Kupikir sering diberi makanan seperti ini, ternyata aji mumpung toh. Bisa-bisanya Dina dan Lala diam-diam menikmati menu makan siang ini, tanpa berkata apa pun, padahal juga jarang-jarang dapat menu seperti ini.
Akhirnya aku melanjutkan makan siangku tanpa menghiraukan siapa pun lagi, mumpung sisa waktu istirahatnya masih banyak.
...
Setelah beberapa menit bergulat dengan makananku, akhirnya selesai juga dengan hanya menghabiskan waktu lima belas menit saja, tapi itu belum makan buah dan juga kentang gorengnya.
Tiba-tiba pria yang kukenal sebagai kepala toko di sini, menghampiri kami berempat, dan ikut duduk di samping Rara.
“Bagaimana makanannya, enak?” tanyanya.
Spontan membuatku mengangguk.
“Enak, Pak,” sahut Dina dan Lala serentak.
Kemudian, suasana menjadi hening sebentar, membuatku berpikir keras. Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Tapi jujur, saat hening seperti ini membuatku lebih berpikir dibanding melamun sendirian. Kalau melamun sih, lebih memikirkan tentang kekasihku. Kan, kebanyakan orang kalau sedang mengalami suasana hening, mereka lebih sering melamun ketimbang berpikir.
Belum juga selesai melamun, tiba-tiba Rara mengajak kepala toko ke belakang toko. Membuatku sedikit curiga. Apa jangan-jangan, mereka ini saudara atau sepasang kekasih. Tapi, kalau saudara, wajahnya tidak terlalu persis. Apa mungkin mereka sepasang kekasih? Saking penasaran, aku mengikuti mereka ke belakang, dengan jarak beberapa meter saja.
“Tolong ya! Mereka jangan sampai tahu tentang aku yang sebenarnya!” ucap Rara dengan tegas.
“Baik, Nona. Semua bisa kuatur,” sahut kepala toko sambil sedikit membungkukkan badannya.
Bentar, aku ini enggak salah lihat kan? Apa aku saja yang mengetahui ini? Jangan bilang, kalau pemilik toko ini adalah Rara sendiri? Ah, bikin kepalaku makin pusing saja rasanya.
Sudahlah! Itu tidak penting. Mending aku makan kentang goreng dan buahnya, ketimbang mendengarkan percakapan mereka berdua yang tidak terlalu penting. Mau jadi bos kek, atau karyawan kek, itu sudah jadi pilihan hidup Rara. Aku bisa apa? Kalau pun nanti ketahuan, ya tidak apa-apa, toh sudah jadi pilihan hidup Rara.
Setibanya di tempat makan tadi, Dina dan Lala langsung menatapku.
“Kamu ke mana sih?” tanya Dina dengan santai sambil menyantap kentang gorengnya.
“Biasa, aku ke toilet sebentar. Mau beli es?” tawarku dengan tetap berdiri tak jauh dari mereka.
“Boleh. Yuk, aku ikut! Biar Dina saja yang jaga toko,” sahut Lala yang sigap berdiri, lalu menggandeng lengan kananku.
“Loh, curang ini!” protes Dina.
“Gantian dong, Din! Kapan lagi aku ikut karyawan baru keluar toko?” kata Lala mulai memperebutkan diriku.
“Iyadeh. Jangan lama-lama!” sahut Dina pasrah.
“Oke. Yuk, kita jalan sekarang!”
“Yuk!” Aku mulai melangkah perlahan.
Kedua kaki kami mulai keluar dari perbatasan toko. Entah, mau beli es apa. Jadi bingung rasanya kalau ada banyak macam minuman boba
*** *** *** *** ***
“Mas Yovi?” sapaku terkejut ketika melihat seorang pria berjalan dengan seorang wanita yang tak kukenal.
Pria itu langsung menoleh padaku.
“Sayang? Sama siapa ke sini?”
Seketika aku langsung membalikkan tubuhku dan menarik lengan Lala untuk kembali ke toko. Namun, belum juga melangkah lebih jauh, Lala sudah lebih dulu menahan lenganku, hingga membuatku sedikit menoleh ke belakang.
“Ada apa ini?” tanya Lala polos.
“Kita belinya nanti saja ya, La. Nanti pasti kutraktir deh, janji!” bujukku sebelum Yovi berhasil mendekatiku.
Aku benar-benar sudah merasa kecewa. Bisa-bisanya dia melakukan seperti itu padaku. Padahal aku sudah lama menunggu kabar darinya. Rasanya saat ini aku tidak ingin melihat wajahnya lagi, bahkan nomor ponselnya ingin segera kublokir.
Akhirnya Lala mau kembali lagi setelah membujuknya beberapa kali. Bukan hanya bujukan saja, tapi juga harus ada sogokan kecil untuknya.
Setibanya di toko, aku langsung duduk lemas di sofa yang disediakan untuk para pelanggan. Tapi, mumpung kosong, jadinya aku yang menempati sofa itu.
“Ada apa, Neng?”
Aku langsung memeluk tubuh Rara. Karena hanya Rara saja yang memanggilku dengan sebutan “Neng” kalau di tempat kerja, jadi aku tahu pasti kalau itu Rara.
“Biarkan aku memelukmu sebentar, untuk melepaskan rasa penatku,” jawabku sedikit berbohong padanya.
Rara langsung membiarkanku berada di pelukannya dengan santai bahkan sangat nyaman. Saking nyamannya, aku tidak ingin melepaskan pelukanku. Kedua tangannya juga menenangkanku dengan cara mengelus kepala bagian belakang. Dia juga membalas pelukanku.
“Neng ... Jangan menangis! Nanti kita keliling mal ya. Apa saja yang kamu mau, ambil saja, biar aku yang bayar,” ucap Rara yang termasuk membujukku.
Tapi aku takut jika Yovi masih ada di mal ini. Aku enggak mau bertemu dengannya lagi, tapi aku juga butuh hiburan. Soalnya mal-nya hanya ada di sini, jadi mana bisa untuk menghibur diri?
“Jangan diam, Neng. Yuk, kita kerja lagi!” ajak Rara tak berani melepaskan pelukannya.
Aku baru ingat kalau saat ini masih berada di tempat kerja. Padahal aku ingin menangis sepuasnya hari ini, tapi ku tahan dulu karena memang masih berada pada jam kerja. Aku langsung melepaskan pelukanku dan berdiri di depan Rara. Tangan kanan Rara langsung menggandeng lenganku.
“Ayo! Aku akan selalu ada di sampingmu!”
Kalimat yang Rara ucapkan padaku membuatku langsung bersemangat kembali. Sepertinya banyak yang masih sayang padaku. Jadi, tidak perlu memikirkan tentangnya lagi.
“Ayo!”
Aku dan Rara langsung berjalan mendekati etalase toko, sedangkan Lala dan Dina mengurus barang-barang yang sempat berantakan karena ulah pelanggan yang datang. Pasti kalau toko rame, barang-barangnya juga berserakan ke mana saja.
Tiba-tiba kepala toko datang dari belakang. Dia mengetuk etalase sekali.
“Yaudah yak, aku kembali ke pusat untuk absen,” pamitnya dengan dibarengi anggukan kepala Rara.
“Oke, hati-hati,” sahutku dengan senyum lebar.
“Hati-hati ya, Pak,” sahut Dina dan Lala serentak dari kejauhan.
“Yaudah yuk.” Pria itu langsung pergi sambil tetap melambaikan tangannya pada kami.
Setelah kepergiannya, aku mulai fokus melihat buku catatan yang ada di bawah lenganku. Buku itu sering kubuka hanya untuk melihat beberapa barang yang sudah terjual. Tetapi, fokusku mulai buyar ketika mendengar suara seseorang yang sangat familiar bagiku.
“Sayang ...,”
“Maaf ya, Mas. Siapa yang kamu cari?” sahut Rara dengan kalimat tanya.
“Aku mencari Ester. Dia sering dipanggil dengan sebutan “neng” oleh seluruh keluarganya dan beberapa teman akrabnya,” jawab pria itu.
Sontak, pandanganku langsung lurus ke depan. Dugaanku benar, Yovi menyusul ku ke sini.
Kenapa harus bertemu dengannya lagi?
Dengan memberanikan diri, aku mulai mengeluarkan suaraku padanya. “Aku yang kamu cari?” tanyaku sambil menatap dalam matanya.
“Ke marilah, Yang! Aku ingin menjelaskan padamu,” ucap Yovi setelah saling berpandangan denganku beberapa menit.
Seketika aku langsung menarik napas panjang, lalu kuhembuskan perlahan. “Aku sudah tidak ingin mendengarkan apa-apa darimu. Tolong, jangan ganggu aku lagi!”
“Tapi, Yang?”
“Tolong ya, Mas. Kamu sudah mendengar langsung darinya bukan? Jadi jangan ganggu dia lagi!” sambung Rara dengan santai.
Kedua aslinya saling bertautan. Tatapan matanya mulai tajam. Setelah menghembuskan napas panjang, dia langsung membentak Rara, “JANGAN IKUT CAMPUR!”
Tanpa segan lagi, aku langsung menampar pipi kiri Yovi, ketika dia selesai membentak sahabatku. Punya hak apa dia, sampai-sampai bisa membentak sahabatku sendiri.
Tiba-tiba tangan kanan Yovi mulai mengayun dengan cepat ke samping kiri pipiku, namun, dengan sigap Rara menahan tangannya yang hampir menyentuh pipiku.
“Jangan sampai tangan kotormu menyentuh pipi saudaraku!” ucap Rara dengan tegas.
Raut wajahnya mulai terlihat murka walau hanya terlihat dari samping. Jujur, amarahnya lebih seram dari pada guru killer atau pun dosen killer yang sering kita jumpai. Padahal Rara hanya bersuara tegas saja, tapi tatapannya sudah sangat menyeramkan.
Bukan hanya Rara saja yang merasa geram, aku juga mulai merasa geram ketika tahu bahwa Yovi suka main tangan (kasar) pada wanita. Sumpah, aku sih tidak apa-apa jika hanya tidak memberikan kabar padaku, itu bisa dimaafkan. Tetapi, jika itu menyangkut perilaku dan sikap yang kurang baik pada perempuan, aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini, walau belum sampai pada pipiku.
“Hari ini, aku nyatakan bahwa kita tidak lagi menjalin hubungan spesial! Keputusanku tidak bisa diganggu gugat.” Aku langsung masuk ke dalam toko meninggalkan Rara dan Yovi yang tetap berdiri dengan adanya etalase sebagai jarak di antara mereka.
Saat menuju ke belakang, tak henti-hentinya air mataku menetes dengan sendirinya, padahal aku sudah berusaha menahan air mataku dari pertama kali Yovi mencariku di toko. Tapi kenapa rasanya langsung terlepas begitu saja saat menjauhinya.
Aku berhenti di tengah jalan, di mana saat diriku sudah jauh dari etalase toko. Di saat itulah aku mulai bingung. Harus ke mana aku ini? Kenapa tiba-tiba pergi begitu saja? Apakah aku harus pergi ke kamar mandi, untuk bisa menghindari mereka?
Tanpa berpikir lagi, kedua kakiku langsung melangkah secara bergantian menuju kamar mandi. Entahlah, apa yang aku lakukan di kamar mandi, tetapi, lebih baik bersembunyi di dalam kamar mandi untuk beberapa menit ke depan.
...
Aku enggak tahu sampai kapan aku duduk di atas toilet yang tertutup ini.
Apakah Yovi sudah pergi dari toko ini? Atau malah menetap di sini dengan duduk di sofa yang sudah disediakan untuk pelanggan toko ini.
Setelah beberapa menit berlalu, aku mulai mendengar suara sepasang sepatu yang bergantian melangkah ke mari.
“Neng ... Kamu boleh keluar sekarang. Dia sudah pergi sedari tadi.”
Aku belum berani keluar meskipun kalimat itu keluar dari mulut Rara. Kayak takut saja kalau tiba-tiba dia muncul di belakang Rara tanpa sepengetahuannya. Padahal tidak mungkin jika dipikir-pikir lagi.
“Neng, cepat buka pintunya!” perintah Rara dengan tegas.
Dengan sedikit gemetar, aku mulai berdiri dari tempat dudukku, lalu mengulurkan tanganku pada pintu untuk membuka kuncinya perlahan. Walau gemetaran, aku tetap membukanya perlahan demi perlahan. Saat daun pintu mulai terbuka, tiba-tiba Rara berlari ke arahku dan langsung memeluk tubuhku.
Aku yang bingung sekaligus gelagapan dengan sikap Rara padaku, langsung berusaha melepaskan pelukannya dari tubuhku.
“Ada apa, Ra? Kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku sambil berusaha melepaskan pelukannya.
Aku tidak berhasil membuatnya untuk melepaskan pelukan di tubuhku. Tapi, aku tidak menyangka kalau ternyata Rara menangis di hadapanku dengan tetap berpelukan.
“Maafkan aku, Neng. Aku terlalu galak pada kekasihmu,” ungkap Rara. Sepertinya tulus dari lubuk hatinya.
Aku langsung menyuruh Rara untuk menyandarkan kepalanya pada pundakku. Agar pikirannya sedikit tenang. Padahal tidak apa-apa kalau hanya seperti itu. Toh, Yovi yang salah, bukan Rara yang salah.
Sambil mengelus punggung Rara, aku berkata, “Aku bangga padamu, Ra. Jangan sampai menangis begini! Kamu enggak salah kok ... Percayalah!”
“Tapi, Neng?”
“Ssstt ...! Sudahlah! Bukan salahmu, Ra!” bujukku agar dia berhenti menangis seperti anak kecil saja.
Tiba-tiba Rara melepaskan pelukannya, dan berkata, “Terima kasih ya, Neng. Perasaanku jadi sedikit tenang.”
Aku terus mengusap lengan kanannya dan mengajak dia keluar dari kamar mandi yang terlalu sempit ini.
Aku dan Rara sepakat kembali ke toko. Ternyata keadaan toko masih sepi. Seketika kedua mataku langsung mencari keberadaan Yovi di sekitar toko ini. Tapi, untungnya tidak ada keberadaannya lagi di sini. Jantungku jadi terasa sedikit tenang dari pertama kali melihat wajahnya saat datang ke toko.
“Kamu sedang mencarinya?” tanya Rara. Seakan dia mengetahui semua yang ada dalam pikiranku.
Refleks aku mengangguk. Setelah sadar, aku langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
“Aku sudah tahu, Neng, kalau kamu sedang mencari sosoknya,” ucap Rara setelah aku sadar dengan apa yang aku lakukan tadi.
“Bukan mencari, lebih tepatnya waspada, Ra. Aku hanya takut, jika dia tiba-tiba muncul di hadapanku lagi,” sahutku dengan pandangan sedikit was-was.
Tiba-tiba Rara mencubit perut kananku, membuatku sedikit menggeliat. Refleks aku langsung menepis tangannya dari perutku sambil sedikit berteriak, “Aww ....”
Rara tertawa puas di sampingku sambil memukul pelan lengan kananku.
"Kalian ini adik kakak?" Dina mulai bertanya ketika melihat kedekatan kami.
Karena kami juga belum cerita apa-apa. Hanya perkenalan biasa saja, tidak ada yang mengetahui latar belakang masing-masing. Karena menurutku, latar belakangku adalah sebuah kerahasiaan, jika ada yang mengetahuinya, berarti mereka termasuk orang yang spesial dalam hidupku.
Tanpa sengaja, aku dan Rara menjawab serentak, pertanyaan dari Dina, "Bukan."
"Kami hanya sahabat yang saling mengenal dan mengetahui satu sama lain, makanya banyak orang yang mengatakan bahwa kami kembar," sambung Rara sedikit menjelaskan statusku dengan status Rara yang terlihat jauh berbeda darinya.
Entahlah, bukan karena tidak suka dikatakan sebagai suadara kembar, tapi masalahnya, sedikit pun tidak hubungan darah dengannya.
Bersambung ...