Aku merasakan sesuatu di belakangku. Saat kulihat dari layar komputerku, ternyata Paman sudah duduk di belakangku, dengan posisi kedua kaki terbuka lebar dan berada di samping kiri dan kanan pahaku. Aku juga merasakan ada sesuatu yang menonjol di bagian pantatku.
“Paman sedang apa duduk di sana?” tanyaku emosiku meluap.
Bahu kananku terasa berat, ketika kepala paman mulai bersandar. Tiba-tiba, aku merasakan ada yang menyentuh daerah kewanitaanku, bahkan dielus dengan pelan. Membuatku semakin melebarkan kedua pahaku. Tetapi masih terhalang oleh celana dalam (CD)dan celana pendek yang kupakai.
Ya, sebelum mengerjakan tugas, aku langsung mengganti celana panjangku dengan celana pendek yang terbuat dari kain kaos. Bisa saja paman memasukkan tangannya melalu celah yang ada di celana pendekku.
Tubuhku mulai menggeliat. Darahku berdesir merangkak naik. Bahkan aku ingin diperlakukan lebih dari ini, hingga membuat leher belakangku bersandar di bahu kirinya.
“Ohh ... Yeess Paman ... Enngghhhh ....”
Tiba-tiba paman menjauhkan jari-jarinya dari daerah kewanitaanku. Padahal aku sudah mulai terangsang hebat.
Kemudian paman turun dari tempat tidurku. Meletakkan laptopku di atas meja. Lalu, mendekatkan kepalanya pada telingaku.
“Kalau ingin lebih enak dari ini, ikuti pamanmu ini,” bisik paman.
Seakan aku sedang dihipnotis olehnya. Tanpa sadar aku sudah merebahkan punggungku di kasur, dengan posisi kedua paha terbuka lebar. Kemudian aku melihat paman yang sedang sibuk membuka celanaku setelah mengunci pintu kamarku.
Setelah setengah tubuhku telanjang bulat, hanya bagian perut sampai bahu masih tertutup dengan kaos. Tiba-tiba paman mendekatkan wajahnya pada ujung celah pahaku.
“Eenngghhh ...,” erangku sambil menggerakkan pinggulku.
Rasa geli bercampur nikmat mulai kurasakan, membuat pinggulku semakin lincah. Saat sesekali lidah paman mulai menusuk, segera tangan kananku semakin mendorong kepala paman kuat-kuat. Bukannya paman menolak, tapi malah semakin ganas menggerakkan lidahnya.
Saking enaknya, aku tidak memberitahu paman bahwa aku sudah mencapai klimaks. Tapi, tadi aku sempat mendengar suara paman yang sedang menyeruput sesuatu. Suara itu berbarengan dengan aku yang mencapai klimaks.
Kemudian paman menjauhkan wajahnya dan duduk seperti biasanya. Aku langsung merapatkan kedua pahaku. Rasanya tidak ingin segera selesai.
“Enak?” tanya paman tiba-tiba, membuatku tersipu malu.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Lalu, paman langsung membuka ikat pinggangnya dengan pelan. Setelah terbuka, paman langsung membuka kancing dan resleting celananya. Pandanganku mulai tertuju pada celana dalam yang terlihat sesak. Seperti seekor burung yang ingin terbang bebas. Paman langsung menurunkan celananya sampai tiba di pahanya, lalu mengubah posisi duduknya dan langsung meluruskan kedua kakinya agar bisa melepaskan celananya.
Aku tidak salah lihat. Milik paman terlihat sangat menonjol. Sepertinya segera ingin dikeluarkan.
Perlahan, paman membuka celana dalamnya, membuatku semakin penasaran. Bahkan sepertinya paman sedang mempermainkanku.
“Penasaran ya, Neng?” celetuk paman sambil tersenyum padaku.
Karena malu, aku langsung memalingkan wajahku ke samping kiriku.
Saat aku tidak memperhatikan paman, tiba-tiba ada sesuatu yang keras dan besar sedang memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam lubangku yang belum pernah dimasukkan milik siapa pun. Sontak membuatku menolak dengan menyampingkan bokongku ke kiri dan menutup jalannya dengan kedua tanganku.
Saat itulah, aku melihat dengan jelas milik pamanku. Burungnya terlihat besar dan panjang, dengan diameter kira-kira delapan sampai sepuluh.
Kemudian paman berpegangan pada salah satu lututku yang menekuk dan tangan kirinya menggenggam burungnya sendiri.
“Kenapa, Neng? Apa tidak mau merasakan milik paman?” tanya paman sambil mendekatkan tubuhnya ke wajahku.
Aku hanya menggeleng.
“Enak loh!” paman merayuku.
“Aku takut, Paman,” sahutku sambil menjauhkan diriku dari paman.
“Takut kenapa?” tanya paman sambil duduk ngelimpruk.
Aku menghela napas panjang. “Aku belum pernah mencobanya, Paman. Nanti keluar darah,” jawabku sok polos.
Kemudian paman langsung menertawakanku. “Aku suka dirimu karena terlalu polos, Neng,” kata paman sambil mengusap rambutku.
Jujur, pandanganku tidak pernah berpindah. Aku hanya memandangi burung pamanku, sesekali aku melihat sekitar
“Aku tidak akan memaksamu lagi, Neng. Kalau kamu mau pegang, pegang saja. Paman tidak akan marah,” kata paman membuatku kaget.
Jangan-jangan sedari tadi paman memperhatikanku. Bagaimana ini? Aku jadi merasa sangat malu kalau ketahuan.
“Tidak! Aku tidak melihat milik, Paman,” sahutku sambil memalingkan wajahku.
“Andre ... Kamu sedang apa? Kakakmu sudah menunggu di meja makan!” Tiba-tiba suara mama mulai terdengar. Tidak berteriak sih, tapi sepertinya mama ada di samping kamarku atau ada di depan pintu kamarku.
“Iya, Mbak. Makan duluan saja. Aku lagi bantu Ester mengerjakan tugasnya,” jawab paman dengan santai, bahkan tidak terlihat gugup sama sekali.
“Ya sudah kalau begitu.”
Setelah mama pergi, paman langsung memaksaku sambil memohon padaku.
“Ayolah, Neng! Nanti mama papamu datang ke sini bagaimana?” Paman langsung memposisikan dirinya di sampingku.
Posisi kepala kami sejajar. Bahkan wajah kami saling berhadap-hadapan.
Aku masih takut. Tapi sebenarnya aku juga pengin merasakan surga dunia yang sesungguhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk merelakan segalanya pada pamanku sendiri.
“Ayo, Paman!” ucapku sambil membalikkan tubuhku, hingga terlentang.
Dengan semangat, paman langsung berdiri dan duduk di depanku pahaku dengan kedua lutut sebagai tumpuannya. Tanpa diminta lagi, aku langsung membuka kedua pahaku lebar-lebar.
Paman langsung mendorong kuat senjatanya. Hingga membuatku kesakitan dan meneteskan air mataku. Mulutku kusumpal dengan kedua telapak tanganku dan menahan suaraku agar tidak berteriak. Namun, air mataku ini tidka bisa membohongi apa yang kurasakan.
Perih dan sakit mulai bercampur aduk hingga ...
Jleb!
Senjata milik paman mulai terbenam. Paman belum berani menggoyangkan pinggulnya, karena milikku belum terbiasa.
Perlahan, aku mulai merasakan kenikmatan yang bercampur sakit. Berjalannya dengan waktu, rasa sakit itu mulai menepis, hingga aku memberikan isyarat pada pamanku dengan menganggukkan kepala.
Spontan paman langsung menggenjot tubuhnya dengan pelan, sambil sesekali meremas kedua gunung kembarku yang masih tertutup dengan bra dan kaos.
“Ahh ... Ahhh ... Ahhh ...,” aku mulai mengerang ketika paman mulai menggenjot tubuhnya.
Rasanya sungguh luar biasa. Tidak kusangka jika rasanya akan seenak ini. Kalau tahu begini, sudah kucoba dari dulu.
Aku melupakan tentang pekerjaanku, waktuku, dan perasaan paman padaku. Karena aku mulai menikmati milik pamanku yang masih perjaka. Meskipun umurnya tidak muda lagi, tapi kekuatannya melebihi anak muda sekarang. Jika paman belum menikah, lalu paman belajar dari siapa? Kenapa sehebat dan selancar ini? Apakah paman pernah melakukannya pada wanita lain? Ah, sudahlah! Bukan urusanku lagi. Yang terpenting hari ini, aku bisa merasakan puas karena pelayanan paman padaku.
Seiring berjalannya waktu, paman mulai mempercepat tempo genjotannya, membuat suaraku semakin tersengal-sengal dan tubuhku sedikit terguncang.
Bersambung ...