HAHAHA!
Tiba-tiba paman tertawa dengan ekspresi menakutkan. Membuatku bergidik ngeri. Tiba-tiba, paman mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan jarak sepuluh sentimeter saja.
“Pamanmu tidak sejahat itu, Neng. Paman hanya bercanda,” celetuknya.
Tapi, mengapa aku tidak terlalu percaya pada paman ya? Padahal tadi sangat jelas, saat dia membungkam mulutku, memegang kedua tanganku dengan kuat, bahkan sampai meninggalkan jejak di pergelangan tanganku. Paman juga meraba pahaku. Mana mungkin paman sedang bercanda?
Aku langsung menjauhkan diri dari seluruh anggota tubuh paman. Aku masih trauma dengan kejadian tadi. Sungguh tidak dapat dipercaya.
“Paman, biarkan aku pulang!” ucapku memohon pada paman.
“Ayo, kita pulang bareng!” sahut paman tanpa bersalah.
Aku sempat menolak karena takut dengan sikap paman yang sekarang, tetapi paman terus memaksa. Mau tidak mau, akhirnya aku menyetujui permintaannya, padahal kedua kakiku sudah mulai bergetar dan kedua tanganku juga ikut gemetar. Untung saja paman mau menjaga jarak denganku.
Beberapa tetangga menyapa paman dengan ramah.
“Hei, Andre. Dari mana? Tumben jalan bareng keponakannya?” sapa seorang wanita yang lebih tua dari mamaku.
Wanita itu sering dipanggil Mak Ti, karena anaknya yang bernama Sumiati. Ya, ada-ada saja sih.
“Iya, Mak Ti. Kami dari depan tadi,” sahut paman dengan senyum ramahnya.
Baru kali ini aku melihat sosok pamanku yang dulu lagi, bukan yang sekarang. Sosok paman yang dulu, mampu membuatku nyaman dan sedikit tenang. Apalagi saat melihat senyumnya.
“Oh ... Kapan menikah? Usiamu sudah tua loh!” tanya Mak Ti, sambil mengedipkan salah satu matanya sekali. Seperti memberikan sebuah isyarat.
Terlihat bahwa paman hanya terdiam mematung. Padahal saat bicara tadi juga terdiam, tapi setidaknya kedua tangannya sering bergerak.
Dengan lancang dan tidak sopannya diriku, aku langsung mewakilkan pamanku untuk menjawab pertanyaan seperti itu.
“Maaf ya, Mak Ti. Bukannya paman tidak bisa mencari calon istri, tapi memang paman nyamannya seperti ini, jadi ya terserah paman.” Aku langsung maju selangkah dan berdiri di samping kiri paman, sambil menggandeng tangannya.
“Oh, ya sudah kalau begitu,” kata Mak Ti, lalu masuk ke dalam dapurnya.
Karena sedari tadi Mak Ti berdiri di pintu belakang dapurnya yang ada di samping rumahnya. Saat pintu dibuka, hawa gang sempit ini tercium masuk ke dalam dapur Mak Ti. Makanya kenapa Mak Ti mengajak ngobrol paman, ya karena kebetulan, saat Mak Ti membuka pintu, aku dan paman sedang lewat.
Akhirnya setelah Mak Ti masuk, aku dan paman langsung pulang. Tinggal beberapa langkah lagi sih. Tapi, rasanya sedikit aneh saat jalan berdampingan dengan paman.
...
“Aku pulang!” ucapku dengan sedikit berteriak.
Aku langsung membasuh kedua kakiku terlebih dahulu dan dilanjut dengan membasuh kedua tanganku, sebelum masuk ke rumah.
“Bentar ... Itu bukannya sepatu milik Rara?” gumamku yang tanpa sengaja melihat ke arah samping kran.
Ya benar, itu sepatu Rara. Kalau sepatunya ada di sini? Lalu, Rara pulang dengan sandal yang kupinjamkan tadi? Astaga, itu kan sandalku yang baru-baru ini kubeli. Ya, sudahlah! Nanti juga kembali.
Setelah selesai mencuci kaki dan tangan, aku langsung masuk begitu saja, meninggalkan paman yang menggantikan tempat cuci tangan dan kaki.
“Paman, aku masuk duluan ya,” pamitku tanpa menoleh.
“Iya.” Aku hanya mendengar kata itu di telingaku.
Sesampainya di ruang tamu, aku langsung berkata dengan sedikit nyaring, memberitahukan mama, “Ma, aku makan nanti malam saja ya. Aku masih banyak kerjaan yang harus segera kubereskan!”
“Iya sudah, Nak. Nanti mama antarkan kue ke kamarmu,” sahut mama yang tiba-tiba muncul diambang pintu.
“Iya, Mah. Makasih!” Aku langsung masuk ke kamarku selepas berbincang dengan mamaku.
Sungguh, aku tidak bisa lagi makan bareng keluarga jika ada paman. Rasanya aneh. Dulu sikap paman yang seperti ini kuanggap biasa saja, karena belum mengetahui yang sebenarnya. Tapi, setelah mengetahui semuanya, rasanya aku mulai tidak biasa dengan sikap paman yang sangat perhatian padaku. Entah, kenapa ya? Padahal sama saja sih, hanya saja—perbedaannya mulai tampak setelah perasaan itu ada. Bukan perasaanku, tapi perasaan paman!
Aku langsung membuka laptopku dan berpura-pura membuka google lalu kembali lagi ke aplikasi PowerPoint. Entah, apa yang kukerjakan, aku juga bingung.
Tidak lama kemudian, ponselku berdering dua kali, tanda bahwa aku menerima pesan w******p dari seseorang. Langsung kucek—siapa yang mengirimkan pesan untukku.
Bu Rahayu :
[Mbak, bisa minta tolong kerjakan tugas anak saya? Sekalian sama penjelasannya di PowerPoint. Jadi, total semuanya berapa, Mbak?]
Bu Rahayu :
Mengirimkan sebuah gambar.
Kira-kira begitu isi pesan w******p yang ada di ponselku. Kebetulan akhir-akhir ini aku disibukkan dengan pekerjaan jasa pembuatan tugas sekaligus penjelasannya di PowerPoint. Harganya juga sangat terjangkau, tergantung dari tingkat kesusahan dari tugas itu sendiri sih dan berapa banyak juga. Uangnya bisa dibuat beli kebutuhanku dan membantu kebutuhan keluarga, seperti sabun habis, shampoo habis, sunlight habis, aku tinggal beli pakai uang dari jasa pembuatan tugas ini.
Kebetulan sih, aku jadi punya kesibukan. Hitung-hitung untuk menghindari paman. Lagi pula tidak baik, jika paman harus menyukaiku. Dosa besar itu.
Kemudian, aku langsung merespon Bu Rahayu dan mengatakan bahwa aku menyanggupinya, serta memberi total harga keseluruhannya.
Tidak lama kemudian, Bu Rahayu menyetujuinya, disusul dengan bukti pembayarannya. Sebelum kukerjakan, aku langsung mengecek di aplikasi m-banking ku. Takutnya terjadi penipuan. Ternyata tidak! Bu Rahayu benar-benar mengirimkan upahku.
Sebelum itu, aku mulai peregangan otot pada beberapa bagian tubuhku. Karena nantinya akan butuh otak dan mata yang fokus pada tugas ini dan penjelasannya juga. Pasti membuat punggungku bungkuk dalam beberapa menit ke depan. Sungguh, itu sangat menyakitkan jika tidak melakukan peregangan.
Aku memulainya dari kedua tangannya. Kuluruskan kedua tanganku ke atas, lalu kutarik dengan pelan.
Kretek! Kretek!
“Wooh ... Nikmatnya ...,” erangku sambil mengibaskan pelan kedua tanganku secara bergantian.
Kemudian aku sedikit memutar punggungku ke samping kanan, dengan posisi pinggul sampai kaki tetap dalam keadaannya, tanpa bergerak sedikit pun.
Kretek!
Bunyi punggung terdengar sangat candu. Lalu aku mengulangi lagi dengan memutar ke arah kanan.
Kretek!
“Ahh ... Sungguh nikmat!” erangku sekali lagi.
Setelah itu, akhirnya aku memulai mengerjakan tugas-tugasnya dan langsung menjelaskan setelah selesai menjawab nomor satu dan seterusnya. Karena jika tidak mengerjakan powerpoint, rasanya nanti bakal lupa bagaimana caranya untuk mengerjakan soal nomor satu sampai selesai.
“Neng ....”
Aku langsung menoleh ketika mendengar suara paman yang memanggilku.
“Paman?” Aku terkejut ketika melihat paman yang sudah berdiri diambang pintu sambil membawa piring di tangan kanannya. Entah apa isinya, aku belum mengetahuinya.
“Ini kue dari mamamu! Mamamu telah menyuruhku tadi, jadi aku harus mengantarkan ini,” jelas paman.
Paman langsung melangkah ke arahku. Lalu meletakkan piring itu di atas meja dan langsung duduk di sampingku. Tangan kirinya langsung nangkring di atas paha kananku.
“Apa yang Paman lakukan?” tanyaku sambil menepis tangannya.
Bersambung ...