Aku yang bingung sekaligus gelagapan dengan sikap Rara padaku, langsung berusaha melepaskan pelukannya dari tubuhku.
“Ada apa, Ra? Kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku sambil berusaha melepaskan pelukannya.
Aku tidak berhasil membuatnya untuk melepaskan pelukan di tubuhku. Tapi, aku tidak menyangka kalau ternyata Rara menangis di hadapanku dengan tetap berpelukan.
“Maafkan aku, Neng. Aku terlalu galak pada kekasihmu,” ungkap Rara. Sepertinya tulus dari lubuk hatinya.
Aku langsung menyuruh Rara untuk menyandarkan kepalanya pada pundakku. Agar pikirannya sedikit tenang. Padahal tidak apa-apa kalau hanya seperti itu. Toh, Yovi yang salah, bukan Rara yang salah.
Sambil mengelus punggung Rara, aku berkata, “Aku bangga padamu, Ra. Jangan sampai menangis begini! Kamu enggak salah kok ... Percayalah!”
“Tapi, Neng?”
“Ssstt ...! Sudahlah! Bukan salahmu, Ra!” bujukku agar dia berhenti menangis seperti anak kecil saja.
Tiba-tiba Rara melepaskan pelukannya, dan berkata, “Terima kasih ya, Neng. Perasaanku jadi sedikit tenang.”
Aku terus mengusap lengan kanannya dan mengajak dia keluar dari kamar mandi yang terlalu sempit ini.
Aku dan Rara sepakat kembali ke toko. Ternyata keadaan toko masih sepi. Seketika kedua mataku langsung mencari keberadaan Yovi di sekitar toko ini. Tapi, untungnya tidak ada keberadaannya lagi di sini. Jantungku jadi terasa sedikit tenang dari pertama kali melihat wajahnya saat datang ke toko.
“Kamu sedang mencarinya?” tanya Rara. Seakan dia mengetahui semua yang ada dalam pikiranku.
Refleks aku mengangguk. Setelah sadar, aku langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
“Aku sudah tahu, Neng, kalau kamu sedang mencari sosoknya,” ucap Rara setelah aku sadar dengan apa yang aku lakukan tadi.
“Bukan mencari, lebih tepatnya waspada, Ra. Aku hanya takut, jika dia tiba-tiba muncul di hadapanku lagi,” sahutku dengan pandangan sedikit was-was.
Tiba-tiba Rara mencubit perut kananku, membuatku sedikit menggeliat. Refleks aku langsung menepis tangannya dari perutku sambil sedikit berteriak, “Aww ....”
Rara tertawa puas di sampingku sambil memukul pelan lengan kananku.
*** *** *** ***
Setelah kehadirannya, dia mampu mengubah hidupku yang berwarna pelangi berubah menjadi warna hitam pekat.
Aku enggak tahu harus apa. Apakah aku harus memutuskan hubunganku dengannya? Atau mendengarkan semua penjelasannya, lalu kembali lagi padanya? Jujur, aku sangat bingung.
...
Setibanya di rumah, aku dan Rara mempersiapkan kamar tidurku untuk ditempati dua orang, yaitu aku dan Rara. Karena katanya, dia ingin tinggal beberapa hari bersamaku. Untung saja mama punya kasur cadangan yang selalu disimpan dengan plastiknya. Karena kata mama, sewaktu-waktu jika ada temanku yang ingin tinggal beberapa hari saja, bisa memakai kasur ini.
Memanglah mamaku ini yang terbaik.
Setelah selesai menyatukan dua kasur dalam kamarku, akhirnya aku dan Rara bisa meluruskan punggungku yang sedikit encok. Yah, mungkin hanya aku saja yang merasakan punggung encok seperti ini.
“Capek ya, Neng?” tanya Rara.
Saat aku menolehkan wajahku padanya, ternyata dia sudah lebih dulu menatapku dari sisi samping kiriku. Dan akhirnya kami saling bertatapan..
“Lumayan sih. Untung sudah dipel sebelumnya, jadi tidak terlalu berat pekerjaannya,” jawabku sambil sedikit menjelaskan padanya.
“Iya, benar banget. Untung sudah dipel. Jadi, rasanya lebih ringan lagi,” sahut Rara malah memutar kembali perkataanku.
Baiklah, aku jadi bingung mau jawab apa padanya. Lebih baik aku diam saja sambil menunggu kehadiran mama yang sedang menyiapkan makan malam dan juga beberapa camilan untukku dan Rara.
Serius, ingin sekali aku menukarkan hidupku dengan hidupnya Rara yang serba ada. Kalau butuh apa-apa, tinggal memanggil pelayan yang ada di rumahnya itu. Pokok serba enaklah. Semua serba dituruti.
Aku kapan bisa hidup seperti Rara? Rasanya sangat mustahil. Apalagi kalau melihat usia ayah yang sudah tidak muda lagi. Rasanya aku yang perlu berusaha sendiri untuk mewujudkan keinginan anakku nanti. Siapa tahu dia semakin bangga jika mempunyai mama sehebat diriku.
“Hayoo ... Sedang melamun apa itu?” gertak Rara mengejutkanku.
Refleks, aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku agar isi otakku segera sadar dari melamun yang tidak terlalu penting ini.
“Ah, tidak apa-apa, Ra. Apakah kamu sudah lapar, Ra?” tanyaku selepas sadar dari lamunanku.
“Belum sih, tapi aku lagi pengin makan makanan ringan. Ada enggak ya, Neng?” sahut Rara terlihat sedikit kurang kerjaan.
Padahal tadi sudah mengerjakan kerja bakti bersamaku sepulang kerja, ini malah tetap terlihat enggak ada kerjaan sama sekali. Apa enggak ada rasa capeknya sama sekali?
“Bentar, biar kuambilkan di dapur dulu. Sepertinya ada makanan ringan di kulkas. Bentar, ya!”
Aku langsung bangun dari posisi rebahanku, lalu bangun dan mulai melangkah menuju dapur yang tak jauh dari kamarku apalagi kamar mamaku sendiri.
Saat tangan kananku mulai membuka pintu kulkas, terlihat oleh kedua mataku, ada beberapa bagian yang terisi penuh oleh beberapa makanan ringan. Mungkin sudah ada yang membeli makanan ringan ini. Antara mas kandungku sendiri atau dua saudara sepupuku datang ke sini hanya untuk titip makanan saja. Aku langsung mengambil beberapa makanan ringan untuk kumakan dengan Rara di kamar. Masalah milik siapa, biar kuganti nanti.
“Hei, Ra. Aku bawa sesuatu untuk kita berdua,” sapaku saat tiba diambang pintu kamar.
Rara langsung menyambutku dengan penuh senyuman. Apalagi aku yang selalu tersenyum ketika melihat wajah Rara bahagia.
...
Baru saja pantatku mulai mendarat di atas ranjang, Rara sudah bikin heboh terlebih dahulu, sampai aku berdiri lagi.
“Neng ... Aku punya janji untuk mentraktirmu sore ini, bukan?” tanya Rara dengan sangat yakin.
Sepertinya benar juga. Apa aku sudah melupakan traktirannya?
“Mungkin, Ra. Aku sudah lupa,” jawabku sambil berusaha mengingat kejadian tadi.
Setelah beberapa menit kemudian ...
“Astaga, Ra ... Aku juga punya janji pada Lala, untuk mentraktir Lala sepuasnya,” celetukku sambil menepuk pundak Rara.
Rara langsung berdiri dari posisi duduknya. “Kalau begitu, kenapa kita tidak jalan bareng saja? Kan tujuan kita sama-sama pengin mentraktir?” saran Rara sebelum saling memutuskan untuk memakai pendapat yang mana.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menyetujui saran yang diusulkan oleh Rara, setelah menyantap salah satu kemasan makanan ringan.
Kuakui, selain cantik, Rara juga sangat pintar untuk memberikan saran yang sangat baik dan masuk akal.
Akhirnya, aku dan Rara sepakat untuk pergi bersama. Sebelum pergi, aku sudah mengirimkan pesan pada Lala untuk menemuiku di sebuah kafe, tak lupa juga aku menyuruh Lala untuk mengajak Dina untuk kutraktir juga. Setelah mengabari mereka semua, aku dan Rara pergi untuk bersiap-siap dulu dan yang paling penting itu, selalu bilang kepada keluargaku, biar pintunya tidak dikunci dari dalam.
Setelah beberapa menit dihabiskan untuk berdandan diri, aku dan Rara pun sudah siap untuk pergi ke kafe yang sudah dibuat untuk tempat saling bertemu. Kami mengendarai motor kesayanganku yang selalu kurawat, meskipun yang beli adalah ayahku. Saat berkendara, aku selalu memakai helm SNI dan juga masker, karena aku tidak suka jika ada beberapa debu yang menempel di wajahku.
Tidak butuh waktu lama, aku dan rara akhirnya tiba di sebuah kafe yang terkenal instagramable dan aestetic untuk dijadikan spot foto.
Saat pertama kali kaki kiriku mulai masuk ke kafe ini, kedua mataku sangat jeli ketika melihat seseorang yang kukenal, buktinya sekarang aku sudah melihat Lala dan Dina duduk di kursi yang tak jauh dari kasir kafe.
Kenapa harus mepet ke kasir sih? Padahal ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat tongkrongan sekaligus bersantai. Kalau di dekat kasir, rasanya seperti tidak lega saja. Pasti nanti ada beberapa orang yang antre untuk memesan makanan di situ, atau hanya sekedar ingin membayar yang sudah dibeli dari kafe ini.
Bersambung ...