TERJADI KESALAHPAHAMAN

1050 Kata
“AZZAM! SAMA SIAPA KAMU KE SINI?” Asal suara itu berada di belakangku, di mana ada mas Azzam di sana. Karena penasaran, aku langsung menoleh. “Aku bersama temanku. Memangnya kenapa?” jawab mas Azzam yang terlihat santai. “MANA TEMANMU?” Mas Azzam langsung menuding ke arahku. Tiba-tiba wanita itu menghampiriku, dan ... Plak! Sebuah tamparan telah berhasil mendarat di pipi kiriku. “BERANI-BERANINYA YA, JALAN SAMA PACAR ORANG!” wanita itu mulai membentakku. “Tolong dijaga sikapnya ya, Mbak, kalau tidak ingin saya laporkan!” sahutku dengan santai. *** ***  “Laporkan saja. Aku enggak takut!” uccap wanita itu dengan lantang. Aku hanya diam, karena aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Aku tahu, jika wanita itu hanya menggertakku. Aku tetap duduk di atas motorku sambil melihat mas Azzam dengan kekasihnya yang sedang ribut, melalui kaca spion motorku. “Sudah Sayang. Jangan bikin ulah!” Dengan sigap, mas Azzam langsung turun dari motornya dan memeluk gadis itu untuk menjauhkan diri dariku. “Lepaskan aku, Mas! Aku tidak menyangka kalau kamu seperti ini. Sebulan lagi kita akan menikah loh!” sahut gadis itu sambil memberontak. Ini bukan salahku kan? Aku tidak berniat mengganggu hubungan mereka, tapi aku hanya menemani mas Azzam. Lagi pula, semua itu keinginan mas Azzam, jadi di mana letak kesalahanku? “Maaf, Mas. Aku harus pulang,” pamitku sambil menoleh ke belakang. “Oke, hati-hati.” Belum juga kutarik gas motorku. Tapi, aku mulai merasa kasihan, jika mas Azzam harus kehilangan wanitanya. Apalagi sampai batal menikah. Akhirnya aku memutuskan untuk memasukkan motorku ke dalam barisan beberapa motor, kebetulan ada satu tempat yang kosong. Dari situ, aku melihat mas-mas penjaga parkir mendekatiku. “Mas, tolong jaga motorku lagi ya!” ucapku meminta bantuan padanya. “Siap, Neng!” Aku langsung pergi meninggalkan motorku menuju tempat mas Azzam yang sedang cekcok dengan kekasihnya. “Ayo, Mbak! Kita selesaikan dengan kepala dingin.” Aku langsung memegang lengan wanita yang menamparku tadi. Lalu kutarik sambil terus berjalan masuk ke dalam kafe lagi. Meskipun wanita ini memberontak, tapi aku tetap memegang lengannya dengan kuat. Langkahku berhenti tepat di samping tempat kursi. Lalu aku membanting tubuhnya ke depan. “Aku juga bisa membalas semua perlakuanmu padaku, Mbak. Tapi, aku tidak ingin bertengkar dengan wanita lain hanya karena mas Azzam atau pria lainnya. Karena itu bisa menurunkan derajat seorang wanita,” jelasku bukan berniat untuk menyindir dirinya. Wanita yang tak kukenal namanya itu, satu langkah lebih maju dari tempat berdirinya. “Lalu, apa yang kamu inginkan?” tanyanya dengan mengerutkan keningnya. “Panggil kekasihmu itu! Biar kujelaskan yang sebenarnya!” jawabku dengan tegas. Ketika wanita itu pergi meninggalkan kafe, aku langsung membalikkan tubuhku untuk melihat gerak-gerik mereka. Di tengah perjalanan, wanita itu menghentikan langkahnya. Sepertinya sedang cekcok lagi. Untung saja belum kususul, karena wanita itu langsung kembali ke kafe dengan mas Azzam di belakangnya. Bukannya aku suka melihat seseorang bertengkar, apalagi masalahnya hanya sedang bersamaku. Mau enggak mau, aku harus memberanikan diri untuk membuat mereka menyatu lagi. “Apa yang ingin kamu jelaskan?” tanya wanita itu dengan malas. Aku tidak langsung menjawabnya, karena takut ada kesalahpahaman di antara kami bertiga. Tak lama kemudian, mas Azzam datang. “Oke. Peraturannya, jika ada salah satu dari kita sedang menjelaskan sesuatu, tolong jangan dipotong! Jangan berteriak! Jangan membentak! Dan, jangan main tangan!” jelasku setelah semua anggota berkumpul. Mereka langsung menyetujui peraturan yang kubuat barusan. Karena aku tahu, kalau mereka saling mencintai dan belum siap untuk kehilangan satu sama lain. Apalagi dia akan menikah sebulan lagi. Pasti sangat berat jika harus berpisah karena kesalahpahaman ini. “Duduk!” Mereka langsung duduk pada kursi yang ada di samping kiriku. Setelah mereka duduk, aku langsung ikut duduk di samping wanita yang belum kutahu namanya. “Izinkan aku untuk menjelaskan bagaimana awal pertemuanku dengan mas Azzam!” pintaku pada mereka yang sedang menatapku. “Ok.” Wanita itu memberikanku izin dengan ketusnya. Lalu, aku melihat mas Azzam yang hanya mengangguk, setelah itu kuabaikan wajahnya. “Baiklah! Sebenarnya aku ke sini hanya sendirian. Saat aku memarkirkan motorku, tiba-tiba mas Azzam menyapaku dan mengajakku nongkrong bareng. Aku tidak punya niatan untuk merebut mas Azzam darimu, karena aku sendiri masih menyimpan nama seseorang dalam hatiku,” jelasku sambil menatap pintu kafe. “Kalau memang ada orang lain, kenapa kamu masih mau berkenalan dengan calon suamiku?” tanya wanita yang ada di sampingku. Aku langsung menghela napas panjang. “Mbak, begini ya. Dunia pertemanan itu luas. Aku baru tahu jika kalian akan menikah, tapi masak kita akan menutup pertemanan seseorang hanya karena dia milikmu? Egois banget dong! Meskipun mas Azzam berteman denganku, kalau hatinya tetap ada namamu, ya pasti akan selalu ingat denganmu, Mbak,” jawabku sambil menjelaskan. Sungguh, aku tidak suka jika ada orang yang memiliki sifat yang seegois ini. Bukan apa, tapi kasihan seseorang yang terlanjur menyayanginya. Dia harus mengekang setiap keinginannya hanya untuk kekasihnya. “Iya, aku setuju dengan Ester!” sambung mas Azzam dengan semangat. “Siapa Ester?” tanya kekasihnya mas Azzam. “Namaku Ester,” jawabku singkat. Tiba-tiba wanita yang ada di sampingku atau yang kukenal sebagai kekasihnya mas Azzam ini menangis di pundakku. Suara tangisnya begitu nyaring, seperti suara tangis anak kecil. Karena merasa kasian dan sedikit malu, aku langsung mengelus rambutnya. “Kenapa, Mbak?” tanyaku penasaran. “A—aku tidak i—ingin mas Azzam mendua lagi. Makanya aku sangat egois padanya,” jawabnya sambil menahan tangisnya hingga gelagapan. Aku langsung melotot pada mas Azzam. Ya, benar saja kalau kekasihnya seegois ini. Ya salah mas Azzam sendiri. Tapi aku yang kena tamparan maut dari kekasihnya, padahal aku tidak salah apa-apa. Karena tidak tega, aku langsung mengubah posisiku dan langsung memeluk tubuh kekasihnya mas Azzam. Aku terus mengusap punggungnya agar sedikit tenang dan tidak salah paham lagi denganku. “Namaku Dina,” ucapnya sambil melepaskan pelukanku. “Salam kenal. Boleh kita tukar nomor? Agar kita bisa berteman,” sahutku sambil menyerahkan ponselku padanya. “Boleh.” Dina langsung mengambil ponselku yang sudah kubuka layar kuncinya. Dina mulai mengetikkan nomor ponselnya di dalam ponselku. Setelah selesai, dia langsung mengembalikan ponselku. “Terima kasih. Aku pulang dulu ya! Mas, jaga Mbak Dina ya! Jangan disakiti lagi!” pamitku. “Terima kasih ya. Karena kamu, aku jadi menikah dengannya,” sahut mas Azzam. Aku langsung pergi meninggalkan Dina yang sudah tidak menangis lagi. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN