Dari cara bercandaku tadi, membuat baju Rara sedikit tidak karuan. Tapi, tunggu! Aku melihat kulit bahunya ke belakang itu sedikit memerah.
Karena penasaran, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Ini kenapa, Ra?” Salah satu jariku mulai menunjuk ke arah kulit yang berwarna merah itu.
“Tidak apa-apa.” Rara langsung membenarkan bajunya, alhasil warna merah dikulitnya itu sudah tertutup dengan bajunya.
“Kalau ada apa-apa, cerita ya!” saranku, lalu pergi keluar kamar.
Entah ke mana yang kutuju, tapi rasanya memang pengin pergi dari dia. Bukan apa sih, tapi kasihan saja jika, mentalnya hancur ditambah tubuhnya penuh dengan luka. Luar dalam Rara, rasanya tidak sedang baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa sampai melukai perasaan dan fisiknya?
Aku enggak habis pikir, kenapa ada saja orang tua yang berani melukai mental dan fisik anaknya? Padahal anaknya sudah tumbuh besar bahkan anak itu sampai pengin hidup semandiri mungkin, tapi rasanya mustahil jika anak itu bisa mandiri. Bukan karena dia tidak mampu menghidupkan dirinya sendiri, tapi karena halangan orang tuanya. Jujur, aku sangat bersyukur mendapatkan keluarga seperti keluargaku saat ini.
Kemudian, aku mulai duduk di tepian teras yang sudah ada tempat duduknya sendiri, yaitu pagar yang tidak terlalu kecil namun bisa dibuat tempat duduk, karena terbuat dari bata yang diplester.
Tiba-tiba aku merasakan kedua tangan seseorang yang melingkar diperutku. Namun, hanya sebentar saja. Karena pemilik tangan itu langsung duduk di sampingku.
“Neng ... Bolehkah aku tinggal di rumahmu? Aku janji tidak akan merepotkan keluargamu!”
“Apa yang kamu katakan, Ra? Kehadiranmu di rumahku tidak akan merepotkan keluargaku,” sahutku sambil mengelus punggungnya.
Raut wajahnya langsung menunjukkan bahwa ia sedang kesakitan saat aku mengelus punggungnya. Seketika aku langsung menjauhkan tanganku dari punggungnya.
“Ada apa, Ra? Punggungmu sakit?”
“Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya. Tapi, tatapan matanya tidak bisa membohongiku.
“Tidak apa-apa, Ra. Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan semuanya padaku. Tapi percayalah! Aku akan selalu bersamamu, bahkan aku siap jadi keluh kesahmu,” ungkapku lalu mencubit salah satu pipi tembamnya, agar dia mulai tersenyum.
*** *** *** ***
“Asal bersamamu, aku tidak merasakan sakit lagi.”
Aku langsung menatap wajahnya. Dia pun mulai tersenyum manis padaku.
“Oh ya. Aku menyelesaikan pekerjaanku dulu ya, Ra ... Nanti kita berangkat bareng, naik motorku,” pamitku ketika ingat tentang tugas yang kutinggalkan tadi.
Rara hanya mengangguk. Mungkin suasana hatinya sedang tidak membaik.
Mungkin dengan duduk sendirian dalam beberapa menit ke depan, suasana hatinya mulai membaik. Siapa tahu dia benar-benar membutuhkan waktu sendiri.
Aku langsung pergi setelah pamit darinya. Untung masih ingat dengan pekerjaanku, kalau tidak, nanti dianggap tidak amanah. Lagi pula sekarang masih sangat pagi, jadi masih ada waktulah untuk mengerjakan dengan sedikit santai.
Saat tiba di dalam kamarku, bukannya fokus pada soal-soal mereka, aku malah memikirkan tentang orang-orang yang tidak beruntung dalam hidupnya. Kata “Tidak beruntung” yang kumaksudkan di sini itu, bukan tentang hidup serba ada atau selalu tersenyum. Tapi, yang kumaksudkan di sini itu tentang proses dibalik semua kebahagiaan. Makna bahagia juga bukan tentang ke sana ke mari dengan senyum lebar atau bahkan bisa beli sesuatu yang kita mau. Ada orang yang selalu bisa menyenangkan hidupnya dengan membeli semua keinginannya, tapi setelah itu, apakah mereka bahagia di rumahnya, saat sendiri? Apakah mereka akan selalu bahagia dengan cara begitu?
Jujur, yang kumaksudkan semuanya itu adalah makna sebuah keluarga utuh dan selalu mementingkan kebahagiaan anaknya. Aku belajar dari pengalaman beberapa orang yang kukenal dalam hidupku. Kebahagiaan yang sebenarnya itu tidak bisa dicari dengan usaha kita, melainkan kebahagiaan itu sendiri ada di sekitar kita. Sebuah dukungan, semangat, sapaan, dan candaan dari keluargalah yang mampu mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sebenarnya.
Aku termasuk orang yang sangat beruntung, karena keluargaku sendiri selalu mendukung setiap usaha dan pekerjaanku, mereka selalu ada untukku, dan yang paling penting, mereka tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku.
“Hayooo ... Melamuni siapa nih?”
Aku langsung menoleh ke pintu. “Ihhh ... Bikin kaget saja, Mas ini. Jangan gitu, ah!” rengekku setelah sedikit kaget.
Dia tertawa puas sambil menjauh dari kamarku. Sudah menjadi kebiasaan, dia selalu datang di saat yang tidak tepat, padahal aku sedang asyik melamun. Untung belum ada barang yang melayang.
“Ayo, lebih fokus lagi!” gumamku sambil melihat layar laptop.
...
Beberapa menit setelah fokus dengan satu soal, akhirnya aku bisa menyelesaikan tugas mereka sebelum jam sembilan. Masih ada sisa satu jam lagi. Dari pada kelamaan di laptopku, mending langsung kukirim.
Aku selalu hapus file-nya setelah tiga hari dari waktu aku mengirimnya, takutnya nanti file-nya suruh kirim lagi, sedangkan aku sudah tidak punya cadangannya, ya mending nunggu kabar dari pemilik tugas. Dan aku selalu mengingatkan bahwa tiga hari setelahnya, semua file akan aku hapus. Mereka juga setuju, bahkan selama beberapa bulan terakhir ini tidak ada yang meminta file untuk kedua kalinya, jadi bisa tenang diriku. Laptop juga bisa bernapas lega tanpa beban file yang menumpuk. Tapi, ada beberapa file yang kujadikan promosi, biar memikat pelanggan.
Setelah selesai, aku meletakkan laptopku di atas meja belajar yang tak jauh dari jendela. Tak lupa juga aku menutup jendelaku dengan rapat dan selalu kukunci. Karena kita tidak tahu, kapan bahaya mengancam pada diri kita. Setidaknya kita mencegah dulu, meskipun nanti bakalan dibobol oleh maling yang handal, tapi tidak apa-apa, di tempatku jarang ada maling. Kalau pun ada, pasti cepat tertangkapnya.
Aku langsung keluar kamar. Namun, saat kakiku baru menginjak lantai yang ada diambang pintu, tanpa sengaja aku bertabrakan dengan Rara yang tiba-tiba membuatku cengengesan.
“Astaga, Ra ... Bisa tidak, kamu bersuara sedikit? Sakit nih!” protesku sambil mengelus jidatku.
Rara juga terlihat sedang kesakitan pada dahinya. Padahal dia yang salah. Huh ... Tapi tidak tega jika melihat Rara yang sedang kesakitan. Karena rasa peduli yang sangat tinggi, aku langsung mengusap dahinya dengan pelan. Kebetulan tinggi kami sama.
“Masih sakit, Ra?” tanyaku yang tanpa sengaja saling bertatapan.
Lalu, Rara menganggukkan kepalanya dengan tatapan sayu.
Karena melihat ekspresi Rara saat ini, aku jadi tidak tega. Akhirnya aku membawa dia masuk ke kamarku yang sudah gelap. Paling hanya ada sedikit cahaya dari celah jendela kayu yang kurang rapat.
Setelah mendudukkan Rara pada ranjangku, aku langsung berdiri dan pamit padanya.
“Bentar ya, Ra. Sepertinya kamu butuh yang dingin-dingin.”
“Jangan pergi!” Dia menahan lengan kananku.
“Kenapa?” tanyaku sambil menautkan dua alisku.
“Aku takut gelap.”
Astaga, rasanya pengin tertawa saat mendengar kalimat terakhir yang dia ucapkan barusan, tapi aku berusaha diam sambil menyalakan lampu kamarku.
“Sudah terang sekarang kan?”
Rara hanya mengangguk dengan tatapan berkaca-kaca.
Ya Allah, kenapa lagi nih anak? Padahal sudah sangat terang sekarang, soalnya pakai dua lampu yang berwarna putih. Dan ada beberapa lampu kecil yang digunakan untuk hiasan saja. Tapi, nyatanya Rara masih berkaca-kaca. Aku juga tidak asal meninggalkan dia sendirian. Karena tidak tega lagi, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di sampingnya sambil menatap pintu kamarku yang terbuka.
Tak lama kemudian, bahuku mulai terasa berat. Saat kutoleh, kepala Rara sudah bersandar di bahuku. Kupikir siapa. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara Rara yang sedang menyedot ingusnya dengan hidungnya.
“Kamu kenapa?” tanyaku tanpa berani menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba kepalanya mulai bangkit. “Kemarin malam, aku dipukul habis-habisan, gara-gara aku pulang sore. Ditambah, kemarin malam aku menjatuhkan vas bunga kesayangan mama. Dengan sadisnya, mereka mengeroyokku. Untung tidak mengenai wajahku,” ungkapnya dengan tatapan sayu.
Yang kulihat dari bola matanya, bahwa dia sedang berkata jujur padaku. Ada rasa bahagia tersendiri dalam bola matanya. Mungkin karena sudah mengeluarkan unek-uneknya yang sudah lama ia tahan. Yang kurasakan saat ini, bukan rasa kasihan, tapi malah ikut merasakan sakit itu.
Aku langsung memeluk tubuhnya, sambil menenangkan pikiran dan perasaannya. Karena kurang beberapa menit lagi, kami akan bekerja, masak dia bekerja dalam keadaan seperti ini.
“Mau kuobati, Ra? Biar lukanya tidak parah,” aku menawarkan diri ketika dia mulai sedikit tenang.
Perlahan, dia mulai melepaskan pelukannya. Lalu, dia mengangguk di hadapanku.
Setelah mengangguk, dia langsung mengubah posisinya. Dari semula yang berhadapan, dan saat ini malah membelakangiku.
“Permisi, kubuka ya, Ra?”
“Iya.”
Kedua mataku langsung melotot saat setengah dari pakaiannya mulai tersingkap ke atas. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Makanya, Rara hari ini memakai kemeja hitam. Kupikir kenapa kok serba hitam, ternyata ini alasannya.
“Ya Allah, Ra ... Kenapa kamu sekuat ini?” bulir-bulir air mataku sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Hehe, Iya.”
Aku semakin tak kuat menahan tangisku, ketika mendengar jawaban Rara yang masih bisa ketawa-ketawa. Padahal tadi, waktu pertama kali datang, tanpa sengaja lengan mama menyentuh punggungnya.
Sumpah, aku tidak kuat melihat lukanya yang masih basah. Cairan kental berwarna merah pekat itu masih mengalir dari punggungnya yang kehilangan beberapa dagingnya. Bagaimana aku bisa mengobati luka yang seperti ini?
Aku langsung menutup kembali punggungnya. Dan memutar bahunya agar kembali menghadap ke arahku.
“Ra, kamu di rumahku saja dulu. Jangan bekerja dulu! Masalah makan dan keperluan lainnya, tidak perlu khawatir, nanti akan kubelikan yang baru,” perintahku sambil mengusap pipiku yang basah.
Rara langsung menggenggam kedua tanganku sambil terus menggeleng. “Tidak, Neng. Aku masih kuat untuk kerja! Paling nanti malam juga bakalan pulang,” sahut Rara sambil sedikit memohon padaku.
“RA! AKU TIDAK INGIN KAMU KENAPA-KENAPA,” tanpa sengaja aku membentak Rara.
Aku langsung menyadari kesalahanku. “Maafkan aku, Ra. Aku tidak bermak—“
“Tidak apa-apa. Aku memang dilahirkan hanya untuk mendengarkan bentakkan dan pukulan,” dia memotong perkataanku dengan tatapan menunduk.
Aku langsung memeluk tubuhnya lagi. “Maafkan aku, Ra. Aku sayang sama kamu, dan aku sudah menganggapmu sebagai saudara kandungku. Jadi, jangan berpikiran seperti itu,” bujukku.
Namun semua bujuk kan ku sia-sia. Dia melepaskan pelukanku dan memilih untuk keluar dari kamarku.
“Ra ....”
Bersambung ...