Alhasil, aku tidak menghabiskan makananku, sedangkan Rara masih menikmati santapannya ini, sebelum menemui pemilik salah satu toko yang ada di mal ini, yang kebetulan sedang mencari pekerja wanita.
Rasanya aku masih lapar, tapi bagaimana lagi, aku sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan.
Sebenarnya, aku merindukan dia, makanya aku selalu tidak nafsu makan ketika dia seperti ini. Tidak mencoba untuk meneleponku lagi. Padahal, aku tidak mempunyai kesalahan padanya, kenapa harus aku yang meminta maaf?
Tiba-tiba, aku melihat segerombolan orang dewasa yang sedang berlari menuju eskalator. Kupikir ada diskon besar-besaran. Saat kutanya dari salah satu mereka yang masuk ke restoran ini, ternyata tempat lowongan pekerjaan itu sudah banyak yang mengantre di luar.
*** ***
“Ayo, Ra! Keburu nanti dapat antrean paling belakang!” ajakku pada Rara sambil mengelap bibirku dari sisa makanan, lalu menarik tangan kanannya.
“Bentar, Neng ... Bentar ... Aku masih belum selesai,” sahut Rara yang berusaha menahan tarikan tanganku.
Aku sedikit menoleh. “Sudah tidak ada waktu lagi, Ra,” kekehku langsung memalingkan wajah darinya.
“Baiklah.”
Akhirnya Rara mengikutiku tanpa dipaksa lagi. Kami mulai melangkah dua kali saat tiba di depan eskalator mal dan hanya berdiam diri ketika kedua kaki kami menginjak salah satu anak tangga yang mulai berjalan perlahan. Terlihat dari bawah sini, begitu banyak orang yang sudah mengantre di lantai atas (lebih tepatnya di lantai tiga). Padahal tokonya masih belum buka, tapi sudah ada sepuluh sampai dua puluh orang yang datang ke sini, hanya untuk melamar atau meletakkan surat lamaran pekerjaan.
“Ester ... Sepertinya, kita sedang melupakan sesuatu,” celetuk Rara membuatku langsung menatap Rara yang ada di samping kiriku.
“Apa?” tanyaku tak mengerti.
Sejenak, aku dan Rara terdiam mematung, mungkin juga kita sama-sama sedang memikirkan sesuatu yang sudah terlupakan beberapa menit yang lalu.
“Oohh, astaga ....” Tiba-tiba aku dan Rara berlari ke arah belakang setelah membalikkan tubuh. Meskipun jalur yang kami lewati salah.
Aku menabrak setiap lengan seseorang yang kulewati tanpa disengaja. Dan hanya mengucapkan kata maaf saja sambil melanjutkan langkah cepatku. Sangat tidak sopan sih, tapi aku takut kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupku. Karena katanya, hanya di toko itulah yang mampu menerima pekerja baru tanpa seleksi ketat. Namun, hanya membutuhkan beberapa orang saja, mungkin hanya lima sampai sepuluh orang saja.
Napasku mulai tersengal-sengal. Detak jantungku terasa begitu cepat. Tubuhku juga mulai terasa panas dan terasa sedikit basah, walaupun ruangan mal ini sudah memakai AC yang begitu banyak. Tapi kedua kaki ini masih terus melangkah dengan cepat, seperti sedang mengejar maling kompleks.
“HEI, NENG ... MAU KE MANA?” seru Rara membuatku tiba-tiba berhenti dan langsung menoleh ke belakang.
Ternyata aku sudah melewati restoran yang sempat jadi tempat makanku tadi. Di depan resto, sudah ada Rara yang berdiri sambil melambaikan tangannya dan memegang dua amplop berwarna coklat di tangan kirinya. Dengan segera, aku mendekatinya sambil mengatur napasku yang sempat membuatku sengsara.
“Kupikir, kita makan di depan sana, ternyata aku yang kelewatan. Bisa-bisanya aku melupakan tempat makanku tadi,” ocehku saat berjalan mendekatinya.
“Dasar pelupa!” Rara mulai meledekku sambil menjulurkan lidahnya.
Dalam hatiku terus saja mengumpat. Ingin rasanya bergulat dengannya. Bukannya bantuin, ini malah menertawakanku, lalu langsung meledekku.
Setibanya di hadapan Rara, aku langsung mengambil salah satu amplop itu dengan kasar, sambil memalingkan wajahku.
“Ceritanya kamu sedang marah denganku? Maaf deh,” ucap Rara membuatku tak tega dengannya.
Aku sedikit melirik padanya. Wajahnya terlihat sangat melas, sambil menyatukan telapak tangannya mengarah padaku. Rasanya ingin tertawa, tapi kasihan kalau aku menertawakannya. Gampang banget menipu Rara. Kupikir, dia gampang marah dan langsung pergi meninggalkanku, tapi ternyata, dia tidak bisa melihat siapa pun marah padanya.
Kemudian aku mulai merangkul bahunya, sambil berkata, “Ayo! Jangan seperti ini! Aku tidak marah, kok.” Aku sedikit mendorong lengannya dengan salah satu bahuku, dan tersenyum padanya.
“Jangan marah padaku, Ter. Kalau kamu marah padaku, aku enggak bisa memaafkan diriku sendiri,” sahut Rara sambil menyedot ingus dengan hidungnya.
Kedua kaki kami mulai melangkah untuk kembali ke lantai tiga lagi. Setiap langkahku, tangan kananku terus mengusap lengan kanan Rara sambil berbincang dengannya.
“Ra, aku tidak akan tega untuk marah padamu, jadi tenang saja,” ujarku di sampingnya.
“Terima kasih, ya. Padahal kita baru kenal melalui ponsel dan hari ini baru pertama kali untuk bertemu. Mengenalmu adalah anugerah yang diberikan oleh Allah untukku.” Rara menghentikan langkahnya, membuatku ikut berhenti. Tiba-tiba dia memelukku dari depan. Rasanya punggungku sedang dielus olehnya.
Aku mulai menemukan bahu ternyaman untuk menyandarkan kepalaku yang kadang terasa berat sekali. Kami berpelukan cukup lama, membuat beberapa orang yang terlihat di mataku mulai memperhatikanku.
“Maaf, Mbak. Dilarang berpelukan selama masa pandemi.” Suara seorang pria itu, membuatku langsung melepaskan pelukanku.
Ternyata, seorang pria yang berpakaian seragam coklat dengan bertuliskan SATPAM di d**a kanannya, sedang berdiri di sebelah kananku. Aku baru ingat, kalau tahun ini pangkat Corona masih di deretan paling atas sendiri setelah virus lainnya.
“Maaf, Pak. Permisi!” sahutku, lalu menggandeng tangan Rara untuk pergi dari tempat berpelukan tadi.
“JANGAN BERPELUKAN DI TEMPAT LAINNYA YA!” teriak satpam itu, namun tidak kupedulikan.
Padahal aku sudah sangat menikmati bahu Rara. Rasanya sangat tenang dan mampu membuatku lupa dengan dia yang jauh di sana.
Apa mungkin, dia benar-benar tidak menghubungiku saat keluar dari rumahnya, atau memang tidak ingin mengabariku seharian sehingga membuatku selalu khawatir tentangnya? Aku sampai berpikir, pasti ada yang salah dengan diriku. Tapi, apa? Apa aku kurang cantik dan mulus? Atau aku kurang nyaman untuknya? Padahal aku masih mengabarinya meskipun sedang sibuk sekali pun. Ya, setidaknya kirim pesan bahwa sedang sibuk atau menggunakan pesan suara jika memang malas untuk mengetik beberapa kata saja.
Sebenarnya aku ini berarti untuknya atau tidak? Rasanya kok seperti dicampakkan begitu saja setelah bertemu dua kali saja. Padahal aku tidak menginginkan seluruh waktunya untukku, tapi setidaknya, luangkan sedikit saja, paling tidak semenit saja untuk mengabariku.
“Neng! Kamu baik-baik saja kan?” celetuknya mengagetkanku.
“Eeemm ... Entahlah,” sahutku sedikit malas setelah mengingat kembali tentang Yovi.
Rasanya ingin segera melupakannya, tapi bagaimana caranya?
Bersambung ...