RARA HARUS PERGI

1000 Kata
“Uangmu, Ra?” tanyaku pada Rara yang sedang menyandarkan kepalanya ke canggah atau tiang kursi yang terbuat dari semen dan bata. Sengaja dibentuk seperti kursi yang memiliki tempat untuk bersandar sementara. Aku pernah baca berita tentang kafe ini, tapi sudah kulupakan sebagiannya, karena memang sering lupa dalam segala hal. Jangankan untuk mengingat satu benda yang tadi kupegang, omongan seseorang saja sering kulupakan dengan mudahnya Rara hanya mengangguk. Sepertinya sedang merasakan sakit yang luar biasa, sampai terlihat tidak bersemangat jika membahas soal uang. Tapi, untuk apa Rara tertarik pada uang? Bukannya Rara sudah kaya sejak dulu? Kalau jumlah uangnya tidak banyak, mungkin aku tidak akan menanyakan soal uang itu. Tapi, ini karena jumlah uangnya yang sangat banyak, bahkan sangat tebal saat ku genggam dengan tangan kananku, tapi dia merasa sangat cuek ketika membahas soal uang. Seperti ada dendam tertentu. Karena tidak segera direspon, aku langsung membawa uang itu untuk memesan beberapa makanan dan minuman. Namun, sesampainya di depan kasir, aku tetap mengeluarkan uang yang ada dompetku. Karena takutnya nanti, dia mulai mencari uangnya kembali, ketika uangnya sudah terpakai. Makanya aku selalu memakai uangku dulu sebelum dia mengizinkan sendiri. Sesampainya di kasir, aku hanya menyodorkan kertas yang sudah banyak coretan itu, sedangkan uang Rara sudah lebih dulu kumasukkan ke dalam tasku. Karena pesanannya lumayan banyak, jadi aku sedikit menunggu lebih lama lagi dari biasanya. Karena memang harus dipindah seluruh menu ke dalam komputer untuk dijadikan nota dalam bentuk print. “Atas nama siapa, Mbak?” tanya sang kasir, membuatku sedikit sadar. “Neng Rara,” jawabku sambil tersenyum lepas. “Oke. Beberapa menit kemudian, pesanan akan datang,” ucap kasir itu sedikit menjelaskan sebelum kutinggal pergi. Aku langsung pergi setelah mendapatkan selembar nota print yang diberikan oleh kasirnya. Sekembalinya dari tempat kasir, aku tidak melihat Rara di tempat duduk yang sudah kupilih barusan. Aku langsung menanyakan keberadaan Rara pada Lala dan Dina. “Ke mana Rara?” “Dia pamit ke kamar mandi. Katanya perutnya sakit,” jawab Dina dengan semangat. Sepertinya bukan masalah perut, tapi masalah punggungnya. Mungkin sudah mulai mengering lukanya, tapi tidak kuberikan pelembab agar tidak pecah kulit yang baru tumbuh. Makanya dia selalu murung di tempat kerjanya. Kirain karena permasalahan dengan temannya atau karena aku, ternyata masalahnya masih sama, yaitu masalah keluarganya. Jujur, aku jadi sangat takut untuk menjadi orang kaya yang super sibuk. Yang kutakutkan ya karena seperti ini. Anak yang jadi korban kelelahan orang tuanya. Tapi, semoga saja aku menjadi kaya raya dan termasuk menjadi orang yang sangat baik nantinya. *** *** *** ***  Beberapa menit kemudian, Rara keluar dari sebuah kamar mandi yang dikhususkan untuk para pelanggan, sedangkan kalau untuk pelanggan setia, nantinya bakal dapat kamar mandi tersendiri yang memang dikhususkan. Aku langsung mendekati Rara yang sedang berjalan ke arah sini. Kusambut dengan baik. Kedua tangan dan kedua kakiku siap untuk menjadi asisten pribadinya. Siap membantu ke mana pun dia inginkan. “Ada apa, Ra?” tanyaku sambil meraih tangannya untuk kugenggam. Rara berusaha menolak bantuanku, tapi tetap kupaksa karena memang niatku dari lubuk hati yang paling dalam. “Jangan repot-repot, Neng. Aku tidak apa-apa. Mungkin, aku hanya butuh tempat untuk beristirahat sebentar,” jawab Rara setelah berusaha menolakku, namun gagal. “Apa perlu kita ke rumah sakit untuk melihat kondisimu saat ini?” tawarku tidak bermaksud apa-apa. Tiba-tiba kepalanya mulai bersandar pada bahuku. “Neng ... Terima kasih ya. Keluargaku belum tentu memiliki perhatian lebih pada anaknya. Yang dia lakukan hanya sibuk dengan urusan kantornya,” ungkap Rara. Sungguh, aku baru ingat kalau punggung Rara sedang luka, kenapa sedari tadi kupeluk tanpa sadar, bahkan pelukanku lebih kencang dari biasanya. Jadi, rasanya sekarang serba salah. Mau kupeluk, tapi takut Rara semakin merasakan sakit di punggungnya, tapi jika tidak kupeluk, nanti disangka tidak sayang padanya. Aarrghh ... Aku harus bagaimana ini? “Ra, maaf ya jika aku menyentuh punggungmu,” pamitku sebelum menyandarkan lenganku pada punggungnya. Rara langsung menatap kedua bola mataku. “Lebih baik aku merasakan sakit ketika tanganmu menyentuh punggungku, dari pada merasakan sakit karena ulah orang yang tidak becus mengurusku.” Aku tidak menyangka kalau Rara mengatakan kalimat yang sangat menyakitkan itu pada kedua orang tuanya. Tapi, untungnya dia tidak mengatakan pada kedua orang tuanya langsung. Masih diceritakan padaku sebelum mengeluarkan seluruh unek-uneknya. Karena aku diam mematung, tiba-tiba Rara melingkarkan kedua lenganku pada pinggulnya. Sungguh, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya Rara. Tapi, jika aku berada diposisinya, mungkin aku tidak akan sekuat Rara. Makanya Tuhan selalu menepatkan orang yang benar untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kemampuan umat-Nya. Kehadiran Rara, mampu membuatku bersemangat untuk menjalani hidup yang sangat kejam ini. Sungguh! Karenanya aku semakin kuat. Perutku mulai jarang sakit, tapi, ya kuakui kalau dari kecil dulu memang jarang banget jatuh sakit. Sekali sakit pasti bikin ketar-ketir. Taruhannya antara nyawa dan waktu. Jika tiba tepat waktu, maka pasien akan segera ditangani, untung naik ke pesawatnya, jadi enak bisa sekalian pesan kamar VIP kalau di kapal. Kebetulan Rara duduk dikursi kafe sambil berpelukan denganku, hingga membuat Lala dan Dina penasaran dengan apa yang terjadi pada Rara. Saking penasarannya, sampai mereka bertanya langsung tentang kabar Rara saat ini di depan orangnya langsung.  "Kenapa, Ra? Apakah ada yang sakit?" tanya Dina sambil mulai meletakkan ponselnya di atas meja.  "Iya, Rara kenapa? Padahal tadi masih sehat," sambung Lala sambil meneliti ekspresi wajahnya Rara yang sedang menahan rasa sakit.  "Aku tidak apa-apa. Lupakan saja! Anggap saja kita tidak saling kenal," ucap Rara terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi meninggalkan kafe ini.  Bahkan dia sudah melupakan sesuatu yang serba menyakiti di masa lalunya, bahkan ada beberapa barang yang memang harus segera dibuang atau diuangkan saja, ketimbang jadi besi tua di sini, ujung-nya bakalan dibuang.  ...  Rara langsung pulang begitu saja setelah menahan rasa sakitnya. Pasti itu sangat sakit, tapi. Dia juga tidak membahas soal uang yang diberikan padaku dengan nominal angka besar dan juga warnanya hanya merah dan biru saja, ada uang dua puluh ribu juga, tapi yang sering kulihat uang itu penuh dengan warna biru dan merahnya. Untung saja langsung kumasukkan ke dalam tasku.  Bersambung ... ... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN