Andai aku pemilik toko ini, pasti sudah sangat kaya dan tidak perlu bekerja lagi. Tugasku juga makin dikit, hanya mengatur karyawan dan menggaji mereka. Tapi, semua itu hanya perandaian saja.
Tiba-tiba aku mendengar suara seorang pria yang menyapa karyawan toko ini termasuk diriku. Tapi, aku tetap menyibukkan diriku dengan pelanggan lainnya.
“Bagaimana anak-anak?”
“Ya begini, Pak,” jawab dua wanita yang sudah lama bekerja di sini.
“Mana karyawan baru?”
“Itu, Pak, lagi melayani pelanggan toko ini.”
Setelah beberapa menit terdiam, dengan sadar ada yang memegang pundakku. Wajahku langsung menoleh ke belakang.
“Kamu karyawan baru ya?” tanyanya dengan tatapan sedikit sinis.
“Iya, ada apa, Pak?” aku balik bertanya.
“Tidak. Bagaimana pekerjaannya? Enak?” tanyanya lagi.
“Enak, Pak. Jadi betah kerja di sini,” jawabku dengan senyum.
“Syukurlah kalau begitu.”
Aku hanya mengangguk. Lalu, dia pergi tanpa berkata apa pun lagi. Saat kuperhatikan, ternyata laki-laki itu menghampiri Rara yang tak jauh dariku.
Sudah bisa ditebak, pasti pria itu menanyakan hal yang sama. Paling pria itu adalah kepala toko di sini. Makanya bisa kenal dengan aku dan Rara.
“Dia kepala toko di sini,” ucap Dina yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.
“Oh, kirain siapa. Ke mana Lala?” Kedua mataku terus mencari keberadaan Lala di samping dan belakang Dina.
“Itu, lagi ke mobil kepala toko. Katanya bawa makan siang buat karyawan di sini,” jawab Dina sambil membantuku membereskan beberapa barang.
Karena beberapa pelanggan juga sudah mulai berkurang. Tinggal menunggu beberapa lagi. Sedangkan Rara masih berbincang dengan kepala toko. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang penting. Bahkan seperti sebuah rahasia.
Entah apa yang dia sembunyikan dariku. Tapi, apa hakku untuk mengetahui semua tentang Rara. Apalagi aku dan Rara hanya seorang sahabat yang baru saja saling mengenal. Mengenal Rara saja rasanya sudah sangat bahagia, apalagi bisa seakrab sekarang. Bukan karena harta kekayaan keluarganya, tapi memang ada aura yang berbeda dari wajah Rara.
*** *** ***
Lala datang sambil membawa kantong kresek tanggung yang berisi empat kotak nasi.
“Kalian makan siang dulu, biar saya yang akan jaga tokonya,” tawar kepala toko.
“Baik, Pak. Terima kasih,” sahut Dina. Lalu, langsung masuk ke bagian belakang toko.
Aku dan Rara mengikuti Dina dan Lala yang mengawali makan siangnya. Karena aku benar-benar masih baru di sini, jadi hanya bisa mengikuti terlebih dahulu. Kupikir istirahatnya bakal gantian satu persatu, ternyata disuruh bareng. Lumayan baik sih, meskipun kelihatannya seperti judes-judes bagaimana gitu. Ya, namanya juga jabatannya di atas karyawan, pasti ada rasa sombongnya sedikit.
Yang penting hari ini, atasanku pada baik semua. Makan siang sudah ada jatahnya sendiri. Padahal aku sudah nyiapain uang buat makan siang pas jam istirahat. Tapi, enggak tahunya sudah disediain. Terbesit di pikiranku untuk menanyakan perihal makan siang pada saat jam istirahat.
“Din ... Tiap hari bakal dapat nasi dari kepala toko?” tanyaku sebelum membuka kotak nasiku.
Seketika Dina langsung mendongakkan kepalanya sambil mengunyah makanannya. “Tidak. Kita yang harus beli sendiri,” jawabnya dengan terburu-buru.
“Oh ... Lanjutkan makanmu, Din. Terima kasih,” pungkasku.
Lalu, Dina melanjutkan untuk menyantap makanannya. Aku pun ikut melanjutkan membuka kotak nasiku dan perlahan ikut menyantap nasi kotak yang sudah dibagikan.
Bentar, kenapa lauknya sangat mewah begini? Maksudku, kenapa lauknya pakai daging sapi? Dan camilannya kentang goreng dan buah? Apa enggak tekor kepala tokonya? Tapi kalau dilihat dari Dina dan Lala, seperti biasa saja. Apa memang seperti ini kepala tokonya? Ah, sudahlah! Yang terpenting uang sakuku hari ini masih utuh sampai nanti.
“Apa enggak salah nih?” tanya Rara sambil makan kentang goreng satu persatu.
“Ada apa, Ra?” tanyaku balik sambil mengernyitkan keningku.
“Kita itu seperti karyawan eksklusif saja. Makan siangnya pakai daging, dan camilannya pakai buah dan kentang goreng, apa ya enggak tekor ini atasannya?” jelas Rara sambil terus makan kentang gorengnya tanpa menyentuh nasi kotaknya sama sekali.
“Sudahlah, makan saja. Mumpung kepala tokonya baik saat ini. Kapan lagi dapat makan siang seperti ini?” sambung Dina sambil tetap fokus dengan makanannya.
Kupikir sering diberi makanan seperti ini, ternyata aji mumpung toh. Bisa-bisanya Dina dan Lala diam-diam menikmati menu makan siang ini, tanpa berkata apa pun, padahal juga jarang-jarang dapat menu seperti ini.
Akhirnya aku melanjutkan makan siangku tanpa menghiraukan siapa pun lagi, mumpung sisa waktu istirahatnya masih banyak.
...
Setelah beberapa menit bergulat dengan makananku, akhirnya selesai juga dengan hanya menghabiskan waktu lima belas menit saja, tapi itu belum makan buah dan juga kentang gorengnya.
Tiba-tiba pria yang kukenal sebagai kepala toko di sini, menghampiri kami berempat, dan ikut duduk di samping Rara.
“Bagaimana makanannya, enak?” tanyanya.
Spontan membuatku mengangguk.
“Enak, Pak,” sahut Dina dan Lala serentak.
Kemudian, suasana menjadi hening sebentar, membuatku berpikir keras. Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Tapi jujur, saat hening seperti ini membuatku lebih berpikir dibanding melamun sendirian. Kalau melamun sih, lebih memikirkan tentang kekasihku. Kan, kebanyakan orang kalau sedang mengalami suasana hening, mereka lebih sering melamun ketimbang berpikir.
Belum juga selesai melamun, tiba-tiba Rara mengajak kepala toko ke belakang toko. Membuatku sedikit curiga. Apa jangan-jangan, mereka ini saudara atau sepasang kekasih. Tapi, kalau saudara, wajahnya tidak terlalu persis. Apa mungkin mereka sepasang kekasih? Saking penasaran, aku mengikuti mereka ke belakang, dengan jarak beberapa meter saja.
“Tolong ya! Mereka jangan sampai tahu tentang aku yang sebenarnya!” ucap Rara dengan tegas.
“Baik, Nona. Semua bisa kuatur,” sahut kepala toko sambil sedikit membungkukkan badannya.
Bentar, aku ini enggak salah lihat kan? Apa aku saja yang mengetahui ini? Jangan bilang, kalau pemilik toko ini adalah Rara sendiri? Ah, bikin kepalaku makin pusing saja rasanya.
Sudahlah! Itu tidak penting. Mending aku makan kentang goreng dan buahnya, ketimbang mendengarkan percakapan mereka berdua yang tidak terlalu penting. Mau jadi bos kek, atau karyawan kek, itu sudah jadi pilihan hidup Rara. Aku bisa apa? Kalau pun nanti ketahuan, ya tidak apa-apa, toh sudah jadi pilihan hidup Rara.
Setibanya di tempat makan tadi, Dina dan Lala langsung menatapku.
“Kamu ke mana sih?” tanya Dina dengan santai sambil menyantap kentang gorengnya.
“Biasa, aku ke toilet sebentar. Mau beli es?” tawarku dengan tetap berdiri tak jauh dari mereka.
“Boleh. Yuk, aku ikut! Biar Dina saja yang jaga toko,” sahut Lala yang sigap berdiri, lalu menggandeng lengan kananku.
“Loh, curang ini!” protes Dina.
“Gantian dong, Din! Kapan lagi aku ikut karyawan baru keluar toko?” kata Lala mulai memperebutkan diriku.
“Iyadeh. Jangan lama-lama!” sahut Dina pasrah.
“Oke. Yuk, kita jalan sekarang!”
“Yuk!” Aku mulai melangkah perlahan.
Kedua kaki kami mulai keluar dari perbatasan toko. Entah, mau beli es apa. Jadi bingung rasanya kalau ada banyak macam minuman boba.
Bersambung ...