KEMARAHAN RARA MEMBAWAKU PADA BOS RAMAH

1086 Kata
Kedua mataku langsung melotot saat setengah dari pakaiannya mulai tersingkap ke atas. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Makanya, Rara hari ini memakai kemeja hitam. Kupikir kenapa kok serba hitam, ternyata ini alasannya. “Ya Allah, Ra ... Kenapa kamu sekuat ini?” bulir-bulir air mataku sudah tidak bisa ditahan lagi. “Hehe, Iya.” Aku semakin tak kuat menahan tangisku, ketika mendengar jawaban Rara yang masih bisa ketawa-ketawa. Padahal tadi, waktu pertama kali datang, tanpa sengaja lengan mama menyentuh punggungnya. Sumpah, aku tidak kuat melihat lukanya yang masih basah. Cairan kental berwarna merah pekat itu masih mengalir dari punggungnya yang kehilangan beberapa dagingnya. Bagaimana aku bisa mengobati luka yang seperti ini? Aku langsung menutup kembali punggungnya. Dan memutar bahunya agar kembali menghadap ke arahku. “Ra, kamu di rumahku saja dulu. Jangan bekerja dulu! Masalah makan dan keperluan lainnya, tidak perlu khawatir, nanti akan kubelikan yang baru,” perintahku sambil mengusap pipiku yang basah. Rara langsung menggenggam kedua tanganku sambil terus menggeleng. “Tidak, Neng. Aku masih kuat untuk kerja! Paling nanti malam juga bakalan pulang,” sahut Rara sambil sedikit memohon padaku. “RA! AKU TIDAK INGIN KAMU KENAPA-KENAPA,” tanpa sengaja aku membentak Rara. Aku langsung menyadari kesalahanku. “Maafkan aku, Ra. Aku tidak bermak—“ “Tidak apa-apa. Aku memang dilahirkan hanya untuk mendengarkan bentakkan dan pukulan,” dia memotong perkataanku dengan tatapan menunduk. Aku langsung memeluk tubuhnya lagi. “Maafkan aku, Ra. Aku sayang sama kamu, dan aku sudah menganggapmu sebagai saudara kandungku. Jadi, jangan berpikiran seperti itu,” bujukku. Namun semua bujuk kan ku sia-sia. Dia melepaskan pelukanku dan memilih untuk keluar dari kamarku. “Ra ....” *** *** *** *** Aku segera membereskan beberapa barang yang kupakai untuk bekerja. Mulai dari bolpoin, buku kecil, dan beberapa alat lainnya, dan langsung memasukkan ke dalam salah satu tas kesayanganku. Setelah memasukkan barang dengan terburu-buru, kedua kakiku sudah siap melangkah keluar kamar, dan tak lupa berpamitan pada keluarga dengan cara berteriak. “Mah ... Pah ... Aku berangkat dulu!” Kedua kaki terus melangkah tanpa berhenti, sampai telingaku tidak mendengarkan suara mama dan ayah. Saat kedua mataku melihat Rara yang sedang duduk melamun di tepian teras, aku langsung menepuk pundak dan mengejutkan Rara yang sedang mematung. “Ayo, Ra!” Kutinggalkan Rara agar aku bisa mengeluarkan sepeda motorku dari teras rumah. “Ayo naik, Ra! Sudah hampir jam sembilan, loh!” ajakku tepat di depannya. Tanpa berkata apa pun, Rara langsung berdiri dari posisi duduknya dan mendekati jok belakang motorku. Kali ini, aku melewati jalan yang menuju sawah, karena tidak mungkin jika harus melewati jalan sempit, apalagi terlihat tidak sopan jika ada orang yang sedang duduk diambang pintu dapurnya. Sering kali, pemilik dua rumah itu sering duduk diambang pintu, hanya sekedar untuk saling berbincang atau kadang mengaso kan dirinya setelah menyelesaikan tugasnya di dapur. Jadi, mau tidak mau, aku harus lewat jalan yang mau ke arah sawah paman. Sebelum sampai sawahnya, nanti ada jalan untuk putar balik. Dan kebetulan, arah mal-nya itu kebalikan dengan jalan yang kulewati (yang kulewati saat ini itu kanan jalan jika dari rumah, sedangkan kalau ke mal harus ke arah samping kiri dari rumahku). Untungnya, semua tugasku selesai sebelum berangkat, jadi sedikit agak santai berangkatnya. Lagi pula, jarak yang ditempuh dari rumah sampai mal, menurutku tidak terlalu jauh. Dan anehnya, kenapa Rara ke rumah? Padahal dia harus melewati mal tempat kerjanya. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku jadi mengurusi hidupnya Rara? Kalau sudah menyangkut perasaan dan mental, tidak peduli apa yang bakalan dia lewati untuk menenangkan pikirannya. Ya, seperti Rara ini contohnya. ... Di tengah perjalanan, tiba-tiba Rara memelukku dengan melingkarkan kedua tangannya pada perutku yang rata. Ahh ... Kenapa rasanya aneh begini? Kenapa detak jantungku semakin cepat? Kenapa saat ini aku sedikit gerogi? Padahal, ini hanya pelukan sesama sahabat. Tidak mungkin juga, jika aku menyukai sesama jenis. “Ra ...!” “Hem?” “Bisa tolong lepaskan tanganmu dari perutku?” tanyaku sedikit terpaksa. “kamu tidak suka ya, jika aku memelukmu?” sahut Rara dengan lirih. “Tidak. Bukan itu maksudku! Aku hanya merasa geli saja, jadi takut mengganggu konsentrasiku,” jelasku berbohong padanya. Aku terpaksa melakukan ini padanya. Bukan apa-apa, tapi sungguh, aku takut jika aku mulai jatuh cinta padanya. Kalau sampai aku jatuh cinta pada sesama jenis, berarti diriku mulai tidak normal. Tak lama kemudian, Rara mulai menjauhkan dirinya saat duduk di atas motor. Seperti sedang memberi jarak antara aku dengannya. Padahal niatku bukan seperti itu. Tapi ... Ah, sudahlah! Aku tidak ingin persahabatan ini bubar, hanya karena sebuah perasaan yang tidak normal. ... Setelah menghabiskan waktu beberapa menit di perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat parkir bawah tanah milik mal ini. Mal ini terlihat masih sangat sepi. Hanya ada beberapa karyawan dan satpam saja yang datang terlebih dahulu untuk membenarkan barang-barang dagangannya lagi. Mulai dari menatap beberapa barang, sampai ada yang masih membersihkan lapaknya sendiri, bahkan terlihat sangat kinclong karena ada beberapa pantulan lampu dari langit-langit mal. Di lapak tempat kerjaku, sudah ada pemilik toko yang sudah duduk di depan tokonya yang masih tutup. Padahal, dia sudah punya kuncinya, kenapa masih menunggu di luar seperti ini? Tidak jauh dari toko, aku melihat atasanku yang tanpa sengaja menoleh ke arahku. Dia pun langsung berdiri dan terlihat sangat ramah. “Eh, kalian sudah datang?” tanya atasanku yang hanya sekedar basa-basi saja. Aku langsung tersenyum dan sedikit mengangguk. “Baiklah. Mari ikuti saya!” Aku dan Rara langsung mengikuti atasanku, meskipun sering tertinggal jauh. Kalau dari luar toko, kelihatannya toko ini lebih kecil dari biasanya, tapi ternyata, di belakang kios, ada bagian tempat yang lumayan besar. Soalnya aku dan Rara belum sampai juga di tempat tujuan, malah sedikit bingung karena dibawa menelusuri bagian belakang toko ini. Oh ya, toko ini juga menyediakan mess (tempat tinggal) bagi orang yang punya rumah cukup jauh dari sini. Makanya, kenapa tempat ini besar, ya karena jadi tempat bagi yang jauh, agar tidak repot-repot memikirkan tentang kendaraannya. Tiba-tiba atasanku berhenti dengan posisi badan mengarah padaku. “Nah, siapa saja yang datang terlebih dahulu, merekalah yang akan menyalakan mesin alarmnya. Takutnya ada kejadian yang tidak diinginkan, jadi kita tinggal tekan tombol merah dekat kasir,” jelasnya dengan tangan yang ikut menjelaskan juga. “Selamat pagi, Bos.” Mendengar suara sapaan seperti itu, aku langsung menoleh ke belakang. Terlihat oleh dua mataku, ada dua orang wanita yang sedang berjalan lurus arah tangan kananku, dengan punggung sedikit membungkuk. “Sudah biasa. Anak-anak selalu seperti itu walaupun tidak ada atasannya,” jelasnya lagi tanpa diminta. Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN