Rara mulai membuka mulutnya, tapi tiba-tiba dia menutup rapat mulutnya sambil menunduk. Baiklah, aku tidak akan memaksa Rara untuk memberitahukan semuanya padaku. Semua itu hak Rara.
Aku langsung mendekap tubuh Rara dan mulai mengelus punggungnya agar sedikit tenang.
“Ester ...!” tiba-tiba Rara memanggilku dalam dekapanku.
Spontan aku melepaskan dekapanku padanya. “Iya, Ra?”
“Sebenarnya ...”
*** ***
“Sebenarnya ....”
“Sedang apa kamu di sini, Neng?”
Aku langsung membalikkan tubuhku. Di belakang, sudah ada paman yang sedang berdiri dengan memakai baju yang sering ia bawa ke sawah. Bajunya terlihat penuh dengan noda coklat dan terlihat sangat usang. Beliau juga memakai topi anyaman yang berbentuk kerucut.
“Ini Paman, mama lagi pengin belut goreng, jadi aku datang ke sawah, Paman,” jawabku setelah beberapa menit memperhatikan penampilan paman.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Jangan diinjak tanamannya ya!” Paman berpesan padaku.
“Iya, Om.”
Tumben enggak tanya tentang Rara. Apa gara-gara Rara sembunyi dibalik tubuhku ya? Mungkin saja, makanya paman tidak melihat Rara. Ya sudahlah, mending kulanjutkan saja menangkap belutnya. Tapi, bentar dulu! Bukannya Rara ingin melanjutkan perkataannya? Akhirnya aku memberikan kode dengan cara mencolek lengan kanannya.
“Apa, Neng?” tanya Rara langsung menatapku dengan sinis.
“Eh, silakan dilanjut lagi!” seruku sambil mengedipkan salah satu mataku.
Rara yang dalam keadaan membungkuk, spontan langsung menegakkan punggungnya lagi. Lalu menepukkan kedua telapak tangannya untuk membersihkan dari sisa lumpur sawah yang sudah mengering.
Kemudian, Rara berkata, “Oh, ya. Aku lupa ... Hm, sebenarnya ... Dulu, waktu aku memasuki bangku sekolah dasar, aku mulai bosan dengan kehidupanku yang serba cepat untuk mengetahui pelajaran yang tidak seharusnya kupelajari. Jadi aku mulai membantah semua perintah kedua orang tuaku, sampai akhirnya terjadi sebuah kesepakatan, di mana aku meminta untuk tidak melanjutkan kuliah setelah lulus SMA dan mau belajar mandiri. Dari situ, kedua orang tuaku sudah menyetujui semua keinginanku, ya jadi seperti inilah hidupku saat ini. Semua terserah aku sekarang.” Dia langsung duduk pada jalan yang ada di tepian sawah setelah menjelaskan semuanya.
Kini aku jadi mengerti, kenapa Rara memutuskan untuk mencari pekerjaan. Ya, karena ada sebuah kesepakatan yang harus ia jalani, apalagi kesepakatan ini adalah keinginannya sendiri, jadi mau enggak mau, dia harus merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Beda lagi denganku. Aku mencari pekerjaan, hanya untuk mencari kesibukan sendiri dan berusaha melupakan tentangnya.
Bahas tentang dirinya, aku jadi ingat lagi padanya. Bagaimana ya kabarnya? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa sampai tiga hari ini tidak mengabariku? Eh, mungkin sudah empat hari lebih ini, tapi mana? Tidak ada notifikasi apa pun dalam ponselku. Aku jadi semakin ragu dengannya.
“Hei! Jangan melamun!” Rara mengagetkanku dengan menepuk pundakku.
“Ah, iya benar. Ayo kita lanjut cari belutnya,” sahutku sambil mengusap salah satu pipiku dengan punggung tangan.
“Ayo!” Rara terlihat sangat semangat, lalu membungkukkan punggungnya lagi ke depan.
Aku juga mulai membungkukkan tubuhku ke depan. Kedua tanganku mulai mengulur pada bagian pinggiran sawah yang terlihat sedikit berlubang. Mungkin itu rumah sang belut. Kemudian jari-jariku mulai mengobok-obok bagian lubang itu hingga menjalar ke sampingnya, belum kutemukan tanda-tanda di sana. Tidak mudah untuk menangkap belut, tapi jika kita berusaha dan bersabar sedikit lagi, pasti usaha kita tidak akan sia-sia.
Sesekali aku melirik padanya. Dia terlihat sangat bahagia ketika bermain lumpur di sawah. Memang radak nggak waras nih orang. Kok enggak ada rasa jijiknya sama sekali sih? Biasanya kalau orang kaya itu pasti terlihat sangat jijik ketika disuruh terjun ke lumpur langsung. Sangat hebat Rara ini, salut aku sama dia.
Tiba-tiba Rara langsung menegakkan punggungnya sambil mengangkat kedua tangannya ketika aku memperhatikan dia, dibarengi suara teriakannya, ”YEYY ... AKU DAPAT SEEKOR BELUT!”
Saking bahagianya melihat Rara bahagia, aku juga ikut berteriak, dan melompat-lompat, “YEEYY ...! HAHA RARA DAPAT SEEKOR!”
Kami langsung berpelukan, melepaskan rasa bahagia bersama. Lalu saling melepaskan pelukan dan saling menatap satu sama lain.
“Oh ya, Ra, letakkan ditimba yang ada di sampingmu,” ucapku ketika mengingat sesuatu.
“Oke, oke ....” Rara langsung mendekati timba dan meletakkan seekor belut di sana.
Kemudian, aku dan Rara duduk berdampingan di pinggir jalan sawah. Aku menatap wajahnya yang paras. Di dalam pikiranku, ingin rasanya melumuri setengah wajahnya dengan lumpur, tapi sayang banget dengan wajahnya yang mulus dan terawat itu. Untung saja setelah berpikir seperti itu, tiba-tiba Rara mulai berbicara.
“Aku senang banget saat ini. Baru pertama kalinya aku berhasil menangkap belut sendirian,” ucap Rara sambil senyum ceria padaku.
“Ya, aku juga ikut bahagia. Padahal ya, Ra, menangkap belut itu sangat susah loh! Aku saja dari tadi belum mendapatkan seekor pun,” sahutku sambil ikut tersenyum. Lalu aku menatap langit yang terlihat mendung.
“Hmm ... Aku bahagia bisa mengenalmu. Aku juga bahagia, karena keluargamu selalu menerima teman baru dihidupmu. Terima kasih ya, Ester!” ungkap Rara yang membuatku langsung menatap wajahnya.
“Untuk apa, Ra? Tidak perlu berterima kasih padaku. Soalnya aku juga ikut bahagia bisa mengenalmu!” aku menjelaskan semua perasaanku sambil menggenggam erat tangannya.
Tiba-tiba Rara memelukku saat aku belum siap untuk dipeluk. Alhasil salah satu lenganku malah jadi pembatas antara aku dan dia.
“Neng, ayo pulang! Paman sudah mendapatkan belut yang banyak! Kita makan bersama di rumahmu yuk!” seru paman membuatku kaget, mungkin juga membuat Rara kaget, sampai melepaskan pelukannya.
Aku langsung menata rambutku sedikit. “Iya, Paman. Mari!”
Aku dan Rara bergegas untuk pergi bersama paman, tak lupa juga membawa belut hasil tangkapan Rara. Mungkin saja di sekitar sawah paman yang kupijak ini sudah sedikit belutnya, jadi jarang kutemukan bahkan hanya seekor saja yang tertangkap, sedangkan Paman sudah membawa banyak belut di dalam timbanya. Untung ada paman, jadi kita bisa pulang dengan cepat.
Di dalam perjalanan, suasana hening mengantarku pada sebuah kenangan indah bersama Yovi. Jujur, apakah hanya aku yang jatuh cinta padanya? Atau cintaku yang bertepuk sebelah tangan? Mengingat tentang kenangan bersamanya, rasanya aku dan Yovi saling mencintai. Dia sangat perhatian padaku, dia juga yang selalu tersenyum di saat aku tidak bisa mengontrol tawaku sendiri. Tapi ternyata aku salah. Aku hanya mengenal sifat palsunya. Ya, bisa dikatakan bahwa aku sedang dimanipulasi olehnya. Sakit rasanya jika mengetahui sifat dia seperti ini. Apa salahku?
“NENG, AWAS!”
Aku mendengar paman yang berteriak dan juga Rara yang mencoba menarik lenganku.
Brughh!
Tanpa sadar, pantatku terasa sangat sakit.
Bersambung ...