Karena aku diam mematung, tiba-tiba Rara melingkarkan kedua lenganku pada pinggulnya.
Sungguh, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya Rara. Tapi, jika aku berada diposisinya, mungkin aku tidak akan sekuat Rara. Makanya Tuhan selalu menepatkan orang yang benar untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kemampuan umat-Nya.
Kehadiran Rara, mampu membuatku bersemangat untuk menjalani hidup yang sangat kejam ini. Sungguh! Karenanya aku semakin kuat. Perutku mulai jarang sakit, tapi, ya kuakui kalau dari kecil dulu memang jarang banget jatuh sakit. Sekali sakit pasti bikin ketar-ketir. Taruhannya antara nyawa dan waktu. Jika tiba tepat waktu, maka pasien akan segera ditangani, untung naik ke pesawatnya, jadi enak bisa sekalian pesan kamar VIP kalau di kapal.
Kebetulan Rara duduk dikursi kafe sambil berpelukan denganku, hingga membuat Lala dan Dina penasaran dengan apa yang terjadi pada Rara. Saking penasarannya, sampai mereka bertanya langsung tentang kabar Rara saat ini di depan orangnya langsung.
"Kenapa, Ra? Apakah ada yang sakit?" tanya Dina sambil mulai meletakkan ponselnya di atas meja.
"Iya, Rara kenapa? Padahal tadi masih sehat," sambung Lala sambil meneliti ekspresi wajahnya Rara yang sedang menahan rasa sakit.
"Aku tidak apa-apa. Lupakan saja! Anggap saja kita tidak saling kenal," ucap Rara terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi meninggalkan kafe ini.
Bahkan dia sudah melupakan sesuatu yang serba menyakiti di masa lalunya, bahkan ada beberapa barang yang memang harus segera dibuang atau diuangkan saja, ketimbang jadi besi tua di sini, ujung-nya bakalan dibuang.
...
Rara langsung pulang begitu saja setelah menahan rasa sakitnya. Pasti itu sangat sakit, tapi. Dia juga tidak membahas soal uang yang diberikan padaku dengan nominal angka besar dan juga warnanya hanya merah dan biru saja, ada uang dua puluh ribu juga, tapi yang sering kulihat uang itu penuh dengan warna biru dan merahnya. Untung saja langsung kumasukkan ke dalam tasku.
*** *** *** ***
“Guys, aku pulang dulu ya!” pamit Rara sambil melambaikan tangan kanannya.
Bentar, ini Rara pamit pulang ke rumahku atau ke rumahnya sendiri? Sepertinya ke rumahku.
Kalau ke rumah, sepertinya Rara belum siap untuk bertemu kedua orang tuanya lagi setelah kejadian itu. Kalau dilihat dari kedua bola mata Rara, dia mengalami sedikit trauma. Trauma itu tidak parah, namun sangat membekas dari hatinya.
Dia bakal ingat terus bagaimana orang tuanya menyiksa anaknya sendiri. Benar, dia tidak akan membalaskan dendamnya, tapi dia tidak akan kembali lagi ke rumah itu. Karena ada trauma yang mendalam, membuatnya enggan untuk mampir. Bukan segan, tapi enggan.
Aku tidak bisa mengantar Rara pulang sampai ke depan pintu rumah, karena harus menepati janjiku yang sudah kubuat tadi sore. Mungkin setelah makan di kafe ini, aku akan pulang dan menemani Rara di rumah saja. Karena aku juga merasa sedikit capek untuk keluar ke mana-mana lagi.
Tapi, aku tetap perhatian pada Rara. Tetap kupesankan mobil atau sering disebut taksi online agar sampai rumah dengan selamat.
Kenapa bukan ojek online? Karena cuaca hari ini sedikit mendung, jadi takutnya nanti malah kehujanan, mending mencegah dari awal dari pada harus mengobati saat sakit nanti.
Sembuh dari sakit itu butuh waktu, uang, dan tenaga untuk merawatnya.
Jadi ikuti saja kata pepatah ya, Guys!
Beberapa menit setelah kepergian Rara, gadis itu datang hanya untuk absen namanya di kepala desa sini katanya. Makanya kenapa gadis itu mampir ke kafe ini, ya karena baru selesai absen.
Jika kalian tahu, siapa wanita itu? Aku tidak tahu pasti sih. Tapi wanita itu sering ikut ke dalam mobil kepala desa hanya untuk berkeliling desa. Penampilannya terlalu norak. Sepertinya gadis itu adalah anak dari pak kades (kepala desa) di sini.
Masih kecil, sikapnya sangat arogan banget. Belum pernah roda kehidupannya diputar sana Tuhan ya? Bisa jadi kamu nanti pengangguran saat besar. Tenang saja, setiap manusia pasti merasakan bahagia ketika berada di atas dan sedih ketika berada di bawah.
Gara-gara gadis ini, aku sampai mengabaikan Rara yang pulang sendiri, bahkan masuk ke dalam taksi online saja dia sendirian.
Semoga saja Rara tidak mempunyai pikiran tidak-tidak tentangku. Kan aku tidak punya niatan seperti itu. Karena pikiranku semakin kacau, akhirnya aku pamit pada Dina dan Lala yang masih sibuk menyantap makanannya.
“La ... Din ... Aku pergi dulu ya! Semua makanannya sudah kubayar. Kalau tidak percaya, ini ada notanya,” pamitku sambil menyodorkan selembar nota yang diberi kasir kafe ini.
“Iya, hati-hati ya! Terima kasih sebelumnya,” sahut Dina bersikap sopan dengan cara menghentikan menyantap makanan.
Aku langsung pergi sambil melambaikan tanganku sebentar, lalu menyusul mobil taksi online yang ditumpangi oleh Rara.
Sumpah, mobil di Indonesia ini bukan hanya satu, ada banyak macam dan salah satunya merk mobil pasti diproduksi lebih banyak dari biasanya. Itu baru satu merk, apalagi merk lainnya. Jadi, aku kehilangan jejaknya. Apa kutelepon saja ya? Tapi, aku tidak punya pulsa untuk menelepon sopir taksinya.
“Apa aku pulang dulu ya?” gumamku sebelum sampai di jalan gang menuju rumahku.
Tapi, kalau Rara sudah sampai, seharusnya mobilnya sudah menunggu di depan gang ini.
Apa karena Rara sudah masuk lebih dulu ya? Jadi sopir taksi onlinenya langsung pulang begitu saja setelah menerima bayaran dari Rara.
Mungkin dugaanku benar juga, buktinya tidak ada mobil dari mana pun yang berhenti di sini. Jadi serba bingung aku ini.
Setelah berpikir lama di depan rumah Mak Ijah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah sambil mengecek apakah sudah ada Rara di rumah? Kalau tidak, berarti sopirnya tidak tahu alamatnya.