CITA RASA YANG BERBEDA

1068 Kata
“Gimana sih, Ra? Katamu, ini tempatnya,” protesku padanya. “Aku dengernya seperti itu, Ester. Soalnya ada seseorang yang melintas tadi,” sahut Rara. Tatapan kami menyatu, lalu saling mengalihkan pandangan. Lalu, aku melihat seseorang yang berlalu lalang di depan pandanganku. Kali ini, pengunjungnya makin banyak setiap menitnya. Apa karena banyak yang penasaran untuk datang ke tempat yang sempat ramai ini? Sudahlah, aku enggak tahu, kenapa bisa sebanyak ini. Bahkan aku jadi sangat bingung, karena terlalu banyak pengunjung. Akhirnya aku dan Rara memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang ada dalam mal. Katanya sih, harga makanannya sangat receh, tetapi soal rasa ... Juara pokoknya. Kuakui sih, memang sangat enak, karena aku pernah makan sekali di restoran ini. Makanya aku berani mengajak teman baruku—siapa tahu cocok. Sekalian sambil menunggu jam yang sudah ditentukan. Kami duduk di dekat kasir, agar lebih nyaman lagi ketika mau pesan makanan lagi. Setelah selesai pesan melalui meja kasir, aku dan Rara menunggu di tempat yang sudah kupilih tadi. Biasanya sih, aku tidak perlu ke kasir lagi untuk mengambil makanan, tapi enggak tahu lagi. Sistem setiap restoran yang berbeda tempat, juga berbeda cara pemesanannya. Dan kebetulan, aku dapatnya yang tidak perlu menghampiri kasir lagi hanya untuk mengambil makanan yang sudah kupesan tadi. Saat seorang pelayan datang untuk mengantar makanan, tanpa sengaja aku menyenggol segelas minuman yang ada di atas nampan, alhasil aku harus memesan lagi. Padahal kan, aku hanya ingin mengikat rambutku sebelum memulai makan, tapi aku malah melakukan kecerobohan. “Haduh ... maaf, Mas,” seruku, sambil merasa bersalah. “Iya, enggak apa-apa, Kak. Ini bagaimana? Mau pesan lagi dengan membayar lagi, atau tidak sama sekali,” sahutnya sambil menatapku. Bahkan minuman yang tumpah tadi, belum segera dibersihkan. Mau kesal dengan pegawai restoran ini, tapi aku yang salah kok. Mau bagaimana lagi, ya sudah, setengah dari bajuku juga ikut basah kok. “Saya mau pesan lagi yang sama dengan minuman ini, nanti saya bayar ke kasir,” ucapku ketus. Lalu pelayan itu pergi setelah meletakkan sepiring makanan, Untung belum terkena minuman yang tumpah itu. Aku sedikit kecewa dengan pelayanan resto di mal ini. Dulu pertama kali belinya bukan di sini sih, jadi wajar ya, beda tempat beda juga pelayanannya. Jangan sampai rasa makanannya ikut berbeda ya, bisa-bisa enggak kumakan pas. Setelah pelayan itu kembali ke dapur, aku melihat Rara yang sedang berdiri. Apa mungkin, dia berdiri sejak tadi? Perasaan, sebelum pelayan itu datang, Rara masih terlihat duduk manis di depanku. Lalu, aku berinisiatif untuk mengajaknya duduk kembali. “Duduklah.” Aku mulai duduk perlahan. Dia mulai mengikutiku duduk setelah merapikan pakaiannya. Sambil menunggu, aku mencoba untuk mencairkan suasana. Masak ketemu dengan temannya harus saling diam? Lalu, siapa yang akan memulai bicara, kalau sama-sama malu? “Ra ... Rumahmu di mana sih? Maksudku, apakah rumahmu jauh dari sini? Lalu, kalau kamu naik kendaraan, berapa jam ke sini?” tanyaku basa-basi. Rara sempat berpikir sebentar, lalu menjawab dengan tidak yakin, “Mungkin, sekitar satu jam. Itu pun kalau tidak macet, Ter.” Pandangan kami saling bertemu satu sama lain. Dan aku sedang memperhatikan dari ujung rambut hingga setengah tubuhnya saja. Jujur sih, gaya penampilannya tidak gagal. Terlihat sangat cocok dengan lekukan tubuhnya, meskipun tidak tampak. Mungkin memang seperti itu kalau sedang keluar rumah. Baru kalau di rumah saja, bakalan jadi gembel, sama sepertiku—memiliki banyak pakaian gembel ketika sudah dewasa. Lalu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pelayan yang sama, ketika mengantarkan satu paket makanan ke meja makan kami. “Permisi, Mbak. Ini pesanannya. Sisanya nanti, langsung bayar ke kasir saja, terima kasih,” celetuknya, membuatku langsung tersadar. “Iya, terima kasih,” sahutku ketus. Lalu pelayan itu segera pergi dari hadapanku. Aku mencoba mencium aroma masakan ini tanpa ketahuan oleh siapa pun. Dari pengalamanku waktu itu, aromanya sama persis. Hanya saja, aku belum merasakannya langsung. Karena aku takut, Rara tidak akan cocok dengan makanan ini, karena setiap rasa di lidah masing-masing, menimbulkan rasa yang berbeda. Jadi tidak semua orang bisa menikmati rasa yang sama. “Tidak suka ya, Ra?” tanyaku ketika melihatnya yang hanya memperhatikan makanannya tanpa disentuh sedikit pun. Aku jadi merasa tidak enak. “Apa kamu tidak suka?” tanyaku lagi. “Ah, bukan itu. Hanya saja, aku sedikit kenyang,” jawabnya. Sudah kupastikan bahwa, dia hanya beralasan saja, karena sebenarnya, dia benar-benar tidak menyukai makanannya. Padahal dia sendiri yang memesan menu makanan seperti itu. “Yakin? Apa mau ditukar denganku?” tawarku sebelum benar-benar menyantapnya. “Tidak usah. Aku lebih suka menu yang kupilih ini.” Rara mulai meraih sendok dan garpunya, lalu mulai untuk makan secara perlahan. “Baiklah.” Setelah dia berhasil meletakkan satu suap ke dalam mulutnya, baru aku akan melakukan hal yang sama. Akhirnya kami mulai tidak bersuara. Hanya ada suara sendok dan garpu yang menggores permukaan piringnya. Meski begitu, tidak menimbulkan suara kegaduhan. Di tengah kenikmatanku menyantap makanan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Lalu, saat mulai dikeluarkan dari dalam tasku, ponselku itu tidak berbunyi lagi. Saat kucek, ternyata panggilan telepon itu dari Yovi, kekasihku. Yah, baru kali ini dia ingin meneleponku setelah sekian lama menghilang, dengan begitu banyak alasan. Hingga aku merasa muak dengan sifatnya. Sayang sekali, suasana hatiku turun drastis, membuat nafsu makanku hilang. Jadinya, aku hanya meletakkan asal sendok dan garpuku di atas piring. Mau minum pun enggak berselera, tapi haus. Hm, bagaimana aku ini?   “Kamu kenapa?” tanya Rara membuat kedua mataku sedikit melirik. “Ah, tidak apa-apa. Hanya masalah kecil,” jawabku sambil berusaha tersenyum. “Oh, baiklah! Tapi kalau memang ada apa-apa, jangan disimpan sendiri ya. Lebih baik dibagi-bagikan agar hatimu lebih lega!” tuturnya sambil menghentikan menyuap makanan dimulutnya sendiri. “Oke siap.” Alhasil, aku tidak menghabiskan makananku, sedangkan Rara masih menikmati santapannya ini, sebelum menemui pemilik salah satu toko yang ada di mal ini, yang kebetulan sedang mencari pekerja wanita. Rasanya aku masih lapar, tapi bagaimana lagi, aku sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan. Sebenarnya, aku merindukan dia, makanya aku selalu tidak nafsu makan ketika dia seperti ini. Tidak mencoba untuk meneleponku lagi. Padahal, aku tidak mempunyai kesalahan padanya, kenapa harus aku yang meminta maaf? Tiba-tiba, aku melihat segerombolan orang dewasa yang sedang berlari menuju eskalator. Kupikir ada diskon besar-besaran. Saat kutanya dari salah satu mereka yang masuk ke restoran ini, ternyata tempat lowongan pekerjaan itu sudah banyak yang mengantre di luar. Aku yang mendengar berita itu, langsung menarik tangan Rara untuk keluar dari restoran ini, hingga melupakan untuk membayar satu minuman yang kutumpahkan tadi.  Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN