KEBAHAGIAAN YANG TIDAK PERNAH DIRASAKAN OLEH ORANG KAYA

1178 Kata
“Kamu yakin, Ra? Jalan ini becek loh!” ucapku memperingatkan Rara sebelum melewati gang yang sudah ada di depan mata. “Yakin dong! Memangnya kenapa kalau becek? Kan sepatunya bisa dicuci,” sahut Rara terlihat santai. Sepertinya, dia benar-benar ingin bermain di tempat becek seperti ini. Mungkin di rumahnya tidak pernah ada jalan yang seperti ini ya. Tiba-tiba tangan kananku digenggam olehnya. Spontan aku langsung menatap wajahnya, di mana tatapan matanya langsung menatapku sambil berkata, “Ayo! Aku ingin mencicipi kue buatan mamamu.” Rara langsung menarik pelan  lenganku sambil menganggukkan kepalanya satu kali. Kemudian aku langsung melangkah, mengikuti kaki kecilnya yang sedikit melompat. Eman sekali dengan sepatunya yang berwarna putih itu. Nanti pasti banyak noda berwarna coklat yang menempel. Tapi, sudahlah! Dia kan orang kaya, pasti nanti akan beli yang baru. Kalau seperti aku ini, pasti sudah dimarahin emak. “Yey ...!” dia berteriak kegirangan ketika kaki-kakinya menginjak tanah cekung yang digenangi air hujan. Dia terus menginjak genangan air hujan sambil terus berteriak. Seperti ada kebahagiaan sendiri pada dirinya. Mungkin benar ya, dia selalu kesepian, tidak memiliki siapa pun. Mungkin hanya bermain dengan pekerja di sana. Aku jadi ikut bahagia ketika melihat Rara bahagia dengan cara sesederhana ini.  Kupikir, dia tidak akan mau jika diajak ke rumah. Tapi, memang dari awal bertemu, Rara seperti sedang menyamar sebagai orang biasa dan dia sangat senang bermain denganku. Makanya, enggak heran kalau Rara akan sebahagia ini. Setibanya di halaman rumah, aku langsung menghentikan langkahnya lagi, dengan meletakkan tanganku di depan perutnya. Sambil berkata, “Tunggu dulu!” “Ada apa?” tanya Rara polos sambil menatapku. “Lepas sepatumu! Letakkan di pinggiran teras. Bentar dulu! Biar aku yang memberikanmu contoh,” jawabku sedikit bingung. Lalu aku menjauhi ke samping kiri dia dengan jarak satu meter saja. Karena ada sebuah kran air yang sudah dipasang dengan selang berwarna hijau. Sebelum menyalakan kran air, aku membuka sepatuku terlebih dahulu. Untung saja warna sepatuku tidak terlalu terang. Lalu, aku langsung menyemprotkan sepasang sepatuku dengan air kran yang baru saja kunyalakan. Untung saja, tipe sepatuku itu seperti sepatu boot yang tidak menyerap air, mungkin hanya meninggalkan bentuk tanah yang sudah mengering. Jadi hanya beberapa semprot dan juga sedikit gosokkan pada permukaan sepatuku, maka akan kembali seperti baru lagi. Setelah selesai membersihkan sepatuku, aku langsung meletakkan sepatu itu di atas tempat duduk yang terbuat dari semen dan juga batu-bata yang dibuat di pinggiran teras rumah, dengan posisi sepatu berdiri dan bersandar pada sandaran tembok. Kemudian aku mencuci salah satu kakiku, agar bisa menginjak di atas permukaan teras rumah. Setelah salah satu kakiku bersih, aku juga akan membersihkan kakiku yang lainnya. Mungkin kali ini, Rara hanya memperhatikanku. “Ayo, Ra. Ganti kamu!” pintaku sambil berdiri di depan Rara. Posisi kami berhadap-hadapan. Rara masih menginjakkan kakinya di atas tanah tanpa menggunakan sepatunya, sedangkan aku menginjakkan kakiku di atas permukaan teras rumah yang selalu bersih ini. Makanya aku menyuruh siapa pun untuk melepaskan alas kaki, sebelum tiba di teras. Untung saja aku tidak menemui tamu bandel di sini. Semuanya pada menuruti aturan rumah ini.   Tiba-tiba, Rara langsung melakukan apa yang kulakukan tadi, meskipun noda di sepatunya tidak hilang begitu saja, tapi dia tetap menyemprotkan sepatutnya dengan air kran sepertiku tadi. Bahkan dia melakukan pergerakan sama persis denganku. Sepasang sepatunya juga diletakkan pada tempat duduk yang sama. “Sudah kan ya?” tanya Rara dengan ramah. “Iya sudah, mari masuk!” ajakku ketika kedua kaki kami masing-masing sudah sangat bersih dari noda lumpur dan juga genangan air hujan. “Mah, aku pulang!” seruku sebelum masuk ke rumah. Sedangkan Rara hanya berkata, “Permisi.” Karena seperti biasa, rumah selalu kosong dalam keadaan pintu terbuka lebar-lebar, jadi aku dan Rara langsung masuk saja. Aku menyuruh Rara untuk duduk di sofa ruang tamu saja, karena masih baru pertama kalinya. Lalu, aku berjalan ke arah dapur sambil berteriak memanggil mama, “MA?” “MA?” teriakku kedua kalinya. Sampai membuat kakakku dari kamarnya. “Ada apa?” tanyanya sambil menatapku tajam. “Ke mana mama?” sahutku ketus dengan bertanya keberadaan mama padanya. “Pergi. Sudah, jangan berteriak lagi!” jawabnya, lalu masuk ke kamarnya lagi. Yah, memang begitu. Aku dan kakak laki-lakiku, tidak pernah akur seperti persaudaraan lainnya. Bahkan kami jarang mengobrol, entah karena dia sibuk kerja, atau aku yang terlalu cuek padanya. Kemudian, aku kembali ke ruang tamu lagi untuk menemani Rara yang duduk di sendirian. “Bentar ya, Ra. Mamaku masih keluar. Aku tidak tahu tempat kue itu, Ra,” ucapku menjelaskan padanya. “Oke, santai saja. Aku ke sini bukan hanya untuk mencicipi kue buatan mamamu, tapi untuk berkenalan dengan keluargamu.” Rara semakin meluruskan punggungnya. Bahkan dia duduk tanpa bersandar. Duduknya benar-benar seperti orang normal. Dia duduk dengan punggung tegak, kedua telapak kaki yang menyentuh lantai, dan kedua tangan yang diletakkan di atas pahanya. Ku pikir duduk seperti itu akan membuat diri kita semakin capek. Setelah lama berbincang dengannya, tiba-tiba mama masuk dari luar rumah, sambil membawa kantong kresek di tangan kanannya. “Eh, anakku sudah pulang. Bagaimana hasilnya?” sapa mama yang selalu berekspresi gemas ketika melihatku. “Besok aku mulai kerja, Ma. Oh ya, perkenalkan, Ma, ini temanku, Rara,” sahutku sekaligus memperkenalkan Rara pada mama. “Wah, anak cantik ini rumahnya di mana?” tanya mama langsung menginterogasi, meskipun dengan suara yang lembut. “Eh, rumah saya di perumahan Kingdom, Tante,” jawab Rara, membuatku tak percaya. Apakah Rara sekaya itu? Perumahan Kingdom itu kan perumahan elite yang terkenal di seluruh kota ini. Wah, pasti rumahnya sangat mewah, jika dibandingkan dengan rumahku yang sederhana ini. “Perumahan Kingdom, Nak? Kok bisa kenal dengan anak saya?” tanya mama. Pupil matanya melebar, kedua alisnya langsung terangkat. Tidak dapat dipungkiri, aku saja tidak menyangka, apalagi mama. “Iya, Tante. Pertama kali kami kenal itu di salah satu aplikasi lowongan pekerjaan. Dari situ kami mulai akrab, lalu mulai memberanikan diri untuk bertemu satu sama lain,” jawab Rara dengan santai. Mama hanya mengangguk. Entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang. Mungkin mama sedang merangkai kata untuk dijadikan sebuah kalimat tanya yang harus Rara jawab. Tiba-tiba mama duduk di sofa tunggal yang ada di samping kiriku. “Maaf ya, Ra. Rumah kami kecil dan sedikit berantakan,” celetuk mama setelah terdiam beberapa menit. “Oh, tidak apa-apa Tante. Di rumah juga sangat berantakan,” sahut Rara dengan selalu tersenyum. “Berantakan? Bukannya di rumahmu banyak asisten rumah tangga ya, Nak?” tanya mama membuat Rara langsung menundukkan kepalanya. Entahlah, apa yang dimaksudkan oleh Rara. Mungkin ada arti lain dalam kata ‘berantakan’. Aku langsung mendekati Rara, dan merangkul bahunya. Membisikkan sebuah kalimat di samping telinganya, “Maaf ya, Ra. Aku dan mama tidak tahu apa yang kamu maksud, tapi untuk sekarang, aku mulai mengerti. Aku akan selalu di sampingmu!” Rara langsung menolehkan wajahnya padaku, lalu tersenyum padaku. Kedua pipinya sudah basah, mungkin dia sudah tak kuat menahan tangisnya. Aku langsung mendekap tubuhnya. “Ya sudah, mama mau ambilkan kue kering untuk kalian,” pamit mama. Saat kutoleh, hanya ada punggung dan bagian belakang mama yang terlihat di mataku. Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN