HARI PERTAMA KERJA

1073 Kata
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit di perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat parkir bawah tanah milik mal ini. Mal ini terlihat masih sangat sepi. Hanya ada beberapa karyawan dan satpam saja yang datang terlebih dahulu untuk membenarkan barang-barang dagangannya lagi. Mulai dari menatap beberapa barang, sampai ada yang masih membersihkan lapaknya sendiri, bahkan terlihat sangat kinclong karena ada beberapa pantulan lampu dari langit-langit mal. Di lapak tempat kerjaku, sudah ada pemilik toko yang sudah duduk di depan tokonya yang masih tutup. Padahal, dia sudah punya kuncinya, kenapa masih menunggu di luar seperti ini? Tidak jauh dari toko, aku melihat atasanku yang tanpa sengaja menoleh ke arahku. Dia pun langsung berdiri dan terlihat sangat ramah. “Eh, kalian sudah datang?” tanya atasanku yang hanya sekedar basa-basi saja. Aku langsung tersenyum dan sedikit mengangguk. “Baiklah. Mari ikuti saya!” Aku dan Rara langsung mengikuti atasanku, meskipun sering tertinggal jauh. Kalau dari luar toko, kelihatannya toko ini lebih kecil dari biasanya, tapi ternyata, di belakang kios, ada bagian tempat yang lumayan besar. Soalnya aku dan Rara belum sampai juga di tempat tujuan, malah sedikit bingung karena dibawa menelusuri bagian belakang toko ini. Oh ya, toko ini juga menyediakan mess (tempat tinggal) bagi orang yang punya rumah cukup jauh dari sini. Makanya, kenapa tempat ini besar, ya karena jadi tempat bagi yang jauh, agar tidak repot-repot memikirkan tentang kendaraannya. Tiba-tiba atasanku berhenti dengan posisi badan mengarah padaku. “Nah, siapa saja yang datang terlebih dahulu, merekalah yang akan menyalakan mesin alarmnya. Takutnya ada kejadian yang tidak diinginkan, jadi kita tinggal tekan tombol merah dekat kasir,” jelasnya dengan tangan yang ikut menjelaskan juga. “Selamat pagi, Bos.” Mendengar suara sapaan seperti itu, aku langsung menoleh ke belakang. Terlihat oleh dua mataku, ada dua orang wanita yang sedang berjalan lurus arah tangan kananku, dengan punggung sedikit membungkuk. “Sudah biasa. Anak-anak selalu seperti itu walaupun tidak ada atasannya,” jelasnya lagi tanpa diminta. *** *** *** *** “Ya sudah yuk! Kalian urus saja selebihnya, karena aku sebentar lagi ada meeting. Jadi, kalau nanti butuh bantuan karena ada yang belum kalian ketahui, maka minta bantuan saja pada kepala toko di sini,” ucapnya. Kupikir dia adalah kepala toko di sini, tapi ternyata jabatannya lebih tinggi dari kepala toko. Padahal aku sudah bahagia kalau mendapatkan atasan seperti ini. Ya, aku tahu kalau dia juga atasanku, tapi sepertinya dia yang mengatur kepala toko nantinya. Dan bagian yang mengurusku nanti ya kepala toko di sini. Aku belum tahu kepala tokonya yang mana. “Maaf, Bos. Ke mana kepala tokonya?” sambung Rara ketika aku sedikit melamun. “Oh ... Sudah kuduga, kalian akan bertanya seperti ini. Dia sudah izin ke saya, kalau ada urusan sebentar, jadi datangnya agak siang nanti,” jawabnya sambil membawa kami kembali ke toko. Aku dan Rara hanya mengangguk saja sambil mendengar perkataannya. Mau bertanya, tapi bingung mau tanya apa. Ya seperti inilah jika masih baru. Sebelum pergi, dia menyuruh aku dan Rara untuk selalu mengecek buku catatan hitungan kemarin. Dia juga menyuruh kami untuk mengikuti beberapa tulisan dibuku itu, seperti nama, tanggal, dan tanda tangan. Jadi, katanya setiap yang bertugas harus tanda tangan sebagai bukti tanggung jawab saat bekerja. “Sudah mengerti semua kan?” tanyanya dengan berdiri santai. Yap, dia selalu terlihat santai dan ramah, tapi tegas juga. “Iya, Pak. Mengerti,” sahutku serentak dengan Rara. Kemudian pria itu pergi tanpa memberitahukan namanya padaku dan juga pada Rara. Bagaimana aku bisa tahu, kalau dia belum menyebutkan namanya? Diriku juga bodoh karena tidak menanyakan nama padanya, padahal dia sudah bersikap terbuka pada karyawannya. Selepas kepergiannya, aku dan Rara langsung membersihkan toko, menata beberapa barang. Aku juga menghitung kembali barang-barang yang ada di toko untuk menyesuaikan catatan yang ada di buku. “Pagi ....” Aku langsung menoleh setelah mendengar suara sapaan dari belakangku. “Pagi juga. Shift pagi juga, Mbak?” tanyaku ketika melihat dua wanita sedang berdiri di belakangku dengan memakai seragam kerja yang sempat kulihat kemarin. Beda lagi denganku dan Rara, belum mendapatkan seragam kerja. Mungkin nunggu beberapa hari lagi, baru mendapatkan seragam kerja. “Iya, Kebetulan dapat jadwal pagi ini,” jawab salah satu wanita itu. “Oh, begitu ya. Ayo gabung sini!” ajakku saat melihat mereka yang hanya terdiam. Akhirnya kami saling berkenalan satu sama lain. Untung dapat teman kerja yang baik, jadi lebih semangat saat bekerja. Waktu kerja juga tidak terasa, tiba-tiba sudah hampir jam istirahat. Ditambah, toko masih sangat ramai. Rasanya belum sangat lapar kalau melihat toko ramai. Andai aku pemilik toko ini, pasti sudah sangat kaya dan tidak perlu bekerja lagi. Tugasku juga makin dikit, hanya mengatur karyawan dan menggaji mereka. Tapi, semua itu hanya perandaian saja. Tiba-tiba aku mendengar suara seorang pria yang menyapa karyawan toko ini termasuk diriku. Tapi, aku tetap menyibukkan diriku dengan pelanggan lainnya. “Bagaimana anak-anak?” “Ya begini, Pak,” jawab dua wanita yang sudah lama bekerja di sini. “Mana karyawan baru?” “Itu, Pak, lagi melayani pelanggan toko ini.” Setelah beberapa menit terdiam, dengan sadar ada yang memegang pundakku. Wajahku langsung menoleh ke belakang. “Kamu karyawan baru ya?” tanyanya dengan tatapan sedikit sinis. “Iya, ada apa, Pak?” aku balik bertanya. “Tidak. Bagaimana pekerjaannya? Enak?” tanyanya lagi. “Enak, Pak. Jadi betah kerja di sini,” jawabku dengan senyum. “Syukurlah kalau begitu.” Aku hanya mengangguk. Lalu, dia pergi tanpa berkata apa pun lagi. Saat kuperhatikan, ternyata laki-laki itu menghampiri Rara yang tak jauh dariku. Sudah bisa ditebak, pasti pria itu menanyakan hal yang sama. Paling pria itu adalah kepala toko di sini. Makanya bisa kenal dengan aku dan Rara. “Dia kepala toko di sini,” ucap Dina yang membuatku langsung menoleh ke arahnya. “Oh, kirain siapa. Ke mana Lala?” Kedua mataku terus mencari keberadaan Lala di samping dan belakang Dina. “Itu, lagi ke mobil kepala toko. Katanya bawa makan siang buat karyawan di sini,” jawab Dina sambil membantuku membereskan beberapa barang. Karena beberapa pelanggan juga sudah mulai berkurang. Tinggal menunggu beberapa lagi. Sedangkan Rara masih berbincang dengan kepala toko. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang penting. Bahkan seperti sebuah rahasia. Entah apa yang dia sembunyikan dariku. Tapi, apa hakku untuk mengetahui semua tentang Rara. Apalagi aku dan Rara hanya seorang sahabat yang baru saja saling mengenal. Mengenal Rara saja rasanya sudah sangat bahagia, apalagi bisa seakrab sekarang. Bukan karena harta kekayaan keluarganya, tapi memang ada aura yang berbeda dari wajah Rara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN