BERTEMU DENGAN TEMAN BARU

1030 Kata
Setelah selesai semua, aku langsung membuka kunci pintu kamarku, lalu keluar dengan membawa kantong kresek pada genggaman tangan kiriku. “Ma, aku ke tempat laundry dulu ya!” “Iya, Nak. Hati-hati.” Untung saja mama menjawab dari dapur. Kalau masih menemuiku, akan sangat bahaya. Karena aku sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan dari mama jika mama mulai bertanya. *** Jarak yang ditempuh dari rumah ke tempat laundry cukup jauh. Di dekat rumah juga ada tempat laundry, tapi aku sudah langganan dengan yang jauh di sana. Bahkan sudah hampir setahun mencucikan pakaian dan seprei di tempat laundry itu. Tak heran, aku selalu membawa motor matic-ku ke mana-mana. Entah itu pergi jalan-jalan atau mengurus sesuatu. Karena suratnya yang lengkap hanya motor matic-ku. Di tengah perjalanan, aku selalu bertemu dengan kucing yang sedang menyeberang jalan yang ada di depanku. Untung saja, laju kendaraanku tidak terlalu cepat. Aku tidak tahu pasti, apakah ada sebab akibatnya, atau memang kebetulan saja? Mungkin hanya kebetulan saja sih. Mitos yang beredar di masyarakat sekitar desaku, membuatku tidak mempercayainya. Ya, semoga selalu ada hal yang baik datang pada keluargaku. Karena kelamaan memikirkan tentang mitos, tanpa sadar aku sudah tiba di halaman tempat laundry. Halamannya cukup luas. Bisa di jadikan tempat nongkrong sih, tapi halaman ini polosan. Maksudku enggak ada kursi atau meja. Mungkin memang dibuat tempat parkir. Kalau ini milikku, pasti sudah kusulap menjadi tempat tongkrongan sekaligus tempat laundry. Eh, siapa tahu mamanya nyuruh ke tempat laundry, padahal anaknya pengen nongkrong. Nah, bisa jadi tempat alternatif ini. Tapi, karena pemikiran tiap orang itu kan selalu berbeda, jadi ya sudahlah! Kemudian aku berjalan mendekati etalase laundry ini yang dijadikan sebagai tempat baju yang sudah bersih, dan sekaligus sebagai meja untuk pendataan barang dan pemilik barang. “Mbak, aku mau laundry bad cover-ku, sekaligus sama beberapa celana pendek,” ucapku ketika salah satu karyawan mulai berdiri, lalu berjalan mendekati etalase yang bagian dalam. “Iya, Mbak. Ditimbang dulu ya,” sahut salah satu karyawan yang sudah mendekati etalase. Kemudian dia menimbang barang yang kuletakkan di atas etalase. Beratnya Sekitar dua kilogram lebih. Harganya juga berbeda dari harga pakaian biasa. Setelah semua urusan selesai, aku langsung pulang ke rumah. Tapi sepertinya, kalau di rumah saja, rasanya sangat membosankan. Apa aku harus menghubungi Rara saja ya? Ah tidak! Pasti dia sedang bersama keluarganya. Lagi pula ini sudah jam enam malam. Besok juga bisa ketemu lagi saat bekerja. Tapi aku mau ngapain di kamarku? Pekerjaanku sudah selesai dari tadi. Masak mau rebahan saja? Ah, sudahlah! Mending aku mampir ke kafe dulu sebentar. Untuk menghilangkan rasa penatku. Tak jauh dari tempat laundry, aku menemukan kafe yang sangat cocok dijadikan tempat berfoto. Karena sangat estetik dan instagramable. Kebetulan tempat ini banyak pria yang datang. Bukan karena kegatelan, tapi aku tidak suka jika ada sebuah kafe yang sering dikunjungi oleh banyak wanita. Sungguh memalukan. Kemudian aku memarkirkan kendaraanku di tempat parkir yang berbayar. “Hei, baru ke sini ya, Mbak?” Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Ternyata di belakangku ada seorang pria tinggi berkulit coklat dan berwajah manis. Bola matanya yang hitam pekat membuatku sedikit terpincut. “Anda berbicara denganku?” tanyaku sambil menunjuk diri sendiri. “Ya! Kenalkan, namaku Azzam.” Pria itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. “Ester,” sahutku sambil bersalaman dengannya. Aku memperhatikan lirikan matanya yang menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu kembali lagi ke wajahku. “Mari, ikut denganku!” ajak pria yang bernama Azzam sambil memberi rongga antara lengan dengan pinggangnya. Aku langsung melingkarkan lengan kananku pada rongga lengan kirinya. “Mari!” sahutku sambil tersenyum simpul padanya. Oke, kali ini aku seperti sedang kencan buta dengannya. Baru pertama kali kenal, tapi aku sudah mau ikut dengannya. Ya, karena pikiranku masih sehat, tidak sampai berpikiran macam-macam. Aku percaya, jika pria ini sangat baik. Buktinya aku diperlakukan sebagai ratu di sini. Dia memintaku untuk duduk lebih dulu di tempat yang sudah ia pilih. Lalu, dia duduk di sampingku. “Mau pesan apa?” tanyanya sambil menyerahkan kertas menu yang sudah dilaminating. Aku langsung mengambil kertas menu itu dengan sedikit gaya cantikku. Kedua bola mataku terus menyisir setiap nama minuman dan makanan yang dibagi beberapa baris di atas kertas itu. “Avocado milk dan mie iblis,” jawabku setelah beberapa menit memilih. “Tidak suka kopi?” tanyanya lagi. Aku hanya menggelengkan kepalaku. “Baiklah.” “Mas/Mbak ...,” Azzam memanggil pelayan kafe ini sambil mengangkat tangan kanannya. Tak lama kemudian, salah satu pelayan kafe ini datang. “Ya, mau pesan apa?” tanya pelayan wanita yang sedang memegang buku kecil dan juga bolpoin. “Avocado milk, mie iblis, espreso dan ayam panggang,” kata Azzam dengan tetap fokus memandangi kertas menu itu. Sedangkan pelayan wanita itu sibuk mencatat di buku kecilnya. “Oh ya, mbak. Tambah segelas s**u ya!” sambung Azzam sambil meletakkan kertas menu itu. “Baiklah, tolong ditunggu sebentar ya! Pesanan akan segera datang!” sahut pelayan itu. Lalu pergi meninggalkan kami berdua. Setelah itu, aku tidak berani menatap atau menghadapkan wajahku padanya. Detak jantungku semakin cepat. Jangan sampai aku tanganku gemetar hanya karena grogi! Bisa memalukan diri sendiri. “Lihat ke sini dong, Mbak! Nanti cantiknya hilang loh,” ujar pria yang ada di samping sambil terdengar suara tawanya yang tidak disengaja. Aku menghela napas panjang, lalu memberanikan diri untuk menatap wajahnya dan membiasakan diri untuk bersikap biasa saja. “Iya, Mas. Ada apa?” Aku tersenyum padanya. “Nah, kalau begini kan terlihat cantik.” Ya, aku tahu kalau dia berusaha menggombaliku. Ya tidak apa-apa sih. Pria ini jadikan tempat ketika aku sedang kesepian. Tapi sepertinya, waktuku selalu kesepian deh. Aku mulai penasaran dengan mas Azzam. Mana ada pria yang nongkrong sendirian seperti ini? Pastinya banyak teman prianya. Tapi mengapa memutuskan untuk sendirian. “Mas?” “Ya?” “Ke mana pacarmu, Mas?” tanyaku tak sengaja. “Emmh, lupakan saja, Mas. Aku tidak sengaja bertanya seperti itu,” sambungku lagi sambil sedikit tersenyum. “Ah iya, tidak apa-apa. Pacarku ada, cuman terlalu sibuk, jadi aku sering datang ke tempat ini sendirian. Kalau dulu sering banget main ke sini bareng pacarku,” jawab mas Azzam dengan menjelaskan secara rinci. “Oh, begitu ya, Mas,” sahutku sambil mengangguk. Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN