Berarti selama ini, aku hanya bermimpi. Termasuk saat ketemu dengan Mas Azzam dan Dina kekasihnya? Padahal aku sudah sangat bahagia bisa kenal dengan teman baruku. Nyatanya aku belum berani ke mana-mana sendirian.
“Katanya mau ke tempat laundry? Kenapa malah tidur?” tanya mama yang mulai mereda emosinya.
“Kecapekan mungkin, Mah. Tadi banyak tugas dan pekerjaan,” jawabku sambil membersihkan ujung mata yang penuh dengan belek.
“Loh, tadi kan sudah dibantu sama pamanmu.”
Aku hanya mengangguk.
Mengingat tentang paman, rasanya aku sudah tak tahan lagi. Bisa-bisanya aku terhipnotis olehnya. Padahal aku keponakan kandungnya. Kenapa bisa sejahat itu? Aku tahu kalau paman tampan, tapi jangan mangsa aku juga. Kalau paman benar-benar sayang padaku, seharusnya tidak melakukan seperti itu.
“Neng?”
“Iya, Mah?” sahutku terkejut.
“Jangan sering melamun! Ya sudah, besok saja bawa ke tempat laundry, saat kamu berangkat kerja,” saran mama.
Aku hanya mengangguk lagi dan tersenyum padanya, lalu dia pergi keluar dari kamarku.
Untung kecelakaan itu termasuk ke dalam mimpi, kalau tidak begitu, pasti tubuhku tidak bisa berdiri tegap seperti saat ini. Bisa-bisa aku makin menjadi beban keluargaku.
Kemudian aku menyingkirkan kantong kresek yang berisi seprei dan kuletakkan di bawah kasurku. Lalu, aku merebahkan diri di atas kasurku sambil memainkan ponsel. Saking penasaran, aku melihat daftar kontak yang ada dalam ponselku.
“Dina?”
Bentar, aku tidak salah baca? Nama temanku tidak ada yang bernama Dina, tapi ini nomornya siapa? Sunggu aneh.
Dari pada penasaran, aku langsung mengirimkan pesan pada nomor yang bernama Dina. Pesan itu tak lain adalah untuk menanyakan siapa dia sebenarnya. Karena memang seingatku tidak ada yang bernama Dina di ponselku. Kalau pun ada, pasti sudah ada di dalam aplikasi pesan singkat yang sering kugunakan. Lah, ini seperti baru menyimpan nomornya.
Setelah mengirim pesan, aku mencoba untuk menelepon Yovi, kekasihku. Sejak beberapa hari terakhir, kenapa dia tidak mengabariku? Apakah tidak sepeduli itu? Sibuk ya sibuk, tapi harus bisa bagi waktu. Masak tidak ada jam untuk bermain ponsel sebentar? Padahal waktu sehari itu dua puluh empat jam, kenapa tidak ada sejam saja untukku? Sekedar tanya kabar atau bagaimana. Bukannya aku egois, tapi sungguh, aku tidak bisa jika tidak dikabari seperti ini.
Bukannya diterima panggilan telepon dariku, malah dibatalkan olehnya. Apakah dia masih ada di kantor? Sampai-sampai aku tidak bisa menghubunginya?
Bukan aku namanya, kalau tidak mencobanya lagi! Meskipun sampai capek dengan sikapku, aku pun lebih capek menghadapi sikap sepertinya.
“Angkat dong!” gumamku sambil menggigit bibir bawahku.
“Apakah tidak rindu denganku?”
*** *** ***
[Halo, aku masih sibuk, Yang. Nanti dulu ya,] suara dari seberang ponselku.
Nyesek sih, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa memaksa. Jika memang dia terlalu sibuk bahkan tidak sempat untuk mengabariku, maka aku bisa apa? Tidak ada. Hanya berharap, dia bisa membagi waktunya, meskipun aku hanya dapat tiga puluh menitnya saja.
Jujur, pacaran yang paling berat itu, pacaran jarak jauh dan juga pacaran beda agama, ditambah tidak saling mengabari. Bahkan aku sampai rel mengemis padanya, hanya untuk mendapatkan waktunya saja. Kali ini, aku tidak akan mengemis padanya lagi! Karena kodratnya wanita itu bukan untuk mengemis. Dan kodratnya laki-laki itu memberikan. Entah memberikan waktunya, uangnya, atau bahkan hidupnya. Dan laki-laki harus ikhlas memberikan segalanya, jika sudah memutuskan untuk memilih salah satu wanita yang akan mengetahui seluruh kehidupannya, tanpa perlu diminta lagi.
Karena aku mendapat penolakan darinya, akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diriku dari sisa bercinta dengan paman. Meskipun senja mulai sirna, aku tetap membasahkan rambut dengan air, dan dilanjutkan dengan memberikan shampoo di atas kepalaku, untuk membersihkan sisa keringat dan kotoran dari luar yang menempel di kulit kepalaku.
Padahal kata orang dulu, tidak boleh mandi malam. Bukan karena hoax ya, tapi karena kesehatan. Saat muda sering mandi malam, tapi ketika sudah tua bisa terserang penyakit rematik. Efeknya tidak langsung datang, ada yang bertahun-tahun bahkan sampai menginjak usia tua baru terkena rematik, ada juga yang beberapa tahun saja sudah terkena rematik. Aku tidak terlalu sering sih mandi malam, aku juga sering makan-makanan yang menjaga stamina tubuh, dan bagian penguat tulang dan gigi, dan sejenisnya, intinya mencegah dari pada mengobati.
Selesai membersihkan diri, aku langsung memakai baju dan celana tidurku, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan meja riasku. Tangan kananku meraih botol vitamin rambut yang cukup terkenal dengan kandungannya yang baik untuk menjaga rambut dari panasnya hairdryer dan catok. Kalau enggak salah, namanya Makariza. Aku sampai beli banyak untuk stok di rumah, takut kehabisan. Padahal habisnya lama. Kemudian, aku menekan tutup botolnya yang berbentuk seperti semprotan tapi ini model untuk cairan yang kental. Saat kutekan, cairan kental yang ada dalam botol itu langsung keluar di atas telapak tanganku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengusapkan pada rambut panjangku yang masih setengah basah. Setelah merata, aku langsung mengambil hairdryer-ku yang ada di laci meja riasku. Dan kucolokkan pada stop kontak yang ada di samping meja rias.
Heerrrrrrrrrrr!
Suara hairdryer-ku mulai memenuhi seluruh ruangan kamarku, bahkan mungkin mulai terdengar dari luar kamar.
Aku tidak bisa jika tidur dalam keadaan rambut masih basah. Jadi sebelum tidur, rambutku harus kering dan wangi.
Karena keasyikan bermain dengan hairdryer, tanpa terasa saat kepalaku menoleh ke belakang dan kedua mataku menatap pada atas jendela, ternyata sudah jam delapan malam. Jam delapan segini aku baru selesai setengahnya mengeringkan rambutku. Padahal perutku rasanya sangat lapar. Tapi, aku malu jika keluar dengan keadaan rambut basah. Bukan malu sih, takutnya dicurigai oleh mamaku, soalnya tadi paman sempat ke kamarku cukup lama dalam keadaan pintu kamar terkunci. Akhirnya aku memutuskan untuk menahan lapar dari pada nanti dicurigai.
“Neng, sedang apa kamu?” tanya mama. Suaranya terdengar sangat kecil. Bahkan lebih jelas suara hairdryer-ku ketimbang suara mama.
Tapi, saat aku menoleh ke arah pintu, tidak ada siapa pun di sana. Pantas saja suaranya kecil. Mungkin mama masih ada di dapur atau mungkin sudah ada di dalam kamarnya.
“LAGI MAIN-MAIN, MA,” teriakku agar suaraku sampai dengan jelas.
“Jangan main terus! Cepat tidur!” sahut mama dengan tegas.
“OK.”
Sepertinya bakalan aman jika aku mengambil nasi di dapur dan langsung dibawa ke kamarku, sekalian sama jus buahnya yang ada di kulkas.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri pengeringan rambutku, karena aku sudah sangat lapar, ditambah mama sudah mulai marah-marah padaku. Tapi, karena ada suara hairdryer, makanya suara mama tidak seperti sedang marah.
Kaki mungilku mulai melangkah keluar dari kamar dengan sedikit mengendap-endap, sambil melihat suasana rumah yang terasa sangat sepi. Ternyata benar, mama dan ayah sudah masuk ke kamarnya, bahkan pintu kamarnya pun tertutup. Tapi, ke mana kakak dan adikku? Apakah mereka pergi keluar rumah? Atau ada di kamarnya? Sudahlah! Kedua kakiku sudah berhasil melewati kamar mama dan ayah tanpa dicurigai. Selangkah lagi, aku sudah berada di dapur.
Tujuan utamaku kali ini yaitu, mengambil piring dan gelas beling dan kuletakkan di atas meja makan. Lalu, melangkah menjauhi meja makan, menuju kulkas yang ada pojok samping pintu dapur. Untung saja jus buatanku tadi siang tidak ada yang berani menghabiskannya.
Aku langsung mengambil botol yang berisi jus dengan volume dua liter. Lalu, mendekati meja makan lagi. Kutuang perlahan jus itu ke dalam gelas yang ada di samping piringku. Setelah terisi penuh, aku langsung menutup botolnya kembali, agar tidak tumpah jika kena senggol.
Kemudian, aku membawa piring itu kembali untuk memilih lauk dan sayur yang ada di atas meja sambil berkeliling. Dari pada menyenggol segalanya, mending aku sendiri yang berkeliling sambil membawa piring. Setelah mengambil nasi, aku mengambil telur balado, terong goreng, sambal terasi, lalap kubis dan sayur kol mentah, ayam goreng, dan juga ikan asin. Terakhir aku mengambil kerupuk yang ada di samping kulkas, sekalian mengembalikan sebotol jusku.
“Wah, makanan berat ini. Bisa kenyang dalam beberapa menit saja,” gumamku sambil tersenyum sendiri.
Setelah piring dan gelas yang sudah kuambil tadi, mulai terisi penuh, akhirnya aku meninggalkan dapur menuju kamarku. Dan langsung meletakkan makanan dan jusku di atas meja rias.
Kemudian, kembali lagi ke dapur untuk memasukkan semua lauk dan sayur ke dalam kulkas, agar bisa di makan besok pagi. Eman-eman jika semua makanan bauk karena tidak diletakkan ke suhu dingin.
“Sedang apa, Neng?” tanya mama tiba-tiba. Membuatku terkejut.
Dan langsung membalikkan tubuhku.
“Eh, Mama. Ini lagi meletakkan semua makanan ke kulkas, Ma,” sahutku ketika melihat mama berdiri diambang pintu.
“Oalah, padahal mama baru ingat untuk meletakkannya di dalam kulkas, tapi karena melihatmu di sini, makanya mama langsung tanya,” jelas mama.
Aku langsung senyum Pepsodent (senyum yang hanya memperlihatkan dua baris gigiku)
“Oke, Ma. Aku balik ke kamar dulu. Sudah ngantuk,” pamitku sebelum pergi.
Mama langsung menyetujui dan menggantikan tugasku, karena baru setengah makanan saja yang masuk ke dalam kulkas.
...
Sesampainya di kamar, aku langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Untung saja mama tidak tahu kalau aku habis keramas, padahal rasanya masih setengah basah.
Ketika membalikkan tubuhku dan melihat makanan yang sudah kuambil di dapur tadi, rasanya segera kuhabiskan. Tapi, sabar dulu. Aku belum memakai skincare malam. Selain perutku butuh makan, kulitku juga butuh nutrisi yang cukup.
Sebelum memakai skincare malam, aku memindahkan sepiring nasiku dan segelas jusku di atas lemariku yang ukurannya hanya sedadaku.
Bersambung ...