“Terima kasih, Sayang.” Paman langsung memakai celananya.
Aku hanya mengangguk sambil merasakan sedikit nyeri di daerah kewanitaanku. Lalu, tiba-tiba paman mendekatiku lagi. Kali ini paman membawa celana pendekku di tangannya. Dan langsung memakaikan pada kedua kakiku sampai menutupi b****g dan bagian depan.
Kemudian, aku segera bangun dari posisi merebahku. Tanpa sengaja aku melihat seprei kasurku penuh dengan bercak darah. Karena aku sangat takut, jika terjadi sesuatu padaku, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Paman, apakah ini wajar?” Jari telunjukku menuding ke arah seprei yang penuh dengan bercak merah itu.
Paman langsung membelai rambutku. “Sangat wajar, Sayang,” jawabnya dengan santai.
Ya, baiklah kalau memang itu wajar. Tidak apa-apa sih. Lagi pula, yang kulakukan dengan paman itu keinginan kita masing-masing.
Setelah beberapa menit membelai rambutku, paman langsung berdiri dan mendekati mejaku. Kupikir dia akan pergi, tapi ternyata paman mengembalikan lagi laptopku ke posisi semula.
Lalu, paman menatapku. “Mau kubantu?” tanya paman menawarkan waktu dan kemampuannya.
“Boleh.”
Paman langsung menutup noda merah pekat itu dengan selimutku, sekaligus menutup kedua pahaku. Setelah semua tertutup, paman langsung menghampiri pintu. Perlahan tapi pasti, pintu itu mulai terbuka setengahnya. Dan segera kembali duduk di sampingku.
Kulihat paman yang semakin sibuk. Bentar, apakah paman mengerti dengan seluruh soalnya?
Untung saja deadline-nya masih besok. Kalau sekarang, ya sudah terlambat. Sebenarnya bisa saja, tapi kalau ada yang menggangguku itu rasanya tidak selesai-selesai. Makin capek otakku yang mikir.
“Belum selesai juga, Dre?” tiba-tiba aku mendengar suara mama yang bertanya kepada pamanku.
Paman langsung menoleh, termasuk dengan diriku. Aku melihat mama yang berdiri di depan pintu sambil membawa segelas s**u.
“Itu untukku, Mbak?” Paman langsung mengabaikan pertanyaan mama ketika melihat segelas s**u di tangan mama.
“Bukan! Ini untuk anakku,” jawab mama, lalu berjalan mendekati paman.
Karena aku duduk di kasur bagian pojok tembok. Jadi mama tetap mendekati paman, namun hanya untuk dilewati saja.
“Ya sudah, nanti aku ambil sendiri di kulkas, Mbak,” kata paman, Lalau melanjutkan untuk menatap layar laptopku.
Aku langsung meraih segelas s**u itu ketika mama mulai menyodorkan padaku. Tanpa disadari, mama menatapku dengan teliti. Membuatku sedikit salah tingkah.
“Apa yang Mama lakukan?” tanyaku sebelum menyeruput segelas s**u.
“Tidak ada. Tapi, sejak kapan kalian seakrab ini? Bukannya sering bertengkar ya?” tanya mama yang membuatku hatiku lega.
Kukira mama sudah mengetahui semua yang terjadi padaku. Ternyata hanya ingin menanyakan tentang keakraban aku dengan paman. Padahal sudah dari dulu akrab, tapi sering bertengkarnya, jadi dikira tidak bisa akrab mungkin.
“Kami selalu akrab, Mbak. Meskipun, kadang sering bertengkar,” paman yang mulai menjawab pertanyaan mama.
“Oalah. Baguslah kalau begitu ... Segera di selesaikan ya, Dre. Setelah itu ajak Ester makan bersama. Kalian belum makan, loh!” ujar mama. Lalu membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar kamarku.
Tanpa sengaja, aku dan paman saling menatap. Segera aku mengalihkan pandanganku ke arah layar laptop. Mungkin kali ini kedua pipiku mulai merona.
Tiba-tiba paman memeluk tubuhku dengan posisi salah, membuatku sedikit tidak nyaman. Tapi, mau bagaimana lagi. Paman juga mulai berbisik padaku, “Aku tidak akan menikahi perempuan lain. Jika aku tidak direstui untuk menikahimu, maka sampai kapan pun aku tidak akan menikah!”
Aku langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar pernyataan paman yang tidak ingin menikahi wanita lain. Lalu, bagaimana nasibnya jika tidak menikah? Apakah aku yang harus merawat paman nanti ketika sudah lanjut usia? Bagaimana ini? Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Apakah paman benar-benar tidak ingin menikahi wanita lain?” Kedua tanganku tidak mampu bergerak lagi. Rasanya sangat lemas.
“Iya. Aku mengatakan dengan keyakinan hatiku,” jawab paman sambil menyentuh dadanya dengan telapak tangan kiri.
Kemudian, paman memegang lengan atasku dengan kuat. Paman mulai meyakinkanku. “Aku sungguh ingin menikahimu. Karena di luar sana meskipun banyak Ester lainnya, tapi tidak akan ada yang sama sepertimu. Karena Ester yang kukenal hanya kamu!” kata paman dengan sangat jelas.
Bukannya aku tidak ingin menikah, tapi bagaimana ceritanya jika aku menikahi pamanku sendiri? Kalau paman jauh, itu tidak masalah. Lah ini, paman dekat. Adik dari mamaku. Mana mungkin pernikahan ini akan terjadi? Tidak mungkin! Masih banyak pria lain yang sedang mencari jodohnya dan masih banyak lagi wanita lain yang sedang menunggu jodohnya datang. Jadi, paman berkesempatan untuk bisa memiliki wanita lain dari pada keponakannya sendiri. Hubungan ini akan ditentang oleh keluarga besar, apalagi nenek (mama dari mamaku) masih sangat sehat.
Dengan berat hati, aku memberanikan diri untuk mengusir paman. “Paman, tolong keluar dari kamarku, sekarang!”
“Memangnya kenapa?” tanya paman dengan raut wajah tak mengerti.
“Tolong, Paman. Keluarlah dari kamarku, sekarang!” sahutku dengan tegas.
Paman langsung pergi tanpa berkata apa pun padaku.
Maafkan aku paman. Aku sungguh menyesal telah mengusirmu, tapi aku tidak ingin ada rasa pada pamanku sendiri. Aku masih waras paman. Aku masih sangat normal! Aku juga memiliki pria lain di hatiku, jadi jangan berusaha untuk menggantikan posisi pria itu dari hatiku!
Kemudian, aku langsung bangun untuk menutup dan mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Lalu, aku membuka seprei yang ada di atas ranjangku. Kugulung-gulung asal seprei itu, dan langsung kulempar asal ke lantai. Setelah kasurku telanjang dengan sedikit noda merah di atas permukaannya, aku langsung menghampiri lemariku untuk mengambil beberapa tumpukan seprei lainnya. Kali ini aku memilih seprei berwarna merah tua, agar menutupi noda merah yang belum kering seluruhnya. Setelah memasangkan pakaian pada kasurku, aku langsung membuka laci lemari yang berisi tumpukan kantong kresek. Jangan salah, kantong kresek itu kulipat dan tersusun rapi di dalam laci itu.
Kubuka kantong kresek itu, lalu aku langsung membungkus seprei yang penuh dengan noda darahku. Aku berniat untuk mencuci sepreiku di tempat laundry. Tapi, rasanya sangat eman. Kalau tidak segera dicuci, nanti disangka darah menstruasi.
Akhirnya aku langsung mengganti celana dan celana dalamku. Dan ikut memasukkan celana pendekku di dalam kantong kresek itu, tapi kalau celana dalamku, kuletakkan ke dalam keranjang baju kotorku yang ada di bawah ranjangku.
Setelah selesai semua, aku langsung membuka kunci pintu kamarku, lalu keluar dengan membawa kantong kresek pada genggaman tangan kiriku.
“Ma, aku ke tempat laundry dulu ya!”
“Iya, Nak. Hati-hati.”
Untung saja mama menjawab dari dapur. Kalau masih menemuiku, akan sangat bahaya. Karena aku sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan dari mama jika mama mulai bertanya.
Bersambung ...