PEKERJAAN BARU

1119 Kata
Apa mungkin, dia benar-benar tidak menghubungiku saat keluar dari rumahnya, atau memang tidak ingin mengabariku seharian sehingga membuatku selalu khawatir tentangnya? Aku sampai berpikir, pasti ada yang salah dengan diriku. Tapi, apa? Apa aku kurang cantik dan mulus? Atau aku kurang nyaman untuknya? Padahal aku masih mengabarinya meskipun sedang sibuk sekali pun. Ya, setidaknya kirim pesan bahwa sedang sibuk atau menggunakan pesan suara jika memang malas untuk mengetik beberapa kata saja. d Sebenarnya aku ini berarti untuknya atau tidak? Rasanya kok seperti dicampakkan begitu saja setelah bertemu dua kali saja. Padahal aku tidak menginginkan seluruh waktunya untukku, tapi setidaknya, luangkan sedikit saja, paling tidak semenit saja untuk mengabariku.  “Neng! Kamu baik-baik saja kan?” celetuknya mengagetkanku.  “Eeemm ... Entahlah,” sahutku sedikit malas setelah mengingat kembali tentang Yovi.  Rasanya ingin segera melupakannya, tapi bagaimana caranya?  *** ***  Aku dan Rara mulai mengantre lagi di bagian belakang sendiri. Sesekali kedua mata kami saling bertemu, lalu kembali lagi melihat sekeliling mal. Sepertinya mal ini tidak akan cukup jika dilihat dengan kedua mata saja, cukupnya harus berkeliling dengan menggunakan kedua kaki ini yang sedang terdiam sedari tadi. Di pikiranku selalu ingin tahu tentang Rara. Karena kami berdua memutuskan untuk berteman, maka harus tahu satu sama lain. Takutnya ada hal-hal yang tidak diinginkan. Kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Ra!” panggilku. Spontan, dia langsung menoleh ke arahku sambil berekspresi datar. “Iya?” sahutnya. Dengan sekali tarikan napas, perlahan kuhembuskan sambil bertanya padanya, “Rumahmu tak jauh dari sini?” Kini lirikkan matanya mulai berbeda dari pertama menatapku, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi, aku tidak tahu pasti, yang tahu hanya dia sendiri. Aku hanya berharap dia selalu berkata jujur padaku, ya, tapi semua itu hanya harapanku. “Rumahku ... Iya mungkin,” jawab Rara. Sudah jelas hari ini, dia tidak ingin berkata jujur padaku. Aku juga tidak akan memaksakan kehendaknya. Lalu aku tersenyum di hadapannya, sambil berkata, “Oh, tidak pasti ya? Mungkin dekat dan mungkin bisa jauh juga, ya?” Rara langsung menggelengkan kepalanya. “Bukan. Bukan begitu ... Aku tidak tahu pasti. Soalnya ada banyak jalan untuk sampai ke rumahku,” sahutnya tidak yakin. “Ra, aku bilangnya dari sini, bukan dari mana pun!” tegasku dengan geram. Rasanya ingin membentaknya, tapi masih berada di tempat umum. “Begini, Neng. Aku tidak tahu menjelaskannya. Agak rumit,” sahutnya sambil memutar kedua tangannya di depan dadanya, selaras dengan perkataannya. Sudahlah. Sudah pasti dia berbohong padaku. Tinggal berkata jauh atau tidak saja, tapi malah dipersulit seperti ini. Berarti aku tidak bisa dekat dengannya lagi, takut membahayakan diriku sendiri. Kan aku enggak tahu hari esok akan jadi apa. Tak terasa panjang antreannya tinggal dua orang saja. Bentuk antrean ini memanjang ke belakang dan ada dua baris saja, jadi posisiku dengan berdampingan dan akan masuk bersama nanti. “Baik, berikutnya!” Akhirnya tinggal menunggu satu orang lagi yang ada di depanku, begitu juga dengan Rara. Rasanya campur aduk. Ada khawatir, gugup, gelisah, takut, dan tidak percaya diri. Namun, semua rasa itu kutepis dengan ingatan tentang Yovi yang telah mengabaikanku. Aku harus keterima kerja, agar bisa melupakan tentangnya. Agar waktuku tidak terbuang percuma hanya untuk menunggu kabar darinya. Mending dibuat mencari uang saja, sama-sama menguntungkan. Aku tidak ingin mengemis waktu padanya. Karena kodratnya wanita adalah diperlakukan sebaik mungkin. Jika dia berani mengabaikanku, berarti aku juga harus berani untuk meninggalkannya, meskipun dengan alasan waktu saja. Tidak ada ceritanya seorang wanita mengemis apa pun. Dia melupakanku? Aku juga bisa melupakannya. Bahkan bisa melakukan yang lebih menyakitkan dari sekedar melupakan. Tapi, sebenarnya hatiku terasa sakit jika mengingat betapa rendahnya harga diriku. Bagaimana, tidak? Dia bahkan sama sekali tidak mengabariku. Hanya sekedar bertanya kabarku saja, dia tidak melakukannya. Apakah dia tidak khawatir tentangku? Atau khawatir tentang kondisiku saat ini? Apakah aku tidak berharga baginya? Lalu, aku nomor berapa dalam hidupnya? “Berikutnya!” Wah, tinggal selangkah lagi, aku dan Rara akan selesai menunggu di depan toko ini, dan segera pulang. Sesekali aku melirik ke arah Rara yang ada di samping kiriku. Dia tampak bahagia. Tapi, kenapa berbeda denganku? Untuk saat ini, aku merasa gelisah, bahkan tidak bisa menunjukkan kebahagiaan apa pun. Detak jantungku semakin cepat. Jedag jedug jedag jedug. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Aku tidak tahu berapa menit lagi harus menunggu? Yang kutahu, mereka yang terpanggil, lalu keluar setelah sedikit menunggu. “Ra?” panggilku “Iya?” sahutnya sambil mengangkat salah satu alisnya. “Kamu tidak gelisah?” tanyaku penasaran, kenapa dia selalu tersenyum. “Gelisah untuk apa? Toh, kita akan mendapatkan pekerjaan setelah sekian lama,” jawab Rara dengan santai. Yah, benar juga sih. Kenapa aku harus gelisah? Untuk apa aku gelisah? Ah, ada-ada saja perasaanku ini. Lalu aku mengabaikan Rara, sambil menunggu untuk di suruh masuk. Sepertinya ini sedikit lebih lama dari biasanya. Ada apa ya? Apa mungkin mereka melupakan salah satu berkasnya? Atau ada yang salah? “Berikutnya!” Kaki kiriku mulai melangkah lebih dulu, dibarengi dengan Rara yang ikut melangkah. Kami sempat saling menatap dan tersenyum, lalu melangkah bersama dengan rasa tenang. Dari jawabannya, rasa khawatir dan gelisahku kini telah berganti dengan rasa bahagia. Seandainya aku diterima kerja, rasa bahagia itu semakin bertambah rasanya, bisa melebihi orang yang sedang mendapatkan hadiah besar. Kemudian aku dan Rara berhenti di depan meja kokoh, tetapi aku tidak melihat seorang pun di sana. “Apakah kalian siap?” suara seseorang yang sempat membuatku kebingungan. Pasalnya hanya ada meja dan kursi hitam yang menunjukkan punggungnya saja. Aku tidak melihat seorang pun di sana. Tiba-tiba, kursi itu memutar, memperlihatkan seorang pria yang sedang duduk bersandar, dengan mengangkat salah satu kakinya ke atas salah satu pahanya. “Apakah kalian siap?” Pria itu mengulangi pertanyaannya lagi sambil menatap ke arahku, lalu menatap Rara. “Ya, saya siap!” jawabku serentak dengan Rara. “Baik. Tolong letakkan berkas kalian di atas meja ya. Jangan keluar dulu! Tunggu sampai aku selesai membaca berkas kalian!” perintah pria itu dengan tidak mengubah posisinya sama sekali. Aku dan Rara langsung mengikuti perintahnya dengan benar. Tapi anehnya, kenapa tidak ada kursi untukku dan Rara? Apakah harus menunggu sambil berdiri lagi? Setidaknya beri kami izin untuk duduk sebentar, soalnya kedua kakiku rasanya sudah sedikit nyeri karena terlalu lama berdiri. Untung saja ada jam dinding di tembok belakang pria itu, jadi aku bisa melihat, berapa lama dia membaca berkasku dan juga berkas Rara. ... Lima menit telah berlalu, tetapi dia tak kunjung meletakkan berkas itu di atas meja kembali. Apakah ada pernyataan yang membuat dia kesal? “Baik. Kalian diterima. Selamat! Besok datang ke sini jam enam pagi, untuk mendapatkan seragam dan juga cara kerjanya bagaimana. Silahkan pergi!” ujarnya setelah meletakkan berkas itu dia atas meja secara tiba-tiba. Hah? Semudah itu? Apakah tidak ada pertanyaan, atau hanya sekedar basa-basi?    Bersambung ...   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN