berlari ke arahnya. Dia juga tiba-tiba pindah tempat dengan sedikit menjauh dari kursinya, lalu membuka lengannya lebar. Setelah sampai, aku langsung jatuh dalam pelukannya. Kemudian, langsung dilepasnya.
“Ternyata kamu lebih cantik dari fotomu yang ada di media sosial,” pujinya, sempat membuatku melambung tinggi.
“Ah, bisa saja ini ya. Kamu juga sangat cantik,” sahutku balik memujinya.
“Kita mau ke mana dulu ini? Kan masih lama,” tanyaku berkeringat.
Lalu, dis menggandeng lenganku dan membawaku keliling mal. Dia sengaja mengajakku berkeliling dari lantai bawah sampai atas, tapi tidak membeli apa-apa.
Saat menaiki sebuah tangga berjalan (eskalator) tanpa sengaja, aku melihat keramaian di lantai dua, di mana aku dan temanku mau ke lantai dua.
“Loh, kenapa ramai begitu?” gumamku. Kupikir suaraku sudah sangat kecil, tapi ternyata aku salah.
Sebut saja Rara, dia temanku yang baru kutemui saat ini. Rara lah yang menyahuti perkataanku.
“Mungkin, itu tempatnya, Neng. Ayo ke sana! Jam segini saja sudah banyak yang antre, apa lagi nanti, pasti kita tertinggal jauh.” Rara langsung menarikku di tengah tangga yang sedang bergerak, tetapi tangga ini terlalu lambat.
Kami berjalan lebih cepat dari biasanya. Melewati celah antar orang, sambil berkata, “Permisi ...! Permisi ...!”
Bukan hanya itu, kami juga sering menyenggol lengan setiap orang. Bukan dia sih yang menyenggol, tapi aku. Hingga membuatku berkata maaf dengan terburu-buru.
Sesampainya di sana, ternyata tempat itu bukan tempat yang kita cari. Rasanya sedikit kecewa, karena sudah terlanjur buru-buru, tapi salah tempat.
Bersambung ...