Kaki mungilku mulai melangkah keluar dari kamar dengan sedikit mengendap-endap, sambil melihat suasana rumah yang terasa sangat sepi. Ternyata benar, mama dan ayah sudah masuk ke kamarnya, bahkan pintu kamarnya pun tertutup. Tapi, ke mana kakak dan adikku? Apakah mereka pergi keluar rumah? Atau ada di kamarnya? Sudahlah! Kedua kakiku sudah berhasil melewati kamar mama dan ayah tanpa dicurigai. Selangkah lagi, aku sudah berada di dapur.
Tujuan utamaku kali ini yaitu, mengambil piring dan gelas beling dan kuletakkan di atas meja makan. Lalu, melangkah menjauhi meja makan, menuju kulkas yang ada pojok samping pintu dapur. Untung saja jus buatanku tadi siang tidak ada yang berani menghabiskannya.
Aku langsung mengambil botol yang berisi jus dengan volume dua liter. Lalu, mendekati meja makan lagi. Kutuang perlahan jus itu ke dalam gelas yang ada di samping piringku. Setelah terisi penuh, aku langsung menutup botolnya kembali, agar tidak tumpah jika kena senggol.
Kemudian, aku membawa piring itu kembali untuk memilih lauk dan sayur yang ada di atas meja sambil berkeliling. Dari pada menyenggol segalanya, mending aku sendiri yang berkeliling sambil membawa piring. Setelah mengambil nasi, aku mengambil telur balado, terong goreng, sambal terasi, lalap kubis dan sayur kol mentah, ayam goreng, dan juga ikan asin. Terakhir aku mengambil kerupuk yang ada di samping kulkas, sekalian mengembalikan sebotol jusku.
“Wah, makanan berat ini. Bisa kenyang dalam beberapa menit saja,” gumamku sambil tersenyum sendiri.
Setelah piring dan gelas yang sudah kuambil tadi, mulai terisi penuh, akhirnya aku meninggalkan dapur menuju kamarku. Dan langsung meletakkan makanan dan jusku di atas meja rias.
Kemudian, kembali lagi ke dapur untuk memasukkan semua lauk dan sayur ke dalam kulkas, agar bisa di makan besok pagi. Eman-eman jika semua makanan bauk karena tidak diletakkan ke suhu dingin.
“Sedang apa, Neng?” tanya mama tiba-tiba. Membuatku terkejut.
Dan langsung membalikkan tubuhku.
“Eh, Mama. Ini lagi meletakkan semua makanan ke kulkas, Ma,” sahutku ketika melihat mama berdiri diambang pintu.
“Oalah, padahal mama baru ingat untuk meletakkannya di dalam kulkas, tapi karena melihatmu di sini, makanya mama langsung tanya,” jelas mama.
Aku langsung senyum Pepsodent (senyum yang hanya memperlihatkan dua baris gigiku)
“Oke, Ma. Aku balik ke kamar dulu. Sudah ngantuk,” pamitku sebelum pergi.
Mama langsung menyetujui dan menggantikan tugasku, karena baru setengah makanan saja yang masuk ke dalam kulkas.
...
Sesampainya di kamar, aku langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Untung saja mama tidak tahu kalau aku habis keramas, padahal rasanya masih setengah basah.
Ketika membalikkan tubuhku dan melihat makanan yang sudah kuambil di dapur tadi, rasanya segera kuhabiskan. Tapi, sabar dulu. Aku belum memakai skincare malam. Selain perutku butuh makan, kulitku juga butuh nutrisi yang cukup.
Sebelum memakai skincare malam, aku memindahkan sepiring nasiku dan segelas jusku di atas lemariku yang ukurannya hanya sedadaku.
*** *** *** ***
Hawa dingin membuatku enggan untuk membuka kelopak mataku. Ditambah perutku masih terasa sangat kenyang karena makan malam kemarin.
Udara pagi yang sejuk mulai masuk fentilasi kecil yang ada di atas jendela dan di bawah jam dindingku, membuatku semakin terlelap dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhku. Namun, hanya kepalaku berada di luar selimut.
“Neng, bangun!”
Aku mengabaikan suara itu sambil menarik selimutku lagi agar menutupi seluruh kepalaku.
Suasana pagi di sebuah desa memang sangat menyejukkan, membuat siapa saja yang tinggal di desa merasa sedikit malas untuk bangun di pagi hari. Tapi, karena ada suatu pekerjaan, mereka harus merelakan bangun pagi demi mendapatkan selembar kertas yang bernilai.
Selang beberapa menit, sinar matahari mulai memenuhi seluruh ruangan kamarku, dengan dibarengi suara mama yang sedang ngomel.
“Katanya hari ini kerja, kenapa masih males-malessan? Ayo, bangun! Semua sarapan sudah selesai. Kamu tinggal membersihkan tubuhmu.”
“MAAA ....” Aku membuat selimut dari wajahku.
Ternyata mama sibuk membuka gorden jendelaku sambil terus nyerocos. Ya Allah, padahal masih sangat pagi.
“Ya Allah ... Ini sudah siang, Neng! Kamu enggak mau kerja?” omel mama sambil menarik selimut untuk menjauhkan dari diriku.
“Bangun ... Bangun ... Sudah siang,” omel mama lagi.
“Astaga, Ma ... Itu loh masih jam enam. Aku masuk kerja jam sembilan,” sahutku sambil semakin memeluk bantal guling yang ada di samping kananku.
Tiba-tiba mama langsung menarik bantal gulingku. “Tetap bangun! Ayo!!”
“Mah ... Sekali saja!” rengekku padanya sambil mempertahankan bantal guling dari pelukanku.
Mama langsung melepaskan gulingku. Kukira mama bakalan keluar dari kamarku, ternyata perkiraanku salah. Mama malah menarik lenganku, agar segera bangun dari kasur sponku dan menjauhinya, untuk melakukan kegiatan penting di pagi hari.
Akhirnya aku mengalah dan memilih untuk bangun dari tempat ternyamanku. Rasanya masih tidak rela sih, tapi mau bagaimana lagi? Dari pada cekcoknya belum selesai.
Mama langsung menggandeng tanganku ketika aku sudah dalam posisi berdiri, lalu beliau jalan lebih dulu, sedangkan aku selalu jalan di belakangnya. Kupikir beliau akan membawaku ke dapur untuk membantunya masak, tapi ternyata salah, beliau malah menyuruhku duduk di meja makan.
“Duduklah di sini! Aku akan membuatkanmu segelas s**u,” ucap mama, sambil menepuk pundakku.
“Tapi, Mah, aku belum menggosok gigi,” sahutku dengan menatap wajahnya.
“Tidak apa-apa. Malah itu yang sehat,” kata mama, lalu pergi meninggalkanku untuk membuatkan s**u.
Padahal aku bukan anak kecil lagi yang selalu dimanja. Aku ini sudah sangat besar yang ke mana-mana bisa sendirian. Tidak perlu dilayani seperti ini lagi.
“Mah, aku pergi menggosok gigi dulu ya!” pamitku sekali lagi.
“Jangan pergi ke mana-mana! Mama tahu apa yang ada di pikiranmu!” ancam mama sambil menolehkan wajahnya dengan tatapan yang begitu tajam.
Baiklah, dari pada nanti ada piring melayang, mending aku diam dan duduk manis saja. Sambil menunggu segelas s**u buatan mama yang akan datang.
“Wih, pagi-pagi Kakak sudah ada di sini?” celetuk adikku yang tiba-tiba muncul dan langsung bertanya.
Aku langsung menoleh ke samping kiriku dan menahan lengan adikku, sambil menjawab dengan santai, “Iya, nih. Duduklah di kursi lainnya. Nanti akan dibuatkan s**u oleh mama.”
“Enak dong!”
“Iya, makanya duduk saja di sini.”
Lalu, dia langsung duduk di kursi yang lainnya dan ikut menunggu.
Tidak lama kemudian, mama membalikkan tubuhnya. Aku langsung melihat dua gelas s**u di tangan mama. Sepertinya s**u itu masih hangat. Padahal aku tidak suka yang hangat-hangat, tapi beliau selalu membuatkanku s**u hangat.
“Ini untuk kalian! Setelah minum s**u, langsung jalan santai di depan rumah, mumpung masih pagi,” perintah mama yang harus segera dilaksanakan.
“Oke,” sahutku serentak dengan adikku.
Kami berdua sampai hafal, kalau perintah mama tidak boleh diabaikan, bisa-bisa dapat hukuman yang tak terduga dari mama.
Intinya aku salah, sudah bangun sangat pagi. Padahal, sejuknya udara pagi saat ini, bisa membuat tidurku semakin nyenyak. Dari tidurlah, aku bisa meraih mimpi-mimpiku. Tapi, sialnya, aku malah terjebak diposisi perintah sang ratu yang terkenal kejam. Satu saja yang terabaikan dari perintahnya, bisa-bisa aku dihukum, seperti seorang psikopat menyiksa mangsanya.
Kali ini, aku sengaja langsung menghabiskan segelas susuku agar bisa mengambil ponsel yang ada di kamarku. Siapa tahu ada yang butuh jasaku, kan aku bisa beralasan untuk tidak melaksanakan perintahnya.
“Mah, aku keluar dulu ya! Punyaku sudah habis,” ucapku dengan sedikit ragu.
“Iya sudah. Nanti adikmu menyusul,” sahut mama dengan gampangnya memberi izin.
Bahkan aku sendiri saja tidak percaya dengan responnya. Seperti sebuah jebakan, tapi tidak ada tanda-tanda jebakan dari wajahnya. Apakah aku harus menurutinya? Mumpung dapat izin, mending segera pergi saja, dari pada nanti berubah pikiran.
“Aku duluan ya, Dik,” pamitku pada adik yang duduk tak jauh dariku.
“Oke.” Dia mengedipkan salah satu matanya.
Lalu, aku berdiri dan meninggalkan dapur, dan langsung menuju kamarku. Saat tiba di kamar, kedua mataku langsung menemukan ponselku yang tergeletak di atas meja rias. Aku langsung mengambil ponsel itu, kuletakkan ke dalam saku celana tidurku dan langsung keluar kamar menuju teras.
...
Di halaman rumah, aku langsung jalan di tempat dengan membelakangi rumahku agar bisa bermain ponsel. Saat kulihat layar ponselku yang masih terkunci, ternyata ada pesan singkat dari Rara.
Rara :
[Neng, hari ini aku ke rumahmu sebelum berangkat kerja, tunggu saja aku di depan gang sekitar pukul setengah tujuh.]
Bentar, setengah tujuh? Bukannya sekarang sudah jam setengah tujuh? Berarti, Rara sudah tiba di depan gang dong.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung berlari menuju jalan gang. Bukan gang sih sebenarnya. Yang kuanggap gang itu adalah jalan kecil yang terbuat dari celah dua rumah tetangga yang ada di depan rumahku. Ya, rumahku ini berada di belakang rumah orang. Untung saja jalan kecil itu tidak di tutup oleh pemilik tanah. Kalau di tutup, aku dan keluargaku mau lewat mana?
“Rara?”
Aku melihat Rara yang baru saja turun dari mobilnya.
“Ester? Aku selalu percaya sama kamu, kalau kamu selalu tepat waktu,” ucap Rara setelah menjauh dari mobilnya.
Kemudian, aku melihat dirinya yang tiba-tiba berlari ke arahku. Aku hanya diam mematung. Rara langsung memelukku ketika berlari dari samping mobilnya.
"Aku merindukanmu, Neng," ungkap Rara dengan semakin memelukku.
Bersambung ...