FISIK DAN MENTAL ANAK TERLUKA

1601 Kata
Kali ini, aku sengaja langsung menghabiskan segelas susuku agar bisa mengambil ponsel yang ada di kamarku. Siapa tahu ada yang butuh jasaku, kan aku bisa beralasan untuk tidak melaksanakan perintahnya. “Mah, aku keluar dulu ya! Punyaku sudah habis,” ucapku dengan sedikit ragu. “Iya sudah. Nanti adikmu menyusul,” sahut mama dengan gampangnya memberi izin. Bahkan aku sendiri saja tidak percaya dengan responnya. Seperti sebuah jebakan, tapi tidak ada tanda-tanda jebakan dari wajahnya. Apakah aku harus menurutinya? Mumpung dapat izin, mending segera pergi saja, dari pada nanti berubah pikiran. “Aku duluan ya, Dik,” pamitku pada adik yang duduk tak jauh dariku. “Oke.” Dia mengedipkan salah satu matanya. Lalu, aku berdiri dan meninggalkan dapur, dan langsung menuju kamarku. Saat tiba di kamar, kedua mataku langsung menemukan ponselku yang tergeletak di atas meja rias. Aku langsung mengambil ponsel itu, kuletakkan ke dalam saku celana tidurku dan langsung keluar kamar menuju teras. ... Di halaman rumah, aku langsung jalan di tempat dengan membelakangi rumahku agar bisa bermain ponsel. Saat kulihat layar ponselku yang masih terkunci, ternyata ada pesan singkat dari Rara. Rara : [Neng, hari ini aku ke rumahmu sebelum berangkat kerja, tunggu saja aku di depan gang sekitar pukul setengah tujuh.] Bentar, setengah tujuh? Bukannya sekarang sudah jam setengah tujuh? Berarti, Rara sudah tiba di depan gang dong. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung berlari menuju jalan gang. Bukan gang sih sebenarnya. Yang kuanggap gang itu adalah jalan kecil yang terbuat dari celah dua rumah tetangga yang ada di depan rumahku. Ya, rumahku ini berada di belakang rumah orang. Untung saja jalan kecil itu tidak di tutup oleh pemilik tanah. Kalau di tutup, aku dan keluargaku mau lewat mana? “Rara?” Aku melihat Rara yang baru saja turun dari mobilnya. “Ester? Aku selalu percaya sama kamu, kalau kamu selalu tepat waktu,” ucap Rara setelah menjauh dari mobilnya. Kemudian, aku melihat dirinya yang tiba-tiba berlari ke arahku. Aku hanya diam mematung **** **** *****  “Ada apa, Ra?” tanyaku sambil melepaskan pelukannya. “Tidak ada. Ayo ke rumahmu!” Dari raut wajahnya memang terlihat baik-baik saja, tapi firasatku mengatakan, kalau Rara sedang tidak baik-baik saja. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba muncul perasaan aneh ketika bertemu dengan Rara. “Ayo!” Aku langsung merangkul bahunya dan membalikkan tubuh bersamaan dengan Rara. Sesekali aku melihat wajah Rara yang selalu tersenyum di sepanjang jalan. Dari cara dia tersenyum, membuatku semakin curiga. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Setibanya di halaman depan rumahku, suara ngebasnya mulai terdengar. “Tante ...” “Eh, Rara. Ayo sarapan!” sahut mama dengan wajah semringah ketika melihat wajah Rara. “Sudah makan, Tante.” Rara melepaskan lenganku dari bahunya, lalu mendekati mama. “Enggak baik loh, menolak tawaran orang tua!” “Baiklah, Tante ... Mari!” Kemudian, mama masuk sambil menggandeng lengan kanan Rara, sampai aku tertinggal di belakangnya. Sebenarnya, anak kandung mama siapa sih? Aku atau Rara? Dari pada berdiri sendirian di halaman depan rumah, mending aku ikut masuk dan sarapan bersama. Di dapur, sudah ada ayah, kakak laki-lakiku, adik, mama, dan Rara. Mama dan Rara berdiri di depanku dengan posisi membelakangi, sedangkan yang lainnya sedang duduk anteng di kursi yang berpasangan dengan meja makan. “Kenalin, Rara namanya ... Dia temannya Ester,” sapa mama memperkenalkan Rara pada keluargaku. Karena kemarin belum sempat berkenalan. “Aku mau makan ... Lapar!” ucap kakak dengan jutek. “Baiklah! Ayo, Ra, kita sarapan!” Lagi-lagi aku terabaikan. Padahal keberadaanku sudah sangat dekat dengan mereka. Dari pada aku tidak dianggap, mending aku ke kamarku saja sambil mengerjakan sesuatu yang mungkin terlewatkan olehku. ... Sesampainya di kamar, pantatku langsung mendarat ke atas permukaan kasurku. Aky mengangkat kedua kakiku dan langsung melipatnya. Di depanku sudah ada laptop bersejarahku. Kedua tanganku dengan lihai membuka laptop kesayanganku, lalu menyalakannya. Kenapa bersejarah? Karena laptop ini sudah ada sejak aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), waktu itu aku masih kelas sepuluh. Ayah yang memberikan padaku saat ulang tahunku. Jujur, laptop ini masih hidup sampai sekarang, bahkan masih berfungsi semua ketika kubuat untuk mengerjakan tugas-tugas adik tingkatku. Hitung-hitung buat tambah uang jajan. Aku langsung membuka sebuah aplikasi pesan yang dilengkapi dengan fitur telepon dan video call. Ternyata ada tiga pesan dari adik tingkatku, katanya dikumpulkan hari ini jam sembilan. Mau tidak mau, ya harus kukerjakan sebelum jam sembilan. Lagian uangnya sudah ditransfer sama mereka. Tapi tugasnya termasuk gampang, soalnya tugasnya sama dan ternyata mereka juga sekelas, jadi ya terlalu gampanglah, tidak usah repot-repot kerja tiga kali. Cukup satu kali, lalu yang dua ini tinggal salin saja. Oh ya, di tempatku itu, jasa pembuatan tugas itu sudah sama penjelasannya yang mudah dimengerti, jadi mereka tidak bingung jika ditanyakan oleh gurunya. Karena itulah, jasaku selalu laris, banyak ibu-ibu yang membutuhkan jasaku karena mungkin sudah capek ngajarin anaknya. Ya, aku semakin senang dong, dengan begitu aku ada pemasukan yang lumayan. Pusing tahu, kalau tidak ada pemasukan sama sekali. Rasanya benar-benar menganggur. Untungnya ada otakku yang masih bisa dipakai. Bukan hanya satu pelajaran, semua mata pelajaran kuterima, siapa tahu aku bisa pintar lagi dengan cara ini. Sudah dapat uang, masih ditambah kepintaran lagi, uhhh ... Mantapnya luar biasa. “Lagi apa, Neng?” Kedua bola mataku langsung menatap dalam ke Rara yang berdiri di samping kananku. Lalu, kembali menatap layar laptop. “Suatu pekerjaan!” sahutku jutek. “Bisa kubantu?” Aku hanya menggeleng, lalu kembali fokus lagi dengan pekerjaanku. Kebetulan tugas yang kukerjakan ini adalah matematika kelas sebelas SMA (Sekolah Menengah Atas). Sedikit lupa-lupa ingat sih. Kemudian aku menoleh ke samping kananku, ternyata sudah tidak ada Rara yang berdiri seperti tiang listrik. Ke mana anak itu? “Sudahlah!” gumamku, lalu kembali fokus lagi ke tugas-tugas adik tingkatku. Tapi anehnya, saat aku mengerjakan tugas mereka itu tidak ada kesulitan sedikit pun, sedangkan dulu pas aku masih SMA (Sekolah Menengah Atas), rasanya sangat sulit, bahkan sering dapat nilai jelek sih, hanya karena tidak mau menyontek ke teman-temanku. “Ini, kubawakan buah yang sudah dipotong-potong,” ucap Rara yang berhasil membuat fokusku buyar. Aku langsung menoleh ke Rara. “Letakkan di atas meja situ! Nanti akan kumakan.” Sahutku sambil berusaha menahan emosiku yang hampir meluap-luap. Rara langsung menuruti perkataanku dengan ekspresi datarnya. Bentar ya, Ra. Kurang satu soal lagi. Jangan pergi dari kamarku! Gumamku sambil berusaha mengerjakan soal yang hanya sisa satu. Tapi kali ini, otakku tidak bisa diajak kompromi. Kenapa malah macetnya sekarang? Aahh ... Enggak asyik! Mana bukuku sudah dijual sama ayah. Aku buka apa ini, biar lancar mengerjakannya? Saking gemasnya, aku langsung memeluk tubuh Rara dan langsung menarik tubuhnya agar jatuh di atas kasurku. “Apa yang kamu lakukan, Neng?” protes Rara sambil sedikit memberontak. “Enggak ada, Ra. Gara-gara kamu, aku sampai lupa cara mengerjakannya!” sahutku sedikit ngomel. Bukannya minta maaf, Rara malah menjulurkan lidahnya padaku. Tapi, tidak apa. Kali ini dia menjebak dirinya sendiri. “Sudah ah, Neng. Nanti mamamu lewat,” kata Rara sambil berusaha mendorong tubuhku. Dan benar saja, setelah Rara berkata seperti itu, tiba-tiba mama muncul dari arah dapur menuju teras. Namun, langkahnya terhenti, ketika berada di depan kamarku. “APA YANG KALIAN LAKUKAN!?” bentak mama. Seketika membuatku dan Rara bangun dan langsung duduk berdampingan. “Tidak ada, Tante,” sahut Rara. Sedangkan pandanganku menunduk. Sedikit pun, aku tidak berani menatap kedua mata mama yang sedang dipenuhi dengan emosi. Nanti malah ada barang-barang yang melayang di hadapanku. “KENAPA BERPELUKAN?” tanya mama dengan suara bentakannya. “Tidak ada, Tante. Kami hanya berpelukan sebagai teman.” Kali ini Rara lagi yang berani menjawab mama. Tiba-tiba mama pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Dari cara bercandaku tadi, membuat baju Rara sedikit tidak karuan. Tapi, tunggu! Aku melihat kulit bahunya ke belakang itu sedikit memerah. Karena penasaran, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Ini kenapa, Ra?” Salah satu jariku mulai menunjuk ke arah kulit yang berwarna merah itu. “Tidak apa-apa.” Rara langsung membenarkan bajunya, alhasil warna merah dikulitnya itu sudah tertutup dengan bajunya. “Kalau ada apa-apa, cerita ya!” saranku, lalu pergi keluar kamar. Entah ke mana yang kutuju, tapi rasanya memang pengin pergi dari dia. Bukan apa sih, tapi kasihan saja jika, mentalnya hancur ditambah tubuhnya penuh dengan luka. Luar dalam Rara, rasanya tidak sedang baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa sampai melukai perasaan dan fisiknya? Aku enggak habis pikir, kenapa ada saja orang tua yang berani melukai mental dan fisik anaknya? Padahal anaknya sudah tumbuh besar bahkan anak itu sampai pengin hidup semandiri mungkin, tapi rasanya mustahil jika anak itu bisa mandiri. Bukan karena dia tidak mampu menghidupkan dirinya sendiri, tapi karena halangan orang tuanya. Jujur, aku sangat bersyukur mendapatkan keluarga seperti keluargaku saat ini. Kemudian, aku mulai duduk di tepian teras yang sudah ada tempat duduknya sendiri, yaitu pagar yang tidak terlalu kecil namun bisa dibuat tempat duduk, karena terbuat dari bata yang diplester. Tiba-tiba aku merasakan kedua tangan seseorang yang melingkar diperutku. Namun, hanya sebentar saja. Karena pemilik tangan itu langsung duduk di sampingku. “Neng ... Bolehkah aku tinggal di rumahmu? Aku janji tidak akan merepotkan keluargamu!” “Apa yang kamu katakan, Ra? Kehadiranmu di rumahku tidak akan merepotkan keluargaku,” sahutku sambil mengelus punggungnya. Raut wajahnya langsung menunjukkan bahwa ia sedang kesakitan saat aku mengelus punggungnya. Seketika aku langsung menjauhkan tanganku dari punggungnya. “Ada apa, Ra? Punggungmu sakit?” “Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya. Tapi, tatapan matanya tidak bisa membohongiku. “Tidak apa-apa, Ra. Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan semuanya padaku. Tapi percayalah! Aku akan selalu bersamamu, bahkan aku siap jadi keluh kesahmu,” ungkapku lalu mencubit salah satu pipi tembamnya, agar dia mulai tersenyum.  Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN