DIBALIK SENYUM TAWA RARA

1035 Kata
“Hei, Ra. Aku bawa sesuatu untuk kita berdua,” sapaku saat tiba diambang pintu kamar. Rara langsung menyambutku dengan penuh senyuman. Apalagi aku yang selalu tersenyum ketika melihat wajah Rara bahagia. ... Baru saja pantatku mulai mendarat di atas ranjang, Rara sudah bikin heboh terlebih dahulu, sampai aku berdiri lagi. “Neng ... Aku punya janji untuk mentraktirmu sore ini, bukan?” tanya Rara dengan sangat yakin. Sepertinya benar juga. Apa aku sudah melupakan traktirannya? “Mungkin, Ra. Aku sudah lupa,” jawabku sambil berusaha mengingat kejadian tadi. Setelah beberapa menit kemudian ... “Astaga, Ra ... Aku juga punya janji pada Lala, untuk mentraktir Lala sepuasnya,” celetukku sambil menepuk pundak Rara. Rara langsung berdiri dari posisi duduknya. “Kalau begitu, kenapa kita tidak jalan bareng saja? Kan tujuan kita sama-sama pengin mentraktir?” saran Rara sebelum saling memutuskan untuk memakai pendapat yang mana. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menyetujui saran yang diusulkan oleh Rara, setelah menyantap salah satu kemasan makanan ringan. Kuakui, selain cantik, Rara juga sangat pintar untuk memberikan saran yang sangat baik dan masuk akal. Akhirnya, aku dan Rara sepakat untuk pergi bersama. Sebelum pergi, aku sudah mengirimkan pesan pada Lala untuk menemuiku di sebuah kafe, tak lupa juga aku menyuruh Lala untuk mengajak Dina untuk kutraktir juga. Setelah mengabari mereka semua, aku dan Rara pergi untuk bersiap-siap dulu dan yang paling penting itu, selalu bilang kepada keluargaku, biar pintunya tidak dikunci dari dalam. Setelah beberapa menit dihabiskan untuk berdandan diri, aku dan Rara pun sudah siap untuk pergi ke kafe yang sudah dibuat untuk tempat saling bertemu. Kami mengendarai motor kesayanganku yang selalu kurawat, meskipun yang beli adalah ayahku. Saat berkendara, aku selalu memakai helm SNI dan juga masker, karena aku tidak suka jika ada beberapa debu yang menempel di wajahku. Tidak butuh waktu lama, aku dan rara akhirnya tiba di sebuah kafe yang terkenal instagramable dan aestetic untuk dijadikan spot foto. Saat pertama kali kaki kiriku mulai masuk ke kafe ini, kedua mataku sangat jeli ketika melihat seseorang yang kukenal, buktinya sekarang aku sudah melihat Lala dan Dina duduk di kursi yang tak jauh dari kasir kafe. Kenapa harus mepet ke kasir sih? Padahal ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat tongkrongan sekaligus bersantai. Kalau di dekat kasir, rasanya seperti tidak lega saja. Pasti nanti ada beberapa orang yang antre untuk memesan makanan di situ, atau hanya sekedar ingin membayar yang sudah dibeli dari kafe ini. *** *** ***  “Hai, La ... Hai, Din ... Apa kalian sudah lama di sini?” sapaku pada mereka yang sedang fokus pada band yang sedang manggung di kafe. Refleks, mereka langsung menoleh ke arahku yang ada di belakangnya. “Eh ... Kalian sudah datang? Lumayan lama sih, tapi tidak apa-apa,” sahut Lala serentak dengan Dina. Meskipun pengucapannya tidak sama, tapi yang kudengar di telingaku itu sudah sesuai. Buktinya mereka tidak saling tertawa hanya karena kebetulan berbicara bareng dengan temannya. “iyaa, baru datang nih ... Yuk, kita pindah ke bagian pojok belakang sendiri,” sahutku langsung mengajak mereka pindah, karena tempatnya yang tidak pas. Lala dan Dina langsung ikut pindah ke tempat yang kusarankan. Karena di bagian belakang, biasanya terdapat beberapa lembar menu yang sudah dilaminating. Jadi kita bisa sepuasnya duduk dan hanya menitipkan pesanan pada seseorang yang niat saja. Tapi, kebetulan di sini aku yang paling niat untuk pergi ke kasir. Jadi Lala, Dina, dan Rara bagian mencatat beberapa nama makanan dan minuman untuk dipesan ke kasir, biar tidak lama mengantre. Capek juga melihat orang yang sedang mengantre panjang. “Ini ....” Rara menyerahkan kertas yang berisi nama makanan dan minuman yang akan dipesan. Saat aku menerima kertas itu, dengan sadarnya aku membalikkan bagian belakang kertas menjadi ke atas. “Uangmu, Ra?” tanyaku pada Rara yang sedang menyandarkan kepalanya ke canggah atau tiang kursi yang terbuat dari semen dan bata. Sengaja dibentuk seperti kursi yang memiliki tempat untuk bersandar sementara. Aku pernah baca berita tentang kafe ini, tapi sudah kulupakan sebagiannya, karena memang sering lupa dalam segala hal. Jangankan untuk mengingat satu benda yang tadi kupegang, omongan seseorang saja sering kulupakan dengan mudahnya. Rara hanya mengangguk. Sepertinya sedang merasakan sakit yang luar biasa, sampai terlihat tidak bersemangat jika membahas soal uang. Tapi, untuk apa Rara tertarik pada uang? Bukannya Rara sudah kaya sejak dulu? Kalau jumlah uangnya tidak banyak, mungkin aku tidak akan menanyakan soal uang itu. Tapi, ini karena jumlah uangnya yang sangat banyak, bahkan sangat tebal saat ku genggam dengan tangan kananku, tapi dia merasa sangat cuek ketika membahas soal uang. Seperti ada dendam tertentu. Karena tidak segera direspon, aku langsung membawa uang itu untuk memesan beberapa makanan dan minuman. Namun, sesampainya di depan kasir, aku tetap mengeluarkan uang yang ada dompetku. Karena takutnya nanti, dia mulai mencari uangnya kembali, ketika uangnya sudah terpakai. Makanya aku selalu memakai uangku dulu sebelum dia mengizinkan sendiri. Sesampainya di kasir, aku hanya menyodorkan kertas yang sudah banyak coretan itu, sedangkan uang Rara sudah lebih dulu kumasukkan ke dalam tasku. Karena pesanannya lumayan banyak, jadi aku sedikit menunggu lebih lama lagi dari biasanya. Karena memang harus dipindah seluruh menu ke dalam komputer untuk dijadikan nota dalam bentuk print. “Atas nama siapa, Mbak?” tanya sang kasir, membuatku sedikit sadar. “Neng Rara,” jawabku sambil tersenyum lepas. “Oke. Beberapa menit kemudian, pesanan akan datang,” ucap kasir itu sedikit menjelaskan sebelum kutinggal pergi. Aku langsung pergi setelah mendapatkan selembar nota print yang diberikan oleh kasirnya. Sekembalinya dari tempat kasir, aku tidak melihat Rara di tempat duduk yang sudah kupilih barusan. Aku langsung menanyakan keberadaan Rara pada Lala dan Dina. “Ke mana Rara?” “Dia pamit ke kamar mandi. Katanya perutnya sakit,” jawab Dina dengan semangat. Sepertinya bukan masalah perut, tapi masalah punggungnya. Mungkin sudah mulai mengering lukanya, tapi tidak kuberikan pelembab agar tidak pecah kulit yang baru tumbuh. Makanya dia selalu murung di tempat kerjanya. Kirain karena permasalahan dengan temannya atau karena aku, ternyata masalahnya masih sama, yaitu masalah keluarganya. Jujur, aku jadi sangat takut untuk menjadi orang kaya yang super sibuk. Yang kutakutkan ya karena seperti ini. Anak yang jadi korban kelelahan orang tuanya. Tapi, semoga saja aku menjadi kaya raya dan termasuk menjadi orang yang sangat baik nantinya. Bersambung ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN