Aku langsung menghela napas panjang. “Mbak, begini ya. Dunia pertemanan itu luas. Aku baru tahu jika kalian akan menikah, tapi masak kita akan menutup pertemanan seseorang hanya karena dia milikmu? Egois banget dong! Meskipun mas Azzam berteman denganku, kalau hatinya tetap ada namamu, ya pasti akan selalu ingat denganmu, Mbak,” jawabku sambil menjelaskan.
Sungguh, aku tidak suka jika ada orang yang memiliki sifat yang seegois ini. Bukan apa, tapi kasihan seseorang yang terlanjur menyayanginya. Dia harus mengekang setiap keinginannya hanya untuk kekasihnya.
“Iya, aku setuju dengan Ester!” sambung mas Azzam dengan semangat.
“Siapa Ester?” tanya kekasihnya mas Azzam.
“Namaku Ester,” jawabku singkat.
Tiba-tiba wanita yang ada di sampingku atau yang kukenal sebagai kekasihnya mas Azzam ini menangis di pundakku. Suara tangisnya begitu nyaring, seperti suara tangis anak kecil. Karena merasa kasian dan sedikit malu, aku langsung mengelus rambutnya.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku penasaran.
“A—aku tidak i—ingin mas Azzam mendua lagi. Makanya aku sangat egois padanya,” jawabnya sambil menahan tangisnya hingga gelagapan.
Aku langsung melotot pada mas Azzam. Ya, benar saja kalau kekasihnya seegois ini. Ya salah mas Azzam sendiri. Tapi aku yang kena tamparan maut dari kekasihnya, padahal aku tidak salah apa-apa.
Karena tidak tega, aku langsung mengubah posisiku dan langsung memeluk tubuh kekasihnya mas Azzam. Aku terus mengusap punggungnya agar sedikit tenang dan tidak salah paham lagi denganku.
“Namaku Dina,” ucapnya sambil melepaskan pelukanku.
“Salam kenal. Boleh kita tukar nomor? Agar kita bisa berteman,” sahutku sambil menyerahkan ponselku padanya.
“Boleh.” Dina langsung mengambil ponselku yang sudah kubuka layar kuncinya.
Dina mulai mengetikkan nomor ponselnya di dalam ponselku. Setelah selesai, dia langsung mengembalikan ponselku.
“Terima kasih. Aku pulang dulu ya! Mas, jaga Mbak Dina ya! Jangan disakiti lagi!” pamitku.
“Terima kasih ya. Karena kamu, aku jadi menikah dengannya,” sahut mas Azzam.
Aku langsung pergi meninggalkan Dina yang sudah tidak menangis lagi.
*** *** ***
“Terima kasih, Mas,” ucapku pada tukang parkir sambil menyodorkan selembar uang kertas dengan nilai dua ribu rupiah.
“Oke, kembali kasih.” Tukang parkir itu tersenyum padaku setelah mengeluarkan sepeda motorku dari barisan motor.
Aku langsung menaiki motorku. Sebelum menarik gas, aku masih meninggalkan senyum padanya. Aku tidak mudah akrab, tapi aku selalu bertemu dengan orang yang selalu akrab denganku.
...
Padahal besok adalah hari pertamaku untuk bekerja. Tetapi, diriku masih kelayapan di malam hari, seperti kelelawar. Ya, begitu aku. Kalau sedang ke pikiran sesuatu, pasti kelayapan, tapi tidak sering sih. Baru kali ini perasaanku bisa plong. Rasanya seperti tidak ada beban, ketika sedang di luar rumah.
“HUUH ...!” teriakku di tengah perjalanan. Aku mengabaikan setiap lirikan orang yang telah menyalip motorku.
Setelah berteriak, aku langsung menaikkan kecepatan motorku, dari empat puluh kilometer per jam sampai seratus dua puluh kilometer per jam.
Namun, aku mulai kehilangan titik fokusku pada jalan raya, hingga tanpa sengaja aku menabrak beberapa kendaraan di depanku. Membuatku tubuhku terlempar jauh dari tempat kecelakaan. Ketika tubuhku mulai terlempar, pandanganku mulai kabur dan beberapa saat kemudian, aku tidak melihat apa-apa. Tapi rasanya, tubuhku terlalu lama untuk tiba di atas permukaan aspal. Bahkan aku sudah siap kalau harus merasakan sakit yang luar biasa pada salah satu anggota tubuhku.
“Tolong, jangan dekati korban kecelakaan saat ini!”
Yang kudengar jelas di telingaku, ya, hanya suara dari seorang pria. Apakah aku sudah meninggal? Tapi, aku masih sadar dan aku masih merasakan kenikmatan akibat terpental jauh. Seluruh tulangku rasanya remuk semua. Semoga aku tidak apa-apa.
“Halo, Pak. Apakah Anda keluarganya korban?” ucap seorang pria yang terdengar di telingaku.
Aku juga mendengar beberapa klakson motor dan juga suara mesin kendaraan lainnya. Hanya kedua mataku yang susah terbuka.
“Pak, korban yang bernama Ester masih ada di jalan merpati dekat mal Lalapo. Tolong segera dihampiri ke tempat kejadian.”
Jalan merpati? Ternyata aku mainnya terlalu jauh, apalagi tidak izin yang benar pada keluarga. Sepertinya ini akibat karena tidak izin dari keluarga deh.
Ya Allah, tubuhku rasanya sangat sakit, apalagi punggungku. Remuk semua rasanya. Kenapa tidak ada yang memanggil ambulance sih? Kenapa harus mengabari keluargaku dulu. Keburu mati rasa.
“Pak, lebih baik dibawa ambulance saja. Kasihan korban, pasti merasa sangat sakit,” saran salah seorang, suaranya berbeda dari yang menelepon keluargaku tadi.
“Tapi, keluarganya harus tahu dulu!”
“Masalah itu, kan bisa diberitahukan saat ada di puskesmas. Yang terpenting korban terobati dulu,” sarannya lagi.
Setelah terjadi cekcok beberapa menit yang lalu, akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil ambulance melalu ponsel. Selang beberapa menit, suara sirene ambulance mulai terdengar.
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku yang sedang dipindahkan ke ranjang yang memang sudah ada di ambulance.
Lalu, aku mulai dibawa oleh ambulance. Mungkin dibawa ke puskesmas terdekat atau rumah sakit terdekat. Aku juga tidak tahu daerah sini, karena yang kutahu hanya jalan utama menuju rumahku. Selain itu aku tidak tahu apa-apa.
Tak lama kemudian, aku bisa melihat langit-langit ambulance yang hanya ada satu lampu kecil. Makanya, di bagian pasien ini tidak terlalu terang pencahayaannya.
Yang aku heran kan, apakah ini sunggu nyata terjadi padaku? Pertama aku izin ke mama untuk pergi ke tempat laundry, tapi karena di rumah aku tidak punya kesibukan, makanya aku mampir ke sebuah kafe. Dari situ aku mulai kenal dengan temna baru, ya itu mas Azzam. Selang beberapa jam, aku mulai kenal kekasihnya mas Azzam. Lalu, kenapa aku bisa kecelakaan? Sepertinya aku sedang bermimpi di kamarku deh!
Kalau memang nyata, kenapa rasa sakit ini lama kelamaan mulai menghilang? Maksudku, kenapa tidak sesakit tadi? Padahal kan belum sampai puskesmas terdekat, belum diperiksa juga sama dokternya, dan belum diberi obat untuk pereda nyeri.
... ...
“ESTER! INI MASIH SORE LOH! KENAPA MOLOR?”
Loh? Kenapa sekarang suasananya ada di kamarku? Seprei ini? Kenapa masih ada di sini?
“Iya, Mah?” Aku langsung bangun dari tempat dudukku, karena tadi aku tidur dengan posisi duduk dan bersandar pada seprei yang sudah kukemas dalam kantok kresek.
Tiba-tiba mama berdiri di hadapanku. “KAMU INI LOH! KENAPA BISA TERTIDUR SAAT SORE HARI?” mama membentakku.
Berarti selama ini, aku hanya bermimpi. Termasuk saat ketemu dengan Mas Azzam dan Dina kekasihnya? Padahal aku sudah sangat bahagia bisa kenal dengan teman baruku. Nyatanya aku belum berani ke mana-mana sendirian.
“Katanya mau ke tempat laundry? Kenapa malah tidur?” tanya mama yang mulai mereda emosinya.
“Kecapekan mungkin, Mah. Tadi banyak tugas dan pekerjaan,” jawabku sambil membersihkan ujung mata yang penuh dengan belek.
“Loh, tadi kan sudah dibantu sama pamanmu.”
Aku hanya mengangguk.
Mengingat tentang paman, rasanya aku sudah tak tahan lagi. Bisa-bisanya aku terhipnotis olehnya. Padahal aku keponakan kandungnya. Kenapa bisa sejahat itu? Aku tahu kalau paman tampan, tapi jangan mangsa aku juga. Kalau paman benar-benar sayang padaku, seharusnya tidak melakukan seperti itu.
“Neng?”
“Iya, Mah?” sahutku terkejut.
“Jangan sering melamun! Ya sudah, besok saja bawa ke tempat laundry, saat kamu berangkat kerja,” saran mama.
Aku hanya mengangguk lagi dan tersenyum padanya, lalu dia pergi keluar dari kamarku.
Untung kecelakaan itu termasuk ke dalam mimpi, kalau tidak begitu, pasti tubuhku tidak bisa berdiri tegap seperti saat ini. Bisa-bisa aku makin menjadi beban keluargaku.
Kemudian aku menyingkirkan kantong kresek yang berisi seprei dan kuletakkan di bawah kasurku. Lalu, aku merebahkan diri di atas kasurku sambil memainkan ponsel. Saking penasaran, aku melihat daftar kontak yang ada dalam ponselku.
“Dina?”
Bentar, aku tidak salah baca? Nama temanku tidak ada yang bernama Dina, tapi ini nomornya siapa? Sunggu aneh.
Dari pada penasaran, aku langsung mengirimkan pesan pada nomor yang bernama Dina. Pesan itu tak lain adalah untuk menanyakan siapa dia sebenarnya. Karena memang seingatku tidak ada yang bernama Dina di ponselku. Kalau pun ada, pasti sudah ada di dalam aplikasi pesan singkat yang sering kugunakan. Lah, ini seperti baru menyimpan nomornya.
Setelah mengirim pesan, aku mencoba untuk menelepon Yovi, kekasihku. Sejak beberapa hari terakhir, kenapa dia tidak mengabariku? Apakah tidak sepeduli itu? Sibuk ya sibuk, tapi harus bisa bagi waktu. Masak tidak ada jam untuk bermain ponsel sebentar? Padahal waktu sehari itu dua puluh empat jam, kenapa tidak ada sejam saja untukku? Sekedar tanya kabar atau bagaimana. Bukannya aku egois, tapi sungguh, aku tidak bisa jika tidak dikabari seperti ini.
Bukannya diterima panggilan telepon dariku, malah dibatalkan olehnya. Apakah dia masih ada di kantor? Sampai-sampai aku tidak bisa menghubunginya?
Bukan aku namanya, kalau tidak mencobanya lagi! Meskipun sampai capek dengan sikapku, aku pun lebih capek menghadapi sikap sepertinya.
“Angkat dong!” gumamku sambil menggigit bibir bawahku.
“Apakah tidak rindu denganku?”
Bersambung ...