DUGAANKU BENAR

1227 Kata
Aku jadi sangat takut. Kenapa pria ini bisa menemui wanita lain, padahal kekasihnya sedang sibuk? Ya, bukan hanya dia saja sih, terkadang aku juga seperti itu. Alasanku tepat jika ketahuan jalan bersama pria lain. Tapi kalau mas Azzam? Aku enggak yakin kalau aku bisa selamat dari cakaran maut kekasihnya. Jadi, aku memutuskan untuk pamit pulang sebelum kekasihnya datang dan sebelum pesanan datang. “Mas, aku ada sedikit urusan dan harus segera pulang!” jelasku sedikit tegas. “Mau ke mana sih? Di sini saja dulu! Pesananmu hampir datang loh,” sahut mas Azzam menahan tubuhku dengan merangkul kan lengannya ke leher belakangku. “Tapi, Masss ....” “Sudah. Kekasihku tidak akan datang. Kalau pun datang, aku akan tetap membelamu,” mas Azzam mendesakku agar aku tetap bersamanya malam ini. Aku hanya bisa pasrah dan menuruti semua keinginannya. Padahal di lubuk hatiku yang terdalam, aku merasakan takut yang luar biasa. Karena aku bukan ahlinya l***e, yang ke sana ke mari mau. Jika aku merasa gatal, aku bisa meminta pada pamanku untuk menjadi lawanku. Lebih baik aku melakukan dengan pamanku, dari pada dicap sebagai l***e hanya karena suka nyoba sana nyoba sini. “Dek?” Sontak aku langsung menoleh ke mas Azzam. “Iya, Mas?” sahutku mengangkat salah satu alisku. “Pernah main ML?” “Pernah, Mas. Kenapa memangnya?” jawabku dengan polos. Mas Azzam mulai mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, lalu meletakkan rokok itu di ujung bibirnya. Tangan kanan mas Azzam mulai menyalakan korek api, sedangkan tangan kirinya sibuk menghalangi udara agar api yang dinyalakan tidak padam secara tiba-tiba. Saat satu kali hisapan, mas Azzam langsung menatapku. Lalu dihembuskan ke belakang tubuhku. “Nanti mampir kos yuk, Dek. Baterai ponselku habis,” ajak mas Azzam dengan licik. Aku tahu jika dia menginginkan untuk tidur bersamaku. Padahal aku masih merasakan sakit bagian dalamnya. Mau jalan pun terasa sangat sakit, tapi aku berusaha untuk jalan seperti biasanya, karena takut disangka yang bukan-bukan. “Habis itu, ke mana, Mas? Tanyaku untuk memastikan bahwa dugaanku benar. Mas Azzam meletakkan rokoknya di asbak, padahal batang rokok itu masih panjang. “Ya, tidak ada, Dek. Lebih aman di kosku, dari pada di luaran sini,” jawabannya membuatku yakin, bahwa dia ingin mengajakku ML, tapi berkedok untuk mengisi daya baterai ponselnya. Bagaimana ya, aku belum membersihkan sisa saat bermain dengan pamanku, lah sekarang malah diajak pria lain. “Bagaimana, Dek?” sambung mas Azzam untuk memastikan diriku. “Hmm ... Bagaimana ya, Mas? Aku punya pekerjaan penting hari ini. Bagaimana kalau lain kali saja? Saat waktuku banyak, jadi aku bisa bermain ke kosmu, Mas.” Aku tersenyum lebar padanya, sambil mengusap punggungnya. “Baiklah!” Mas Azzam mulai mengambil kembali rokok yang ada di atas asbak. Sebenarnya aku tidak suka, jika ada seorang pria yang merokok di sampingku. Makanya aku langsung sedikit menjauh darinya. Bukan apa, tapi perokok pasif lebih berbahaya dari pada perokok aktif. Intinya, orang merokok itu membahayakan semua orang yang ada di sampingnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku dan orang yang tidak pernah merokok, tidak bisa memaksakan kehendak orang lain untuk mengikuti arahan kita. Jadi, kita sendirilah yang harus hati-hati menjaga dan merawat tubuh kita. “Permisi ... Semua makanan dan minuman yang di pesan sudah siap!” celetuk pelayan wanita yang mengantar pesanan kami, dan langsung meletakkan semuanya di atas meja. Setelah selesai, wanita itu belum segera pergi, karena sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. “Ada tambahan lainnya?” tanya pelayan itu dengan ramah. “Tidak, Mbak. Terima kasih,” sahut mas Azzam sambil memberikan uang tip untuk pelayan ini. Aku enggak tahu berapa, karena setelah merogoh sesuatu dalam tasnya, mas Azzam langsung bersalaman dengan pelayan yang mengantar pesanan di sini. “Terima kasih.” Lalu wanita itu pergi dengan senyum bahagia. Terlihat dari mataku, mas Azzam hanya mengangguk dan tersenyum biasa. Tiba-tiba mas Azzam menatapku. “Mari kita berdoa menurut keyakinan masing-masing, berdoa mulai!” celetuknya membuatku tidak langsung berdoa. Malah membuatku semakin terkejut. Pasalnya, pria yang ada di sampingku berdoa dengan cara seperti orang katolik. Yang harus menyentuh dahi, d**a dan bahu kanan kiri, sambil mengatakan sesuatu dalam hatinya. Lalu, mas Azzam terlihat sangat sungguh-sungguh, ketika kedua telapak tangannya di satukan dan kedua matanya terpejam. “Selesai.” Aku langsung memalingkan wajahku darinya, agar tidak ketahuan kalau aku sedang memperhatikannya. Kita seamin tapi kita beda gereja. Ya sama saja sih. Memang di dunia ini harus ada perbedaan jika ingin keindahan. Jika aku berjodoh dengan orang yang beragama katolik, otomatis aku harus pindah katolik juga. Sama saja sih, mending cari yang seiman saja. Aku dan mas Azzam mulai menyantap makanan yang kami pesan masing-masing. Jujur, pelayanan di sini sangat baik, semua pegawai juga sangat ramah, dan yang terakhir makanannya yang tidak pernah mengecewakan. Tempat ini juga sangat bersih. Tak heran jika banyak yang datang ke sini, hanya untuk pacaran atau sekedar nongkrong bersama teman-temannya. Ah, ke mana saja aku ini? Kenapa baru tahu kalau ada kafe senyaman ini? Ya, beginilah nasibnya orang rumahan. Sesekali mas Azzam mengajakku berbicara membahas pekerjaannya, kadang membahas tentang wanitanya. “Dek, boleh aku bermain ke rumahmu?” tiba-tiba mas Azzam menanyakan hal seperti itu. “Boleh, Mas,” jawabku dengan santai. Terlihat di wajahnya yang begitu bahagia, seperti sedang memenangkan beberapa lotre. Seperti tidak pernah bermain ke rumah wanitanya. Tapi, aku merasa sangat bahagia ketika bersama mas Azzam. Semua pembicaraan mengalir begitu saja, seperti tidak ada yang salah di antara kita. Sepertinya memang berjodoh. ... Tanpa terasa, hari mulai gelap. Tapi, di dalam kafe ini masih terlihat sangat terang. Makanan kami juga sudah habis. Saat kulihat di layar ponselku, ternyata sudah jam sepuluh malam. Padahal tadi izinnya hanya pergi ke tempat laundry, tapi sekarang malah ke asyikkan di kafe. “Ayo pulang! Biar aku yang mengantarmu sampai di depan rumahmu,” ajak mas Azzam sambil membereskan barang-barangnya yang tergeletak di atas meja. “Jangan repot-repot, Mas. Nanti bensinmu habis,” sahutku sedikit menolak, karena aku merasa enggak enakkan. “Tidak apa-apa. Aku bawa uang kok!” mas Azzam terus memaksakan dirinya. Mau tidak mau, aku pasti di antar oleh mas Azzam sampai tiba di halaman rumahku. Padahal jarak kafe ini dengan rumahku tidak terlalu jauh. Mas Azzam langsung berdiri setelah meletakkan beberapa uang kertas di bawah piringnya. Bahkan mas Azzam melarangku untuk membayar, padahal aku sudah menyiapkan uang untuk pergi ke mana saja. “Mbak, sudah selesai!” ucap mas Azzam dengan tegas. Lalu, mas Azzam menggandeng tanganku keluar dari kafe ini menuju tempat parkir yang ada di halaman depan kafe ini. “Hei, Bro! Empat ribu ya?” sapa mas Azzam pada penjaga parkir sambil menyodorkan dua lembar uang kertas dua ribuan. “Oke, Bro!” Penjaga parkir itu langsung mengeluarkan sepeda motor yang sudah ditunjuk oleh mas Azzam. Kebetulan, motor kami sama. Baru saja keluar dari barisan yang paling dalam, tiba-tiba ada yang berteriak memanggil nama mas Azzam. “AZZAM! SAMA SIAPA KAMU KE SINI?” Asal suara itu berada di belakangku, di mana ada mas Azzam di sana. Karena penasaran, aku langsung menoleh. “Aku bersama temanku. Memangnya kenapa?” jawab mas Azzam yang terlihat santai. “MANA TEMANMU?” Mas Azzam langsung menuding ke arahku. Tiba-tiba wanita itu menghampiriku, dan ... Plak! Sebuah tamparan telah berhasil mendarat di pipi kiriku. “BERANI-BERANINYA YA, JALAN SAMA PACAR ORANG!” wanita itu mulai membentakku. “Tolong dijaga sikapnya ya, Mbak, kalau tidak ingin saya laporkan!” sahutku dengan santai.   Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN