“Baik. Tolong letakkan berkas kalian di atas meja ya. Jangan keluar dulu! Tunggu sampai aku selesai membaca berkas kalian!” perintah pria itu dengan tidak mengubah posisinya sama sekali.
Aku dan Rara langsung mengikuti perintahnya dengan benar. Tapi anehnya, kenapa tidak ada kursi untukku dan Rara? Apakah harus menunggu sambil berdiri lagi? Setidaknya beri kami izin untuk duduk sebentar, soalnya kedua kakiku rasanya sudah sedikit nyeri karena terlalu lama berdiri. Untung saja ada jam dinding di tembok belakang pria itu, jadi aku bisa melihat, berapa lama dia membaca berkasku dan juga berkas Rara.
...
Lima menit telah berlalu, tetapi dia tak kunjung meletakkan berkas itu di atas meja kembali. Apakah ada pernyataan yang membuat dia kesal?
“Baik. Kalian diterima. Selamat! Besok datang ke sini jam enam pagi, untuk mendapatkan seragam dan juga cara kerjanya bagaimana. Silahkan pergi!” ujarnya setelah meletakkan berkas itu dia atas meja secara tiba-tiba.
Hah? Semudah itu? Apakah tidak ada pertanyaan, atau hanya sekedar basa-basi?
*** ***
“Sumpah ... semudah itu? Aku pikir tadi ada sebuah pertanyaan gitu,” ucapku pada Rara, setibanya di luar toko.
“Iya nih, dan besok di suruh langsung masuk,” sambung Rara. Kedua kakiku kami terus melangkah, sambil terus berbincang.
“Iyaa ... Sungguh tidak dapat dipercaya ini. Cubit aku sekarang juga!” pintaku sambil menyodorkan lenganku di sampingnya.
Tiba-tiba dia langsung mencubit, sontak membuatku berteriak histeris. Ternyata ini nyata, bukan mimpi atau hayalan semata. Rasa bahagiaku semakin meningkat, tatkala mengetahui bahwa semua ini nyata.
Tanpa terasa, langku dan langkah Rara sudah sampai di depan pintu keluar mal. Itu tandanya, aku dan dis harus berpisah,, dan bertemu lagi besok, untuk bekerja di tempat yang sama.
“Oke, kita harus berpisah di sini! Dan besok kita juga akan bertemu di sini. Jika kamu datang lebih dahulu, tunggulah aku di dekat satpam itu! Dan jika aku datang lebih dahulu, aku akan menunggumu di dekat satpam!” aku menyatakan sebuah kesepakatan, yang mungkin akan membuatnya lupa. Dari situ aku akan mengetahui, siapa dia sebenarnya?
Rara hanya mengangguk, sambil tersenyum padaku. Beberapa menit setelah Rara tersenyum, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berwarna hitam. Mobil itu berhenti tepat di depan mal. Siapa sih milik mobil itu? Saking penasaran, kepalaku sampai miring untuk melihat siapa dibalik kursi kemudi itu. Perlahan Jendela mobil mulai turun, tapi belum menampakkan wajah seseorang.
“Maaf, Nona Rara. Saya menjemput Nona di sini,” ucap seorang pria dengan memiliki suara serak basah.
Kemudian, Rara menghampiri mobil itu dengan mengabaikanku. Bentar, otakku belum sampai nih! Siapa Rara? Kenapa dipanggil nona? Dan siapa pria itu?
“Kan aku sudah bilang ke kamu, jemput aku di belakang mal saja!” Rara mulai mengomeli pria itu. Tapi hebat sih, dia tidak terbawa emosi saat keinginannya tidak terpenuhi.
“Maaf, Nona. Nyonya besarlah yang menyuruh saya untuk menjemput Nona di sini,” sahut pria itu.
Anehnya, kenapa pria itu tidak mau turun? Seharusnya kan turun agar terlihat sopan. Tapi, mungkin usia sang sopir lebih tua dari Rara jadi, jadi sopir itu tidak kunjung turun dari mobil.
“Baiklah. Bukakan pintunya untukku ya! Aku ingin menemui seseorang dulu,” pinta Rara.
Kemudian, dia menghampiriku. “Neng, ikut aku yuk! Biar kuantar sampai depan rumahku. Bagaimana?” ucap Rara menawarkan tumpangan padaku.
“Tapi, Ra ... Sepatuku kotor, nanti mobilmu kotor,” sahutku menolak tawarannya secara halus.
Rara langsung merangkulku, lalu berjalan menuju mobil, otomatis kedua kakiku juga ikut melangkah secara bergantian. “Ah, tidak apa-apa. Nanti juga bisa dicuci lagi,” serunya.
Sesampainya di pintu mobil yang terbuka, aku langsung masuk ke dalam, karena Rara sudah menungguku untuk masuk lebih dulu. Saat aku duduk di kursi mobil bagian tengah, rasanya begitu luar biasa. Empuk dari kursi mobilnya ini membuatku betah untuk duduk berlama-lama di sini. Permukaan kursinya juga sangat halus dan lembut. Aroma dalam mobil ini sangat menenangkan, tidak membuat perutku mual. Warna kursi, langit-langit, dan karpet mobil ini serba krem, jadi terlihat sangat mewah. Anehnya, kenapa tidak dimodifikasi saja? Kenapa masih terlihat sangat orisinil keseluruhannya.
“Neng! Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Rara membuatku berhenti untuk memperhatikan seluruh mobilnya.
Aku langsung menoleh ke Rara yang ada di samping kiriku. “Ehh ... Tidak ada, Ra,” sahutku sambil berusaha tersenyum padanya.
“Baiklah. Alamat rumahmu di mana, Neng? Aku belum tahu soalnya,” lanjutnya sambil memperhatikanku.
“Oh, oke. Biar aku yang bicara pada sopirmu ya, Ra,” sahutku sambil melihat ekspresi wajah Rara.
Rara hanya mengangguk. Tanda bahwa dirinya menyetujui pendapatku. Kapan lagi aku memerintahkan seseorang tanpa memberi ongkos sepeser pun.
“Pak, kita putar balik nanti ya, soalnya rumahku ada di jalan Mawar, Blambangan. Lumayan jauh sih, kalau dari mal ini,” perintahku sambil menunjuk arah, padahal aku juga tidak tahu, apakah benar harus berputar balik atau tidak?
“Baik, Neng.” Sopirnya Rara tersenyum menyeringai setelah mendengar penjelasanku.
Sepertinya ada yang salah dengan penjelasanku ini. Biar sudah, intinya dia sudah tahu di mana alamat rumahku. Masak kerja sebagai sopir tidak tahu jalan mana pun, mustahil.
Aku tetap kepikiran tentang Rara. Kalau dia benar-benar orang kaya, kenapa dia masih ingin bekerja di mal? Padahal kalau masalah uang, dia tidak akan kekurangan apa pun. Jadi untuk apa dia bekerja ya?
“Neng ...!” suara Rara membuatku tersadar lagi.
“Sebenarnya ... Di rumah tidak ada saudara atau adik kandung, jadi aku merasa kesepian. Tapi aku senang, hari ini bisa mengenalmu,” lanjutnya menjelaskan isi hatinya. Padahal baru saja aku mempertanyakan dirinya dalam hatiku.
“Oalah, ke mana keluargamu Ra?” tanyaku sedikit prihatin.
“Mama sama Papa kerja dan aku hanya anak tunggal. Jadi setiap hari aku merasa kesepian. Kalau mau, main ke rumah yuk!” jawab Rara sambil mengajakku.
“Lain kali saja, Ra. Kita main di rumahku saja dulu. Di rumah ada banyak kue buatan mamaku, pasti kamu bakalan ketagihan!” seruku sambil menggodanya.
“Oh ya? Boleh banget. Kita main di rumahmu ya!” sahutnya dengan bahagia.
Kupikir dia akan menolak. Tapi nanti kalau dia sudah tahu rumahku, pasti akan menolak dengan berbagai alasan. Kalau sekarang kan dia belum mengetahui wujud rumahku seperti apa. Jadi aku hanya mengangguk, memberikan kesan untuk menyambut dirinya.
Tiba-tiba mobil ini berhenti di depan gang. Saat kutoleh, ternyata kami sudah sampai di dalam gang rumahku. Ya benar saja, mobil ini tidak akan bisa masuk ke gang rumahku ini.
“Ra, ayo kita jalan kaki! Rumahku masuk ke gang ini,” celetukku sambil menggandeng tangannya.
Rara hanya mengangguk padaku, lalu berkata kepada sopirnya, “Maaf, Pak. Nanti jemput aku di gang ini lagi ya! Aku ingin bermain di rumah Ester.” Tangan kirinya mulai membuka pintu dengan mandiri.
“Tapi, Nona—“
“Katakan saja pada mama nanti ya, Pak. Aku baik-baik saja.” Lalu Rara keluar lebih dulu.
Setelah keluar, aku juga ikut keluar dari mobil ini. Padahal sudah sangat menikmati suasana mobil ini.
Bersambung ...