Setengah tubuhku (dari pinggang sampai kaki) penuh dengan lumpur sawah. Tiba-tiba paman dan Rara menertawakanku dengan sangat keras.
“Ih, ngeselin deh kalian ini! Bukannya dibanguin malah ditertawakan,” ucapku kesal, sambil berusaha berdiri sendiri.
“Iya, iya. Maaf ya,” sahut Rara sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Tidak usah!” ujarku dengan ketus.
Dengan susah payah, aku berusaha bangun tanpa bantuan siapa pun. Rasanya sangat kesal ketika melihat mereka menertawakanku, apalagi paman yang tak henti-hentinya tertawa. Ingin marah, tapi usiaku lebih muda dari paman, jadi apalah dayaku, meskipun kesal, aku tetap menghormatinya. Lagi pula ini kesalahanku sendiri. Suruh siapa melamun? Ya, aku sendiri yang tiba-tiba melamun tentangnya.
Sungguh, aku sangat merindukannya. Bolehkah aku bertemu dengannya lagi? Apa yang bisa kulakukan saat ini? Tidak ada.
Kemudian, Rara mengusap lengan atasku, sambil berkata, “Sudahlah, jangan marah-marah! Nanti cepat tua.”
Ya Allah, rasanya pengin kugeprek kepalanya, lalu kujadikan santapan malam. Ngeselin banget sih!
“Ya sudah, jangan marah lagi! Sini, paman gendong,” celetuk paman sambil membelakangiku, dengan posisi kedua lutut sedikit menekuk dan punggung sedikit bungkuk, agar aku bisa gendong di punggung paman.
“Tapi, Paman—“
“Sudah, jangan tapi-tapian!”
Akhirnya aku mulai menempatkan diri pada punggung paman yang sudah siap menerima beban tubuhku.
“YAP!” suara paman terdengar lebih berat dibarengi dengan punggungnya yang meloncat agar posisiku sedikit lebih atas lagi.
Kedua tanganku melingkar pada leher paman, tapi tetap memberikan ruang pada lehernya agar lebih mudah untuk bernapas. Sedangkan dipunggungku merasakan tangan Rara yang menahan tubuhku agar tidak jatuh, tapi tidak akan jatuh sih, soalnya ada tangan paman yang menjaga bokongku agar tetap nyaman.
“Paman masih kuat?” tanyaku penasaran.
“Kuat dong!” jawab paman. Suaranya terdengar berat dan sedikit bergetar. Mungkin karena mencoba bertahan.
“Kalau Paman tidak kuat, aku jalan saja,” ucapku memberi sedikit tawaran.
Paman hanya mengangguk.
Kupikir paman akan menurunkan tubuhku dan menyuruhku untuk jalan sendiri, tetapi ternyata Paman masih ingin menggendongku, seperti anaknya sendiri.
...
Aku dan paman sempat berbincang dan sedikit bercanda, bahkan sampai tidak sadar kalau ada Rara di belakangku. Ya, bagaimana lagi ya? Aku lupa untuk memperkenalkan Rara pada pamanku. Padahal kalau sudah kenal sama pamanku, pasti tidak dibiarkan untuk menutup mulut saja. Paman juga gitu, enggak mau basa-basi atau tanya tentang Rara padaku tah. Malah diam saja dan memilih untuk mengabaikan Rara. Karena aku teman yang baik, jadi aku berusaha mengubah topik untuk memperkenalkan mereka berdua. Oh ya, kebetulan sih, pamanku belum menikah. Bukan karena tidak laku ya, tapi memang masih suka mengurus sawah milik nenek yang sudah diwariskan sejak lama. Jadi, ya begitulah.
“Paman! Aku belum memperkenalkanmu pada teman baruku,” celetukku ketika paman mulai membisu.
“Oh ya, siapa namanya, Neng?” sahut paman. Sepertinya sedang pura-pura bertanya.
“Rara, Paman. Ra, ini pamanku!” panggilku setelah memberitahu nama Rara pada paman.
Tiba-tiba paman menghentikan langkahnya. Ketika paman hendak membalikkan tubuhnya, Rara sudah lebih dulu menghentikan paman dengan menahan lengannya, lalu Rara maju dan berhenti di hadapan paman.
“Rara!” kata Rara sambil tersenyum manis.
“Andre. Panggil saja dengan sebutan paman, seperti Ester memanggilku,” sahut paman dengan memberi satu permintaan pada Rara.
Kapan menikahnya kalau seperti ini? Setiap kali kuperkenalkan pada temanku, paman selalu menyuruh mereka untuk memanggil dengan sebutan ‘paman’. Sepertinya memang belum minat menikah deh, tapi usianya sudah hampir menginjak kepala empat. Aku yang bingung ini.
Padahal Rara sudah sangat antusias sebelum kusuruh ya, tapi masih ada penolakan dari paman. Hmm, sebenarnya siapa sih yang enggak mau sama pamanku ini? Sudah baik, pekerja keras, tampan lagi. Pasti semua yang kusuruh pada mau, tapi karena paman sendiri yang menolak secara halus, jadi mereka memilih untuk mundur perlahan. Kan niatku baik banget ya? Ditambah, aku pengin menggendong anak dari paman (adik sepupuku), tapi ya sudahlah!
Kemudian, paman menyuruh Rara untuk berjalan lebih dulu, sedangkan dirinya mematung sambil tetap menggendongku di atas punggungnya.
“Kenapa tidak ikut jalan lagi, Paman?” tanyaku penasaran.
Tiba-tiba paman menurunkan tubuhku, setelah turun, paman langsung membalikkan tubuhnya menghadapku. Kedua tangannya memegang lengan atasku. Paman juga menatapku dengan tajam.
“Apa yang kamu lakukan, La? Apakah kamu mau menjodohkanku lagi dengan temanmu?” paman malah balik bertanya padaku.
Aku menghela napas panjang. “Bukan, Paman. Temanku hanya bermain denganku. Kebetulan Paman ke sawah kan? Ya sudah, sekalian kuperkenalkan pada, Paman,” jawabku sambil menatap batang leher paman yang mulai mengkilap karena peluh.
Sampai membuatku sedikit gagal fokus. Bahkan kedua mataku rasanya tidak berkedip lagi.
“Aku hanya suka padamu, Neng!”
Seketika duniaku terasa berhenti. Detak jantungku juga terasa berhenti. Aku mulai merasa sesak napas, ketika mendengar pernyataan paman. Ini tidak mungkin! Mana ada seorang paman bisa menyukai keponakannya sendiri?
Spontan aku langsung menjaga jarak dengan paman, dengan melepaskan kedua tangannya yang menggenggam dari lengan atasku. Meskipun paman sempat menolak, tetapi aku tetap memaksa, agar aku memiliki kerak dengan paman.
“Ada apa, Neng?” tanya paman dengan menatap sayu.
Aku menjawab, “Tidak bisa, Paman! Masih ada wanita lain di dunia ini, kenapa Paman malah menyukaiku?”
Paman mencoba untuk mendekatiku dengan dua kali melangkahkan kakinya. “Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, Neng. Aku memang menyukaimu!” paman menjelaskan lagi padaku.
“Tidak bisa, Paman!” sahutku sambil melangkah ke belakang satu kali.
“Hanya kita yang tahu, Neng. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan menyayangimu dan melindungimu!” ucap paman dengan tegas.
Tiba-tiba paman mendekatkan tubuhnya dengan cepat, lalu memelukku. Aku terus menolak dengan menggerakkan seluruh tubuhku. Namun, apa dayaku? Kekuatanku lebih kecil dari kekuatan paman. Kemudian kepalaku dipaksa untuk mendongak ke atas dengan kedua telapak tangannya yang menempel di kedua pipiku. Aku terus meronta-ronta. Bukannya lepas dari paman, seluruh tubuhku mulai terasa pegal-pegal. Saat aku memejamkan kedua mataku untuk menikmati kesakitan di sekujur tubuhku, tiba-tiba ada sesuatu yang kenyal sedang menempel di bibirku, lalu aku mulai merasakan sesuatu yang basah pada celah bibirku. Ketika aku mulai membuka kedua kelopak mataku, wajah paman sudah sangat dekat dengan wajahku dan ternyata bibirnya telah menempel di bibirku. Dia berusaha membuka bibirku dengan lidahnya.
“PAMAN!”
Teriakanku malah memberi banyak celah pada pamanku untuk bisa bermain dengan lidahku. Sesekali paman menggigit bibir bawahku, membuatku sedikit kesakitan.
Aku harus bagaimana ini? Seluruh tubuhku dipeluk dengan sangat erat, bahkan aku tidak bisa bergerak sedikit pun. Paman juga tidak memberikanku celah untuk kabur.
Tanpa sadar, aku mulai menikmati permainan pamanku sendiri. Bahkan aku mulai membalas serangan lidahnya pada lidahku. Rasanya, seluruh darahku mulai berdesir merangkak naik ke ubun-ubunku. Aku tidak munafik, di daerah kewanitaanku mulai terangsang akibat perlakuan pamanku sendiri pada bibir seksiku.
Kemudian, paman menjauhkan bibirnya dari bibirku, membuatku sedikit kecewa sih, tapi aku tidak ingin paman mengetahui rasa kecewaku.
“Ayo, kita pulang! Jangan katakan pada mama papamu ya, Neng!” celetuk paman. Lalu, mulai membopongku setelah melepaskan pelukannya.
Aku hanya membalas dengan senyum menyeringai.
Saat paman mulai membalikkan badannya, aku melihat Rara yang sedang menunggu di ujung jalan sawah sambil memperhatikan kami dari kejauhan. Apakah dia mengetahui segalanya? Lalu, bagaimana dengan nasibku, jika ternyata dia salah paham dengan apa yang dia lihat?
“Jangan takut, Neng! Biar kujelaskan padanya nanti,” kata paman. Entah, bagaimana ekspresinya, aku tidak berani melihat wajah paman.
Tetapi, seakan paman mengetahui ketakutanku, sehingga dia mengatakan seperti itu. Padahal kan aku belum membicarakan ini dengan paman. Kenapa aku semakin takut ya? Takut dijebak oleh pamanku sendiri. Sungguh, aku masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan paman kepadaku. Seakan semua itu hanya mimpi, tapi kejadian itu sungguh nyata. Aku tidak dapat mengelak lagi tentang perbuatan paman padaku.
Namun, aku mulai penasaran. Sejak kapan paman mulai menyukaiku? Apakah sejak aku menginjak sekolah dasar? Atau sejak menginjak sekolah menengah pertama? Atau bahkan sejak menginjak sekolah menengah atas? Ya, aku tidak tahu pasti. Jika ingin mengetahui kepastiannya, aku harus bertanya langsung pada paman.
“Paman, sejak kapan Paman menyukaiku?” aku memberanikan diri untuk bertanya sambil menatap wajahnya.
“Sejak kamu SMA (Sekolah menengah atas)” jawab paman tanpa ragu.
“Bukannya Paman punya kekasih ya?” tanyaku lagi sambil mengernyitkan keningku.
Pandangan paman mulai fokus dengan yang ada di depannya saat ini, sambil sesekali menghembuskan napasnya dengan kasar. “Iya, tapi dulu, Neng. Kupikir akan ada yang seperti kamu, tapi ternyata, tidak ada Ester yang lainnya. Ester yang kusuka ya hanya ada bersamaku saat ini,” jawabnya dengan santai.
Apakah paman tidak memikirkan risikonya saat menyukai keponakannya sendiri? Atau memang melupakan segala risiko itu? Ah, sudahlah! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran pamanku. Makanya, kenapa Paman sangat memperhatikanku, ternyata ini jawabannya. Kupikir, perhatiannya itu wajar, selayaknya paman dengan keponakan, tapi ternyata ada rasa lain di hatinya.
Aku kembali menatap langit yang mulai cerah, padahal sedari tadi masih mendung, bahkan terlihat sangat gelap dari sekarang.
“Neng, kita pacaran yuk!” celetuk paman membuatku tersedak air salivaku sendiri.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
“Mau minum, Neng?” tawar paman.
Aku hanya mengangguk, karena setahuku, paman tidak membawa sebotol air minum. Apa hanya aku yang menyepelekan paman?
Paman langsung menurunkan tubuhku dengan posisi berdiri tegak.
“Ini, Neng!” Tiba-tiba paman menyodorkan air minum dengan kemasan gelas plastik yang dari pabrik.
Aku langsung bertanya, “Dapat dari mana, Paman?”
“Aku selalu bawa air minum kemasan seperti ini, Neng. Sewaktu-waktu nanti haus kan tinggal minum,” jawab paman sesimpel mungkin.
“ESTER ... BURUAN! NANTI SOPIRKU LAMA MENUNGGU!” teriak Rara dari ujung jalan sawah.
Memangnya ini masih jam berapa?
Bersambung ...