“Ra ... Aku percaya kalau kamu itu gadis yang kuat!” seruku sambil tersenyum lebar padanya.
Rara hanya menatapku. Aku juga menatap wajahnya yang elok, hingga mama datang untuk memecahkan keheningan. Spontan kami langsung mengalihkan pandangan ke arah lainnya.
“Hei ... Nikmatilah kue buatanku ini! Pasti kamu akan ketagihan!” Dengan percaya dirinya, mama berkata seperti itu. Lalu, mama pergi setelah meletakkan dua piring kue kering di atas meja.
Saat kualihkan pandanganku ke arah Rara. Kedua mata Rara tak henti-hentinya menatap kue kering yang sudah tersaji di atas meja. Bibir seksinya juga sedang menganga. Sudah bisa kutebak, pasti sebentar lagi air liurnya akan keluar sendiri dari tepi bibirnya.
Aku langsung menegurnya sebelum semua itu terjadi, “Ra ... Silakan di makan! Jangan sungkan-sungkan! Anggap saja ini rumahmu.” Kami saling menatap, lalu tersenyum bersama.
Kemudian, tangan kanan Rara mulai meraih kue kering yang tak jauh darinya. Dia hanya mengambil satu buah saja. Hmm, pasti setelah ini, bukan hanya satu buah yang ada di tangannya, melainkan lebih dari itu. Dugaanku benar, setelah satu kue kering telah habis di dalam mulutnya, dia langsung menoleh padaku, dengan tangan kanan yang berusaha meraih. Haha, sepertinya dia malu-malu kucing. Hingga tubuhnya hampir selaras dengan meja.
“Ambil saja semuanya, Ra. Tidak apa-apa,” tegurku, membuat Rara langsung menegakkan lagi punggungnya dan memposisikan dirinya seperti semula, saat pertama kali duduk di kursi.
“Ah, tidak. Aku hanya ... Ya, aku ingin meluruskan punggungku saja, Ra,” sahut Rara yang sedikit mengelak.
“Baiklah kalau begitu. Kita bermain di luar rumah yuk! Pasti seru,” ajakku untuk mengetahui, apakah dugaanku benar atau salah?
Rara sempat terdiam. Sepertinya dia sedang berpikir sesuatu. Hingga satu menit telah berlalu, dia baru selesai untuk memikirkan itu semua.
“Baiklah. Tapi, biarkan aku menikmati dengan puas kue ini,” ucapnya dengan sedikit memohon.
Akhirnya aku memberikan semua kue yang ada di atas meja itu pada Rara, karena Rara tidak akan makan kue ini sesering mungkin, sedangkan aku masih bisa menikmati kapan saja dan di mana saja. Lalu, aku keluar rumah dan duduk di pinggiran teras sambil menunggu Rara menghabiskan semua kuenya.
Terpikirkan olehku, untuk mengajak Rara ke sawah milik pamanku. Pasti di sana akan menyenangkan. Kemudian, aku mulai menyiapkan sandal jepit untuk dipakai Rara dan juga diriku. Masak mau ke sawah pakai sepatu? Kan enggak lucu.
“Neng, aku sudah selesai. Oh ya, kata tante tadi, kamu dan aku disuruh datang ke sawah paman,” ucap Rara yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
“Oke. Ini aku sudah menyiapkan sandal untukmu,” sahutku sambil menunjuk sandal yang ada di samping kanan kakiku.
Kebetulan sekali mama menyuruhku untuk bermain di sawah paman. Padahal sudah kupikirkan sebelumnya. Memang ya, ibu dan anak memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Baguslah, kalau sejalan dengan pikiran mama, jadi tidak perlu repot-repot lagi untuk meminta izin. Karena pastinya, akan diizinkan sebelum meminta izin.
“Ya sudah, ayo berangkat Ra! Keburu sore, nanti hujan pas,” ajakku segera. Karena melihat Rara yang masih berdiri diambang pintu.
Rara langsung melangkah sambil menyahuti perkataanku, “Iya, Neng. Ayo!” Kaki kirinya mulai memakai sandal jepit, lalu disusul dengan kaki kanannya.
“Ayo!” Aku mulai menggenggam tangannya, lalu jalan berdampingan menuju sawah yang tak jauh dari pemukiman desa.
Di tengah perjalanan, banyak teman mama yang mengenal sekaligus menyapaku.
“Hai, Ter. Bagaimana kabarnya?” sapa salah seorang wanita yang berambut hitam lebat dengan panjang sebahu.
Spontan aku langsung mengangguk sekali. “Baik, Tante. Kabar Tante bagaimana?” jawabku sedikit basa-basi sambil menghentikan langkahku.
“Baik juga, Nak. Siapa dia?” tanyanya sambil menatap Rara sebentar.
Aku langsung menyuruh Rara untuk sedikit maju, karena dia bersembunyi dibalik tubuhku. “Dia temanku, Tante. Namanya Rara. Rara, ini Tante Melda,” sahutku saling memperkenalkan mereka.
“Hai, Tante Melda.” Rara melambaikan tangannya dan melengkungkan bibirnya ke atas.
“Hai. Cantik juga Rara ini. Oh ya, kalian ini mau ke mana?” tanya seorang wanita yang sering kupanggil Tante Melda.
“Terima kasih Tante cantik. Kami mau ke sawah, disuruh cari belut sama mama, Te,” jawabku sambil mulai menggenggam tangan Rara.
“Oh, ya sudah. Hati-hati ya!”
“Baik, Te. Permisi.” Setelah itu, aku dan Rara melanjutkan perjalanan kami.
Entahlah, apa yang ada dipikiran Rara sekarang. Dari raut wajahnya saja, sepertinya dia takut dengan belut. Tapi, kapan lagi dia akan bertemu belut, kalau bukan bersamaku?
Kemudian, aku dan Rara mulai berbincang. Menceritakan masa kecil masing-masing. Aku ikut sedih ketika mengetahui masa kecil Rara yang tidak begitu menyenangkan. Ketika kecil, seharusnya anak dibiarkan bermain untuk mengasah kemampuannya, tapi semua itu berbeda dengan masa kecil Rara. Di mana, Rara selalu dituntut untuk selalu belajar, agar tidak ada yang menyaingi nilainya dalam satu kelas. Padahal, usia tiga tahun, seharusnya dia asyik bermain dengan teman sebayanya. Tetapi, otak kecilnya dipaksa untuk memahami tentang pelajaran anak TK, sedangkan saat dirinya menginjak usia delapan tahun, dia dipaksa untuk memahami pelajaran kelas di atasnya lagi dan begitu seterusnya hingga memasuki bangku SMA, tapi dia sudah paham dengan materi perkuliahan. Ya, jujur sih, ada senangnya juga, pasti saat Rara daftar kuliah, pasti cepat menyelesaikan wisudanya hanya dalam waktu dua tahun saja. Tapi, apa untungnya dari semua itu? Bahkan, dia baru kali ini merasakan bermain di genangan air hujan.
Tidak perlu tanya masa kecilku ya, karena masa kecilku sama saja dengan kalian. Aku masih bermain sepuasnya dengan teman sebayaku, tanpa memikirkan beban seberat itu.
“Ra, kenapa tidak kuliah saja?” tanyaku penasaran. Biasanya kalau dari kecil sering dipaksa, pasti ketika besar juga sering dipaksa.
“Tidak, Ra. Aku capek! Lagi pula, aku dan keluargaku punya kesepakatan,” jawabnya sedikit kesal.
Ya, wajar sih. Siapa yang enggak capek kalau dipaksa terus seperti itu? Aku saja kalau disuruh ke warung secara tiba-tiba, ya merasa kesal. Apalagi Rara yang bertahun-tahun harus mengikuti perintah keluarganya.
Dari kisahnya, aku jadi penasaran dengan kesepakatan yang mereka buat. Setelah sekian lama maju mundur untuk bertanya, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya soal kesepakatan Rara dengan keluarganya.
“Memangnya, kesepakatan apa yang kamu ajukan, Ra?” tanyaku sedikit gugup dan takut. Takut tiba-tiba Rara marah dan menjauhiku.
Rara mulai membuka mulutnya, tapi tiba-tiba dia menutup rapat mulutnya sambil menunduk. Baiklah, aku tidak akan memaksa Rara untuk memberitahukan semuanya padaku. Semua itu hak Rara.
Aku langsung mendekap tubuh Rara dan mulai mengelus punggungnya agar sedikit tenang.
“Ester ...!” tiba-tiba Rara memanggilku dalam dekapanku.
Spontan aku melepaskan dekapanku padanya. “Iya, Ra?”
“Sebenarnya ...”
Bersambung ...