PAMAN BERUSAHA MEMPERKOSAKU

1111 Kata
“Ya sudah yuk! Temanmu sudah menunggu di sana,” kata paman, lalu membopongku kembali. Aku tidak tahu lagi mau berekspresi seperti apa. Rasanya aku selalu serba salah. Mau marah, tapi tidak sopan jika aku marah-marah pada paman. Mau tersenyum seperti biasanya, tapi takutnya nanti disangka aku menerima perasaan pamanku sendiri. Semua serba salah. ... Akhirnya aku, Rara, dan paman tiba di halaman rumah. Aku sengaja tidak masuk karena ingin membersihkan kedua kaki yang sudah penuh lumpur. Paman dan Rara juga sibuk membersihkan kedua kakinya. Bukan hanya kaki yang kubersihkan, tapi juga celana yang kupakai saat ini, karena tadi sempat jatuh ke sawah. Setelah selesai semua, kami kompak untuk duduk di pinggiran teras, berbentuk seperti pagar, namun tingginya hanya sepinggang. Itu pun bisa diduduki. “MAMA, AKU PULANG!” teriakku memanggil mama. Tak lama kemudian, mama keluar dari dalam rumah. “Loh, ada Andre. Ikut ke sawah juga?” kata mama dengan bertanya. Paman langsung menjawab, “Tidak, Kak. Kebetulan aku mau ke sawah, eh ternyata ada Ester dan temennya di sana, ya sudah sekalian kubantuin menangkap belutnya.” “Oalah ... Mana belutnya? Biar segera kumasak untuk kalian,” kata mama sambil mengulurkan tangan kanannya. Paman langsung menyerahkan timba yang berisi banyak belut di dalamnya. Lalu, mama masuk ke rumah setelah menerima timba itu. Kupikir, mama akan menyuruh kami masuk, ternyata membiarkan kami begitu saja. “Ester, sudah jam berapa?” tanya Rara tiba-tiba. Bentar, sepertinya aku tidak membawa jam tangan dan juga ponsel. Terpaksa aku harus mengintip dari luar ke dalam rumah, yang terdapat jam dinding di sebelah ujung belakang. “Set—engah ti—ga, Ra,” jawabku terpotong-potong, karena penglihatanku sedikit rabun. Rara langsung berdiri dan membenarkan bajunya yang sedikit terangkat. Lalu, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. “Sepertinya aku sudah dijemput, Neng.” Rara tampak gelisah. “Tunggu dulu! Biar mama selesai masak dulu, baru nanti kamu boleh pulang sambil membawa masakan mamaku,” sahutku mencoba menahan dirinya. “Baiklah!” Untung saja Rara tidak rewel. Oh iya deng, kan dia tipe orang penurut. Kami bertiga terus berbincang sambil menunggu mama memanggil kami. Biasanya sih kalau cuman digoreng, ya tidak memakan waktu yang cukup lama. Takutnya nanti sama mama diberi bumbu aneh-aneh. Kalau seperti itu pasti memakan banyak waktu. Sudah berapa menit yang terlewat ya? Hm ... Nyesel aku tidak memakai jam tangan apalagi tidak membawa ponsel. Rasanya seperti sedang buta waktu. “Ester, Rara, Andre, ayo masuk! Belut gorengnya sudah selesai,” kata mama yang suaranya terdengar mengecil. Sepertinya mama berteriak dari dalam dapur. Beberapa menit kemudian, wujud mama muncul dari belakang kami yang membuat kami terkejut karena ulahnya. Aku langsung berdiri dari dudukku dan membalikkan tubuh ke belakang. “Ma, Rara mau pulang sekarang. Apakah Rara boleh membawa hasil masakan mama?” ucapku sedikit bertanya. “Boleh dong, bentar ya Ra!” jawab mama, lalu masuk lagi. Lalu aku menatap Rara dari posisiku yang menghadap ke arah rumah, tetapi aku melihat paman yang sedang menatapku, membuatku sedikit salah tingkah. Huh! Aku paling tidak bisa jika dilihatin seperti ini. Bukan karena perasaan paman, tapi memang seperti ini aku kalau dilihatin tanpa alasan, membuat salah tingkah saja. “Ini, Ra!” celetuk mama membuatku menoleh ke samping kiri. Mama terus berjalan, sampai tepat berhenti di belakang paman dan Rara. Rara langsung berdiri dan membalikkan tubuhnya ke belakang, lalu langsung menerima pemberian mama. “Terima kasih, Tante. Saya pulang dulu ya! Salam buat seluruh keluarga di sini. Kapan-kapan, jika ada waktu lagi, saya akan mampir ke sini lagi, Tante,” kata Rara sambil sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, lalu kembali menegakkan punggungnya. “Iya, Ra. Terima kasih ya, sudah menjadi temannya Ester. Jangan bosan-bosan main ke sini ya, Nak! Oh ya, nanti kalau mau ke sini, kabari saja lewat Ester ya, nanti Tante buatkan kue yang lainnya,” sahut mama. Tiba-tiba, mama berjalan ke samping kiriku. Lalu, keluar dari teras rumah menuju halaman. Entah mau ke mana. Aku terus memperhatikan mama. Sampai akhirnya, mama berdiri di hadapan Rara dan langsung mendekap tubuhnya, sambil mengusap punggungnya perlahan. “Kamu sangat baik, Ra. Jarang-jarang ada orang kaya sebaik dirimu. Jaga diri baik-baik ya, Ra,” pesan mama yang disampaikan langsung ke samping telinga Rara. Kupikir akan saling berbisik, ternyata tidak. “Iya, Tante. Terima kasih. Saya pulang dulu ya,” sahut Rara. Kemudian, mama melepaskan dekapannya. Rara langsung memberiku sebuah kode untuk segera mengantarkan dirinya ke depan gang tadi. Dan aku pun langsung mengantarkan Rara ke depan gang. Dalam perjalanan, Rara terus mengoceh tiada hentinya. Dia juga mengatakan bahwa besok adalah hari pertama kami bekerja, jadi jangan sampai telat. Bukan hanya itu saja, dia juga menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja dan selalu minum segelas s**u setiap paginya. Hmm ... Padahal kalau pagi-pagi itu bikin enek. Perbincangan aku dan Rara membuat aku tidak sadar bahwa sudah berada di depan gang, di mana ada sebuah mobil hitam yang sudah lama menunggu. Sebelum masuk, Rara masih sempat-sempatnya untuk memelukku dan berkata, “Terima kasih ya! Aku beruntung bisa mengenalmu! Aku pulang ya? Sampai berjumpa besok pagi!” Kemudian Rara masuk ke mobilnya, tak lupa ia membuka kaca pintunya dan melambaikan tangan padaku. Aku juga melambaikan tangan padanya. “Hati-hati, Ra!” ucapku sambil terus tersenyum, mengantarkan kepergian mobilnya. Ah, kenapa aku merasa sangat sedih? Padahal kan hanya perpisahan biasa. Memang aneh perasaanku ini! Kadang sedih, kadang bahagia sendiri, pokok aneh sudah. Minta diperbaiki. Saat aku mulai membalikkan tubuhku, ternyata di belakangku sudah ada paman yang berdiri di belakang. Membuat detak jantungku berdetak kencang, untung saja hanya sebentar. “Kenapa Paman ada di sini?” tanyaku sambil mengernyitkan keningku. Bukannya menjawab, paman langsung membanting pelan tubuhku ke tembok samping kiriku. Aku tidak merasakan sakit sih, hanya saja sedikit terkejut. “Apa yang Paman lakukan?” tanyaku lagi. Tiba-tiba paman membungkam mulutku dengan tangan kanannya. Membuatku sulit untuk berteriak dan sulit untuk bernapas. “Eee ... Eeepass ... AAAMMAANN!” suaraku tidak karuan. “Cobalah untuk diam sebentar!” perintah paman sambil terus menahan tubuhku agar tidak bisa memberontak lagi. Ya, aku menuruti keinginannya. Siapa tahu paman segera melepaskan tangannya dari mulut dan kedua tanganku. Ternyata dugaanku salah. Salah satu tangannya mulai meraba pahaku secara bergantian. Sambil berkata, “Aku ingin memilikimu seutuhnya! Jika tidak direstui, setidaknya aku ingin berhubungan intim denganmu.” Perkataan paman membuat kedua mataku langsung melotot. Aku langsung menendang k*********a dengan kuat, sehingga paman terjatuh dengan posisi duduk. Lalu, aku berlari ke arah rumah. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Belum juga sampai rumah, tiba-tiba tangan kananku tertarik ke belakang, hingga membuatku hampir terjatuh. Entah siapa yang melakukannya. Segera aku menoleh ke belakang setelah berhenti dari lariku. “JANGAN PAMAN!” teriakku menahan dirinya.  Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN